
Seminggu dirawat di rumah sakit akhirnya pagi ini Sheila sudah diperbolehkan untuk pulang. Tapi Sheila masih harus tetap rutin kontrol dan menjalankan terapi untuk segera memulihkan kakinya seperti sedia kala.
Karena kebetulan akhir pekan maka keluarga Jefri pun bisa berkumpul di rumah Ricko untuk menyambut kepulangan Sheila, bahkan Sylvia juga ikut. Semuanya sedang duduk bersama di ruang keluarga saat ini. Bercengkrama dan mengobrol dengan hangat.
Setelah makan siang bersama Jefri, Sarah, Leon, Max, dan Sylvia pamit.
"Kenapa buru-buru sih Sar?" tanya Amelia kepada Sarah.
"Sheila kan juga harus istirahat Mel. Kami juga sekalian mau survei gedung untuk acara pernikahan Max dan Sylvia nanti."
"Ya udah, tapi besok-besok kamu kesini lagi kan? Itung-itung kita nemenin Sheila pas ditinggal Steven ke kantor," pinta Amelia.
"Iya, insya Allah."
Semuanya lalu saling berjabat tangan dan berpamitan.
"Cepet sembuh ya dek. Kamu kan udah janji mau nemenin kakak pas ijab kabul nanti," kata Sylvia.
"Iya kak, tenang aja. Makasih ya kak udah dateng," balas Sheila.
Setelah keluarga Jefri pulang Steven lalu membawa Sheila untuk beristirahat di kamar.
"Mas Steven besok masuk kerja aja ya. Udah seminggu loh Mas nggak dateng ke kantor, kasihan Mbak Santi. Ken sama Danny juga," kata Sheila setelah duduk bersandar di kepala ranjang.
"Ada Bang Dika yang bantuin mereka," jawab Steven.
"Bang Dika kan juga punya kerjaan sendiri bantuin Papa Mas. Belum lagi Mbak Anita istrinya Bang Dika yang butuh diperhatikan juga. Ibu hamil itu sangat butuh perhatian dan dukungan dari suaminya Mas. Aku beneran udah nggak pa-pa Mas, lagian ada Mama sama Bunda juga yang bakalan nemenin aku. Pokoknya besok Mas harus berangkat ke kantor, ya."
Steven menghembuskan nafas kasar. Istrinya itu memang penurut, tapi kalau sudah punya keputusan sendiri ya seperti ini, susah digoyahkan.
"Iya sayang, iya. Besok Mas berangkat ke kantor. Udah puas?"
Sheila tersenyum manis sambil menganggukkan kepalanya berkali-kali.
"Sekarang tidur ya, kamu harus banyak-banyak istirahat."
"Peluk," pinta Sheila seperti anak kecil.
"Manja," ejek Steven berbanding terbalik dengan gerakannya yang segera naik ke atas ranjang kemudian membawa Sheila ke dalam pelukannya.
...
Satu bulan kemudian.
Sheila dan Lusia saat ini sedang magang di perusahaan Steven. Sementara Dyah dan Tya di perusahaan Max dan Leon.
Tentu saja Steven tidak akan menyia-nyiakan kesempatan satu bulan bekerja dengan didampingi sang istri tercinta. Sheila dan Lusia ditempatkan bersama dengan Santi. Jadi data-data dan informasi yang mereka butuhkan dapat dengan mudah mereka dapatkan.
Selain itu semua karyawan juga sudah mengetahui kalau Sheila adalah istri Steven, CEO mereka. Jadi Sheila dan Lusia tentu saja mendapat perlakuan yang istimewa, tidak seperti mahasiswa magang pada umumnya.
"Sayang kamu ikut Mas meeting ya, sekalian kita makan siang," ajak Steven.
__ADS_1
"Terus Lusia gimana Mas?"
"Kan ada Danny, Yang."
"Oh, oke."
"Semua berkasnya sudah siap San?" tanya Steven pada Santi.
"Sudah Pak."
"Oke, kita berangkat sekarang."
Steven, Sheila, dan Santi berjalan menuju lift yang akan membawa mereka turun ke bawah.
Sesampainya di restoran tempat akan diadakannya meeting, ternyata klien mereka sudah datang terlebih dahulu.
"Selamat siang Pak Raka," sapa Steven.
"Oh, selamat siang Pak Steven," balas Raka, keduanya lalu berjabat tangan. "Mari silahkan duduk."
Steven, Sheila, dan Santi kemudian duduk. Sesaat kemudian Raka nampak terkejut melihat Sheila.
"Sheila?" sapa Raka seakan tidak percaya.
"Selamat siang Pak Raka," sapa Sheila sopan.
Steven menangkap binar kebahagiaan di wajah Raka, menggantikan ekspresi terkejutnya tadi. Melirik ke arah Sheila, Steven melihat istrinya itu nampak biasa saja, asyik dengan berkas yang sedang dibacanya.
Meeting berjalan cukup lancar, meski beberapa kali Steven memergoki kalau Raka sedang mencuri pandang ke arah Sheila. Pandangan penuh kekaguman. Namun Steven berusaha bersikap profesional.
"Maaf Pak Steven, kalau boleh saya tahu, ada hubungan apa antara Pak Steven dengan Sheila?" akhirnya Raka tidak mampu lagi menahan rasa penasarannya.
"Oh, maaf saya lupa memperkenalkan kepada Pak Raka, Sheila adalah istri saya," jawab Steven.
"Apa?" tanya Raka tidak percaya.
"Oh iya, sepertinya Pak Raka sudah mengenal istri saya sebelumnya ya?" Steven balik bertanya.
"Ah, i-iya. Saya kebetulan teman kuliah Max dulu. Jadi saya mengenal Sheila karena Max."
"Oh, i see."
Makan siang berlanjut. Steven bisa melihat kekecewaan di wajah Raka, tapi lagi-lagi Sheila hanya menampilkan ekspresi biasa saja.
Sesampainya di kantor Steven mengajak Sheila masuk ke ruangannya. Mereka melaksanakan sholat Dzuhur berjamaah di dalam kamar istirahat khusus CEO di bagian samping ruang kerja Steven. Selesai sholat Steven merebahkan tubuhnya di atas ranjang di kamar tersebut.
Sheila menyimpan peralatan sholat mereka kembali ke dalam lemari. Sheila kemudian mendekati Steven dan ikut merebahkan diri di samping Steven.
"Kenapa Mas? Dari tadi aku perhatikan Mas seperti ingin menanyakan sesuatu tetapi nggak jadi terus," tanya Sheila yang sudah berbaring miring menghadap Steven.
"Kamu kenal baik ya sama Raka?" tanya Steven pada akhirnya sambil menatap langit-langit kamar.
__ADS_1
"Enggak juga. Cuma sekedar tahu kalau dia temennya kak Max, udah. Paling cuma sekedar saling menyapa kalau pas dia lagi main ke rumah, itu aja sih," jawab Sheila tenang, karena memang seperti itu kenyataannya.
"Kamu tahu kalau dia suka sama kamu Yang?" tanya Steven hati-hati.
"Tahu. Dia dulu pernah nembak aku dua kali."
Steven sedikit kaget. Dia lalu memiringkan tubuhnya menghadap ke arah Sheila.
"Terus, kamu terima?"
"Enggak."
"Kenapa?" tanya Steven antusias, jujur saja dalam hati Steven merasa senang mendengar jawaban istrinya tersebut.
"Ya aku mau fokus aja dulu sama kuliah aku."
"Tapi kamu suka enggak sama dia?"
"Enggak tuh."
"Padahal dia ganteng loh," goda Steven.
"Ganteng tapi kalau aku nggak suka ya mau gimana lagi. Perasaan seseorang kan nggak bisa dipaksain Mas."
Steven tersenyum sambil menyelipkan rambut Sheila ke belakang telinganya.
"Jadi itu alasan kenapa kamu bersikap biasa aja tadi di depan Raka?"
"He'em. Aku juga tau kok kalau tadi kak Raka sering curi-curi pandang ke aku. Tapi aku cuekin. Aku nggak mau nanti kak Raka berharap lebih. Mas sih, kenapa tadi nggak ngenalin dari awal kalau aku tuh istrinya Mas Steven, jadi biar kak Raka nggak ngelirik-ngelirik aku terus. Risih tahu nggak sih Mas, seolah-olah dia tuh pengen makan aku tahu nggak," gerutu Sheila.
"Kalau sampai dia berani macam-macam sama kamu Mas pasti langsung maju ngehajar dia."
"Iya, aku percaya kok. Cuma kan tadi suasananya tuh nggak enak banget sumpah. Aku agak ngeri tahu Mas dilirikin terus kayak gitu."
"Makanya Mas tadi juga cepet-cepet pamit, soalnya Mas tahu kamu udah ngerasa nggak nyaman."
"Iihhh, perhatian banget sih suami aku ini. Jadi makin sayang deh," kata Sheila beringsut masuk ke pelukan Steven.
Steven memeluk Sheila, mencium puncak kepalanya kemudian mengelus lembut punggung Sheila berulang kali.
"Sayang."
"Iya."
"Ada yang bangun," bisik Steven di telinga Sheila kemudian menggigit pelan daun telinga Sheila.
"Maaasss,,, tapi kan ini di kantor."
"Terus kenapa? Pintunya udah aku kunci kok," kata Steven mulai menciumi leher Sheila dan menyesapnya dalam, meninggalkan tanda kepemilikannya disana.
"Maaasss,,,,"
__ADS_1
Tangan Steven sudah bergerilya kemana-mana, menyentuh Sheila di titik-titik sensitifnya. Kalau sudah seperti ini Sheila sudah tidak mampu menolak lagi. Melebur menjadi satu melayani hasrat sang suami. Berusaha bersama meraih puncak kenikmatan dunia. Hanya erangan dan desahan yang keluar memenuhi ruangan kamar istirahat tersebut.
Sudah lama Steven memimpikan hal ini, memadu kasih dengan Sheila di kamar istirahat di kantornya. Dan akhirnya keinginannya terwujud sekarang. Sensasi yang luar biasa, di tengah-tengah hiruk pikuk kantor dan kepenatan aktivitas pekerjaan. Sepertinya Steven akan ketagihan untuk terus mengulanginya. Mood booster untuk melaksanakan aktivitas kerjanya.