
Tok tok tok.
"Masuk!"
Ceklek.
"Selamat siang Pak," sapa Sonia setelah membuka pintu ruangan Sean.
Seketika Sean langsung mengalihkan pandangannya dari berkas-berkas yang sedang dikerjakannya.
"Oh, Ana. Masuklah."
"Baik Pak."
"Duduklah," kata Sean mempersilahkan setelah Sonia sampai di depan meja kerjanya.
"Terima kasih Pak," balas Sonia kemudian duduk di kursi di depan meja kerja sean.
"Ini berkas laporan yang bapak minta," lanjut Sonia seraya menyerahkan berkas yang dia bawa.
"Oke, makasih. Biar saya cek dulu sebentar."
Sean menerima berkas tersebut kemudian membukanya. Dan ketika sedang menunggu Sean selesai memeriksa berkas tersebut, pandangan Sonia tiba-tiba tertuju pada papan nama di atas meja yang terbuat dari kayu dengan ukiran klasik yang begitu unik dan cantik.
'Sean Ravindra Setyo Aji.'
Sonia tersenyum kecil membaca nama sang CEO pada papan nama tersebut. Tapi sedetik kemudian,
'Sean? Setyo Aji? Mungkinkah?'
Sonia memberanikan diri untuk mengangkat wajahnya dan melihat wajah Sean yang sedang fokus memeriksa berkas itu dengan seksama. Dipandanginya wajah Sean secara intens. Dan sesaat kemudian Sonia terperanjat dengan sesuatu yang ada di pikirannya.
'Astaga. Sepertinya benar, wajah Pak Sean sangat mirip dengan Safa dan juga Bunda Sheila. Selama bersahabat dengan Safa, aku memang belum pernah bertemu dengan kakak Safa yang bernama Sean karena katanya dia selalu sibuk. Mungkinkah Pak Sean ini adalah kakak pertama dari Safa?'
Belum hilang keterkejutan Sonia, tiba-tiba saja pintu ruangan Sean terbuka.
"Sean habis ini kita ada meeting sama Sammy sama Lucky. Nadirga udah kasih tau Lo kan?" tanya Adrian sembari melangkah masuk ke dalam ruangan Sean.
Mengikuti saran Adrian kemarin untuk mencari sekretaris laki-laki, akhirnya Sean memilih Nadirga, putra Yas, untuk menjadi sekretarisnya. Dan memang kemampuan Nadirga pun tak kalah hebatnya dengan sang Papa yang sampai saat ini juga masih menjadi sekretaris Steven.
"Udah. Ini gue lagi memeriksa laporan keuangan untuk bahan meeting kita nanti, Yan," jawab Sean tanpa menoleh ke arah Adrian.
'Adrian? Kami sudah pernah bertemu beberapa kali dulu. Ya Tuhan, semoga dia tidak mengingat wajahku,' do'a Sonia di dalam hatinya.
Adrian sempat terkejut melihat Sonia. Tapi kemudian Adrian menyadari kegugupan dan kekhawatiran Sonia.
"Eh, karyawan baru ya, aku kok kayaknya baru lihat?" tanya Adrian pura-pura tidak mengenali Sonia.
Sonia menghembuskan nafasnya lega. Hal itu tidak luput dari perhatian Adrian.
'Syukurlah, Pak Adrian benar-benar tidak mengenaliku.'
"Oh, iya. Namanya Ana, dari divisi keuangan," Sean yang menjawab.
__ADS_1
"Ooohhh," Adrian ber-oh panjang sambil menganggukkan kepalanya beberapa kali.
"Selamat siang Pak, perkenalkan nama saya Anastasia," kata Sonia setelah berdiri kemudian membungkukkan sedikit badannya.
"Hai Anastasia, semoga betah ya bekerja disini."
"Tentu saja Pak. Terima kasih."
"Oke Ana, bilang ke Pak Azril berkasnya saya bawa dulu untuk bahan meeting hari ini, besok saya kembalikan," kata Sean.
"Baik Pak, nanti saya sampaikan ke Pak Azril. Kalau begitu saya permisi dulu. Mari Pak Sean, Pak Adrian," pamit Sonia.
"Silahkan," balas Sean, sementara Adrian hanya menganggukkan kepalanya.
Sonia kemudian meninggalkan ruangan Sean.
"Tumben Lo Bro, se-care itu sama karyawan kita?" tanya Adrian yang sudah mendudukkan dirinya di kursi yang tadi di duduki oleh Sonia.
"Maksudnya?" tanya Sean bingung dengan mengerutkan kedua alisnya.
"Gue nanya ke Ana kenapa Lo yang jawab? Antusias banget Lo, tau sedetail itu pula sampe ke bagian divisinya juga. Kayak bukan Lo yang biasanya aja Bro," jawab Adrian dengan maksud menggoda Sean.
Sean membulatkan kedua matanya karena terkejut mendengar penuturan Adrian.
'Sampai segitunya ya gue? Masak sih?'
"Apaan sih Lo Yan, jangan mulai deh. Sebagai atasan yang baik kan kita emang harus memperhatikan karyawan kita. Kalo masalah divisi, kan dia anak buah Pak Azril, sudah pastilah dia dari divisi keuangan," Sean menjawab secara rasional agar Adrian tidak curiga lagi.
"Oh, gitu ya," balas Adrian sok polos.
'Mau bohongin gue Lo? Hahaha, gue tau gimana Lo Sean. Oke, gue ikutin permainan Lo. Kita lihat aja sampai sejauh mana Lo mau menyangkal,' batin Adrian.
🌸🌸🌸
Dua bulan sudah Sonia bekerja di SR Group. Alhamdulillaah gaji yang didapat Sonia cukup untuk biaya hidupnya selama di ibu kota dan untuk membayar biaya pendidikan kedua adiknya. Sementara untuk kebutuhan sehari-hari ibu, nenek, dan kedua adiknya, mereka mengandalkan dari hasil warung makan dan toko kelontong milik Suci.
Sifat Sonia yang ramah, sopan, dan suka menolong membuat dia langsung dekat dengan beberapa penghuni kost yang lainnya dan juga warga di lingkungan tersebut. Mereka semua menerima Sonia dengan baik.
Bulan kemarin nenek Sonia sempat di rawat di rumah sakit. Dan untuk biaya perawatan nenek selama di rumah sakit Suci mendapatkan pinjaman dari ketua RT di desa mereka. Beruntungnya mereka yang dikelilingi oleh orang-orang yang baik hati, meski ada sebagian juga yang masih memandang mereka sebelah mata.
Dan demi bisa membayar pinjaman untuk biaya perawatan nenek selama di rumah sakit kemarin, Sonia pun akhirnya mengambil kerja sampingan di sebuah cafe. Salah satu tetangga kost Sonia yang membantu Sonia untuk bisa bekerja di cafe tersebut pada malam hari.
🌸🌸🌸
Sean dan Adrian turun dari mobil yang dikemudikan oleh Nadirga. Saat ini mereka berada di parkiran sebuah cafe. Tristan, putra kedua Toni dan Dyah, mengajak mereka untuk bertemu di cafe tersebut karena ada sesuatu hal yang ingin dia bicarakan dengan ketiga orang yang sudah seperti kakaknya sendiri itu.
"Lo ikut masuk kan Ga?" tanya Adrian.
"Ikut kok Mas," jawab Nadirga.
"Ya udah, ayo buruan!" ajak Adrian.
Ketiganya kemudian melangkah masuk ke dalam cafe tersebut. Sebuah cafe yang nampak cozy dan kekinian itu lumayan ramai pengunjung.
__ADS_1
"Bang!" panggil Tristan dari salah satu meja dengan mengangkat tangan kanannya.
Sean, Adrian, dan Nadirga pun kemudian melangkah menghampiri Tristan dan ikut duduk di meja tersebut. Keempatnya saling tos sebagai salam pertemuan mereka.
"Ada masalah apa sih Tan, tumben minta ketemuan sama kita bertiga kayak gini?" tanya Adrian setelah mereka duduk bersama.
"Tan, Tan, emangnya gue setan apa," gerutu Tristan cemberut.
"Lha terus gimana, mau dipanggil Tris aja? Entar dikira Sutris lagi," canda Nadirga yang langsung disambut gelak tawa Adrian dan Nadirga sendiri.
Tristan makin cemberut, sementara Sean hanya tersenyum tipis.
"Nggak asik ah kalian. Bang, bantuin gue napa?" rajuk Tristan pada Sean.
"Udah-udah, berhenti godain Tristan. Kalian ini kebiasaan deh," lerai Sean pada akhirnya.
"Pesen minum dulu gih, Mas jadi haus nih gara-gara ketawa," kata Adrian.
Tristan segera memanggil pelayan. Dan tanpa diduga sebelumnya, ternyata Sonia yang datang hendak mencatat pesanan mereka.
"Ana?" tanya Sean terkejut.
"Eh, Pak Sean?" Sonia pun juga ikut terkejut.
"Kamu ngapain disini?" tanya Sean lagi.
"Oh, saya kerja sampingan disini Pak kalau malam hari," jawab Sonia seadanya.
"Kerja sampingan?" tanya Sean lagi meyakinkan.
"Iya Pak. Mohon maaf sebelumnya, tapi saya masih harus melanjutkan pekerjaan saya. Jadi, bapak dan yang lainnya mau pesan apa?" tanya Sonia sopan.
"Capuccino untuk saya dan Sean, coffee latte untuk mereka berdua. Sama dua cake coklat dan dua cake vanilla," Adrian yang menjawab sekaligus mewakili yang lainnya, sudah hafal dengan kesukaan masing-masing.
"Baik, silahkan ditunggu sebentar ya Pak. Saya permisi dulu," pamit Sonia setelah selesai mencatat pesanan mereka.
"Abang kenal sama cewek tadi Bang?" tanya Tristan setelah kepergian Sonia.
"Dia karyawan Abang di kantor," jawab Sean masih dengan raut wajah yang tidak bisa dibaca, antara terkejut, bingung, dan penasaran.
Tristan nampak ber-oh ria sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.
"So, kenapa Lo minta ketemuan sama kita bertiga Dek?" tanya Adrian mengalihkan pembicaraan.
"Eh, iya. Gini Mas, gue mau minta pendapat sama Bang Sean, Mas Rian, dan kak Dirga, kemarin Papa bilang kalau gue mulai disuruh datang ke kantor sepulang kuliah. Ya, itung-itung belajar sama latihan, gitu kata Papa. Menurut kalian gimana?" Tristan menceritakan tujuannya bertemu dengan ketiga kakaknya itu.
Adrian melihat Sean yang masih belum bisa fokus. Akhirnya dia yang angkat bicara.
"Kalau menurut Mas sih, kamu ikutin aja saran Papa Toni. Kan emang nantinya kamu juga yang bakal gantiin Papa Toni di perusahaan tersebut."
"Tapi gue kan masih kuliah juga Mas, apa gue mampu?"
"Justru itu Tristan, Lo harus pinter-pinter ngatur waktu Lo sendiri mulai dari sekarang. Buktikan ke semuanya kalau Lo mampu dan Lo pantes buat gantiin Papa Toni nanti," Sean akhirnya mulai ikut bicara.
__ADS_1
Nampak kelegaan di wajah Adrian. Sahabatnya itu masih bisa menguasai rasa penasarannya dengan baik. Adrian tidak tau saja, sedang terjadi pergulatan saat ini di dalam hati dan pikiran Sean.
'Kenapa Ana sampai harus bekerja sampingan seperti ini? Apakah gaji yang dia dapat dari bekerja di kantorku masih belum cukup? Tapi nominal gaji di tempatku sudah lebih dari memenuhi standar, bukankah itu seharusnya cukup? Atau jangan-jangan, Ana sedang mengalami masalah dalam hal keuangan?' batin Sean penuh dengan pertanyaan.