
Sheila bersyukur skripsinya berjalan dengan lancar. Tidak banyak yang harus direvisi selama bimbingan. Semua itu tidak lepas karena bantuan dari Steven, suaminya, yang selalu membantu mempermudah Sheila dalam memperoleh data-data yang dibutuhkan untuk bahan pembuatan skripsinya.
Hari ini adalah bimbingan terakhir setelah revisi. Dan jika dosen pembimbing menyetujui semua hasil revisi yang sudah Sheila buat, maka sidang sudah berada di depan mata.
Sheila keluar dari ruangan dosen pembimbing dengan wajah berbinar bahagia. Dyah, Tya, dan Lusia sudah menunggu Sheila dengan harap-harap cemas.
"Gimana Shei?" tanya mereka hampir bersamaan.
"Alhamdulillaah, udah ACC," jawab Sheila bahagia.
"Alhamdulillaah, selamat ya Shei," seru ketiga sahabatnya ikut bahagia. Mereka berempat lalu saling berpelukan.
"Makasih semuanya."
"Habis ini Lo mau langsung pulang Shei?" tanya Tya setelah mereka melerai pelukan mereka.
"Enggak, mau ke kantor Mas Steven. Kebetulan nanti sore ada jadwal periksa ke dokter kandungan."
"Duh, keponakan Onty kuat banget sih, tetep sehat walau diajakin Bunda riweuh buat skripsi ya Dek," kata Dyah sambil mengelus perut Sheila yang sudah sedikit membuncit.
"Tentu saja kuat, Ayah-nya saja siaga dua puluh empat jam untuk bantuin Bunda dan memastikan Bunda tetap nyaman dan tidak kecapekan," seloroh Lusia yang dibalas dengan tawa keempatnya.
Mereka berempat lalu berjalan beriringan menuju ke depan kampus.
"Nggak usah ngeledekin Sheila, orang Lo sendiri juga dibantuin kan sama Bang Danny," Dyah membalik ucapan Lusia dengan telak.
Lusia hanya bisa tersenyum sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Enak banget sih kalian ada yang bantuin, gue kan juga mau," rengek Tya.
"Cari pacar sana, biar ada yang bantuin," ledek Lusia.
"Bisa digorok Abang gue kalau gue macem-macem," kata Tya sambil cemberut dan mengerucutkan bibirnya.
"Itu karena Bang Toni sayang sama Lo Ya. Dia nggak mau Lo kenapa-kenapa," Dyah menyuarakan pemikirannya.
"Iya sih, tapi terlalu banyak dilarang nggak asyik juga tahu."
"Kan demi kebaikan kamu juga Ya," Sheila pun ikut menghibur.
Tak terasa mereka sudah sampai di depan kampus.
"Kamu nggak ikut Lus? Barangkali mau ketemu Danny sekalian," tanya Sheila.
"Enggak deh Shei, masih ada yang harus gue revisi sedikit," jawab Lusia.
"Nggak perlu nyusulin ke kantor, entar malem juga orangnya dateng ke rumah," goda Dyah.
"Apaan sih," Lusia tersipu mendengar godaan dari Dyah. Yang lain jadi tertawa.
"Ya udah, kalau gitu aku duluan ya. Pak Damar udah nungguin tuh," kata Sheila.
"Oke, hati-hati ya Shei," kata Tya dibalas anggukan kepala Sheila.
"Assalamu'alaikum," pamit Sheila.
"Wa'alaikumsalam," jawab Dyah, Tya, dan Lusia bersamaan.
__ADS_1
Sheila lalu menghampiri mobil Pak Damar dan segera masuk ke dalam mobil.
...
Sheila berjalan memasuki gedung perkantoran milik Steven. Seperti biasa para karyawan yang berpapasan dengan Sheila selalu menyapa dengan hormat dan Sheila pun membalasnya dengan tak kalah ramah.
"Selamat siang Bu Sheila," sapa Santi begitu melihat Sheila berjalan mendekat.
"Selamat siang Mbak Santi. Bapak ada?"
"Ada Bu. Silahkan langsung masuk saja Bu," Santi mempersilahkan dengan sopan.
"Terima kasih Mbak Santi. Saya masuk dulu ya."
"Iya Bu, silahkan."
Sheila membuka pintu ruangan Steven perlahan sambil mengucapkan salam.
"Assalamu'alaikum Mas."
"Wa'alaikumsalam. Sayang, udah dateng?" Steven langsung beranjak dari kursi kebesarannya dan menghampiri Sheila.
Sheila mencium punggung tangan kanan Steven. Dan setelah balas mencium kening Sheila, Steven kemudian mengajak Sheila duduk di sofa.
"Gimana tadi hasilnya?"
"Alhamdulillaah Mas, udah ACC," jawab Sheila girang.
"Alhamdulillaah. Tinggal nunggu sidang berarti. Anak Ayah gimana nih, nggak rewel kan hari ini?" tanya Steven sambil mendekatkan wajahnya ke perut Sheila kemudian mengecup beberapa kali.
"Alhamdulillaah nggak rewel Mas. Cuma muntah sekali tadi pagi," jawab Sheila tersenyum melihat Steven yang sedang mengelus perutnya.
"Masih mual ya Mas? Kok masih minum jus mangga terus?" tanya Sheila.
"Mual sih udah enggak sayang, cuma tiga hari kemarin, itupun kalau udah minum yang asem-asem udah hilang mualnya. Nggak tahu kenapa, tapi Mas pengennya minum itu terus. Santi aja sampai geleng-geleng kepala."
"Kok Mas jadi ikutan kayak orang ngidam sih?" tanya Sheila merasa tidak enak hati melihat Steven juga mengalami mual meski tidak separah dirinya.
"Nggak masalah sayang. Biar Mas juga ngerasain momen hadirnya calon buah hati kita ini."
"Tapi kan Mas Steven kerja, aku kasihan kalau sampai kerja Mas terganggu dan nggak bisa maksimal kayak biasanya."
"Enggak kok sayang. Cuma pengen makanan dan minuman tertentu aja kok nggak sampai muntah-muntah. Udah dong, jangan merasa bersalah seperti itu. Mas aja yang njalanin happy kok, kamu nggak perlu khawatir sayang. Everything is still under control," kata Steven meyakinkan.
Steven membelai lembut pipi Sheila kemudian mencium bibirnya sekilas. Keduanya lalu tersenyum bersama.
"Kak Steven," teriak seorang wanita setelah membuka pintu secara tiba-tiba.
Steven dan Sheila sontak mengalihkan pandangannya ke arah pintu. Nampak seorang wanita cantik dengan pakaian kantoran yang begitu elegan. Santi mengekor di belakangnya dengan wajah panik.
"Celine?" tanya Steven seakan tidak percaya.
Steven segera berdiri dan menghampiri wanita bernama Celine tersebut. Celine langsung menghambur memeluk Steven. Tampak sejuta kebahagiaan di wajah cantiknya. Dan Steven membalas pelukan Celine dengan hangat.
Entah kenapa Sheila merasakan dadanya sedikit sesak melihat suaminya memeluk wanita lain sehangat itu. Tapi Sheila berusaha menekan perasaannya.
"Kak Steven aku kangen banget," kata Celine begitu manja setelah Steven melepas pelukan mereka berdua.
__ADS_1
"Kakak juga kangen. Kapan dateng? Kenapa nggak ngabarin dulu?" tanya Steven setelah memberi isyarat pada Santi untuk kembali keluar dengan tangannya.
"Semalem. Sengaja pengen kasih kejutan ke kakak," jawab Celine sambil bergelayut manja di lengan Steven.
Steven mencoba melepaskan tangannya dengan pelan. Steven merasa ini sedikit berlebihan. Dan juga ada Sheila yang sedang memperhatikan interaksi mereka, Steven tidak ingin istrinya itu menjadi salah paham.
"Sayang sini," panggil Steven kepada Sheila.
Wajah Celine nampak terkejut. Baru menyadari ada seorang wanita cantik yang duduk di sofa. Dan apa tadi, Steven memanggilnya dengan sebutan 'sayang'?
Sheila berjalan menghampiri Steven dan Celine dengan senyum manis di bibirnya. Steven langsung merangkul pinggang Sheila begitu Sheila sampai di dekatnya.
"Sayang kenalin ini Celine, dia udah Mas anggap seperti adik Mas sendiri. Dan Celine, kenalin ini Sheila, dia istri kakak," kata Steven memperkenalkan keduanya.
"Hai Celine," sapa Sheila ramah dengan mengulurkan tangannya.
Celine masih terpaku dengan keterkejutannya. Apa dia tidak salah dengar? Istri kata Steven? Namun Celine segera bisa menguasai diri kemudian menyambut uluran tangan Sheila dengan berat hati.
"Hai."
'Tidak boleh. Kak Steven hanya milikku. Siapa wanita ini, kenapa tiba-tiba dia datang dan merebut Kak Steven dariku? Tidak, aku harus bisa merebut Kak Steven kembali. Kak Steven hanya boleh jadi milikku.'
"Kak temenin Celine belanja yuk beli barang-barang keperluan Celine selama disini. Kemarin cuma bawa sedikit baju dan ternyata barang-barang keperluan sehari-hari di apartemen juga habis semua," rengek Celine manja kepada Steven, mencoba mengacuhkan Sheila di samping Steven.
"Kalau untuk hari ini kakak nggak bisa Cel, maaf ya. Kakak mau nganterin Sheila cek ke dokter kandungan," tolak Steven halus kemudian memencet tombol pada jam tangannya yang terhubung pada jam tangan Danny dan Ken.
Jam tangan mereka bertiga memang di-desain khusus dan bisa mengirim sinyal satu sama lain, seperti jam tangan yang diberikan kepada Sheila dulu. Dan hal itu juga mempermudah mereka untuk memanggil satu sama lain.
"Apa? Dokter kandungan?" tanya Celine kaget.
"Iya, Sheila sedang hamil Cel, udah jalan empat bulan ini."
Bagai disambar petir di siang bolong, Celine begitu kaget mendengar kabar tersebut. Sial. Tadi istri, dan sekarang sedang hamil? Double shit. Bagaimana bisa Celine tidak tahu tentang kabar pernikahan Steven. Hancur sudah harapannya selama ini. Tapi Celine segera menormalkan raut wajahnya dan kembali menguasai dirinya, dia tidak akan menyerah semudah ini.
Tidak lama kemudian Danny dan Ken masuk ke ruangan Steven.
"Kenapa Bro?" tanya Ken dan matanya langsung terbelalak lebar melihat Celine ada disana. "Celine?"
"Hai kak Ken," sapa Celine kemudian memeluk Ken setelah itu berganti memeluk Danny.
"Kak Danny."
"Wah, bener-bener sebuah kejutan kamu balik ke Indonesia lagi Cel," kata Danny setelah melepas pelukannya.
"Iya kak, perusahaan Papa disini sekarang aku yang pegang."
"Wow, berarti kamu akan stay di Indonesia dong?" tanya Ken sumringah.
"Rencananya begitu kak."
"Oh ya, tadi Celine bilang minta ditemenin belanja untuk beli keperluan sehari-hari dia, tapi kan sore ini jadwal Sheila periksa ke dokter kandungan. Kalian bisa kan temenin Celine?" tanya Steven kepada Danny dan Ken.
"Waduh, sorry gue ada janji sama Lusia. Lo Ken?" tanya Danny.
"Gue free. Oke biar kak Ken yang temenin kamu belanja ya Cel?" tawar Ken.
"Nah Celine, kamu ditemenin sama Ken ya? Lain kali kita bisa kumpul-kumpul bareng lagi," kata Steven memutuskan.
__ADS_1
Mau tidak mau Celine akhirnya mengikuti keputusan Steven. Tapi di dalam hatinya Celine bersumpah kalau dia harus bisa merebut Steven kembali.