
Hari ini adalah hari ulang tahun pernikahanku dengan Mas Steven yang pertama. Satu tahun menjalani kehidupan pernikahan ini, aku tidak pernah menyangka sama sekali kalau aku akan mendapatkan kebahagiaan berlimpah seperti saat ini, mengingat bagaimana awal dari pernikahanku dengan Mas Steven yang didasari karena perjodohan bahkan terselip perjanjian di dalam pernikahan kami tersebut.
Ternyata memang benar, rencana Tuhan selalu tidak terduga, dan pasti merupakan yang terbaik untuk para hamba-Nya. Dan balasan yang indah akan selalu mengiringi kesabaran dan keikhlasan.
Aku sama sekali tidak menyangka kalau Mas Steven pun mengingat hari ini. Aku bahkan juga baru mengetahui kalau ternyata Bang Dika yang sudah seperti kakak bagi kami itu memiliki andil besar dalam pernikahan kami. Untaian rasa syukur memenuhi relung hati kami berdua.
Siang hari Mas Steven mengirim pesan padaku, dia menyuruhku bersiap untuk acara makan malam diluar untuk merayakan hari ulang tahun pernikahan kami yang pertama. Bahkan Mas Steven bilang kalau dia sudah mengirim gaun.
Rona bahagia dan senyum di bibir membuat ibu mertuaku, yang kini juga begitu menyayangiku, bertanya padaku. Pelukan hangat dan untaian do'a terbaik untukku dan Mas Steven pun aku dapatkan setelah beliau mengetahui alasan di balik senyumanku.
Selepas sholat Maghrib aku segera bersiap. Mas Steven mengirim pesan kalau dia masih ada meeting penting, tapi dia sudah mengirim sopir kantor untuk menjemputku. Dan setelah Mbak Siti memberi kabar bahwa sopir yang dikirim Mas Steven sudah datang aku segera bergegas untuk turun. Berpamitan kepada ibu mertuaku, aku pun keluar menghampiri sopir yang sudah menunggu di samping mobil yang terparkir.
Tapi tunggu, aku merasa seperti ada yang janggal. Sopir tersebut memanggilku 'Nona'. Semua karyawan di kantor Mas Steven memanggilku dengan sebutan 'Bu', dan lagi aku juga sepertinya belum pernah melihat karyawan Mas Steven yang satu ini.
Aku mencoba menghubungi Mas Steven tapi tidak bisa. Mencoba berpikir positif, meski sedikit ragu akhirnya aku masuk juga ke dalam mobil.
"Bapak karyawan baru ya di kantor, kok saya sepertinya belum pernah melihat bapak?" tanyaku ketika mobil sudah melaju meninggalkan rumah.
"Kantor? Oh, eh, i-iya Nona, saya karyawan baru di kantor," jawab sopir tersebut sedikit terbata.
Perasaanku semakin tidak tenang. Aku seperti merasakan firasat buruk. Dan benar saja, sesaat kemudian mobil yang kami tumpangi berhenti, ada dua orang laki-laki yang masuk. Satu duduk di depan satu lagi duduk di belakang di sebelahku.
"Siapa kalian?" tanyaku mulai khawatir.
Dan tiba-tiba saja laki-laki yang duduk di sebelahku membekap mulutku dengan sapu tangan. Sesaat kemudian aku kehilangan kesadaran dan tidak ingat apa-apa lagi.
...
Aku terbangun di sebuah kamar yang sangat asing. Kepalaku rasanya pusing sekali, seperti mau pecah.
"Dia sudah sadar," kata seseorang.
"Baguslah. Sebentar lagi bos datang. Kita tunggu diluar saja, dia juga sudah sadar," balas orang yang satu lagi.
Lalu aku mendengar pintu ditutup. Sepertinya dua orang tadi sudah keluar. Perlahan aku bangun dan mendudukkan tubuhku. Masih sambil memegangi kepalaku, rasanya masih pusing sekali.
"Aku dimana ini? Masya Allah pusing sekali," keluhku.
Beberapa saat kemudian, aku mulai bisa menguasai diriku. Rasa pusingnya juga berangsur-angsur menghilang. Tiba-tiba pintu mengayun terbuka. Dan betapa terkejutnya aku melihat siapa yang datang.
"Kak Raka? Mbak Celine?"
"Kau sudah sadar Shei?" tanya Raka.
"Apa-apaan ini? Kakak menculikku ya?" tanyaku mulai emosi.
"Hei, sabar sayang. Kakak kan hanya memperjuangkan kamu, orang yang kakak cintai dari dulu."
"Apa maksud kakak sebenarnya? Aku udah nikah kak. Dari dulu aku juga selalu bilang kalau aku nggak cinta sama kakak."
__ADS_1
"Diam kau wanita murahan. Kau merebut kak Steven dariku," teriak Celine.
"Hei, jangan kasar pada wanitaku. Ingat perjanjian kita. Kamu dapat Steven aku dapat Sheila, jangan sampai ada yang tersakiti," kata Raka mengingatkan.
Aku semakin berang mendengar perkataan kak Raka. Segera aku turun dari tempat tidur dan menghampiri mereka berdua.
"Apa maksud kalian sebenarnya?"
"Hei, jangan marah-marah cantik. Kami hanya mengembalikan semua pada posisi yang seharusnya. Mengembalikan jodoh yang tertukar, hahaha," kata Raka diakhiri gelak tawanya bersama Celine.
"Tidak ada jodoh yang tertukar, semua sudah atas kehendak Allah SWT," balasku sengit.
"Jangan bawa-bawa Tuhan. Kak Steven hanya milikku, kau yang sudah merebutnya dariku. Dan aku hanya berusaha untuk mengambil kembali apa yang menjadi milikku," kata Celine.
"Dasar kalian berdua gila," umpatku lalu berusaha memukuli Raka.
Raka berhasil menangkis dan menangkap tanganku dengan mudah. Tidak kehilangan akal aku lalu menendang selangkangannya menggunakan lutut. Memanfaatkan kesempatan Raka yang sedang mangaduh kesakitan aku lalu mendorong Celine dan bergegas berlari keluar dari ruangan ini.
Beruntung tidak ada penjaga yang bersiaga di sekitar kamar yang tadi ku tempati. Tapi aku melihat dua orang sedang berlari ke arahku, aku pun bergegas lari menuju pintu depan.
Aku berhasil keluar, namun sayang beberapa penjaga menghadangku. Mencoba berontak, tapi tak lama kemudian Raka pun keluar dari rumah.
"Lepas. Lepaskan aku," teriakku memberontak ketika dua orang mencekal tanganku.
"Cukup Shei. Aku sudah berbaik hati dengan bersikap baik tapi seperti ini balasan kamu," sergah Raka.
Raka mengambil alih mencekal tanganku dan berusaha menarikku masuk kembali ke dalam rumah.
"Lepas kak. Aku tidak mau. Lepaskan aku."
Aku mendengar suara keributan. Dan aku melihat Mas Steven sedang berkelahi dengan anak buah Raka di depan sana. Tidak lama kemudian Danny juga menyusul.
"Mas Steven," teriakku kegirangan.
"Sheila," balas suamiku di sela-sela perkelahiannya.
Raka terus berusaha menarikku masuk tapi aku pun terus memberontak sekuat tenaga. Tidak lama kemudian Mas Steven sudah sampai di dekat kami.
"Lepaskan istri gue, b*jing*n," teriaknya sambil memukul keras wajah Raka.
Raka terhuyung dan cekalannya di tanganku terlepas. Aku segera menghambur memeluk suamiku.
"Mas Steven," lirihku sambil menangis.
"Kamu nggak pa-pa kan sayang?"
Merenggangkan pelukan, Mas Steven menangkup kedua pipiku. Aku menggelengkan kepala. Mas Steven lalu mencium keningku dalam.
Bugh.
__ADS_1
"Aaarrghh," pekikku kaget melihat Mas Steven terhuyung karena dipukul menggunakan balok kayu.
"Kamu menyingkir dulu sayang, cari tempat yang aman," perintah Mas Steven.
Aku hanya bisa mengangguk sambil masih menangis kemudian mundur ke belakang, mencari tempat yang sekiranya lebih aman sambil terus memegangi perutku. Berusaha untuk melindungi buah hati kami dari luar.
Mas Steven kembali berkelahi dengan Raka dan dua anak buahnya. Aku melihat Mas Steven nampak kewalahan. Dalam tangisanku aku berdo'a dalam hati, memohon kepada Tuhan untuk keselamatan suamiku.
Celine tiba-tiba saja keluar dari dalam rumah.
"Kak Steven," teriaknya terkejut. "Raka ingat janji kamu, jangan sakiti kak Steven."
Raka tidak menghiraukan teriakan Celine. Merasa geram Celine kemudian menghampiriku dan menamparku.
Plak.
"Aakht."
"Sheila," teriak Mas Steven.
"Ini semua gara-gara kamu. Dasar wanita sialan," teriak Celine kemudian mendorongku.
Aku terhuyung ke belakang tapi tidak sampai terjatuh. Tiba-tiba saja Celine mengeluarkan pistol dari dalam tas-nya dan mengarahkannya padaku.
"Jangan bergerak! Hentikan semuanya!"
Aku mendengar teriakan dan kulihat sekilas polisi datang memberi bantuan. Aku bersyukur dalam hati.
"Kau harus mati, kak Steven hanya milikku," kata Celine dengan menyeringai menakutkan.
"Tunggu mbak, tolong jangan lakukan itu," pintaku.
Dorrr.
"MAS STEVEN,,," teriakku sekencangnya ketika melihat Mas Steven tiba-tiba saja berdiri di depanku dan menerima peluru yang diarahkan padaku.
"Oh tidak, kak Steven," Celine pun jatuh terduduk, syok melihat semuanya.
Mas Steven terjatuh di hadapanku. Aku segera meraih kepala Mas Steven dan memangkunya. Air mataku luruh semakin deras melihat kondisi suamiku. Darah terus mengalir dari punggung Mas Steven.
Beberapa anggota polisi segera meringkus Celine dan Raka. Mereka juga mengamankan pistol yang digunakan Celine sebagai barang bukti.
"Mas," panggilku lirih.
"M-mas nggak pa-pa sayang," jawab Mas Steven terbata.
Perlahan-lahan kesadaran Mas Steven mulai menghilang dan tidak sadarkan diri di pangkuanku.
"Mas Steven, Mas," panggilku panik.
__ADS_1
"Kita bawa Steven ke rumah sakit sekarang juga Shei," kata Danny yang menghampiriku.
Aku sudah tidak mampu menjawab lagi, hanya terus menangis. Mas Steven diangkat anak buahnya menuju ke mobil. Danny membantuku berdiri kemudian memapahku. Di dalam mobil aku memangku kepala Mas Steven, ku genggam tangannya erat. Do'a tidak pernah putus aku panjatkan di dalam hati untuk keselamatan suamiku, seiring dengan air mata yang juga terus mengalir.