
"Lusia, Pak Danny nyuruh kamu menghadap sekarang, mau minta tolong sesuatu katanya," kata Rini, sekretaris Danny, memberitahu Lusia.
"Iya mbak," jawab Lusia cepat.
"Modus banget tuh si Danny. Bilang aja pengen berduaan sama kamu, pake alesan minta tolong segala. Kalau cuma minta tolong kan udah ada Mbak Rini tuh," kata Sheila pelan kepada Lusia setelah kepergian Rini.
"Apa sih Shei, jangan mulai deh. Urusin aja tuh suami kamu yang udah bucin akut itu," Lusia balik menggoda Sheila.
Tak berapa lama kemudian intercom di meja Santi berbunyi. Santi segera menjawabnya.
"Iya Pak."
"Santi bilang sama Sheila untuk ke ruangan saya sekarang juga."
"Baik Pak."
Dan setelah intercom ditutup Lusia langsung menyemburkan tawanya.
"Apa gue bilang, suami Lo itu sakau kalau sebentar aja nggak ngeliat Lo Shei," ejek Lusia.
Wajah Sheila sudah semerah tomat, sementara Santi hanya tersenyum kecil menanggapi obrolan kedua sahabat itu.
"Udah-udah, sana dua-duanya pergi, udah ditungguin pangeran masing-masing tuh," goda Santi.
"Mbak Santi," rajuk Sheila malu sementara Lusia hanya cengar cengir tidak karuan.
"Udah sana."
Akhirnya Sheila dan Lusia beranjak dari tempat duduk masing-masing. Sheila masuk ke ruangan Steven sementara Lusia menuju ke ruangan Danny di sebelah ruangan Steven.
Pada saat jam istirahat makan siang. Lusia sedang menunggu Danny di meja kerjanya. Sheila masih di dalam ruangan Steven. Entah apa saja yang mereka lakukan di dalam sana, dari tadi tidak keluar-keluar.
Tiba-tiba saja Papa Lusia datang menghampiri meja kerja Lusia.
"Lus makan siang bareng Papa yuk nak. Seminggu lebih kamu disini tapi belum pernah sekalipun kita makan siang bareng. Berangkat dan pulang juga nggak pernah bareng sama Papa," keluh Angga, Papa Lusia.
Lusia tersenyum canggung dan menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. Lusia juga bisa melihat Danny yang berdiri agak jauh di belakang Papa-nya. Lusia jadi merasa serba salah, karena Danny sudah terlebih dahulu mengajaknya makan siang seperti biasanya.
"Maafin Lusia yah Pa. Lusia nggak bermaksud gitu."
Lusia menatap Danny dengan tatapan bingung. Tapi kemudian Danny tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Mengisyaratkan kalau dia mengijinkan Lusia pergi dengan Papa-nya.
__ADS_1
Pintu ruangan Steven terbuka. Steven dan Sheila keluar bersamaan. Steven melihat Lusia dan Papa-nya, kemudian melihat Danny yang berdiri tidak jauh dari mereka. Ahh, Steven mengerti sekarang situasinya seperti apa.
"Selamat siang Pak Steven, nak Sheila," sapa Angga.
"Siang Om."
"Siang Pak Angga."
Sheila dan Steven menjawab bersamaan.
"Belum makan siang Pak Angga?" tanya Steven.
"Ah iya, ini baru mau mengajak putri saya Pak."
"Oh kebetulan sekali kalau begitu. Bagaimana kalau kita makan siang bersama-sama?" tawar Steven.
"Terima kasih banyak sebelumnya Pak, tapi saya merasa tidak enak kalau mengganggu acara makan siang Bapak dengan istri," tolak Pak Angga sopan.
"Tentu saja tidak menggangu Pak. Lagian Lusia dan Sheila kan sahabat baik. Dan bukankah Pak Angga pernah bilang kalau Bapak menyayangi Sheila dan sudah menganggap Sheila seperti putri Bapak sendiri? Jadi kenapa harus merasa sungkan Pak?"
"Iya Om. Jangan merasa nggak enak. Kita makan siang sama-sama ya Om," ajak Sheila juga.
"Baiklah kalau begitu," jawab Angga akhirnya setuju.
"Ah, iya. Kalau memang tidak ada yang keberatan," jawab Danny sambil berjalan mendekat.
"Tentu saja nggak ada yang keberatan. Iya kan Om, Lus?" tanya Sheila kepada Angga dan Lusia.
"Tentu saja tidak. Mari Pak Danny, Pak Steven," jawab Angga sekaligus mempersilahkan kedua atasannya untuk berjalan terlebih dahulu.
"Mari Pak Angga," Steven menepuk pundak Angga dan sedikit mendorong agar Angga berjalan beriringan dengan dirinya.
Mereka berlima kemudian turun ke bawah dan berjalan menuju restoran yang berada tepat di samping kantor.
"Oh ya, bolehkah saya memanggil Om juga kepada Pak Angga kalau tidak sedang berada di kantor seperti saat ini?" tanya Steven setelah pelayan pergi membawa catatan pesanan makanan mereka semua.
"Tentu saja boleh Pak," jawab Angga.
"Kalau begitu Om juga jangan manggil saya Pak dong. Diluar jam kerja, Om adalah orang tua yang wajib saya hormati, seperti Sheila menghormati Om juga," kata Steven.
"Ah, baiklah kalau begitu, nak Steven," kata Angga masih sedikit ragu dan belum terbiasa.
__ADS_1
"Santai saja ya Om kalau diluar jam kerja. Tidak ada atasan dan bawahan."
"Baiklah nak."
"Woy Dan, diem aja Lo dari tadi. Gugup Lo depan 'camer'?" goda Steven yang langsung mendapat pelototan tajam dari Danny.
Steven terkikik pelan sementara Angga tersenyum simpul.
"Mas," tegur Sheila sambil mengulum senyum juga.
"Nak Danny kalau di depan Om memang jadi pendiam dan sopan banget," kata Angga.
"Jaga image lah Om. Biar dapet kesan yang baik di depan calon mertua," Steven belum puas menggoda Danny.
Tendangan di kaki langsung Steven dapatkan dari Danny. Bukannya kesakitan Steven justru semakin tertawa. Sementara Danny dan Lusia sudah salah tingkah.
Pelayan datang membawa makanan dan minuman pesanan mereka semua. Steven kemudian mempersilahkan semuanya untuk makan. Sheila mengambilkan makanan untuk Steven seperti biasanya.
"Kenapa Lo Dan? Pengen?" tanya Steven usil melihat raut kekaguman di wajah Danny.
"Makanya buruan dilamar, dihalalin, nggak perlu kelamaan pacaran. Asal Lo tahu ya, pacaran setelah menikah itu rasanya lebih luar biasa. Udah halal mau ngapain juga. Beuh mantap pokoknya," goda Steven lagi.
"Sebenarnya nak Danny sudah berniat melamar kemarin nak, cuman Om yang belum ngebolehin. Biar Lusia lulus dulu. Tinggal sebentar lagi juga kan. Makanya kemarin itu cuma tunangan sederhana dulu, cuma di depan keluarga. Yah biar ada pengikatnya saja gitu," Angga memberi tahu.
"Terima kasih Pa," kata Danny setelah mencium tangan Angga secepat kilat.
Danny tersenyum mengejek ke arah Steven yang sedang menggaruk tengkuknya, merasa malu dan salah tingkah. Berbanding terbalik dengan Danny yang justru merasa sedikit jumawa, karena dibela oleh calon mertuanya.
"Wah, ternyata gercep juga Lo Dan," puji Steven pada akhirnya.
"Jelas lah. Gue serius ya sama Lusia. Nggak ada niatan main-main sedikit pun. Lagian gue juga inget sama umur gue yang udah hampir kepala tiga. Gue juga pengen berumah tangga. Dan hati gue juga udah mantep sama Lusia. Tapi gue juga menghargai keputusan Om Angga, itu semua demi kebaikan Lusia juga," kata Danny.
"Om bangga dengan kamu nak. Bersabar sebentar lagi ya," kata Angga sambil menepuk-nepuk pundak Danny yang duduk di sebelahnya.
"Tentu saja Om. Aku akan sabar menunggu Lusia lulus kuliah, karena aku beneran cinta sama Lusia," jawab Danny mantap sambil menatap ke arah Lusia.
Lusia tersipu malu mendengarkan semua perkataan Danny dan Papa-nya. Sheila yang duduk di sebelah Lusia menggenggam pelan tangan Lusia dan tersenyum, ikut merasa bahagia untuk sahabatnya tersebut.
"Gue ikut seneng Dan. Akhirnya Lo ketemu jodoh Lo juga. Gue dukung Lo sepenuhnya. Gue juga nggak pernah meragukan pilihan Lo. Apalagi ini Lusia. Gue selalu mendo'akan yang terbaik untuk kalian berdua," kata Steven.
"Thanks Bro. Lo emang paling ngertiin gue," kata Danny menepuk pundak Steven pelan.
__ADS_1
"Selamat untuk kalian berdua. Semoga lancar semuanya sampe resmi syah nanti ya," kata Sheila masih menggenggam tangan Lusia.
Acara makan siang pun berlanjut diselingi dengan obrolan dan canda tawa mereka semua.