Cinta Sheila

Cinta Sheila
Dilema


__ADS_3

Aplikasi adzan di handphone Sheila berbunyi pagi itu. Perlahan Sheila mulai membuka matanya. Sedikit terkejut, ternyata semalaman dia tertidur dalam pelukan Steven suaminya.


"Mas, bangun. Subuhan dulu yuk," kata Sheila sambil memegang lengan Steven.


"Hmh... Udah adzan ya?" tanya Steven mulai terbangun.


"Udah. Sholat subuh dulu yuk!"


Steven mengangguk. Mereka berdua kemudian bangun dan mendudukkan dirinya.


"Mau dibantu ke kamar mandinya?" tanya Steven.


"Gak usah mas. Aku bisa sendiri kok."


"Pelan-pelan aja," Steven memperingatkan.


Sheila tersenyum sambil mengangguk. Sheila lalu turun dari ranjang perlahan dan menuju kamar mandi. Selesai Sheila berwudhu giliran Steven yang masuk ke kamar mandi. Sheila mempersiapkan keperluan untuk sholat.


Setelah Steven kembali dari kamar mandi mereka berdua kemudian sholat subuh berjamaah. Selesai sholat seperti biasa Sheila mencium tangan Steven.


"Aku masak buat sarapan dulu ya mas," pamit Sheila.


"Gak usah, kamu mandi aja. Bik Lastri bentar lagi pasti dateng. Danny bilang udah nyuruh dateng pagi kok. Udah ada beberapa baju kamu di lemari, Mbak Siti yang nyiapin kemarin."


Sheila terdiam sesaat, tapi akhirnya menuruti kata-kata Steven. Selesai Sheila mandi Steven mengganti perban di lengan dan dahi Sheila, serta mengoleskan salep ke sudut bibir yang terluka.


"Aku bisa sendiri mas," tolak Sheila halus.


"Biar aku aja," kata Steven tetap melanjutkan aktivitasnya.


Jantung Sheila berdegup kencang saat Steven mengoleskan salep di sudut bibirnya. Wajah Steven yang begitu dekat dengan wajahnya semakin membuat Sheila gugup. Sheila bisa merasakan hangat nafas Steven menerpa wajahnya, membuat jantungnya berdetak tidak beraturan.


Entah apa yang ada di pikiran Steven, melihat bibir merah Sheila dari jarak sedekat itu membuat detak jantungnya juga menggila. Bibir tipis tanpa polesan lipstik yang justru terlihat sangat menggoda, seakan mengundangnya untuk merasakan kelembutan bibir ranum itu.


Dan tiba-tiba saja tanpa dia sadari Steven sudah menyatukan bibir mereka berdua. Awalnya hanya menempel, tapi kemudian Steven mengulum lembut bibir Sheila. Merasakan lembut dan hangatnya bibir mungil yang kenyal itu. Sheila sangat terkejut sampai membelalakkan kedua matanya. Ini merupakan ciuman pertamanya.


Seperti terkena sengatan listrik dengan tegangan rendah. Sheila merasakan getaran di seluruh tubuhnya, jantungnya seakan mendobrak rongga dadanya, gelenyar asing mengaliri aliran darahnya.


Tok tok tok.


Pertautan bibir itu terlepas seketika.


"Den, sarapannya sudah siap," seru Bik Lastri dari pintu kamar.


"Iya Bik, sebentar lagi kita keluar," balas Steven dari dalam.


Setelah Bik Lastri pergi Steven beralih ke Sheila yang nampak masih terkejut dan mengatur nafas. Rasa bersalah seketika mendera Steven. Bagaimana bisa dia sampai lepas kendali seperti itu.


"Maaf Sheila, tadi aku..." Steven tidak mampu melanjutkan perkataannya. Menghembuskan nafas kasar Steven lalu berkata," Keluarlah duluan, aku mau mandi dulu."


Tak mampu menjawab karena masih dalam keterkejutannya Sheila hanya bisa mengangguk.


Steven lalu masuk ke kamar mandi. Sheila memegang dadanya dengan kedua tangannya. Mencoba mengatur nafas dan menetralkan detak jantungnya. Setelah memastikan penampilannya biasa saja, tidak terlihat gugup lagi, Sheila kemudian keluar dari kamar.


Sarapan pagi berlangsung dalam diam. Bik Lastri sedang membersihkan kamar mereka. Sheila melihat Steven yang nampak tidak berselera makan. Makanan di piringnya masih ada separuh tapi Steven menyudahi sarapannya, meletakkan sendok kemudian mengelap bibirnya.


"Makannya kok gak dihabisin mas?"


"Gak seenak masakan kamu," jawab Steven to the point.


Padahal sebenarnya dia hanya ingin mengalihkan kecanggungan yang terjadi karena ciuman mereka tadi. Jujur Steven sendiri bingung dengan dirinya sendiri, kenapa sampai bisa tiba-tiba mencium Sheila seperti tadi.

__ADS_1


Sheila kaget mendengar jawaban Steven. Tidak menyangka kalo suaminya menyukai masakannya.


"Cepet sembuh dong, biar bisa masakin aku lagi. Aku juga pengen ngerasain cake coklat bikinan kamu itu."


'Heu, balik ke aku-kamu lagi. Berarti semalem manggil diri sendiri mas itu gak sadar kali ya," pikiran Sheila justru kemana-mana.


"Ya udah, nanti siang biar aku aja yang masak ya," kata Sheila segera menguasai diri.


"Jangan, kamu belum sembuh bener. Istirahat aja dulu, biar cepet pulih," kata Steven tegas tidak ingin dibantah.


"Iya mas."


Hari ini Steven tidak berangkat ke kantor. Siangnya Lusia, Dyah dan Tya datang menjenguk Sheila. Mereka ngobrol di ruang tamu.


"Syukurlah kamu gak pa-pa Shei," kata Dyah.


"Iya, kita udah panik banget kemarin," sambung Tya.


"Ya ampun Shei, kamu sampe luka-luka kayak gini, biad*b banget tuh si Alex," umpat Lusia.


"Udah-udah, aku gak pa-pa kok."


Mereka ngobrol banyak hal. Beberapa saat kemudian Ken dan Danny juga datang.


"Gimana kabar kamu Shei?" tanya Ken.


"Aku udah gak pa-pa kok Ken, makasih udah dateng."


"Steven mana Shei? Ada beberapa berkas yang perlu dia tanda tanganin nih," tanya Danny.


"Di ruang kerja Dan, kalian masuk aja langsung."


"Oke, kita duluan ya."


Sesaat kemudian handphone Steven yang tergeletak di atas meja berbunyi. Sekilas Sheila melihat, Nila yang menelpon. Steven sedang mengambil air minum di kulkas.


"Mas, hp kamu bunyi."


"Iya bentar."


Steven sedikit kaget saat tau Nila yang menelponnya.


"Aku angkat telpon dulu ya," pamitnya sedikit canggung.


Sheila mengangguk. Steven lalu berjalan ke arah balkon.


"Halo," sapa Steven.


"Sayang aku udah balik nih dari Aussie. Kita ketemuan yuk," pinta Nila dengan nada manja.


"Kalo sekarang kayaknya aku gak bisa nih sayang," tolak Steven halus.


"Iihhh sayang, kamu kok gitu sih. Kamu gak kangen ya sama aku? Atau jangan-jangan kamu lagi berduaan ya sama perempuan murahan itu?"


Hati Steven seperti tercubit mendengar Nila menyebut Sheila perempuan murahan.


"Bukan gitu sayang, aku cuma lagi banyak kerjaan aja."


"Bohong. Kamu cuma bohongin aku kan? Kamu gak sayang lagi ya sama aku?" rajuk Nila semakin manja.


Steven menghembuskan nafas kasar. "Ya udah mau ketemu dimana?"

__ADS_1


"Aku tunggu di mall X ya. Aku pengen beli tas, kemarin ada keluaran terbaru modelnya cantik banget aku suka. Kamu mau kan beliin aku?"


"Iya. Tunggu disana ya, aku otewe."


Setelah mematikan sambungan telepon Steven masuk kembali ke dalam. Sedikit dilema dengan pemikirannya sendiri. Sheila sedang sakit dan Steven tidak tega meninggalkannya sendirian. Tapi Nila yang baru saja pulang dari Australia selesai job pemotretan meminta untuk bertemu.


Percakapan Steven tadi cukup terdengar oleh Sheila, jadi Sheila paham apa yang terjadi. Menyadari kegelisahan yang sedang dirasakan Steven, Sheila mencoba memberi solusi.


"Kalau mas mau pergi ya pergi aja, aku gak pa-pa ditinggal sendirian. Aku udah baikan mas," kata Sheila sambil tersenyum, mencoba meyakinkan.


"Bener kamu gak pa-pa kalau aku tinggal?"


"Aku bukan anak kecil lagi mas. Tenang aja."


Dengan berat hati Steven akhirnya pergi meninggalkan Sheila sendirian di apartemen dan menemui Nila. Bik Lastri sudah pamit pulang sesaat setelah teman-temannya pulang tadi.


"Kalau ada apa-apa langsung telpon aku ya," pesan Steven sebelum pergi.


"Iya mas."


Setelah Steven pergi Sheila termenung di sofa. Dia sendiri yang meminta Steven untuk pergi menemui Nila. Tapi entah kenapa dadanya terasa sesak. Ada secuil perasaan sakit dan tidak rela di hatinya.


Tok tok tok.


Pintu apartemen yang diketuk dari luar membuyarkan lamunan Sheila. Bergegas dibukanya pintu itu.


"Lusia? Danny?"


Ternyata Lusia dan Danny yang datang lagi. Mereka lalu masuk ke dalam.


"Steven mau kemana tadi Shei?" tanya Danny setelah duduk di sofa.


Sheila terdiam, bingung harus menjawab apa.


"Itu... Tadi ada telepon dari..." tak kuasa Sheila melanjutkan perkataannya.


"Pasti Nila kan?" tebak Danny.


Sheila diam tidak menjawab. Sesak itu kembali datang. Tak terasa matanya sudah memerah menahan air mata.


"Jadi bener Steven pergi untuk menemui Nila?" tanya Danny lagi.


"Iya," jawab Sheila lemah.


"Kenapa Lo biarin sih Shei?" tanya Lusia yang duduk di samping Sheila emosi.


"Aku gak berhak ngelarang Lus. Nila kan emang kekasih mas Steven."


"Tapi Lo istrinya Shei, istrinya. Lo berhak ngelarang dia ketemuan sama cewek lain."


"Lus, aku kan udah pernah bilang, pernikahan ini hanya-"


"Emang Lo bisa bohongin Tuhan?" potong Lusia cepat.


Sheila terdiam. Tanpa disadari air mata sudah mengalir di pipinya. Lusia langsung memeluknya.


"Aku sendiri yang nyuruh dia untuk pergi. Tapi kenapa hati aku sesek banget Lus? Aku gak mau kayak gini. Aku gak mau terbuai rasa nyaman ini Lus," kata Sheila pelan disela tangisannya.


"Yang sabar ya Shei, Tuhan pasti punya rencana yang indah buat Lo dibalik semua ini."


Danny mengepalkan kedua tangannya erat. Rasanya dia ingin menarik pulang Steven saat ini juga. Dia heran bagaimana bisa sahabatnya itu menyia-nyiakan wanita sebaik Sheila.

__ADS_1


Tadi Danny dan Lusia sengaja kembali ke apartemen Steven karena ternyata handphone Lusia ketinggalan. Lusia men-charge handphone-nya tadi makanya bisa sampai lupa. Dan saat mereka sampai di parkiran mereka melihat Steven pergi mengendarai mobilnya sendirian.


__ADS_2