
Danny, Ken, dan Santi sampai di kantor polisi dan langsung diantar oleh seorang anggota polisi menuju ke ruangan Darius.
"Gimana keadaan Steven?" tanya Darius setelah mereka semua duduk di sofa di ruangan tersebut.
"Alhamdulillaah operasi pengangkatan pelurunya sudah berhasil kak. Kondisi Steven juga sudah mulai stabil," jawab Danny.
"Syukurlah kalau begitu. Pengacara Raka dan Celine sudah datang, tapi pengacara kalian juga sudah datang terlebih dahulu. Laporan sudah dibuat, kamu cuma perlu memberikan kesaksian saja Dan," kata Darius lagi.
"Oke kak, terima kasih," balas Danny.
"Maaf kakak nggak bisa nemenin, masih banyak kerjaan. Kalian diantar bawahan kakak ya."
"Iya kak nggak masalah kok," kata Ken.
Danny, Ken, dan Santi kemudian diantar lagi oleh seorang anggota polisi ke ruangan pelayanan.
Arya, pengacara resmi keluarga Ricko, langsung menyambut mereka.
"Om sudah masukin laporannya, tinggal kamu saja yang memberikan kesaksian Dan," kata Arya menginformasikan.
"Oke Om. Terima kasih banyak," balas Danny.
Danny pun duduk di depan anggota polisi yang sudah siap untuk mencatat semua kesaksian yang akan diberikan oleh Danny.
Tiba-tiba pengacara Celine menghampiri Ken.
"Maaf tuan Ken, nona Celine berpesan kalau dia ingin berbicara dengan Anda," kata pengacara tersebut.
Sempat mengernyitkan keningnya sesaat, tapi Ken pun akhirnya menyanggupi permintaan pengacara Celine tersebut.
"Om, saya tinggal sebentar ya," pamit Ken pada Arya.
"Oke Ken. Hati-hati," pesan Arya.
"Tentu Om. Santi kamu ikut saya."
Entah kenapa Ken merasa perlu untuk membawa Santi ikut bersamanya.
"Baik Pak."
__ADS_1
Ken dan Santi pun mengikuti pengacara Celine menuju ke ruang tahanan. Mereka menunggu di meja dan kursi yang sudah disediakan. Tidak lama kemudian Celine datang diantar seorang anggota polisi.
"Kak Ken," teriak Celine.
Celine berlari dan menghambur memeluk Ken yang sudah berdiri dari duduknya. Santi memalingkan wajahnya, entah kenapa ada rasa tidak nyaman di hatinya melihat Celine memeluk Ken seperti itu.
Sekilas Ken melihat Santi yang memalingkan wajahnya. Ken lalu melepaskan pelukan Celine dan membawanya duduk di kursi di sebelah pengacaranya. Ken kembali duduk di sebelah Santi.
"Kak Ken, gimana keadaan kak Steven?" tanya Celine terlihat sangat khawatir.
"Operasinya berhasil, kondisi Steven juga sudah mulai stabil," jawab Ken.
"Kak tolongin Celine. Bantu Celine keluar dari sini. Celine nggak mau dipenjara kak. Celine juga nggak sengaja nembak kak Steven. Seharusnya Sheila yang tertembak bukan kak Steven," kata Celine panjang lebar.
"Cukup Celine. Biar bagaimanapun juga kamu tetap bersalah. Dan sudah sewajarnya kalau kamu mempertanggungjawabkan perbuatan kamu," Ken masih mencoba untuk bersabar.
"Kak, kakak bilang kalau kakak cinta sama Celine kan? Kalau gitu tolongin Celine dong kak. Celine ngelakuin semua ini karena Celine cinta sama kak Steven. Dan kalau memang kak Ken juga cinta sama Celine harusnya kak Ken bantu Celine dong biar Celine bisa bahagia. Kalau kak Ken emang beneran cinta sama Celine harusnya kak Ken bahagia kalau melihat Celine bahagia," suara Celine sudah naik satu oktaf karena emosi.
Santi mengepalkan kedua tangannya di atas pangkuan, menahan rasa kesal dan amarah mendengar perkataan Celine. Hal itu tidak luput dari perhatian Ken. Jujur Ken pun juga merasa kesal dengan sikap egois dan keras kepala Celine. Tapi Ken sebisa mungkin menahan amarahnya. Ken tertawa hambar menanggapi perkataan Celine.
"Jadi sekarang kamu mengakui perasaan cinta kakak sama kamu?" tanya Ken setengah mencibir.
"Y-ya Celine tahu kalau sebenarnya kakak suka sama Celine, kan kakak sering bilang gitu ke Celine," jawab Celine gugup.
"Oh ya? Bukannya dulu kamu selalu bilang kalau yang kakak rasakan itu bukan cinta, tapi cuma sebatas rasa kasih sayang seorang kakak kepada adiknya?"
Celine nampak semakin salah tingkah. Tidak menyangka kalau Ken akan memojokkannya seperti itu.
"Kan kakak yang selalu bilang ke Celine kalau kakak cinta sama Celine. Harusnya kalau kakak emang beneran cinta sama Celine ya kakak bantu Celine dong biar Celine bahagia. Kakak harusnya bahagia kalau melihat Celine juga bahagia. Dan bahagianya Celine ya cuma sama kak Steven," kata Celine ngotot.
"Hahaha. Mudah sekali kamu mengatakan hal itu Celine. Lalu, kenapa kamu sendiri tidak bisa melakukannya?" tanya Ken kembali mencibir.
"Ma-maksud kakak apa?" Celine bertanya balik, tidak mengerti.
"Kamu minta kakak ikut bahagia kalau melihat kamu bahagia, lalu kenapa kamu sendiri tidak ikut bahagia melihat Steven bahagia?"
Celine terperanjat. Terkejut dengan apa yang dikatakan Ken.
"Dari dulu kamu juga tahu kalau Steven hanya menganggap kamu sebagai adik. Lalu kenapa sekarang ketika Steven sudah bahagia dengan Sheila, istrinya, justru kamu ingin memisahkan mereka? Dengan alasan cinta? Tapi tadi kamu sendiri yang bilang kalau memang kita cinta seharusnya kita ikut bahagia melihat orang yang kita cintai juga bahagia, begitu kan?"
__ADS_1
Ken sukses membalikkan perkataan Celine. Membuat Celine bungkam kehabisan kata-kata. Samar-samar Santi tersenyum mendengar Ken yang mampu melawan perasaannya sendiri, meski Santi tahu itu pasti sangat sulit.
"Cukup Celine. Tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan. Bersikaplah dewasa dan pertanggungjawabkan semua yang sudah kamu lakukan. Jangan lagi memakai cinta sebagai alasan, karena yang kamu miliki itu bukan cinta melainkan obsesi, keegoisan, dan juga sikap keras kepala kamu," tegas Ken sekali lagi.
Ken kemudian berdiri, diikuti oleh Santi.
"Belajarlah dari pengalaman Celine. Hargai orang yang mencintaimu dengan tulus. Karena yang tulus pun bisa pergi ketika merasa lelah karena selalu kamu abaikan," kata Ken mengakhiri pembicaraan mereka lalu melangkah pergi meninggalkan Celine dan pengacaranya.
Santi menganggukkan sedikit kepalanya sebagai tanda kesopanan dan berpamitan, kemudian melangkah menyusul Ken yang sudah pergi terlebih dahulu.
Santi tersenyum simpul ketika mendapati langkah Ken berhenti di masjid kecil di kantor polisi tersebut. Ken mendudukkan dirinya di teras masjid. Santi pun kemudian ikut duduk di sebelah Ken.
"Bapak baik-baik saja?" tanya Santi memecah keheningan.
Ken tertawa hambar dengan pandangan menerawang ke depan.
"Entahlah. Hatiku seperti mati rasa saat ini," jawab Ken tidak bersemangat.
"Tapi Bapak hebat sekali. Saya salut dengan Bapak yang mampu melawan perasaan Bapak sendiri dan mengatakan semua kenyataan itu, meski saya yakin itu pasti sangat sulit," puji Santi tulus.
"Wajar kalau Bapak merasa terluka dan kecewa, Bapak sedang mengalami apa yang dinamakan 'patah hati'. Perjuangan Bapak selama ini untuk cinta Bapak tidak dihargai, bahkan diabaikan dan dipandang sebelah mata," kata Santi lagi ikut menerawang jauh ke depan seperti apa yang dilakukan oleh Ken.
"Satu hal yang bisa saya sarankan kepada Bapak, berpikir positif dalam menyikapi masalah ini. Mungkin saat ini Allah SWT sedang menunjukkan kepada Bapak bahwa Celine bukan orang yang tepat untuk Bapak perjuangkan. Bukankah lebih baik Bapak terluka sekarang daripada terus-menerus berjuang tanpa kepastian yang justru akan membuat Bapak nantinya berakhir dengan lebih terluka lagi?"
Dalam diamnya Ken merenungi setiap perkataan Santi. Dan ya, Ken akui kalau apa yang dikatakan Santi itu semua adalah benar.
"Perempuan yang baik adalah untuk laki-laki yang baik juga, begitu pula sebaliknya Pak. Jadi jika saat ini Allah SWT menjauhkan Bapak dari Celine, itu berarti Celine bukan perempuan yang baik untuk Bapak. Yakinlah Pak Allah SWT sudah menyiapkan perempuan yang baik untuk Bapak. Bapak hanya harus sedikit bersabar, mungkin saat ini jodoh Bapak tersebut sedang memantaskan diri untuk Bapak," tambah Santi lagi.
Ken tersenyum mendengar semua perkataan Santi. Hatinya seperti disiram dengan air dingin, rasanya begitu menyejukkan, membuat pikirannya kembali tenang. Kata-kata Santi bagaikan oase di tengah padang pasir. Melegakan dahaga Ken, membuatnya merasa lega. Melupakan semua rasa kecewa di hatinya.
"Terima kasih San," kata Ken tulus. "Terima kasih untuk semuanya. Saya beruntung karena saya bersama dengan kamu di saat-saat terpuruk seperti ini. Terima kasih untuk semua dukungan kamu," lanjut Ken mengalihkan pandangannya kepada Santi.
Santi tersenyum lembut, membuat Ken tertegun untuk sesaat. Tiba-tiba saja jantungnya berdetak kencang tidak seperti biasanya. Perasaan asing yang selalu dia rasakan ketika melihat Santi kini semakin jelas dia rasakan.
"Kita sholat Dhuha yuk Pak, biar hati Bapak juga jadi lebih tenang. Mumpung kita ada di masjid dan juga mumpung waktunya masih ada," ajak Santi.
"Ah, iya. Ayo," balas Ken setelah tersadar dari lamunannya.
Selama dua puluh delapan tahun usia yang telah dilaluinya, ini adalah pertama kalinya bagi Ken untuk melaksanakan sholat Dhuha. Tapi entah kenapa Ken tidak bisa menolak ajakan Santi tadi. Ken justru merasa begitu ringan ketika melangkahkan kakinya menuju ke tempat wudhu.
__ADS_1
Dan benar saja, belum apa-apa Ken sudah merasakan ketenangan dan kedamaian itu. Ken tersenyum, menggelengkan kepalanya pelan. Seorang Santi, yang selalu disebutnya sebagai 'cewek kaku' itu, bisa memberikan pengaruh sebesar ini kepada Ken, wow.