Cinta Sheila

Cinta Sheila
S2 Titik Terang


__ADS_3

Satu tahun berada di London, Safa sudah berhasil menyelesaikan pendidikan high school nya. Bertepatan dengan Sean dan Adrian yang juga sudah berhasil menyelesaikan pendidikan S3 mereka. Lebih cepat dari waktu yang seharusnya tentu saja, mengingat kecerdasan yang dimiliki Sean dan Adrian yang di atas rata-rata.


Ketiganya memutuskan untuk kembali ke tanah air. Safa lebih memilih untuk melanjutkan kuliah di Jakarta saja, dengan alasan tidak ingin jauh dari Ayah dan Bunda. Tentu saja semua setuju, tidak rela juga kalau harus membiarkan Safa yang seorang wanita harus tinggal sendirian di London untuk kuliah.


Sementara Sean dan Adrian juga baru saja resmi membeli sebuah perusahaan yang sudah kolaps, ya meski dengan sedikit bantuan dari Steven dan Andika dalam mempermudah pengalihan kepemilikan. Jadi sepulang dari London mereka berdua langsung terjun ke dalam perusahaan mereka sendiri, berjuang membangkitkan kembali perusahaan tersebut.


Berbekal dari pengalaman selama dua tahun kemarin ketika berada di London, Sean dan Adrian membantu Jery menjalankan anak perusahaan Jery yang ada di London di sela-sela waktu kuliah mereka. Dan tentu saja, kali inipun Steven dan Andika juga tidak langsung lepas tangan begitu saja, mereka masih tetap mengawasi kedua putranya itu.


Syafiq dan Alvin dididik langsung oleh Ricko dan Andika untuk meneruskan perusahaan Ricko. Sementara SA Group pun mempersiapkan Kenzie dan Ghania sebagai pemimpin mereka selanjutnya. Kebetulan putra Ken dan putri Danny itu memiliki passion dan kemampuan dalam hal bisnis juga.


Safa, Raindyta, dan Lathifah yang kebetulan memiliki hobi yang sama dalam hal membuat kue, ketiganya pun membuka sebuah toko kue. Lathifah yang lebih banyak mengurus toko tersebut, Safa dan Raindyta hanya datang di sela-sela waktu kuliah mereka saja.


"Selamat ya Sean, Adrian, semoga kalian berhasil dan sukses dalam membangkitkan kembali perusahaan ini," kata Andika.


Saat ini Sean, Adrian, Steven, dan Andika sedang duduk bersama di ruangan Sean. Mereka baru saja selesai melakukan rapat pengalihan kekuasaan dan perkenalan pemimpin yang baru.


"Terima kasih Yah," balas Sean dan Adrian bersamaan.


"Kalau perlu bantuan atau ada yang ingin kalian tanyakan, jangan sungkan untuk bertanya pada kami atau yang lainnya," kata Steven.


"Baik Ayah," keduanya menjawab hampir bersamaan lagi.


"Oh iya Bang, beberapa hari yang lalu Abang nemuin kak Darius ya, ada apa emangnya?" tanya Steven tiba-tiba.


"Ah, kebetulan kamu ingetin. Sekalian aja, mumpung ada Sean dan Adrian juga."


"Ada apa memangnya Yah?" tanya Sean dengan kening berkerut, tidak jauh berbeda dengan Adrian dan Steven.


"Ternyata Darius yang sudah menghapus semua jejak keluarga Wicaksono," jawab Andika.


"Apa?" Steven, Sean, dan Adrian bertanya karena kaget.

__ADS_1


"Perusahaan Ikhsan Wicaksono kalah bersaing dengan RKG. Semua harta kekayaan Ikhsan dan aset perusahaan bahkan sudah disita oleh pihak bank untuk membayar hutang dan kerugian perusahaan WG. Tapi ternyata tidak cukup sampai disitu saja, Raka menginginkan Sonia putri Ikhsan untuk menjadi istri mudanya. Itulah kenapa Ikhsan dan keluarganya pergi. Dan Ikhsan meminta bantuan kepada Darius, yang kebetulan adalah teman dekat Ikhsan, untuk menutup semua jejak kepergian mereka. Tau sendiri kan bagaimana sulitnya lepas dari pengusaha sekelas Raka," Andika menjelaskan semuanya.


"Oh, i see. Jadi begitu kejadiannya," balas Steven dengan menganggukkan kepalanya beberapa kali.


"Abang dan Bima udah lama curiga, pasti ada pihak berkuasa yang menutupi kepergian keluarga Wicaksono. Dan setelah lama menyelidiki, akhirnya petunjuk yang Bima dapat mengarah ke Darius. Abang langsung datengin Darius. Awalnya dia mengelak, tapi setelah Abang desak dan ceritain tentang Safa, akhirnya Darius mau cerita juga," imbuh Andika.


"Gue heran dengan Raka, kenapa semenjak keluar dari penjara sikap dia semakin menjadi-jadi. Ditambah lagi dengan kekuasaan yang dia miliki sekarang, makin semena-mena aja dia sama pengusaha-pengusaha lawannya," kata Steven tidak habis pikir.


"Raka mendapat dukungan kuat dari investor luar negeri, itu kenapa kekuasaannya meningkat pesat. Dan untuk masalah sikap, yah entahlah, hanya dia sendiri yang tau," balas Andika.


"Raka yang dulu pernah menculik Bunda ya Yah?" tanya Sean.


"Hmm," jawab Steven dengan bergumam. "Ayah sarankan kalian jangan berurusan dulu dengan RKG, tidak saat kondisi perusahaan kalian masih seperti sekarang ini."


"Baik Yah," balas Sean dan Adrian.


"Lalu, sudah ada info tentang keberadaan Sonia dan keluarganya Bang?" tanya Steven.


"Tapi mereka baik-baik saja kan Bang?" tanya Steven lagi.


"Kehidupan mereka sekarang tentu sangat jauh berbeda dengan saat mereka masih disini, terutama dari segi ekonomi, tapi mereka baik-baik saja. Beruntung juga Sonia dan adik-adiknya bisa beradaptasi dengan lingkungan dan keadaan mereka yang sekarang dan tidak banyak mengeluh. Didikan yang sangat bagus dari Ikhsan dan Suci, Abang akuin itu."


"Lalu kenapa Sonia tidak pernah menghubungi Safa?" tanya Sean tiba-tiba.


"Menurut penyelidikan Bima, beberapa kali Sonia berusaha menghubungi nomor ponsel Safa. Tapi karena Safa pindah ke London otomatis nomor ponsel Safa juga ganti, jadi Sonia tidak bisa menghubungi Safa lagi," jawab Andika.


"Kenapa tidak menghubungi lewat telepon rumah?" tanya Sean lagi masih dengan rasa penasarannya.


"Itu sama saja membiarkan keberadaan mereka dapat diretas dengan mudah, mungkin Darius sudah memperingatkan mereka sebelumnya. RKG tidak bisa kita pandang sebelah mata. Karena menurut Bima satu tahun kemarin pun mereka juga masih berusaha mencari Ikhsan dan keluarganya. Baru dua bulan ini saja mereka berhenti, mungkin mereka akhirnya menyerah."


"Perlukah kita beritahu Safa mengenai kabar ini Yah?" tanya Adrian.

__ADS_1


"Sebaiknya jangan dulu. Sepertinya situasi disini belum begitu kondusif. Takutnya nanti Safa langsung ngotot pengen ketemu Sonia dan akhirnya Raka jadi bisa nemuin Ikhsan dan keluarganya juga," jawab Andika.


"Setuju Bang. Yang penting kita udah tau dulu dimana mereka dan gimana keadaan mereka. Seenggaknya kita nggak kehilangan jejak mereka lagi, sudah ada titik terang tentang keberadaan mereka saat ini," imbuh Steven.


"Tenang aja, Darius juga nggak lepas tangan gitu aja kok. Darius juga masih selalu memantau keadaan mereka. Abang juga udah minta untuk selalu dikabarin kalau ada apa-apa," kata Andika.


"Bagus Bang, makasih banyak untuk semuanya."


"Apaan sih kamu Steve, pake makasih segala. Safa udah kayak putri Abang sendiri, apapun pasti Abang lakuin buat Safa."


"Haish, ayah sama anak sama aja. Hah, kayaknya gue bakalan cepet mantu nih," celetuk Steven sambil mengesah.


"Ayah!"


"Steven!"


Sean, Adrian, dan Andika kompak berseru.


"Ngomong apa sih kamu itu," kata Andika jengah dengan kejahilan Steven yang tidak berkurang dari dulu.


"Ngomong fakta. Jangan pura-pura nggak tau deh Bang kelakuan anak sulung Abang itu. Ya, walaupun selama ini nggak pernah aneh-aneh dan melebihi batas sih."


"Mereka masih muda Steve. Safa juga masih kuliah. Biarin semuanya mengalir seiring berjalannya waktu. Kalau mereka memang jodoh, nggak akan kemana," kata Andika bijak.


Adrian rasanya ingin tenggelam ke dasar bumi saat ini juga. Sesantai itu para orang tua membicarakan dirinya dan Safa.


"Sabar ya Bro. Kalau emang jodoh nggak akan kemana," bisik Sean tepat di telinga Adrian sambil menepuk pundak Adrian.


"Sialan Lo," gerutu Adrian nyaris tanpa suara.


Untung saja Steven dan Andika sedang asyik berbincang jadi mereka tidak memperhatikan kelakuan Sean dan Adrian barusan.

__ADS_1


__ADS_2