
Malam ini adalah acara pesta ulang tahun perusahaan milik Ricko. Banyak pengusaha beserta keluarganya yang diundang untuk menghadiri acara pesta malam ini. Begitu juga dengan para pejabat dan kerabat tentunya.
"Sayang, nanti setelah acara pembukaan dan potong tumpeng Mas pasti sibuk menyapa para klien dan tamu undangan yang hadir. Nanti kamu duduk aja ya sama sahabat-sahabat kamu, Mas nggak mau kalau kamu sampai kecapekan ngikutin Mas keliling-keliling," pesan Steven setelah mereka memasuki ballroom hotel tempat diadakannya acara.
"Iya Mas."
Para tamu undangan sudah mulai berdatangan. Kemudian acara pun dimulai oleh MC. Mulai dari pembukaan, kata sambutan, hingga acara potong tumpeng, Sheila selalu menemani Steven, Ricko, dan Amelia di atas panggung.
Selesai acara potong tumpeng, Ricko dan Amelia turun dari panggung diikuti Steven dan Sheila. Mereka pun langsung disambut dengan begitu banyak ucapan selamat dari para tamu undangan yang hadir.
"Pa, Ma, Steven anterin Sheila ke meja dulu ya sebentar. Kasian kelamaan berdiri dari tadi," pamit Steven setelah agak lengang.
"Iya Steve, baru aja Papa mau ingetin kamu."
"Mau Mama temenin sayang?" tanya Amelia penuh perhatian.
"Nggak usah Ma, ada temen-temen Sheila nanti yang nemenin," jawab Sheila.
"Ya udah kalau gitu. Kalau udah capek dan nggak nyaman bilang ya, nanti kamu pulang duluan sama Steven nggak pa-pa," pesan Amelia.
"Iya Ma."
Steven lalu mengantar Sheila duduk di meja VIP yang sudah disediakan. Tidak lama kemudian Danny, Lusia, Ken, dan Santi datang menghampiri.
"Santi, Lusia, tolong temani Sheila dulu ya," pinta Steven.
"Baik Pak."
"Siap Bang. Tuh yang lain juga udah pada datang," kata Lusia sambil mengendik ke arah Dyah dan Tya yang berjalan mendekat diikuti Toni, kakak Tya.
"Hai Steve, Dan, Ken," sapa Toni.
"Hai Bro," sapa ketiganya bersamaan.
Mereka kemudian berjabat tangan satu sama lain. Sebagai sesama eksekutif muda tentu saja mereka sudah saling mengenal.
"Bang, gue disini aja ya nemenin Sheila sama yang lain. Capek ngikutin Abang keliling," kata Tya.
"Ya udah nggak pa-pa. Abang ketemu temen-temen Abang dulu, nanti kalau sudah selesai Abang samperin kamu lagi," balas Toni.
"Oke Bang."
"Aku tinggal dulu ya Di," pamit Toni pada Dyah.
"Iya Bang," jawab Dyah malu-malu.
"Yuk Ton, kita samperin yang lain," ajak Ken.
"Kalian duluan, nanti gue nyusul," kata Steven.
Danny pun pamit pada Lusia. Setelah selesai kemudian Danny, Ken, dan Toni pun beranjak pergi meninggalkan Steven dan para gadis di meja tersebut.
"Mas tinggal dulu ya sayang. Nanti kalau perlu apa-apa langsung bilang ke Santi, ya."
__ADS_1
"Iya Mas."
Steven mencium kening Sheila kemudian pergi meninggalkan meja VIP tersebut. Steven pun kemudian menghampiri Max, Sylvia, dan Leon.
"Hai Max, Yon, Sylvia," sapa Steven.
"Hai Steve," sapa ketiganya juga.
"Yon, gue pasti sibuk nemuin tamu undangan, urusan Raka gue serahin ke Lo ya. Tolong awasi dia buat gue," pinta Steven.
"Tenang aja Steve, gue pastiin Raka nggak gangguin Sheila malam ini," balas Leon.
"Gue sama Sylvia juga akan ikut ngawasin Steve, Lo tenang aja. Oh ya, sorry ya, gue nggak nyangka kalau temen gue bakal cari masalah kayak gini," sesal Max.
"It's okey. Bukan salah Lo. Gue tinggal dulu kalau gitu. Thanks ya, selamat menikmati pestanya," pamit Steven.
Setelah mendapat anggukan dari Max, Sylvia, dan Leon Steven kemudian pergi untuk menyapa para tamu undangan yang hadir.
Sheila dan yang lainnya ngobrol sambil menikmati hidangan yang telah disediakan. Mereka bercanda dan saling menggoda satu sama lain.
"Sejak kapan Lo deket sama Abang gue Yah? Udah gitu manggilnya beda lagi. Udah ada panggilan kesayangan nih ye," goda Tya.
"Apaan sih Ya. Enggak kok. Kan Bang Toni emang dari dulu kalau manggil aku 'Di', katanya entar samaan kayak manggil Ayah kalian kalau manggilnya 'Yah'," kilah Dyah.
"Hilih, nggak usah ngeles deh. Insting gue tajem ini. Orang si Abang juga sering banget tuh nanya-nanya soal Lo sama gue kalau di rumah," Tya masih belum selesai menggoda.
"Hah, beneran Ya? Nanya apa aja emangnya?" tanya Dyah antusias.
"Issshh Tya, udah deh, jangan ngomong yang enggak-enggak," wajah Dyah sudah memerah.
Semua yang duduk melingkar di meja langsung tertawa bersamaan.
"Guys aku ke toilet bentar ya. Udah nggak tahan nih," pamit Sheila.
"Ikut Shei, gue juga kebelet," kata Lusia.
Sheila dan Lusia lalu pergi ke toilet. Tidak lama kemudian ada orang lain yang masuk ke toilet dan mengobrol sambil membenarkan riasan wajahnya di depan kaca.
"Eh Lo lihat nggak tadi, Pak Steven sama Mbak Celine kelihatan serasi banget ya pas berdiri berdua menyapa para tamu undangan," kata seorang gadis.
Sheila dan Lusia terdiam di dalam bilik toilet masing-masing, tanpa sengaja mendengar percakapan tersebut.
"Iya gila, yang laki ganteng, kaya, sukses lagi. Yang cewek juga cantik, tinggi semampai kayak model, udah gitu hebat pula dalam berbisnis," gadis kedua menanggapi.
"Pasangan yang serasi ya, sama-sama hebat dalam berbisnis," puji gadis pertama lagi.
"Iya ya. Nggak kayak istrinya tuh, apaan ada acara kayak gini bukannya mendampingi suaminya malah enak-enakan duduk ngobrol sama temen-temennya," kata gadis kedua.
"Biasalah masih anak muda, masih mahasiswi juga kan aku dengar. Paling nggak ngerti juga masalah perbisnisan. Penampilannya juga biasa-biasa aja tuh, nggak cantik dan menarik. Makanya mungkin Pak Steven malu kali ya mau ngenalin dia ke tamu undangan yang hadir," cibir gadis pertama kemudian keduanya tertawa cekikikan.
Sheila memegangi dadanya yang terasa sesak mendengar perkataan kedua gadis di luar.
"Iya juga ya, nggak level banget ya kalau dibandingin sama Mbak Celine. Kok bisa sih Pak Steven dapet istri anak kecil kayak gitu?"
__ADS_1
"Dengar-dengar sih mereka dijodohin. Kalau enggak mana mungkin Pak Steven yang ganteng dan hebat mau sama cewek kayak gitu," kata gadis pertama.
"Oh, dijodohin, pantes aja mere-"
BRAAKKK.
Perkataan gadis kedua terpotong karena pintu toilet yang dibuka dengan keras dari luar. Kedua gadis tersebut nampak terkejut. Bahkan Sheila dan Lusia pun juga ikut terkejut di dalam bilik toilet masing-masing.
"Woy, bac*t Lo pada. Tuh mulut minta dijahit ya? Ngomong asal ngejeplak aja kagak ada rem-nya. Tahu apa kalian berani ngomong kayak gitu tentang atasan gue. Cari mati ya Lo pada," teriak Santi berang.
Sheila dan Lusia sama-sama menutup mulutnya dengan kedua tangan karena kaget. Tidak menyangka kalau Santi bisa segalak itu.
"Eh, Lo siapa? Dateng-dateng langsung nyolot aja," tanya gadis pertama tidak terima.
"Gue sekretaris Pak Steven, mau apa Lo pada? Anak mana sih kalian berani cari masalah disini? Ngomong sembarangan pula tentang istri Pak Steven. Lihat saja nanti apa yang bakal bos gue lakuin ke kalian berdua," kata Santi masih emosi.
Kedua gadis itu tampak ketakutan.
"Pergi kalian dari sini," teriak Santi lagi.
Dengan langkah seribu kedua gadis itu lalu keluar dari toilet. Santi masuk kemudian mengetuk pintu toilet yang tertutup.
"Bu Sheila, ibu masih di dalam?" tanya Santi sudah kembali ke mode suara normal.
Sheila dan Lusia membuka pintu toilet bersamaan.
"Ibu nggak pa-pa kan Bu?"
"Aku nggak pa-pa kok Mbak. Makasih ya udah dibelain tadi," kata Sheila.
"Nggak masalah Bu, itu memang tugas saya. Pak Steven menyerahkan tanggung jawab Bu Sheila kepada saya selama di pesta ini," balas Santi. "Jangan didengerin ya Bu omongan dua orang tadi, mereka kayaknya emang sengaja nyari gara-gara Bu. Soalnya tadi setelah Bu Sheila dan Lusia pergi, saya melihat Celine berbicara dengan dua orang perempuan tadi. Terus saya lihat kedua perempuan tadi pergi juga ke arah toilet, sepertinya emang sengaja nyusulin ibu ke toilet, makanya saya juga bergegas nyusulin ibu."
Sheila dan Lusia manggut-manggut. Mereka bertiga lalu kembali ke area pesta.
Memasuki ballroom, Sheila menghentikan langkahnya, membuat Santi dan Lusia juga ikut berhenti. Pandangan Sheila tertuju pada Steven yang sedang sibuk menyapa para tamu undangan. Dan ternyata ada Celine di sebelah Steven.
Sheila dapat melihat kalau Celine berkali-kali merangkul lengan kanan Steven, tapi Steven juga selalu melepaskannya dengan hati-hati, tidak ingin memancing kecurigaan orang yang sedang diajaknya berbicara. Tapi nampaknya Celine masih belum ingin menyerah. Dia masih terus saja berusaha untuk bisa selalu mendekati Steven.
"Mbak Santi, tolong temani Bapak ya. Kondisi saya tidak memungkinkan untuk berdiri terlalu lama dan berjalan berkeliling," pinta Sheila kepada Santi.
Santi mengerti maksud dari perkataan Sheila karena sedari tadi Santi dan Lusia pun ikut memperhatikan ke arah yang diperhatikan Sheila.
"Baik Bu, serahkan saja semuanya kepada saya. Saya akan pastikan ulat bulu itu menyingkir dari samping Bapak," jawab Santi sambil menyeringai menakutkan.
Sheila tersenyum menanggapi. Menundukkan kepalanya sedikit Santi kemudian pergi menghampiri Steven dan yang lain. Santi nampak memanggil Steven kemudian membisikkan sesuatu kepada Steven. Dapat Sheila lihat Steven mengangguk. Kemudian tanpa aba-aba Santi menerobos dan menggeser posisi Celine dari samping Steven.
Sheila tersenyum puas. Sementara Celine nampak memberengut kesal.
"Wow, gue nggak nyangka, ternyata Mbak Santi bisa segarang itu ya," puji Lusia sambil mengikuti Sheila berjalan kembali ke meja VIP yang tadi mereka tempati.
"Makanya, jangan suka ngeremehin orang pendiam kalau belum tahu watak aslinya."
"Bener-bener salut gue. Aksinya juga cepat tanggap. Diam-diam menakutkan euy," kata Lusia lagi yang dibalas senyuman oleh Sheila.
__ADS_1