Cinta Sheila

Cinta Sheila
Kabar Bahagia Yang Silih Berganti


__ADS_3

Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Steven menaiki anak tangga sedikit terburu-buru. Membuka pintu kamarnya dan didapatinya kamar dalam keadaan kosong.


'Ah, Sheila pasti di kamar Sean.'


Steven meletakkan tas kerja dan jas-nya di sofa. Dia kemudian masuk ke dalam kamar mandi dan membersihkan tubuhnya terlebih dahulu.


Sesaat kemudian, Steven membuka pintu penghubung antara kamarnya dengan kamar Sean pelan. Dilihatnya Sheila yang sedang duduk di sofa, sepertinya sudah selesai menyusui Sean. Steven berjalan mendekati keduanya, mencium kening Sheila dan Sean bergantian kemudian duduk di sebelah istrinya itu sambil memainkan tangan mungil putranya itu.


"Meeting-nya lancar Yah?" tanya Sheila.


Sheila sudah mendapat kabar dari Steven tadi sore kalau Steven akan pulang terlambat karena ada meeting penting dengan klien.


"Alhamdulillaah lancar Bun, berkat do'a dari Bunda dan juga Sean. Makasih ya," jawab Steven kemudian memeluk Sheila dari samping dan mencium keningnya lagi.


"Tidak perlu berterima kasih Yah, itu sudah menjadi kewajiban Bunda. Dan dengan senang hati Bunda pasti selalu do'a-in Ayah setiap hari," balas Sheila. "Bentar Yah, nidurin Sean dulu."


Steven pun melepaskan pelukannya. Sheila kemudian beranjak, menidurkan Sean yang telah terlelap kembali ke box bayinya. Steven ikut berdiri dan mendekat ke box bayi Sean.


Sheila menepuk-nepuk pelan paha Sean, kemudian mencium keningnya setelah menyelimuti Sean. Steven juga ikut mencium kening Sean. Steven dan Sheila pun kembali ke kamar mereka. Keduanya naik ke atas ranjang dan bersiap untuk tidur. Seperti biasa Steven menarik Sheila ke dalam pelukannya.


"Sayang, tadi Ken bilang kalau rencana pernikahannya dengan Santi akan diadakan dua bulan lagi," kata Steven memberitahu.


"Oh ya? Alhamdulillaah kalau gitu, akhirnya Ken dan Mbak Santi segera menyusul halal."


"Iya sayang. Tapi katanya Santi nggak mau pesta mewah di hotel. Ken bilang Santi pengennya pesta yang outdoor aja, nggak usah terlalu banyak tamu. Terus akhirnya om Wirawan memutuskan kalau pernikahan Ken dan Santi akan diadakan di Puncak, di villa om Wirawan. Cuma keluarga, sahabat, dan beberapa kolega penting aja katanya," kata Steven menjelaskan.


"Sean nanti tetap bisa ikut kan sayang? Udah kuat belum ya dengan kondisi cuaca di Puncak?" tanya Steven serius.


"Insya Allah bisa Yah. Dua bulan lagi kan Sean udah tiga bulan lebih, nanti tinggal kita bawain aja baju hangat yang banyak. Pokoknya pinter-pinter kita aja lah, biar Sean tetep hangat," jawab Sheila.


"Oke deh, syukurlah kalau begitu."


"Yah, tadi kak Sylvia telepon, ngabarin kalau alhamdulillaah sekarang kak Sylvia sudah hamil tiga minggu," gantian Sheila yang memberikan kabar kepada Steven.


"Oh ya? Alhamdulillaah, akhirnya penantian mereka selama satu tahun berbuah manis."


"Tapi masak tadi kak Sylvia bilang terima kasih Yah, katanya karena udah dipipisin Sean dulu makanya beneran ketularan hamil," kata Sheila lalu tergelak.

__ADS_1


"Mitos itu sayang. Tapi emang masih banyak yang percaya juga sih," balas Steven.


"Iya Yah, tadi aku juga udah bilang gitu ke kak Sylvia. Makasih-nya sama Allah SWT, bukan karena dipipisin Sean, tapi emang karena udah dikasih kepercayaan sama Allah SWT."


Sheila masih cekikikan di dada Steven membuat aliran darah Steven memanas menginginkan sesuatu. Steven mencium puncak kepala Sheila berkali-kali, berusaha meredam sesuatu yang mulai bangkit.


"Kenapa Yah? Kok gelisah gitu," tanya Sheila yang menyadari kegelisahan Steven.


"Kamu cantik banget kalau lagi ketawa gitu sayang. Huft, Ayah jadi panas nih. Masih belum boleh ya sayang?" tanya Steven.


Sheila tergelak lagi mendengar pertanyaan Steven.


"Ayah 'pengen' ya?" tanya Sheila setelah tawanya mereda.


"Banget-banget-banget. Udah sebulan lebih loh sayang. Udah nggak kuat ini, nyolo mulu kerjaannya. Mana setelah ngelahirin kamu juga jadi makin cantik gini lagi, haduh,,," keluh Steven memelas.


"Ya udah, hayuk," kata Sheila melepaskan diri dari pelukan Steven kemudian menarik lepas baju tidurnya, menyisakan dua kain yang menutupi area sensitifnya.


Steven sampai melongo, belum bisa mencerna perkataan Sheila dengan baik tapi sudah terkejut dengan gerakan tiba-tiba istrinya itu.


"Eh eh, jangan dong. Iya-iya, jadi kok jadi," balas Steven yang langsung tersadar setelah mendengar ancaman Sheila.


Secepat kilat Steven menarik lepas kaosnya, melemparnya asal, kemudian menyergap bibir mungil Sheila yang selalu manis dirasakannya. Decapan demi decapan terdengar memenuhi seisi kamar. Selanjutnya hanya ada pelepasan rindu dari dua orang insan yang sedang bergelut dalam kegiatan halal di atas ranjang.


...


Steven sedang menemani Sean berjemur di halaman samping. Tangannya tak henti-hentinya memainkan tangan mungil putranya yang sedang dipangkunya itu.


"Hai keponakan Onty yang ganteng," teriak Lusia bersemangat sambil setengah berlari menghampiri Steven. Danny, Ken, dan Santi mengikuti di belakangnya.


"Honey, hati-hati dong. Nggak usah lari," tegur Danny segera menangkap tangan kanan Lusia, menghentikan istrinya yang sedang berlarian kecil.


"Hehe, maaf," kata Lusia penuh penyesalan.


"Protektif amat Lo Bro," cibir Ken.


Danny hanya nyengir, tidak menanggapi perkataan Ken. Lusia lalu mengambil Sean dari pangkuan Steven. Digendongnya bayi laki-laki itu dan diciuminya berkali-kali. Santi pun ikut menciumi Sean karena gemas.

__ADS_1


"Lo hamil ya Lus?" tebak Steven membuat Lusia sedikit kaget, sementara Santi dan Ken tercengang.


"Peka amat Lo Bro," kata Danny santai, sudah bisa menebak jalan pikiran Steven.


"Aura ibu hamil tuh beda. Dan juga Lo jadi se-protektif itu, nggak mungkin kalau nggak ada apa-apa," kata Steven.


"Jadi kamu beneran hamil Lus?" tanya Sheila yang baru saja datang menghampiri mereka semua.


"Hehe, iya Shei, baru dua minggu," jawab Lusia.


"Alhamdulillaah,,," ucap Sheila dan Santi bersamaan.


"Selamat ya Lus," Sheila memeluk Lusia dari samping. "Semoga lancar kehamilannya sampai melahirkan nanti."


"Aamiin,,," balas semuanya.


Selanjutnya ucapan selamat dan do'a-do'a pun mengalir untuk Lusia dan calon bayinya dari Santi, Ken, dan Steven. Sheila mengucap syukur di dalam hati. Kabar bahagia datang silih berganti selama beberapa hari ini.


"Tokcer juga Lo Dan," puji Steven.


"Woo ya jelas dong. Benihnya unggul ini," balas Danny jumawa.


"Kali ini biarin dia sombong Steve, lagi bahagia dia," kata Ken dan Steven mengangguk membenarkan.


"Harus dong. Sudah terbukti dan teruji," seloroh Danny membuat yang lain tertawa.


"Udah yuk, masuk dulu. Udah mulai panas banget juga," ajak Sheila.


Sheila mengambil Sean dari gendongan Lusia. Mereka semua kemudian beranjak meninggalkan halaman samping rumah Steven. Steven merangkul Sheila sambil berjalan memasuki rumah. Sementara Danny juga merangkul pinggang Lusia.


Santi bisa melihat wajah Ken yang tersenyum melihat kedua sahabatnya merangkul istri masing-masing. Santi kemudian merangkul lengan kiri Ken dengan kedua tangannya. Ken menoleh dan mendapati Santi sedang tersenyum manis ke arahnya.


"Sabar sebentar lagi ya Mas," kata Santi.


Ken tersenyum dan mengangguk, kemudian mencium kening Santi.


Keduanya pun berjalan beriringan menyusul Steven dan yang lainnya masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


__ADS_2