
Seminggu setelah menyelesaikan masa magang di perusahaan Steven. Hari ini Sheila, Steven, dan semua keluarga sudah berkumpul di ballroom sebuah hotel mewah untuk melaksanakan acara pernikahan Max dan Sylvia, acara ijab kabul yang nanti akan langsung dilanjutkan dengan acara resepsi.
"Kakak cantik banget sih," puji Sheila yang saat ini sedang menemani Sylvia di ruang make up.
"Terima kasih Shei. Tapi jujur, kakak gugup banget ini. Kamu dulu juga ngerasa gugup kayak gini nggak sih Shei?" tanya Sylvia dengan kedua tangan yang saling meremas karena gugup.
Sheila tersenyum kemudian menggenggam tangan Sylvia, mencoba menyalurkan kekuatan.
"Kakak yang nikahnya sama laki-laki yang kakak cintai aja gugup, apalagi aku saat itu kak. Wajar kak kalau kakak gugup, semua calon pengantin pasti merasakannya juga. Tarik nafas yang dalam, hembuskan perlahan dari mulut. Bismillah aja kak, insya Allah semuanya berjalan dengan lancar," jawab Sheila menenangkan Sylvia.
Sylvia menarik nafas panjang melalui hidung kemudian menghembuskannya perlahan lewat mulut, mengikuti saran Sheila.
"Makasih ya Shei."
"Sama-sama kak."
Pintu terbuka dari luar. Kemudian ibu Sylvia masuk.
"Udah siap sayang? Udah waktunya kamu keluar."
"U-udah Mah," jawab Sylvia terbata.
"Yuk kak, bismillah," ajak Sheila seraya membantu Sylvia berdiri.
"Huft, bismillah," ucap Sylvia kemudian melangkah keluar menuju ke tempat akad nikah dengan diapit Sheila dan Mama-nya di sisi kanan dan kirinya.
Sampai di meja yang akan digunakan untuk acara akad nikah, Sylvia kemudian didudukkan di samping Max.
Acara akad nikah pun berjalan dengan lancar. Max berhasil melafazkan ijab kabul dengan lantang dalam satu tarikan nafas. Kata 'syah' pun menggema di aula tersebut. Semua orang mengucap syukur alhamdulillah kemudian berdo'a untuk kebahagiaan kedua mempelai dengan dipimpin oleh penghulu.
"Mas jadi inget pas waktu kita akad nikah dulu Shei," kata Steven yang duduk di samping Sheila sembari menggenggam erat tangan Sheila.
Sheila menoleh kepada suaminya. Saat ini sedang berlangsung acara penandatanganan dokumen pernikahan di depan sana.
"Kenapa Mas?" tanya Sheila belum memahami maksud perkataan Steven.
"Jujur, saat itu belum ada sedikitpun rasa cinta untuk kamu. Tapi entah kenapa, hati Mas begitu yakin dan mantap saat melafazkan ijab kabul dulu. Apalagi saat kamu mencium tangan Mas. Mas merasakan getaran perasaan asing yang Mas sendiri nggak tahu perasaan apa itu. Ternyata bener ya, seringkali hati kita sudah lebih dulu tahu dan bisa mengenali segala sesuatu sebelum akal pikiran kita menyadarinya."
Sheila tersenyum lembut menanggapi perkataan suaminya.
"Itulah hebatnya takdir Allah Mas. Terkadang semuanya tidak berjalan sesuai dengan apa yang kita rencanakan. Tapi yakinlah, apa yang telah ditetapkan oleh Allah SWT pasti lebih baik dari apa yang telah kita rencanakan. Tugas kita hanya harus menjalaninya dengan sabar dan ikhlas."
"Kamu benar Shei. Dan ternyata kamu memang yang terbaik yang ditakdirkan Allah untuk Mas. Mas beruntung banget mendapatkan istri seperti kamu Shei."
"Jangan terlalu berlebihan Mas. Aku belum sebaik itu."
"No. Kamu memang sebaik itu untuk Mas," kata Steven kemudian mengangkat tangan Sheila yang digenggamnya lalu menciumnya.
Sheila hanya bisa tersenyum dengan wajah yang sudah memerah. Merasa bahagia dan tersanjung.
Setelah acara foto-foto selesai Max dan Sylvia diarahkan untuk berganti baju untuk kemudian melanjutkan acara resepsi pernikahan.
Acara resepsi pernikahan Max dan Sylvia pun berjalan dengan lancar. Saat ini Sheila sedang bersama dengan Dyah, Tya, dan Lusia. Sementara Steven dan Leon masih menyambut tamu-tamu dan rekan bisnis mereka.
__ADS_1
Tiba-tiba saja Raka datang menghampiri Sheila dan sahabat-sahabatnya.
"Selamat malam gadis-gadis cantik," sapa Raka.
"Kak Raka?" sapa Sheila kaget.
"Hai Shei. Oh iya, aku belum sempat mengucapkan selamat untuk pernikahanmu. Jadi, selamat ya Shei," kata Raka sambil mengulurkan tangan kanannya.
"Terima kasih kak," balas Sheila sedikit enggan menyambut uluran tangan Raka, ada rasa was-was dirasakan Sheila saat ini.
Dan benar saja, Raka seakan tidak berniat melepaskan tangan Sheila dan justru mengusapnya lembut dengan satu tangannya yang lain. Sheila kaget dan seketika menarik paksa tangannya agar terlepas dari tangan Raka.
Kegelisahan Sheila tidak luput dari perhatian ketiga sahabatnya. Dalam hati Sheila berdo'a agar suaminya segera datang dan memberikan perlindungan kepada dirinya.
"Gimana kabar kamu Shei?" tanya Raka semakin mendekat kepada Sheila.
Sheila justru beringsut menjauh dan merapat kepada Dyah yang saat itu ada di sampingnya.
"Sheila baik kok kak."
"Udah lama ya kita nggak ketemu, eh sekalinya ketemu kamu malah udah nikah sama orang lain. Nggak ngundang-ngundang pula."
"Maaf kak, kemarin memang acaranya cuma sederhana, cuma keluarga besar dan tetangga saja."
"Oh ya, bukan karena mendadak kalian dijodohkan?"
Sheila tersentak kaget, bingung harus menjawab apa dan sayangnya tidak bisa lari menghindar. Tatapan mata Raka yang seolah-olah begitu menginginkan Sheila membuat Sheila sedikit takut.
"Dua kali kamu menolakku Shei, dan sekarang, apa ini?" tanya Raka sambil tertawa menyeringai. "Kamu sengaja membuatku sakit hati Shei."
Tangan Raka terulur hendak meraih Sheila. Sheila sudah terlihat memucat dan sedikit gemetar, Dyah bisa merasakannya.
"Sayang," panggil Steven sembari berjalan cepat mendekat ke arah Sheila dan yang lainnya. Leon mengekor di belakangnya.
"Mas Steven," Sheila menghembuskan nafas lega.
Raka mengumpat pelan lalu menarik kembali tangannya dengan terpaksa. Steven segera meraih pinggang Sheila dan mendekapnya.
"Oh, selamat malam Pak Raka. Senang berjumpa dengan anda di pesta ini," sapa Steven sopan sambil mengulurkan tangannya.
"Iya, selamat malam juga Pak Steven," balas Raka menerima uluran tangan dari Steven.
"Hai Bro, udah ketemu Max belum? Ayok aku anterin, mumpung antrian juga nggak begitu panjang tuh," sapa Leon.
"Hai Yon. Belum sih, tapi kayaknya nanti aja, biar selesai dulu yang lain."
"Udah sekarang aja. Ayo aku anter, tadi Lo juga udah ditanyain loh sama Max," Leon sedikit memaksa.
Akhirnya Raka pergi mengikuti Leon. Sheila langsung menyembunyikan wajahnya di dada bidang Steven dan menghembuskan nafas lega.
"Kamu nggak pa-pa kan sayang?"
"Untung Mas dateng tepat waktu, aku udah ketakutan tadi Mas," keluh Sheila setelah mengangkat wajahnya.
__ADS_1
"Maaf ya kalau Mas lama. Tadi Mas sama Leon lagi menyambut tamu. Mas udah mau lari tadi begitu ngelihat Raka deketin kamu, tapi dicegah Leon. Untung diingetin Leon untuk sabar, kalau tidak Mas pasti udah bikin keributan."
"Iya Mas, nggak pa-pa kok."
"Kamu udah makan sayang?" tanya Steven.
"Makan kue tadi sama temen-temen Mas. Mas udah makan?"
"Belum. Nanti aja sama kamu."
"Hadeeh, dunia serasa milik berdua guys, jadi nyamuk kita mah," celoteh Lusia
Semuanya tertawa menanggapi ucapan Lusia itu.
"Aman Steve," kata Leon setelah kembali menghampiri mereka.
"Thanks ya Yon."
Leon mengangkat jempolnya menanggapi ucapan terima kasih Steven.
Tiba-tiba saja Sheila merasa kepalanya pusing. Sheila mencengkeram jas Steven kuat-kuat.
"Kenapa sayang?"
"Kepala aku tiba-tiba pusing banget Mas," keluh Sheila kembali menyandarkan kepalanya di dada Steven.
"Kamu nggak pa-pa kan dek?" tanya Leon mulai khawatir.
Belum sempat Sheila menjawab tubuh Sheila sudah melemas di pelukan Steven. Untungnya Steven masih mendekap Sheila erat sehingga Sheila tidak sampai jatuh.
"Sayang," pekik Steven tertahan.
"Sheila," Dyah, Tya, dan Lusia tak kalah panik.
"Astaga, dek," pekik Leon juga.
"Sheila pingsan Yon. Kita bawa ke rumah sakit sekarang juga. Kalian bertiga tetap disini. Tetap tenang, jangan sampai menimbulkan keributan karena masalah ini. Lus nanti kamu kasih tahu Danny pelan-pelan ya. Dyah sama Tya tolong handle Ayah sama Bunda kalau nanti mereka nanyain kami. Lo ambil mobil Yon, gue tunggu di pintu samping," Steven memberi arahan, pelan namun tegas.
Semuanya mengangguk tanda mengerti. Jiwa kepemimpinan Steven dan ketepatannya dalam mengarahkan orang lain tidak perlu diragukan lagi. Leon segera bergegas mengambil mobil. Steven membopong Sheila hendak membawanya keluar melalui pintu samping.
"Kabarin kita ya Bang," pinta Lusia sebelum Steven pergi.
"Pasti," jawab Steven kemudian pergi membawa Sheila.
***
**Dear readers ...
Maaf ya kalau up nya tidak bisa setiap hari, biasa terkendala kesibukan ibu rumah tangga dengan 3 anak kecil di real life ðŸ¤. Aku harap kalian semua bisa memaklumi ya.
Oh iya, aku ucapkan 'Selamat Menjalankan Ibadah Puasa Ramadhan 1442 H' ya untuk semua readers yang juga mulai menjalankan ibadah puasa besok. Mohon maaf lahir dan batin jika aku banyak salah dan khilaf, tolong dimaafkan ya 😊.
Semoga bulan Ramadhan ini menjadi bulan yang penuh berkah untuk kita semua. Semoga kita bisa menjalankan ibadah puasa dan ibadah-ibadah lainnya sebaik mungkin. Dan semoga kita masih diberi kesempatan untuk dapat berjumpa dengan bulan Ramadhan tahun depan.
__ADS_1
Aamiin Yaa robbal 'aalamiin 🤲**...