Cinta Sheila

Cinta Sheila
S2 Berbohong


__ADS_3

"Maaf banget ya Bun, malam ini Abang nggak bisa pulang dulu. Masih banyak banget kerjaan yang Abang bawa pulang, jadi harus Abang selesai-in dulu," kata Sean kepada Sheila melalui panggilan telepon.


"....."


"Iya Bun, Abang nggak akan capek-capek kok. Abang pasti jaga kondisi kesehatan."


"....."


"Insya Allah ya Bun, Abang usahain besok bisa pulang."


"....."


"Iya Bun. Wa'alaikumsalam."


Sean menutup panggilan teleponnya. Menyandarkan tubuhnya pada kursi di ruang kerjanya tersebut. Mengesah pelan sambil mengusap wajahnya gusar. Sean terpaksa berbohong kepada Sheila. Tanpa Sean sadari ternyata Sonia sudah berdiri tidak jauh dari meja kerjanya tersebut.


"Ana?" Sean sedikit terkejut dengan kehadiran Sonia.


"Aku bawain teh chamomile buat Mas," kata Sonia sambil tersenyum lembut.


"Ah, ya. Makasih."


Sean meminum teh yang diletakkan Sonia di hadapannya.


"Tidurlah dulu. Kau masih harus banyak istirahat. Obatnya sudah diminum?"


"Sudah Mas."


"Kalau begitu tidurlah dulu. Nanti Mas nyusul. Masih ada beberapa pekerjaan yang harus Mas selesaikan lebih dulu."


"Iya Mas. Kalau gitu aku tidur duluan ya Mas.'


Sean tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. Sonia kemudian berbalik dan melangkah keluar dari ruang kerja Sean.


Sonia sempat mendengar sedikit pembicaraan Sean di telepon tadi. Dan jujur saja Sonia merasa bersalah, karena Sean tidak bisa pulang itu pasti karena dirinya.


Sekitar dua jam kemudian Sean masuk ke dalam kamar. Dilihatnya Sonia sudah tertidur. Sean naik ke atas tempat tidur kemudian menyelimuti tubuh mereka berdua. Berbaring miring menghadap ke arah Sonia, Sean kemudian mengusap puncak kepala Sonia lembut dari balik hijabnya.


"Maaf, untuk semua yang sudah terjadi. Dan maaf, karena belum bisa memberikan yang terbaik untuk kamu," lirih Sean.


🌸🌸🌸


Keesokan paginya.


"Mas nggak pulang ke rumah hari ini?" tanya Sonia hati-hati.


Saat ini Sean dan Sonia sedang sarapan bersama di meja makan. Sonia dapat melihat Sean nampak sedikit terkejut mendengar pertanyaannya.


"Maaf, semalam aku nggak sengaja denger pas Mas lagi telponan. Maaf ya," jelas Sonia.


"Nggak pa-pa kok," balas Sean.


"Jadi? Mas pulang kan hari ini? Kasihan Bunda nungguin," tanya Sonia lagi.


"Tapi kalau Mas pulang, Mas pasti harus nginep. Nanti kamu disini sendirian."


"Nggak masalah Mas. Kan ada Mbak Ratmi juga yang nemenin aku kalau siang. Lagian juga aku kan udah terbiasa sendiri pas nge-kost kemarin."


"Tapi nanti kalau kamu butuh apa-apa?"


"Aku bukan anak kecil lagi Mas. Mas nggak perlu khawatir berlebihan kayak gitu," kata Sonia sambil tertawa kecil.


"Habis sarapan Mas pulang ya, kasihan Bunda dan yang lainnya," bujuk Sonia.

__ADS_1


Sean pun akhirnya menganggukkan kepalanya.


'Sejak pertama kali melihat Non Ana kemarin dan berbincang-bincang dengannya, aku sudah yakin kalau dia adalah seorang gadis yang baik. Rencana Tuhan memang tidak pernah salah, meskipun caranya sedikit tidak terduga,' kata batin Mbak Ratmi yang sedang membereskan dapur, tidak sengaja mendengar pembicaraan kedua majikannya.


Selesai sarapan Sonia mengantar kepergian Sean sampai ke pintu.


"Kalau ada apa-apa langsung hubungi Mas ya," pesan Sean.


"Iya Mas."


"Mas berangkat dulu kalau gitu. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam. Mas,,,"


Sean menghentikan langkahnya ketika mendengar panggilan Sonia. Sonia kemudian meraih tangan kanan Sean dan mencium punggung tangannya.


"Hati-hati," pesan Sonia sambil tersenyum.


Sean membalas senyuman Sonia kemudian menganggukkan kepalanya.


🌸🌸🌸


Malam ini rumah Steven semakin ramai dengan kehadiran Adrian. Saat ini semuanya sedang berkumpul di halaman samping. Mereka akan makan malam bersama di luar dengan tema barbeque-an.


Sheila, Safa, dan dua orang asisten rumah tangga mereka sedang sibuk mempersiapkan untuk makan malam kali ini. Sementara Steven, Sean, Syafiq, dan Adrian duduk bersama sambil menikmati teh.


Sebuah notifikasi pesan muncul di ponsel Sean. Dan Sean sangat terkejut ketika membaca pesan tersebut.


'Diberitahuan kepada seluruh penghuni apartemen bahwa saat ini sedang terjadi kerusakan pada panel induk listrik. Sehingga untuk sementara waktu seluruh listrik padam. Saat ini kami sedang melakukan perbaikan dan diusahakan listrik bisa kembali normal sekitar dua jam lagi. Pengurus memohon maaf yang sebesar-besarnya atas ketidak nyamanan ini. Terima kasih.'


Adrian yang menyadari kegelisahan Sean pun bertanya melalui tatapan matanya dan menggerakkan sedikit dagunya ke atas. Sean segera mengirimkan pesan pemberitahuan yang diterimanya tadi kepada Adrian. Dan Adrian pun juga nampak terkejut membaca pesan yang dikirim Sean.


Beruntung Steven sedang sibuk berdiskusi dengan Syafiq mengenai proyek baru perusahaan Syafiq, sehingga tidak begitu memperhatikan apa yang dilakukan Sean dan Adrian.


"Siapa Bang?" tanya Sheila yang sudah berdiri di samping Steven saat ini.


"Dirga Bun. Abang angkat dulu ya sebentar," jawab Sean sekaligus meminta ijin.


Setelah mendapat anggukan kepala dari Sheila, Sean pun menggeser tombol hijau pada ponselnya.


"Assalamu'alaikum Ga."


"......."


"Harus sekarang juga?"


"......."


"Oke. Kamu tunggu aja di lobi apartemen, Abang kesana sekarang. Bahan presentasi semua ada di apartemen Abang."


Sean kemudian mengakhiri panggilan teleponnya.


"Ada apa Bang?" tanya Sheila.


"Dirga bilang ada meeting mendadak Bun. Mau nggak mau Abang harus dateng."


"Weekend gini?" tanya Steven juga.


"Kata Dirga klien-nya besok pagi-pagi sudah mau terbang kembali ke negaranya. Makanya meeting kita dimajuin sekarang," Sean mencoba untuk tetap tenang.


"Ya udah deh. Mau gimana lagi namanya juga tanggung jawab," kata Sheila.


"Kamu nggak ikut Yan?" tanya Steven lagi.

__ADS_1


"Eh, ehmmm, enggak Yah," jawab Adrian sedikit gugup.


"Klien yang ini emang khusus Abang yang nanganin sendiri sama Dirga, Yah. Jadi Adrian nggak ikut," Sean membantu menjawab.


"Oh, gitu," balas Steven sambil manggut-manggut.


Sean dan Adrian menghela nafas lega, merasa tenang Steven sudah tidak meragukan alasan mereka lagi. Sayangnya mereka berdua lupa, Steven tidak semudah itu dibohongi.


"Ya udah kalau gitu Abang berangkat sekarang ya Yah, Bun. Maaf banget nggak bisa ikut acara malam ini dan nggak bisa nginep juga," kata Sean.


"Iya Bang, nggak pa-pa kok. Hati-hati ya," pesan Sheila.


"Pasti Bun."


Sean mencium punggung tangan Steven dan Sheila bergantian.


"Abang pergi dulu ya semuanya. Assalamu'alaikum," pamit Sean.


"Wa'alaikumsalam," jawab yang lainnya bersamaan.


Setelah berpamitan kepada semuanya, Sean pun bergegas mengendarai mobilnya menuju ke apartemennya.


Dan benar saja, ketika Sean sampai kondisi apartemen masih gelap. Sean hanya memarkirkan mobilnya di halaman depan apartemen dan segera bergegas masuk ke dalam apartemen.


Dengan bantuan lampu flash ponselnya Sean segera menuju ke arah tangga darurat. Emergency lamp yang dipasang di setiap lantai pada tangga darurat sedikit memudahkan Sean ketika berlari menaiki tangga darurat tersebut.


Beruntung apartemen Sean hanya berada di lantai 27 sehingga Sean masih memiliki cukup tenaga untuk berlari menaiki satu per satu anak tangga sampai ke lantai 27 dimana unitnya berada.


Sean segera berlari menuju ke unit apartemennya. Membuka pintunya secara manual dengan kunci yang dia jadikan satu bersama kunci mobil dan kunci kamarnya di rumah orang tuanya. Sean segera naik ke lantai atas setelah menutup kembali pintu apartemennya.


Sampai di lantai atas Sean samar-samar mendengar suara merdu Sonia yang sedang menyenandungkan sholawat.


"Allahumma sholli ‘ala sayyidina Muhammad wa asyghilidz dzolimin bidz dzolimin wa akhrijna mim bainihim salimin wa ‘ala alihi wa shohbihi ajma’iin."


"Assalamu'alaikum, Ana," panggil Sean begitu membuka pintu kamarnya.


Sean melihat Sonia sedang duduk di atas tempat tidur dengan memeluk kedua lututnya dan menyembunyikan wajahnya.


"Wa'alaikumsalam. Mas Sean," desah Sonia lega sambil mengangkat wajahnya.


Sonia bergegas turun dari tempat tidur dan memburu Sean yang sedang berjalan ke arahnya. Refleks Sonia langsung memeluk Sean dan menumpahkan air matanya di dada Sean. Sean membalas pelukan Sonia.


"Sssttt,,, jangan nangis lagi. Maafin Mas ya udah ninggalin kamu sendirian," kata Sean sembari mengusap lembut kepala Sonia.


...•••••...


Epilog


"Yas, Dirga ada di rumah?" tanya Steven melalui panggilan telepon.


"Ada kak. Kenapa memangnya?"


"Nggak ada apa-apa. Cuma mau memastikan aja. Jangan bilang kalau kakak telepon nanyain dia, ya," pesan Steven.


"Oh, oke deh kak."


"Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam."


Steven menutup panggilan teleponnya.


"Ada yang sedang mencoba bermain-main dengan Ayah rupanya," kata Steven dengan menyeringai.

__ADS_1


__ADS_2