Cinta Sheila

Cinta Sheila
S2 Menceritakan Kepada Safa


__ADS_3

"Assalamu'alaikum, Mas Rian bisa tolong jemput Safa?" tanya Safa melalui panggilan telepon.


"Wa'alaikumsalam Safa. Jemput sekarang?" tanya Adrian yang saat ini sedang duduk di kursi kebesarannya dengan ponsel yang menempel di telinganya.


"Iya sekarang. Safa udah nggak ada jam kuliah lagi, tapi ada buku yang harus Safa beli untuk penelitian. Mas Rian sibuk nggak? Bisa temenin Safa ke toko buku?"


"Oke. Mas Rian otewe sekarang. Kamu tunggu sebentar ya."


"Oke Mas, Safa tunggu. Makasih ya. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam."


Sambungan telepon terputus. Adrian bangkit dari kursinya, menyambar kunci mobil kemudian bergegas keluar dari ruangannya.


"Mau kemana Lo?" tanya Sean ketika mereka berpapasan di depan pintu ruang kerja Adrian.


"Safa minta dianterin ke toko buku."


"Tapi sebentar lagi kita ada rapat dengan bagian pemasaran," Sean mengingatkan.


Adrian menepuk keningnya sendiri, dia lupa.


"Tolong Lo handel dulu ya Sean, please, sekali ini aja," mohon Adrian.


"Hah, Lo itu, kalau udah urusan Safa pasti lupa sama yang lainnya," desah Sean.


"Sorry Bro. Tapi gue juga nggak mungkin batalin janji gue. So please, kali ini aja."


"Iya deh iya. Untung aja Lo punya sekretaris yang bisa diandalkan," Sean akhirnya mengalah.


"Yes, thanks Bro," girang Adrian. "Jelas dong. Itu juga kenapa gue lebih milih sekretaris cowok daripada cewek, lebih bisa diandalkan dan nggak banyak baper."


"Oke-oke, gue setuju sama Lo. Entar gue cari juga deh. By the way, bilangin ke Safa, lihat sikon kalau mau ngajak-ngajak. Kalau Lo nggak mau bilangin, gue yang akan langsung negur dia," kata Sean tegas.


"Iya-iya, entar gue bilangin. Jangan terlalu keras sama Safa Bro."


"Bukan keras, tapi tegas. Biar dia juga nggak seenaknya sendiri."


"Iya deh iya. Nanti gue bilang ke Safa. Udah ya, gue berangkat dulu, kasihan kalau Safa kelamaan nunggu," potong Adrian.


"Hati-hati," pesan Sean.


"Oke," balas Adrian sambil mengacungkan jempol kanannya.


Adrian kemudian setengah berlari menuju ke lift. Sean hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku sahabatnya itu.


"Dasar bucin," olok Sean yang tentu saja tidak bisa didengar oleh Adrian karena pintu lift sudah tertutup.


🌸🌸🌸

__ADS_1


Dua tahun berlalu, perusahaan yang dipimpin Sean dan Adrian semakin meningkat pesat. Sean dan Adrian rupanya mampu membawa perusahaan tersebut kembali bangkit dan berkembang dengan baik.


Hal itu tentu saja merupakan sebuah kebanggaan tersendiri bagi Steven dan Andika. Putra mereka mampu membuktikan kehebatan dan kemampuan mereka dalam memimpin perusahaan.


Siang itu Andika mendatangi Steven di perusahaannya.


"Steven ada Yas?" tanya Andika kepada Yas ketika melewati meja kerja Yas.


"Ada Bang. Langsung masuk aja," jawab Yas.


"Oke Abang masuk dulu ya."


"Iya Bang."


Andika mengetuk pintu ruang kerja Steven kemudian masuk setelah Steven mempersilahkan.


"Assalamu'alaikum Steve," sapa Andika.


"Wa'alaikumsalam. Eh Bang, tumben. Ada apa nih?" tanya Steven sedikit terkejut.


Andika kemudian mendudukkan dirinya di sofa dan Steven langsung menyusulnya.


"Ada sedikit kabar buruk Steve. Darius tadi telpon Abang, dia ngabarin kalau Ikhsan sudah meninggal."


"Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un."


Steven sangat terkejut mendengar kabar yang dibawa Andika tersebut.


"Habis Dzuhur? Nggak keburu dong Bang kalau kita mau kesana," sesal Steven.


"Darius melarang kita datang. Menghindari kemungkinan Raka masih mencari mereka."


"Tapi sepertinya Raka sudah tidak berusaha mencari keberadaan mereka lagi kan Bang?" tanya Steven hendak meyakinkan kabar yang dia dapat.


"Sejauh pengamatan Abang sih memang sudah berhenti. Tapi kita kan nggak tau juga."


"Gimana dengan pendidikan Sonia dan adik-adiknya Bang?"


"Sonia masih kuliah, tinggal dua semester lagi kalau nggak salah. Dan beruntungnya dia dapat beasiswa prestasi dari pihak kampus. Kedua adiknya masih SMA sama SMP."


"Masih butuh biaya banyak dong. Bisa nggak Bang kita bantuin mereka secara diam-diam?"


"Mungkin bisa. Biar Abang cari caranya nanti."


"Oke, tolong usahain ya Bang," pinta Steven.


"Pasti. Kapan kamu mau memberitahu Safa tentang masalah Sonia ini Steve?"


"Entahlah Bang. Hati anak itu masih rapuh banget kalau menyangkut Sonia."

__ADS_1


"Justru itu Steve. Apa nggak sebaiknya kita ceritain ke Safa semua yang kita tau. Minimal biar Safa bisa tenang dan nggak terus kepikiran gimana keadaan Sonia sekarang," usul Andika.


Steven membuang nafasnya kasar.


"Coba nanti Steven bicarain dengan Sheila dulu ya Bang."


Andika mengangguk menyetujui.


🌸🌸🌸


Malam itu setelah makan malam Steven mengajak Sheila dan ketiga anaknya untuk berkumpul di ruang keluarga. Steven sudah berbicara dan meminta pertimbangan dari Sheila tadi. Dan akhirnya diputuskan kalau mereka akan menceritakan perihal masalah Sonia kepada Safa.


Steven dan Sheila sengaja duduk di sebelah kanan dan kiri Safa. Agar memudahkan mereka untuk memeluk dan menenangkan Safa nanti.


"Safa, ada yang ingin Ayah bicarakan sama kamu," kata Steven memulai pembicaraannya.


"Ada apa Yah?" tanya Safa.


"Nak, sebenarnya Ayah sudah mengetahui dimana keberadaan Sonia dan keluarganya."


"Apa??? Ayah beneran? Ayah nggak lagi bohong kan? Ayah nggak lagi bohongin Safa kan Yah?" tanya Safa kaget dan sangat antusias.


"Enggak sayang, Ayah nggak bohong," jawab Steven.


"Terus dimana Sonia sekarang Yah? Gimana keadaan Sonia?" tanya Safa sambil menggenggam tangan Steven dengan kedua tangannya.


Steven kemudian menceritakan semua yang dia ketahui tentang Sonia kepada Safa. Dimana mereka saat ini, bagaimana keadaan mereka, kenapa mereka dulu harus pergi, dan juga menceritakan tentang ayah Sonia yang baru saja meninggal.


Safa terus menangis di dalam pelukan Sheila ketika Steven menceritakan semuanya. Sean dan Syafiq pun sampai tidak tega melihat adik kesayangan mereka seperti itu.


"Safa pengen ketemu Sonia Bun," rengek Safa di sela tangisannya.


"Keadaan belum memungkinkan sayang. Jangan sampai kita justru membuat Sonia dan keluarganya berada dalam bahaya karena keberadaan mereka diketahui," kata Sheila yang juga sudah ikut menitikkan air mata sambil terus mengelus lembut kepala Safa.


"Tapi Safa kangen banget sama Sonia Bun."


"Bunda tau sayang. Sonia juga pasti kangen banget sama kamu. Buktinya Sonia beberapa kali berusaha menghubungi nomor lama kamu kan meskipun dia tidak berhasil."


"Tapi sekarang Bunda minta kamu bersabar dulu ya sayang. Tunggu sampai keadaan memungkinkan, dan kamu pasti bisa ketemu Sonia lagi. Yang penting sekarang kita sudah mengetahui dimana keberadaan Sonia dan keluarganya. Dan kita juga tau kalau mereka dalam keadaan baik-baik saja," lanjut Sheila lagi.


"Sonia pasti sedih banget saat ini Bun. Safa pengen bisa memeluk dan menghibur Sonia."


"Iya sayang, Bunda tau. Tapi sekarang yang bisa kita lakukan hanyalah bersabar dan mendo'akan Sonia, semoga Sonia dan keluarganya kuat menghadapi cobaan ini dan bisa mengikhlaskan kepergian ayah mereka."


Safa bangun dari pelukan Sheila kemudian berbalik menghadap Steven dan menggenggam kedua tangan ayahnya itu.


"Yah, tolong carikan nomor ponsel Sonia. Seenggaknya Safa bisa mendengar suara Sonia kalau memang Safa belum bisa ketemu dengan Sonia," mohon Safa masih dengan air mata yang berlinang.


"Ayah dan ayah Dika juga sedang berusaha sayang. Kamu sabar dulu ya," balas Steven.

__ADS_1


Steven menarik Safa ke dalam pelukannya. Mengelus lembut kepala Safa berusaha untuk menenangkannya. Sheila pun ikut mengelus punggung Safa yang terus bergetar karena tangisnya.


Sean dan Syafiq menghapus setitik air mata di sudut mata mereka masing-masing. Suasana di ruang keluarga tersebut begitu mengharu biru.


__ADS_2