Cinta Sheila

Cinta Sheila
S2 Strong Feeling


__ADS_3

Pagi ini Sonia menguatkan hatinya untuk mengunjungi rumah Safa, sahabatnya yang sangat dia rindukan dari dulu. Hari ini hari Minggu, Sonia sangat berharap untuk bisa bertemu dengan sahabat baiknya itu hari ini.


"Permisi Pak. Maaf bisakah saya bertemu dengan Safa?" tanya Sonia sopan kepada Pak Sapto yang berjaga di pos keamanan.


"Nona siapa? Sudah ada janji sebelumnya dengan Non Safa?" tanya Pak Sapto balik seperti biasanya jika ada tamu yang datang.


"Saya teman sekolah Safa dulu Pak. Dan, maaf, saya memang belum ada janji sebelumnya dengan Safa terlebih dahulu," jawab Sonia.


Sedetik kemudian suara teriakan seseorang mengalihkan perhatian Sonia dan Pak Sapto. Suara riang yang begitu Sonia rindukan selama empat tahun ini.


"Aaaaahhh,,," teriak Safa seraya berlari keluar dari dalam rumah.


Safa berhenti di dekat sebuah mobil yang terparkir di halaman kemudian membalikkan badannya.


"Bilang aja iri, dasar jomblo kesepian, wleee," ejek Safa dengan menjulurkan lidahnya.


Terlihat Syafiq yang nampak emosi di teras rumah digandeng lengannya oleh Sheila agar anak laki-lakinya itu tidak menghambur ke arah adiknya, Safa, yang masih saja terus mengejeknya.


'Safa,,, Bunda Sheila,,,'


Mata Sonia sudah berkaca-kaca, menatap penuh kerinduan kepada dua orang yang sangat disayanginya itu. Ya, kedekatannya dengan Safa dulu tentu saja berbanding lurus dengan kedekatannya kepada Bunda Sheila, yang juga sangat menyayangi Sonia dan sudah menganggap Sonia seperti putrinya sendiri, sama seperti Safa.


"Mas Rian ayo, keburu siang nih," rengek Safa.


Senyum di bibir Sonia terbit.


'Dasar manja, masih tidak berubah juga kamu Fa.'


Seorang laki-laki yang gagah dan tampan nampak berpamitan kepada Sheila dan mencium punggung tangannya. Laki-laki itu kemudian menghampiri Safa dan langsung membukakan pintu mobilnya untuk Safa.


"Safa sama Mas Rian berangkat dulu ya Bun. Assalamu'alaikum. Dadah kakak jomblo-ku tersayang," teriak riang Safa sambil melambaikan tangannya kemudian masuk ke dalam mobil mengabaikan umpatan-umpatan dari sang kakak.


'Mas Rian? Ah, sepertinya kamu akhirnya berhasil juga mendapatkan cinta pertamamu itu ya. Aku ikut merasa bahagia untukmu Safa.'


Dan ketika mobil yang dikendarai Safa dan Adrian mulai bergerak hendak melewati pos keamanan, Sonia dengan segera membalikkan badannya dan menyembunyikan wajahnya.


Tinnn!!!

__ADS_1


Terdengar Adrian membunyikan klaksonnya untuk berpamitan kepada Pak Sapto.


"Kami jalan dulu ya Pak Sapto," teriak Safa pula.


Deg!!!


Safa tiba-tiba saja terpaku melihat punggung seorang gadis berhijab yang sedang berdiri di hadapan Pak Sapto, gadis itu sedang membelakangi dirinya saat ini. Adrian pun sempat terkejut, tapi segera mampu menguasai diri.


"Mari Non, Den. Hati-hati di jalan," balas Pak Sapto.


Dan setelah mobil berlalu barulah Sonia berani mengangkat wajahnya.


"Loh Non, itu tadi kenapa nggak dihentiin Non Safa-nya? Katanya mau ketemu," tanya Pak Sapto heran.


"Nggak pa-pa Pak, lain kali aja saya datang lagi. Saya permisi dulu kalau begitu Pak. Terima kasih, assalamu'alaikum," pamit Sonia.


"Wa'alaikumsalam, iya Non, sama-sama," balas Pak Sapto yang nampak sedikit kebingungan.


Sonia kemudian berbalik dan mulai melangkah meninggalkan rumah sahabatnya itu. Sonia sedih tidak bisa menemui secara langsung sahabatnya itu hari ini. Tanpa Sonia sadari air mata itu sudah mengalir di pipinya.


Sonia segera menghapus air mata di pipi kanan dan kirinya. Sedetik kemudian senyuman manis tersungging di bibir Sonia. Setidaknya sahabatnya itu baik-baik saja. Dan Sonia juga ikut merasa bahagia melihat Safa yang sepertinya sudah berhasil mendapatkan cinta pertamanya dulu, Adrian.


Ah, rasanya Sonia benar-benar rindu saat-saat itu. Saat dimana dia dan Safa selalu berbagi cerita satu sama lain, berbagi suka dan duka, menghabiskan waktu bersama. Dan tanpa bisa dicegah air mata itu kembali mengalir di pipi Sonia.


🌸🌸🌸


Sean yang sedang berdiri di pagar balkon kamarnya di lantai dua, tiba-tiba saja pandangannya teralihkan kepada sesosok gadis berhijab yang sedang berjalan keluar melewati gerbang rumahnya.


'Ana?'


Sean mengernyitkan dahinya, dia seperti mengenal sosok berhijab yang sedang berjalan keluar itu. Sean segera mengeluarkan ponselnya dari saku celana dan langsung menghubungi Pak Sapto.


"Assalamu'alaikum, ada yang bisa saya bantu Den?" tanya Pak Sapto sigap.


"Wa'alaikumsalam. Pak Sapto siapa gadis yang baru saja keluar itu?" tanya Sean balik.


"Oh, katanya sih temen sekolah Non Safa dulu Den. Mau ketemu Non Safa, tapi tadi Non Safa-nya keburu pergi sama Den Rian," jawab Pak Sapto.

__ADS_1


"Oh, oke. Makasih Pak, assalamu'alaikum."


"Sama-sama Den, wa'alaikumsalam."


Sean mengakhiri panggilannya.


'Temen sekolah Safa dulu? Astaga, bisa-bisanya gue ngira itu Ana. Haish, gue kenapa sih? Kenapa gue jadi kepikiran gadis itu terus kayak gini.'


Sean tersenyum kecil sambil menggelengkan kepalanya pelan, mencoba mengusir bayangan Ana dari dalam pikirannya, meski pada kenyataannya Sean tidak bisa melakukannya. Entah kenapa bayangan Ana seolah selalu hadir dan menari-nari di dalam pikirannya.


🌸🌸🌸


Adrian yang sedang fokus mengemudi melirik ke arah kekasihnya yang nampak melamun. Ya, semenjak melihat punggung gadis berhijab tadi, entah kenapa perasaan Safa jadi tidak menentu. Tiba-tiba saja ada rasa sesak yang begitu mengusiknya.


"Kamu kenapa sayang, kok ngelamun? Lagi mikirin apa sih?" tanya Adrian lembut.


"Aku kok tiba-tiba ngerasa deg-degan banget ya Mas."


"Kamu kan kalau lagi di deket Mas emang selalu deg-degan terus sayang," kata Adrian sembari tertawa dan mengusap lembut kepala Safa.


"Seriusan Mas, ini tuh beda banget rasanya. Dada aku juga kayak sesek gitu. Tiba-tiba jadi pengen nangis aja," keluh Safa dan tanpa bisa dicegah air mata itu sudah mengalir turun dari kedua mata indahnya.


Adrian yang melihat kekasihnya itu tiba-tiba saja menangis pun segera menepikan mobilnya dan berhenti. Dengan sedikit panik Adrian segera menyerongkan tubuhnya. Digenggamnya kedua tangan Safa, dihapusnya air mata yang mengalir di pipi sang kekasih.


"Hei, kenapa? Kok tiba-tiba jadi nangis gini?" tanya Adrian lembut meski sedikit panik.


"Safa nggak tau Mas," jawab Safa dengan menggelengkan kepalanya pelan.


"Coba bilang sama Mas, apa yang lagi kamu rasain sekarang?"


"Nggak tau kenapa, Safa tiba-tiba ngerasa dada Safa sesek banget. Dan... Safa tiba-tiba aja jadi keinget sama Sonia," dan tangisan Safa pun pecah seketika.


Adrian melepaskan seat belt-nya dan seat belt Safa. Kemudian direngkuhnya tubuh gadis yang dia cintai itu ke dalam pelukannya. Safa pun menangis di dalam pelukan Adrian.


Adrian diam saja, membiarkan Safa meluapkan perasaannya terlebih dahulu. Adrian mengusap lembut kepala dan punggung Safa berulang kali, mencoba memberikan ketenangan kepada sang kekasih.


Adrian kemudian teringat dengan gadis berhijab yang dilihatnya di pos keamanan rumah Safa tadi.

__ADS_1


'Mungkinkah itu tadi Sonia, dan dia sedang berusaha untuk menemui Safa?' terka Adrian.


'Ah, ternyata ikatan mereka berdua masih sekuat ini. Aku harus segera mencari cara untuk bisa mempertemukan mereka berdua.'


__ADS_2