
Steven keluar dari ruang bawah tanah dan menuju ke ruangannya di lantai dua. Danny dan Ken yang baru saja datang melihat Steven menaiki tangga. Saling pandang, keduanya lalu mengikuti Steven naik ke lantai dua.
"Biarkan Danny dan Ken yang menemani Steven untuk saat ini," kata Andika kepada Max.
Andika dan Max baru saja keluar dari ruang bawah tanah ketika melihat Danny dan Ken menyusul Steven naik ke atas. Andika mengajak Max duduk di ruang tamu.
"Adit," panggil Andika pada salah satu anak buahnya.
"Ya Bos," balas Adit ketika sudah sampai di samping Andika.
"Tolong bawakan minuman. Dan minta yang lain mengantar Nila dan Joe kembali ke apartemen. Tapi tetap awasi mereka, pastikan mereka benar-benar pergi dari negara ini."
"Siap Bos."
"Gimana keadaan Sheila?" tanya Andika setelah Adit pergi.
"Alhamdulillaah sudah lebih baik Bang."
"Sorry ya sikap Steven. Dia hanya sedang kecewa. Tiga tahun bukan waktu yang sebentar. Steven tipe yang susah jatuh cinta, dari dulu dia terlalu fokus pada pendidikannya. Setelah sukses memimpin perusahaan yang diberikan kepadanya, Steven bertemu dengan Nila. Saat itu Nila menjadi salah satu model untuk produk terbaru perusahaan Steven. Dari sanalah awal hubungan mereka," Andika memulai ceritanya.
"Sepertinya Abang sangat memahami sifat Steven ya?" tanya Max.
Adit datang membawakan minuman kemudian meletakkannya di atas meja. Lalu pamit undur diri setelah itu.
"Silahkan diminum dulu," kata Andika mempersilahkan setelah Adit pergi.
"Terima kasih Bang."
Max dan Andika lalu meminum minuman yang dibawakan Adit tadi.
"Steven udah aku anggap seperti adikku sendiri. Aku kenal Steven udah sejak dia kecil jadi aku tahu benar bagaimana sifat anak itu. Dulu almarhum ayahku adalah asisten pribadi tuan Ricko. Tuan Ricko sangat baik, beliau menjamin kehidupan keluarga kami bahkan pendidikanku juga. Aku juga sering menemani keseharian Steven setelah pulang sekolah, karena Steven anak tunggal. Dan setelah ayahku meninggal aku yang menggantikan posisi beliau menjadi asisten pribadi tuan Ricko," kata Andika menjelaskan.
"Oh, i see."
"Tapi aku yakin Steven pasti bisa melupakan kekecewaannya ini dengan mudah. Aku lihat adikmu sudah berhasil merebut hati Steven. Belum pernah aku melihat Steven se-khawatir itu, apalagi karena seorang wanita."
Max menoleh tertarik dengan pembicaraan Andika.
"Semenjak putus hubungan dengan Nila dan memutuskan untuk menerima pernikahannya dan menjalaninya dengan baik, aku melihat Steven justru semakin bahagia. Hanya dengan melihatnya saja aku sudah bisa memastikan kalau Steven sudah jatuh cinta pada Sheila dan melupakan rasa sakit hatinya pada Nila. Sheila juga membawa banyak perubahan positif untuk Steven. Sheila berhasil membantu Steven berubah menjadi lebih baik, dalam hal kehidupan pribadi maupun dalam memimpin perusahaan."
Max tersenyum menanggapi perkataan Andika.
__ADS_1
"Dari awal aku memang tidak begitu suka dengan Nila. Dia seperti hanya memanfaatkan Steven untuk meningkatkan karir dan memenuhi kehidupan mewahnya saja. Dan ketika tuan Ricko menceritakan niatnya untuk menjodohkan Steven dengan Sheila, aku langsung mencari informasi semua tentang Sheila. Terdengar tidak sopan mungkin, tapi aku hanya ingin memastikan yang terbaik untuk Steven."
"Dan setelah mengetahui siapa Sheila dan bagaimana sifatnya, kau boleh percaya boleh tidak, aku adalah orang pertama yang sangat mendukung perjodohan itu. Bahkan aku juga yang meyakinkan Steven untuk menerima perjodohan tersebut. Entah kenapa aku begitu yakin kalau Sheila akan mampu membawa perubahan positif pada Steven dan memberikan kebahagiaan yang selama ini belum pernah Steven rasakan. Dan semuanya terbukti sekarang."
Lagi-lagi Max hanya tersenyum menanggapi perkataan Andika. Merasa bangga pada adiknya.
Sementara itu di ruangan Steven di lantai dua. Steven mendudukkan dirinya di sofa. Menyandarkan kepalanya dengan mata terpejam. Danny dan Ken masuk kemudian duduk di samping kanan dan kiri Steven.
"Are you okey Bro?" tanya Ken.
"Not really," jawab Steven masih memejamkan matanya.
"Menyesal atau kecewa?" tanya Danny.
Steven membuka mata dan menegakkan tubuhnya.
"Sedikit kecewa mungkin. But it's okey. Lebih baik aku mengetahui semuanya sekarang daripada dibohongi terus menerus."
"Kenapa Lo lepasin Nila? Masih cinta Lo sama dia?" tanya Danny lagi.
"Nope," jawab Steven tegas dan cepat. "Aku hanya kasihan dengan bayi yang sedang dikandung Nila, bayi itu tidak bersalah. Aku juga melihat cinta tulus di mata Joe untuk Nila. Dan aku percaya dengan janji Joe yang akan membawa Nila pergi dan tidak akan pernah mengganggu kehidupan kami lagi."
"Lalu kenapa masih kecewa?" tanya Ken.
Ketiganya terdiam. Danny dan Ken membenarkan perkataan Steven. Dan mereka mencoba memahami.
"But that's not a big problem. Aku pasti bisa melalui semuanya dengan mudah. Dengan cinta Sheila. Semua perhatian, kasih sayang, dan ketulusan yang dia berikan, bukan hal yang sulit untuk melupakan semua rasa kecewa ini. Aku sudah membuktikannya kemarin saat mengetahui pengkhianatan Nila padaku. Dan kali ini pasti lebih mudah lagi, karena sekarang aku dan Sheila sudah saling mencintai," kata Steven penuh keyakinan.
"Cinta Sheila sepertinya obat yang sangat mujarab buat Lo," kelakar Danny.
"Lo bener Dan. Cinta Sheila juga sudah merubah Steven kita ini menjadi Steven yang lebih baik dari yang dulu," sambung Ken.
Danny dan Ken lalu tertawa bersamaan.
"Sialan Lo pada. Terus aja ketawain gue, gue mau cabut."
"Buru-buru amat Bro?" tanya Ken.
"Udah kangen sama istri tercinta," Danny yang menjawab.
Ken dan Danny tertawa lebih keras lagi. Steven pun tersenyum kecil, membenarkan perkataan Danny.
__ADS_1
"Ketawa aja sampe puas. Gue cabut duluan," pamit Steven kemudian berdiri dan beranjak keluar meninggalkan Danny dan Ken yang masih tertawa di dalam sana.
Steven menuruni tangga dan menghampiri Andika dan Max di sofa ruang tamu.
"Kita cabut sekarang Max," ajak Steven.
"Oke. Leon barusan chat gue kalau temen-temen Sheila juga udah pada pulang, takut kemaleman katanya," sahut Max sambil berdiri.
"Ya udah yuk. Kasian Leon cuma sendirian. Bang kita cabut dulu ya," pamit Steven pada Andika yang juga sudah ikut berdiri.
"Oke. Salam buat Sheila ya."
"Ya Bang. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam. Hati-hati kalian."
"Pasti."
"Duluan ya Bang," pamit Max yang dibalas anggukan oleh Andika.
Steven dan Max pun pergi meninggalkan gedung tua tersebut.
"Sorry ya Max. Lo pasti kecewa sama gue karena gue gak ngasih hukuman yang setimpal buat Nila," kata Steven membuka percakapan.
"It's okey. Balas dendam juga bukan sesuatu yang diajarkan di keluarga gue. Ayah dan Bunda mengajarkan kepada kami untuk selalu memaafkan. Mereka menanamkan keyakinan sejak kami masih kecil bahwa Allah SWT itu Maha Adil. Semua perbuatan baik, meski sekecil apapun itu, pasti akan mendapatkan balasannya. Begitu juga dengan perbuatan buruk. Karma ia real Bro," sahut Max kemudian menarik turunkan alisnya memberi kesan menakutkan.
Steven tertawa kecil menanggapi kalimat terakhir Max yang diucapkan dengan nada jenaka itu.
"Lo bener. Gue setuju sama Ayah sama Bunda."
Karena kondisi jalan cukup lengang Steven kemudian menambah kecepatan laju mobilnya.
"Weiss, kalem Bro. Gue belum jadi nikah ini."
"Gak sabar pengen cepet sampe. Udah kangen sama istri gue yang cantik."
"Kangen sih kangen, tapi kalau kita celaka kan gak lucu juga," gerutu Max sambil berpegangan pada handle hand grip atas.
"Tenang aja, percaya sama gue. Gue juga belum mewujudkan mimpi gue sama Sheila untuk punya bayi yang lucu-lucu. So, everything will be alright."
"Keep safe Bro."
__ADS_1
"Pasti itu," balas Steven penuh keyakinan.