Cinta Sheila

Cinta Sheila
S2 First Talk


__ADS_3

"Assalamu'alaikum," sapa Adrian setelah membuka pintu ruangan Andika.


"Wa'alaikumsalam," jawab Steven dan Andika bersamaan.


Adrian masuk kemudian mencium punggung tangan Andika dan Steven bergantian.


"Duduk Yan," kata Andika mempersilahkan.


"Iya Yah, makasih."


"Gimana kamu bisa langsung tau kalau itu adalah Sonia Yan?" tanya Andika setelah Adrian duduk.


"Rian pernah ketemu Sonia beberapa kali Yah dulu. Awalnya tadi Rian juga sempat ragu, soalnya Sonia sekarang berhijab. Tapi setelah Rian baca berkas data diri Sonia ini Rian beneran yakin kalau dia adalah Sonia sahabat Safa," jawab Adrian seraya menyerahkan berkas data diri Sonia yang dia bawa kepada Andika.


Adrian membaca berkas tersebut, kemudian menyerahkannya kepada Steven setelah dia selesai.


"Jadi sekarang Sonia menggunakan nama tengahnya untuk identitas barunya?" tanya Andika.


"Iya Yah."


"Sean belum tau masalah ini kan Yan?" tanya Steven setelah selesai membaca berkas tersebut.


"Belum Yah. Dan ternyata gadis yang telah mencuri perhatian Sean belakangan ini, yang membuat Sean kepikiran bahkan sampai hilang fokus itu adalah Sonia Yah. Sean selalu meluangkan waktunya untuk mendengarkan Sonia mengaji di musholla setiap hari Senin dan Kamis, karena Sonia berpuasa pada hari itu jadi dia tidak makan siang," Adrian menjelaskan.


"Benar-benar sebuah kebetulan yang diluar dugaan," celetuk Steven.


"Apa Rian perlu menyampaikan informasi ini pada Sean Yah?" tanya Adrian.


"Jangan. Biarkan ini tetap menjadi rahasia. Selain untuk berjaga-jaga dari orang-orang RKG, biarkan Sonia juga bisa bekerja dengan tenang," jawab Andika.


"Kalau Safa?" tanya Adrian lagi.


Steven menghembuskan nafasnya kasar.


"Anak itu lagi sibuk-sibuknya di toko. Apalagi dengan absennya Lathifah yang sedang fokus mempersiapkan rencana pernikahannya dengan Kenzie. Raindyta juga lagi sibuk dengan cabang baru mereka yang baru saja dibuka. Menurut Abang gimana?" Steven meminta pendapat kepada Andika.


"Biar bagaimanapun Safa berhak tau Steve. Apalagi Safa sudah memendam kesedihan dan kerinduan selama empat tahun ini. Tapi saran Abang, biarkan mereka bertemu dengan sendirinya. Entah saat Safa datang ke kantor Sean atau Sonia yang datang ke toko kue Safa. Abang hanya tidak ingin Safa semakin sedih dan kecewa kalau dia tau kita menyembunyikan semuanya ini dari dia," saran Andika.


Steven dan Adrian nampak memikirkan saran Andika.


"Oke Bang, gue setuju. Rian, Ayah serahkan pertemuan Safa dan Sonia sama kamu, atur aja gimana baiknya."


"Baik Yah."


"Baguslah, semuanya sudah clear. Semoga semuanya berjalan lancar sesuai keinginan kita," kata Andika.

__ADS_1


"Aamiin," balas Steven dan Adrian.


"Udah, jangan terlalu tegang. Minum dulu gih," kata Andika mempersilahkan.


Steven dan Adrian mengangguk kemudian mengambil gelas teh masing-masing dari atas meja.


"Hah, nggak nyangka gue kalau akhirnya Ken bakal besanan sama Leon. Ternyata mereka yang lebih dulu mantu daripada kita Bang," ucap Steven setelah meminum tehnya.


"Iya Steve. Abang juga nggak nyangka kalau Ken bakal besanan sama Leon. Tapi Abang juga seneng, dengan begini hubungan persahabatan kita akan semakin erat," balas Andika.


"Terus kamu kapan Yan mau ngelamar Safa?" tanya Steven tiba-tiba.


Uhuk!!!


Adrian yang sedang meminum tehnya pun seketika tersedak mendengar pertanyaan dari Steven tersebut.


"Steven," peringat Andika.


"Apa sih Bang? Gue kan cuma nanyain kepastian dan ketegasan sikap anak Abang aja. Sebagai Ayah gue nggak mau dong kalau putri kesayangan gue cuma dibuat main-main aja tanpa kepastian," elak Steven.


"Maaf Yah, bukannya Rian belum siap atau masih ragu, tapi Safa masih memiliki dua orang kakak laki-laki yang belum menikah. Itu juga yang selalu dijadikan alasan oleh Safa tiap kali Rian tanya kapan Rian boleh datang ke rumah untuk berbicara serius dengan Ayah dan Bunda tentang hubungan kami," jawab Adrian sendu.


"Sebenarnya Ayah sendiri sih nggak masalah. Tapi yah, semua tergantung kalian berdua juga," kata Steven.


"Rian minta do'a restunya ya Yah," kata Adrian dengan melihat ke arah Steven dan Andika secara bergantian. "Semoga hubungan Rian dan Safa bisa segera sampai ke jenjang pernikahan," Adrian meminta do'a restu kedua ayahnya.


"Ya, Ayah juga selalu mendo'akan yang terbaik untuk kamu dan Safa, dan juga anak-anak Ayah yang lain," sambung Steven.


"Terima kasih banyak Yah," ucap Adrian dengan senyum yang terukir di wajahnya.


🌸🌸🌸


Tok tok tok.


Terdengar suara pintu ruangan Sean diketuk dari luar.


"Masuk," kata Sean mempersilahkan.


"Selamat siang Pak," sapa Sonia setelah membuka pintu ruangan Sean tersebut.


Sean yang semula fokus pada berkas-berkas di hadapannya pun seketika mendongakkan kepalanya karena terkejut. Sean hafal betul suara itu. Suara merdu gadis berhijab itu. Dan saat ini gadis itu sedang berjalan menuju ke arah Sean.


Sesaat senyum tersungging di bibir Sean. Tapi dengan cepat pula Sean segera menguasai dirinya kembali.


"Siang. Ada perlu apa?"

__ADS_1


"Maaf Pak, saya diminta Pak Azril untuk meminta tanda tangan bapak untuk berkas gaji karyawan bulan ini," kata Sonia yang sudah berdiri di depan meja kerja Sean.


"Bawa kesini," pinta Sean.


"Baik Pak," balas Sonia.


Sonia kemudian berjalan memutari setengah bagian meja dan menyerahkan berkas yang dia bawa untuk ditandatangani Sean. Sonia juga membuka berkas tersebut tepat di bagian yang harus ditandatangani Sean.


Sonia kemudian berdiri di samping Sean agak ke belakang sedikit. Dari jarak sedekat ini, Sonia bisa mencium wangi maskulin dari parfum yang dipakai oleh Sean. Dan entah kenapa jantungnya jadi berdebar-debar. Sonia sedikit gugup. Tapi kenapa, Sonia sendiri pun tidak tau alasannya.


"Kamu karyawan baru?" tanya Sean sembari meneliti berkas gaji karyawan yang ada di hadapannya.


"I-iya Pak," jawab Sonia sedikit tergagap.


"Sudah berapa lama?"


"Belum genap satu bulan Pak. Baru awal bulan ini saya masuk."


"Oh. Siapa nama kamu?"


"Nama saya Anastasia Pak."


"Baiklah Ana. Sudah selesai," kata Sean sembari mengulurkan berkas yang sudah selesai dia tanda tangani.


Sonia segera menerima berkas tersebut. Sesaat mata mereka berdua saling bertatapan. Sonia segera menundukkan wajahnya karena merasa canggung.


"Terima kasih banyak Pak. Kalau begitu saya permisi dulu. Selamat siang Pak," kata Sonia sekaligus berpamitan.


"Selamat siang," balas Sean.


Sonia beranjak keluar dari ruangan Sean. Dan Sean terus memperhatikan punggung gadis berhijab itu hingga menghilang di balik pintu ruang kerjanya.


'Jadi benar namanya adalah Ana. Anastasia. Divisi keuangan ya.'


Sean menyandarkan punggungnya di kursi kebesarannya. Pandangannya menerawang.


'Ada apa dengan gue? Perasaan apa ini? Belum pernah gue ngerasain ini sebelumnya. Selama ini gue baru sekali tertarik dengan yang namanya cewek. Tapi kenapa perasaan ini beda dengan yang gue rasain ke Grizelle dulu?'


Sean tersenyum samar sambil menggelengkan kepalanya.


'Tapi Ana memang gadis yang berbeda. Dia memiliki pesona yang istimewa, berbeda dengan gadis kebanyakan.'


Sean mengusap wajahnya dengan kedua tangannya.


"Haish, udah Sean udah. Fokus, ini masih jam kerja," peringat Sean kepada dirinya sendiri.

__ADS_1


Sean pun kembali menegakkan tubuhnya kemudian kembali melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda tadi.


__ADS_2