Cinta Sheila

Cinta Sheila
S2 Getting Closer


__ADS_3

"Yuk kita turun buat sholat, sekalian ke kafetaria," ajak Tari setelah sampai di samping meja kerja Sonia.


"Maaf ya Mbak, aku nggak ikut sholat di musholla dulu hari ini," kata Sonia merasa tidak enak hati.


"Loh, kenapa? Kamu lagi halangan ya An?" tanya Tari.


"Bukan Mbak. Umh, ada urusan lain aja," jawab Sonia sambil melirik ke arah Hana.


Sadar akan arti tatapan Sonia yang meminta bantuan, Hana pun buka suara ikut menjelaskan.


"Ana lagi ada urusan lain Mbak. Ya udah yuk, kita berdua aja. Lagian kan ini hari Senin, Ana juga puasa kan, jadi dia nggak bisa ikut kita ke kafetaria juga," ucap Hana menjelaskan.


"Oh gitu, iya juga sih. Ya udah deh, ayok Han! Kalau gitu kita duluan ya Ana," kata Tari sekaligus berpamitan.


"Iya Mbak," balas Sonia.


Sonia menghembuskan nafas lega setelah kepergian Hana dan Tari. Susah juga ternyata harus mencari alasan untuk bisa menemui suami sendiri. Rasanya seperti mau ketemu selingkuhan saja harus sembunyi-sembunyi kayak gini.


Hari ini Sean juga berpuasa seperti Sonia. Dan tadi pagi Sean sudah meminta Sonia untuk datang ke ruangannya pada saat jam istirahat makan siang. Dengan alasan Sean ingin sholat berjamaah bersama Sonia. Dan juga nanti mereka bisa beristirahat sebentar di kamar istirahat yang ada di ruangan Sean.


Setelah merasa keadaan cukup aman, Sonia kemudian bergegas menuju ke lift khusus yang biasanya hanya digunakan oleh Sean, Adrian, dan keluarga mereka yang lain saja. Sonia meletakkan telapak tangan kanannya pada scanner. Tidak lama kemudian pintu lift pun terbuka dan Sonia pun segera masuk ke dalam lift tersebut.


Keluar dari lift Sonia berjumpa dengan Adrian, Nadirga, dan Rizky, sekretaris Adrian.


"Sonia? Tumben istirahat naik ke atas? Biasanya Sean yang turun," tanya Adrian.


"Iya kak, Mas Sean yang minta," jawab Sonia tersenyum canggung.


"Hmh? Jangan bilang kalau kalian mau memanfaatkan waktu luang buat mesra-mesraan ya?" goda Adrian.


Wajah Sonia seketika memerah sementara Nadirga dan Rizky masing-masing sudah mengulum senyum.


"Mesra-mesraan juga nggak pa-pa kali kak, kan mereka udah halal juga," imbuh Nadirga yang semakin membuat Sonia merasa malu.


"Bu-bukan gitu kak. Aku sama Mas Sean lagi puasa kok, kan ini hari Senin," Sonia mencoba membela diri.


"Sean ikut puasa kayak kamu? Wah, bener-bener hebat kamu Sonia," puji Adrian.


"A-aku-"


"Puas kalian godain istri gue?" tanya Sean yang tiba-tiba sudah berdiri di dekat mereka berempat.


"Wuih, hero-nya muncul nih," goda Adrian lagi.


Sean melotot tajam membalas godaan Adrian kepada dirinya. Sementara Sonia hanya bisa menundukkan kepalanya, merasa malu karena terus digoda oleh Adrian.


"Cabut yuk guys, daripada gigit jari kita liatin pasangan halal lagi berduaan," ajak Adrian seraya melangkah meninggalkan Sean dan Sonia.


Nadirga dan Rizky pun mengekor di belakang Adrian dengan mengulum senyum masing-masing.


"Asem Lo Yan," umpat Sean.


"Mas,,," tegur Sonia pelan.

__ADS_1


"Hehe, maaf sayang, kelepasan," kata Sean yang sudah mulai memanggil 'sayang' ketika sedang berduaan saja dengan Sonia.


"Ya udah yuk, kita masuk," ajak Sean.


Sean dan Sonia kemudian masuk ke dalam ruangan Sean. Membuka pintu yang berada di dekat rak buku, Sean dan Sonia kemudian masuk ke dalam kamar istirahat Sean di ruangan tersebut.


Sean dan Sonia kemudian melaksanakan ibadah sholat Dzuhur berjamaah. Selesai sholat, dzikir, dan berdo'a, Sean dan Sonia pun tadarus bersama sebentar.


"Masih ada waktu setengah jam sayang, nggak mau tidur dulu?" tanya Sean ketika Sonia sedang membereskan peralatan sholat mereka.


"Nggak terbiasa Mas. Takut kebablasan juga."


"Kan bisa pasang alarm sayang."


"Hehe, iya juga sih."


Sean mulai membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur yang ada di kamar istirahat tersebut.


"Sini," panggil Sean seraya menepuk space kosong di sebelahnya ketika melihat Sonia selesai meletakkan peralatan sholat mereka di dalam almari.


Sonia menghampiri Sean, naik ke atas tempat tidur kemudian berbaring di sebelah Sean.


"Hari ini Mas mau dimasakin apa buat buka puasa nanti?" tanya Sonia.


"Mmm,,, sup ayam kayaknya seger tuh buat buka puasa," jawab Sean setelah berpikir beberapa saat.


"Oke deh, nanti aku masakin sup ayam buat kita buka puasa."


"Buat puding buah juga ya sayang. Mas suka puding buah buatan kamu."


"Ya udah ah, Mas mau istirahat dulu sebentar," kata Sean yang langsung memiringkan tubuhnya kemudian memeluk Sonia dari samping.


Sonia tersenyum melihat Sean yang mengusel di lengannya seperti anak kecil. Sonia kemudian meletakkan tangan kanannya yang bebas di atas tangan Sean yang sedang memeluk tubuhnya.


🌸🌸🌸


Saat ini Sean dan Sonia sedang makan bersama di meja makan. Tadi mereka sudah membatalkan puasa mereka dengan air putih, kurma, dan teh hangat. Dan setelah selesai sholat Maghrib berjamaah barulah sekarang mereka makan bersama.


"Hmm, sup ayam buatan kamu enak banget sayang," puji Sean.


"Makasih Mas," balas Sonia dengan tersenyum.


Sean dan Sonia melanjutkan acara makan mereka. Selesai makan, Sean membantu Sonia membereskan meja makan dan mencuci piring.


"Biar aku aja Mas. Mas duduk aja," tolak Sonia ketika Sean ikut membantu mengangkat piring kotor.


"Nggak pa-pa, biar cepet selesai."


Sonia akhirnya mengalah. Dan ketika Sonia sedang mencuci piring kotor, Sean pun ikut membantu membilasnya.


"Mas, nggak usah. Biar aku aja," tolak Sonia lagi.


"Kalau dikerjain bareng kan jadi lebih cepet selesai-nya, sayang."

__ADS_1


"Tapi kan ini tugas aku Mas."


"Emang siapa yang nentuin kayak gitu? Mas nikahin kamu buat jadi istri Mas, bukan jadi pembantu," tegas Sean.


"Iya, tapi kan ini tugasnya perempuan Mas."


"Emangnya suami nggak boleh bantuin tugas istrinya?"


"Bukan gitu Mas, maksud aku-"


Cup.


Sean mengecup kilat bibir Sonia. Membuat Sonia terpaku sesaat karena terkejut.


"Cepet selesai-in, habis itu kita bisa santai bareng."


Tidak mau membantah lagi, Sonia pun melanjutkan kegiatannya mencuci piring dengan muka yang bersemu merah. Sean tersenyum kecil melihat Sonia yang tersipu malu seperti itu.


🌸🌸🌸


Sean duduk di tepi tempat tidur, menunggu Sonia yang sedang mengaplikasikan cream malam pada wajahnya.


"Duduk sini sayang," pinta Sean setelah melihat Sonia yang sudah selesai dengan aktivitasnya.


Sonia berdiri dari kursi riasnya kemudian menghampiri Sean dan duduk di samping Sean. Sean mengusap lembut pipi Sonia dengan punggung jari tangannya.


"Istri Mas cantik banget sih," puji Sean.


"Mas Sean jangan godain aku terus," lirih Sonia dengan wajah yang tersipu.


"Mas serius loh, nggak lagi godain kamu," kata Sean yang semakin membuat wajah Sonia memerah.


"Kamu tau nggak? Dulu, Mas itu penasaran banget sama kamu. Pengen tau seperti apa kamu sampai bisa membuat Safa menjadi sebegitu terpuruknya karena kehilangan kamu. Dan setelah bertemu dengan kamu, Mas akhirnya tau kalau ternyata semua yang dibilang Safa waktu itu memang benar. Kamu benar-benar spesial, lain daripada yang lain. Cantik, rendah hati, penyayang, baik, dan sopan."


"Jangan terlalu berlebihan Mas. Aku belum sebaik itu."


"Tapi seperti itulah kamu dimata Mas, sayang. Rencana Allah SWT memang tidak pernah salah. Dan Mas sangat beruntung mendapatkan kamu sebagai istri Mas."


Air mata Sonia tiba-tiba mengalir perlahan. Tapi senyuman justru terukir di wajah cantiknya. Sean menghapus air mata Sonia dengan jarinya.


"Kamu tau sayang? Sejak pertama kali melihat kamu di musholla dan mendengar suara merdu kamu yang sedang mengaji, kamu sudah berhasil mencuri perhatian Mas. Bahkan tanpa Mas sadari, hati Mas pun sudah berhasil kamu kunci. Dan sekarang Mas sangat bersyukur karena mendapatkan kamu sebagai istri Mas, meski dengan cara yang tidak terduga."


"Mas sayang banget sama kamu Sonia."


Sean mulai mendekatkan wajahnya kepada Sonia. Memangkas jarak di antara keduanya, kemudian menyatukan lembut bibir mereka berdua. Sonia menyambut hangat ciuman Sean yang begitu penuh dengan kelembutan dan kasih sayang.


Ciuman yang awalnya lembut, semakin lama berubah menuntut. Bahkan tangan Sean yang satunya pun sudah memegangi tengkuk Sonia untuk memperdalam ciuman mereka. Dan tanpa disadari tangan Sonia pun sudah mengalung di leher Sean.


Sean melepaskan pertautan bibir mereka ketika merasa mereka sudah kehabisan nafas. Menyatukan keningnya dengan kening Sonia, nafas keduanya sama-sama memburu.


"Bolehkah?" tanya Sean dengan tatapan yang mulai sayu.


Sonia tersenyum sebelum akhirnya menjawab.

__ADS_1


"Aku milikmu Mas."


Sean kembali menyatukan bibir mereka. Perlahan mendorong tubuh Sonia sehingga berbaring di atas tempat tidur. Mereka pun akhirnya mengulang kembali kejadian malam pertama mereka. Tapi kali ini dengan kesadaran penuh dari keduanya.


__ADS_2