Cinta Sheila

Cinta Sheila
Dingin Malam Puncak


__ADS_3

Malam yang semakin larut dan cuaca yang semakin dingin akhirnya memaksa delapan pasangan anak muda itu untuk mengakhiri percakapan mereka. Mereka kemudian masuk ke dalam kamar masing-masing di dalam villa tersebut yang sudah disediakan oleh sang tuan rumah.


Ken dan Santi baru saja selesai membersihkan tubuh dan sholat isya' berjamaah. Keduanya saat ini sudah berada di dalam kamar pengantin mereka di villa tersebut. Begitu juga dengan pasangan suami istri yang lainnya. Kecuali Tya yang sekamar dengan Dyah dan Leon yang sekamar dengan Toni.


Ken duduk di tepian ranjang menunggu Santi yang sedang membereskan peralatan sholat yang mereka gunakan tadi.


"Sini sayang, duduk di sebelah Mas," pinta Ken sambil menepuk space kosong di sebelahnya.


Santi tersenyum kemudian mengikuti perintah suaminya dan duduk di sebelah suaminya itu. 'Suami', wajah Santi langsung merona ketika mengucapkan kata tersebut di dalam hatinya.


"Hey, kenapa wajah kamu udah merah gitu sih? Mas belum juga ngapa-ngapain kamu loh," goda Ken.


"Maaassss,,," rajuk Santi malu dengan memanjangkan kata.


Ken tertawa dibuatnya.


"Iya deh, maaf. Sini," kata Ken yang langsung meraih Santi ke dalam pelukannya.


Santi memejamkan matanya, meresapi hangatnya pelukan Ken, seseorang yang sekarang sudah syah menjadi suaminya.


"Mas bahagia banget akhirnya bisa nikah sama kamu sayang," kata Ken merasa begitu bahagia.


"Aku juga bahagia banget Mas," balas Santi yang juga merasakan hal yang sama.


"Makasih ya sayang, udah bersedia membuka hati kamu dan menerima cinta Mas."


"Aku yang seharusnya bilang makasih sama Mas Ken. Makasih karena Mas Ken dan keluarga Mas bersedia menerima aku yang bukan siapa-siapa ini."


Ken menjauhkan tubuh Santi demi bisa melihat wajah cantik istrinya itu.


"Jangan pernah berkata seperti itu lagi, Mas nggak suka," kata Ken penuh penekanan.


"Iya Mas, nggak lagi, maaf ya," balas Santi merasa bersalah.


"Mas mencintai kamu dengan tulus sayang. Mas dan keluarga Mas nggak pernah mempermasalahkan asal usul kamu. Jadi, Mas minta sama kamu, jangan pernah membahas masalah itu lagi, ya," pinta Ken, lembut tapi juga tegas.


"Iya Mas, maaf," lirih Santi.

__ADS_1


Ken tersenyum kemudian mulai mendekatkan wajahnya pada wajah Santi.


"I love you my wife," bisik Ken tepat di depan bibir Santi sebelum akhirnya meraup bibir mungil istrinya itu.


Ciuman lembut penuh sayang dirasakan Santi. Sebelum akhirnya berganti semakin menuntut. Ini merupakan sebuah hal yang baru bagi Santi. Belum pernah sebelumnya Santi merasakannya.


Tubuh Santi seperti merasakan sengatan-sengatan listrik kecil di tubuhnya. Santi sampai meremas lengan kaos Ken karena tidak tahan dengan serangan perasaan asing yang menderanya.


Ken menghentikan ciumannya ketika merasa Santi sudah mulai kehabisan nafas. Dengan kening yang saling menempel nafas mereka pun masih memburu.


"Bolehkah?" tanya Ken dengan suara yang mulai serak.


Santi tak kuasa menjawab, hanya anggukan kecil yang dia berikan. Tak berselang lama Ken kembali menyatukan bibir mereka. Perlahan merebahkan tubuh Santi. Tangan Ken pun mulai membuka baju tidur Santi.


Santi merasakan tubuhnya mulai memanas. Semua rasa yang masih awam bagi Santi. Tapi justru membuat Santi menginginkan sesuatu yang lebih. Kepalanya sampai pening merasakan semua hal yang baru pertama kali ini dia rasakan.


"Maaassss,,," erang Santi ketika Ken menyapa puncak di dad*nya.


Seperti bayi yang kehausan Ken melahap bagian kanan, sementara tangannya terus bermain di bagian kiri. Puas dengan yang kanan Ken pun berpindah ke bagian kiri. Santi sudah bergerak gelis*h di bawah Ken. Semua pengalaman baru ini hampir membuatnya gila.


Sesaat kemudian tangan-tangan terampil Ken sudah berhasil menangg*lkan semua kain yang melekat di tubuh mereka.


Santi tersenyum lembut dan menganggukkan kepalanya pelan, tak kuasa untuk menjawab.


Ken bergerak mendorong perlahan mencoba menembus, membuat Santi memekik tertahan merasakan sakit yang teramat sangat di bagian bawah tubuhnya. Meskipun sedikit kesulitan tapi akhirnya usaha Ken berhasil juga.


Ken mendiamkan dulu sebentar dirinya di dalam tubuh Santi, memberikan waktu kepada Santi untuk menyesuaikan diri, sembari menikmati rasa dic*ngker*m yang begitu ketat.


Ken menghapus air mata yang mengalir dari kedua mata indah Santi kemudian mencium kening Santi dalam.


"Terima kasih sayang, sudah memberikan kehormatan kepada Mas untuk menjadi yang pertama," ucap Ken yang hanya mampu diangguki pelan oleh Santi.


Setelah Ken merasa Santi sedikit lebih tenang, Ken pun mulai bergerak perlahan dengan tempo yang teratur. Suara des*han yang keluar dari bibir Santi justru semakin menambah semangat Ken.


Semakin lama gerakan Ken semakin cepat. Sampai akhirnya puncak itu mereka raih. Ken pun mencium kening Santi dalam.


"Terima kasih banyak sayang," ucap Ken terengah-engah.

__ADS_1


"Sama-sama Mas," balas Santi yang juga masih berusaha menormalkan deru nafasnya.


Ken menci*m bib*r mungil istrinya yang sudah menjadi candu untuknya itu dengan lembut penuh sayang. Beberapa saat kemudian Santi merasakan Ken kembali menger*s di dalam dirinya.


"Siap untuk yang kedua sayang?" tanya Ken dengan senyum menggodanya.


"Maaassss,,," rengek Santi yang langsung dibungkam dengan cium*n Ken.


Kegiatan mereka pun dimulai kembali. Cuaca dingin malam Puncak pun akhirnya terkalahkan oleh pasangan pengantin baru itu.


Kedua pengantin baru itu menghabiskan malam pertama mereka dengan beribadah halal untuk mengharap keturunan dari Allah SWT.


...


"Honey, pelan-pelan," peringat Lusia pada Danny yang sedang bergerak perlahan.


"Tentu honey. Aku janji tidak akan menyakiti calon buah hati kita," balas Danny.


Lusia hanya bisa memejamkan mata menikmati semuanya. Dan semakin tidak bisa menahan dirinya ketika gelombang kenikmatan itu hendak menghampiriya.


"Honey,,,, aku nggak kuat lagi,,, aku, aaahhhh,,,,,," teriak tertahan Lusia.


Danny menghentikan sesaat gerakannya, membiarkan Lusia menikmati pelep*sannya.


"Satu kosong honey. Are you ready for the next?" tanya Danny dengan seringai jahil di wajahnya sembari melihat Lusia yang masih terengah-engah berusaha menormalkan deru nafas dan jantungnya.


"Tunggu dulu honey, aku, aaahhhh,,,,,"


Apapun yang akan dikatakan Lusia terhenti karena Danny yang memulai kembali aktivitasnya.


Danny kembali bergerak perlahan dengan tetap berhati-hati agar tidak sampai menyakiti calon buah hati mereka yang sedang berjuang untuk tumbuh di dalam rahim Lusia.


Dan ternyata bukan hanya Danny dan Lusia saja yang berusaha untuk menyaingi pengantin baru itu, karena para suami istri di villa tersebut saat ini ternyata juga sedang melakukan hal yang sama dengan pasangan masing-masing di kamar mereka.


Bahkan Steven dan Sheila, yang memanfaatkan waktu ketika putra mereka sedang tertidur lelap. Mereka seakan tidak ingin kalah dengan pasangan pengantin baru itu.


Sepertinya malam ini bukan hanya milik kedua pengantin baru itu saja, karena rupanya pengantin-pengantin lama itu pun tidak mau kalah untuk menghalau hawa dingin malam Puncak kali ini.

__ADS_1


*Mohon maaf semuanya, bab ini aku pangkas habis-habisan karena 15x ditolak server 😭😭😭😭😭. Semoga kali ini bisa lolos, karena rasanya aku udah frustasi mau dikoreksi kayak apa lagi 😔😢. Butuh waktu seharian untuk berkali-kali merevisi bab ini 😣😣😣.*


__ADS_2