
Steven yang panik terus mondar mandir di depan ruang IGD. Tidak lama kemudian Ricko dan Amelia datang bersama Andika. Jefri, Sarah, Max, dan Leon menyusul di belakangnya, begitu juga dengan Ken. Danny dan Lusia yang mengabari mereka semua.
"Gimana keadaan Sheila Steve?" tanya Ricko, seakan mewakili kekhawatiran semua yang ada disana.
"Dokternya belum keluar Pa," jawab Steven.
"Kenapa bisa gini sih Steve?" tanya Max.
"Sheila nyelametin gue. Seharusnya gue yang ketabrak, tapi Sheila dorong gue sampai dia sendiri yang akhirnya jadi korban," jawab Steven frustasi lalu meremas rambut dengan kedua tangannya.
Andika dan Ken mendekati Danny.
"Lo lihat plat nomor mobilnya Dan?" tanya Andika berbisik.
"Enggak Bang. Kejadiannya cepet banget, kita juga kaget."
"CCTV di mall udah dihapus, kayaknya ini emang udah direncanain dengan matang," jelas Andika.
"Apa Bang? Kok bisa dihapus gitu aja Bang?"
"Kayaknya ada bantuan dari pihak dalam. Tapi Lo tenang aja, gue udah ngasih perintah ke anak-anak buat nyelidikin masalah ini. Kita tunggu aja hasilnya, hacker kita kan lumayan handal," kata Andika lagi.
"Oke Bang. Langsung kabarin ya kalau ada info," pinta Ken.
"Pasti."
Tidak lama kemudian Kania keluar bersama ayahnya, dokter Wirawan, pemilik sekaligus dokter senior di rumah sakit tersebut.
"Gimana keadaan Sheila Om, Kak?" tanya Steven memburu.
"Sheila mengalami gegar otak ringan dan patah tulang kaki kiri, sehingga harus dilakukan tindakan operasi."
"Ya Tuhan," pekik semua orang hampir bersamaan mendengar jawaban dokter Wirawan.
"Tapi Sheila juga kehilangan banyak darah. Kita butuh minimal dua kantong darah AB negatif, sementara stok di rumah sakit sedang kosong. Apa ada di antara kalian yang memiliki golongan darah AB negatif?" tanya dokter Wirawan lagi.
Semua yang ada disana tampak menggelengkan kepalanya tanda golongan darah mereka tidak sama dengan yang dibutuhkan Sheila, kecuali Amelia yang hanya diam saja dengan ekspresi datar.
"Golongan darah AB negatif memang cukup jarang dimiliki, tapi kita tidak bisa melakukan tindakan operasi kalau tidak mendapatkan darah tersebut," Kania menjelaskan.
"Golongan darah Sheila menurun dari ibunya, jadi tidak ada di antara kita yang memiliki golongan darah yang sama dengan Sheila," kata Jefri.
"Miranda," Sarah seperti mengingat sesuatu, dia kemudian berbalik menghadap Amelia, " Amel golongan darah kamu juga AB negatif kan? Aku ingat waktu itu Miranda pernah mendonorkan darahnya ke kamu saat kamu kecelakaan, iya kan?"
Semua orang sontak mengalihkan perhatiannya kepada Amelia.
"Golongan darah Mama AB negatif?" tanya Steven.
"Iya. Tapi Mama tidak akan pernah mau mendonorkan darah Mama untuk anak dari wanita pengkhianat itu," tolak Amelia tegas.
__ADS_1
"Wanita pengkhianat?" ucap Steven bertanya-tanya, begitu juga yang lainnya.
Amelia berbalik dan berjalan cepat meninggalkan mereka semua.
"Mama tunggu," teriak Steven.
"Steve, biar Papa yang mengejar Mamamu," cegah Ricko dan segera bergegas mengejar istrinya.
"Ma tunggu Ma," kata Ricko setelah berhasil meraih tangan Amelia.
"Apa Pa? Mama sedang tidak ingin berdebat," seru Amelia.
"Ada yang perlu kita bicarakan. Ikut Papa dulu ya," pinta Ricko.
Ricko lalu membawa Amelia duduk di salah satu bangku taman di rumah sakit tersebut.
"Siapa yang Mama maksud dengan wanita pengkhianat? Apa ada yang mau Mama ceritakan sama Papa?" tanya Ricko hati-hati.
Amelia memalingkan wajahnya, nampak enggan untuk menjawab pertanyaan suaminya.
"Ma..." panggil Ricko lembut.
"Papa tahu sejak awal Mama tidak menyetujui perjodohan ini. Kenapa Ma? Apa salah Sheila?"
"Karena dia adalah anak Miranda," jawab Amelia setengah berteriak.
"Sahabat yang sudah menusukku dari belakang," jawab Amelia tersenyum ironi.
"Apa maksud Mama?"
"Papa tidak perlu berpura-pura tidak tahu, kalau sejak awal Mama mencintai Jason. Tapi dengan tidak tahu malunya Miranda justru merebut Jason dari Mama. Dan yang lebih miris lagi, Miranda melemparkan Mama kepada Papa, sahabatnya sendiri, hanya supaya Mama tidak menggangu hubungan Miranda dengan Jason," jawab Amelia dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Dengan kata lain, Mama tidak mencintai Papa? Bahkan sampai sekarang Ma?" tanya Ricko setelah terdiam cukup lama.
Amelia nampak terperanjat.
"Bu-bukan seperti itu Pa. Mama hanya masih kecewa. Papa tahu kan bagaimana terlukanya Mama saat itu? Kalau bukan karena Papa yang selalu ada di samping Mama, memberi kekuatan dan dukungan kepada Mama, entah sampai kapan Mama bisa bangkit dari keterpurukan itu Pa."
"Mama membenci orang yang salah selama ini Ma. Bukan Miranda dan Jason, tapi seharusnya Mama membenci Papa. Karena Papa lah yang bersalah dalam hal ini," aku Ricko pada akhirnya.
"Ma-maksud Papa apa?" tanya Amelia tidak mengerti.
Flashback on.
"Ada apa Mir? Kenapa kamu gelisah gitu?" tanya Jason.
Saat ini Jason, Ricko, dan Miranda sedang duduk di bangku taman kampus mereka.
"Ini, ada surat dari Amelia untuk Mas," jawab Miranda sembari menyerahkan sebuah surat kepada Jason.
__ADS_1
"Surat apalagi ini?" tanya Jason.
Jason mengambil surat di tangan Miranda lalu membukanya dan membaca isinya. Sesaat kemudian,
"Apa-apaan ini," gerutu Jason.
"Kenapa Bro?" tanya Ricko.
"Amel menyatakan cintanya lagi sama gue. Kenapa kamu gak jujur aja sih sama dia kalau kita udah jadian Mir?"
"Aku gak mungkin ngelakuin itu Mas. Aku gak mau menyakiti hati Amel," tolak Miranda.
"Tapi kalau terus seperti ini kita justru membuat Amel semakin berharap. Padahal Mas gak pernah memberi harapan sama sekali ke Amel. Mas selalu bersikap biasa aja ke dia."
"Hmm, gini aja Bro, mending Lo berdua ngaku deh ke Amel kalau kalian berdua udah jadian dan saling mencintai," usul Ricko tiba-tiba.
"Dan membuat Amel kecewa dan sakit hati? Enggak Rick," tolak Miranda mentah-mentah. "Aku gak mau menyakiti Amel Rick, dia sahabat baik aku."
"Justru disitu gue akan masuk Mir," kata Ricko ambigu.
"Maksud kamu?" tanya Miranda dan Jason bersamaan.
"Kalian tahu kan kalau gue dari dulu suka sama Amel? Nah kalau kalian jujur ke Amel kalian saling mencintai dan udah jadian, Amel pasti kecewa dan sakit hati. Disitu gue akan masuk mendekati Amel. Cewek kalau lagi patah hati pasti akan membutuhkan seseorang buat bersandar. Dan gue akan memanfaatkan kesempatan itu untuk mendekati Amelia," jawab Ricko menjelaskan.
"Lo yakin ini akan berhasil Rick?" tanya Jason.
"Gue akan berusaha sekuat tenaga. Kalian juga do'ain gue ya."
"Tapi aku gak mau Amel terluka Rick," tolak Miranda.
"Gak akan. Gue jamin deh. Gimana? Mau ya? Ya itung-itung kalian bantu gue lah biar bisa dapetin hatinya Amel," bujuk Ricko.
Dengan berat hati akhirnya Miranda dan Jason menyetujui usulan dari Ricko tersebut.
Flashback off
Amelia menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Air mata sudah mengalir menganak sungai di pipinya.
"Maafin Papa Ma, karena menyembunyikan semua ini dari Mama selama ini."
"Dulu Mama selalu mengacuhkan Papa. Semua usaha Papa untuk mendekati Mama selalu Mama abaikan. Dan Mama justru berada di tengah-tengah hubungan sahabat Mama sendiri. Papa tidak mau Mama terus berharap akan sesuatu yang tidak mungkin bisa Mama miliki. Papa tidak ingin Mama terluka lebih dalam lagi kalau terus seperti itu. Itu kenapa Papa memaksa Jason dan Miranda untuk melakukan semua itu."
"Jason, apalagi Miranda, mereka berdua tidak bersalah Ma. Papa lah yang bersalah disini, bukan mereka."
"Tapi sungguh Ma, Papa melakukan semuanya karena Papa sangat mencintai Mama. Tolong percaya sama Papa Ma," kata Ricko meyakinkan dengan menggenggam kedua tangan Amelia erat.
Amelia masih belum bisa berkata apa-apa. Dia masih syok mengetahui semua kebenaran ini.
Tanpa mereka berdua sadari, Steven berdiri di belakang mereka, mendengarkan percakapan Mama dan Papa-nya.
__ADS_1