Cinta Sheila

Cinta Sheila
Sean Ravindra Setyo Aji


__ADS_3

Steven keluar dari ruang bersalin dengan mendorong box bayi akrilik yang berisikan putranya. Di belakang Steven seorang suster mengikuti. Semua anggota keluarga yang sudah menunggu sedari tadi pun segera menghampiri Steven.


"Cucu Oma," kata Amelia penuh haru melihat cucunya di dalam box bayi. " Selamat ya sayang, sekarang kamu sudah jadi seorang ayah," ucapnya lalu memeluk Steven.


"Iya Ma, makasih," balas Steven.


Amelia menitikkan air mata sambil memeluk Steven. Rasa bahagia dan haru bercampur menjadi satu.


"Semoga menjadi anak yang Sholeh dan menjadi kebanggaan keluarga," do'a Amelia.


"Aamiin," balas Steven dan yang lainnya juga.


Setelah pelukan Amelia terlepas gantian Ricko yang memeluk Steven.


"Selamat Steve. Jadi Ayah yang baik untuk putramu," pesan Ricko setelah melepas pelukannya.


"Insya Allah Pa. Makasih," balas Steven.


"Selamat ya sayang, udah jadi ayah sekarang," kata Sarah sambil memeluk Steven.


"Makasih Bunda," balas Steven.


Kemudian bergantian Jefri, Leon, Max, Sylvia, Andika, Anita, Ken, dan Santi juga memberikan ucapan selamat kepada Steven.


"Gimana keadaan Sheila, Steve?" tanya Amelia setelah semua selesai memberi ucapan selamat.


"Alhamdulillaah Sheila baik-baik saja Ma. Tadi waktu Steven keluar Sheila juga sedang dibersihkan oleh suster," jawab Steven.


"Syukurlah kalau begitu," balas Amelia dan Sarah hampir bersamaan.


"Ini sudah malem banget, sebaiknya kalian semua pulang dulu, besok baru kesini lagi. Lagian juga kondisi Sheila dan baby kan alhamdulillaah baik semua," saran Steven.


"Terus kamu sama siapa disini Steve?" tanya Ricko.


"Steven sendiri aja nggak pa-pa kok Pa," jawab Steven yakin. "Papa, Mama, Ayah, sama Bunda istirahat saja dulu di rumah, besok pagi baru kesini lagi. Kalian semua juga, istirahatlah dulu. Terima kasih untuk semua do'anya, alhamdulillaah Sheila dan baby semua dalam kondisi yang sehat."

__ADS_1


Meski berat akhirnya semua pun mengikuti perkataan Steven. Setelah bayi Steven dibawa ke ruang bayi untuk pemeriksaan lebih lanjut mereka semua pun pamit. Steven sendiri segera menemani Sheila yang akan dipindahkan ke ruang perawatan VIP.


...


Steven duduk di sebelah bed Sheila di dalam ruang perawatan VIP tersebut. Tangannya tidak lepas dari tadi terus menggenggam tangan Sheila yang tidak diinfus. Dipandanginya wajah cantik istrinya yang sedang terlelap karena kelelahan setelah berjuang sekuat tenaga untuk melahirkan putra mereka ke dunia.


Di sebelah Steven, bersebelahan dengan bed Sheila, putranya juga nampak tertidur pulas di dalam box bayi. Rasa syukur berulang kali Steven panjatkan kepada Allah SWT karena telah menitipkan amanah berupa putra kepada dirinya dan Sheila. Steven merasa begitu bahagia, keluarga kecilnya kini semakin sempurna dengan hadirnya putra mereka.


Masih segar dalam ingatan Steven ketika melihat Sheila meringis merasakan sakit ketika kontraksi itu datang menghampiri. Hati Steven ikut mencelos, tidak tega melihat Sheila merasakan kesakitan seperti itu. Ingin rasanya Steven menggantikan Sheila merasakan semua rasa sakit itu seandainya bisa.


Sheila tidak banyak mengeluh, rasa sakit itu dia alihkan dengan banyak-banyak ber-istighfar dan berdo'a kepada Allah SWT untuk kelancaran persalinan-nya. Hanya cengkeraman erat di tangannya yang selalu Steven rasakan ketika Sheila merasakan kontraksi kembali. Bahkan dokter Wanda dan suster pun memuji ketenangan dan kesabaran Sheila.


Perasaan bahagia begitu membuncah di hati Steven. Rasa cintanya kepada Sheila semakin besar setelah melihat perjuangan keras Sheila untuk melahirkan putra mereka tadi. Peluh keringat dan air mata yang menjadi saksi perjuangan dan pengorbanan besar Sheila tidak akan pernah bisa Steven lupakan.


Tangisan bayinya menyadarkan Steven dari lamunannya. Bergegas digendongnya bayi mungil itu pelan-pelan. Sheila pun ikut terjaga mendengar tangisan putranya.


"Bawa kesini Mas, mungkin adek haus," pinta Sheila.


"Oh, jagoan-nya Ayah haus ya sayang? Kita ke Bunda dulu yuk," kata Steven sembari memindahkan putranya ke pangkuan Sheila yang sudah bangun dan duduk di bed-nya.


Sheila segera menyusui putranya. Steven duduk di pinggir bed sebelah Sheila sambil memainkan tangan mungil putranya.


"Sean Ravindra Setyo Aji," jawab Steven mantap.


"Subhanallah, namanya bagus banget Mas."


"Putra kita adalah hadiah terindah dari Tuhan, dan semoga dia akan tumbuh menjadi kuat seperti cahaya matahari."


"Aamiin," kata Sheila meng-amin-kan perkataan Steven.


Steven dan Sheila memandangi baby Sean yang sedang menyusu dengan penuh sayang. Steven kemudian mencium kening Sheila dalam.


"Terima kasih banyak ya sayang untuk semua perjuangan dan pengorbanan kamu yang begitu besar demi melahirkan putra kita," kata Steven.


"Sama-sama Mas, itu kan emang sudah jadi kewajiban aku," balas Sheila.

__ADS_1


Keduanya tersenyum dan Steven kembali melabuhkan ciumannya di kening Sheila.


"Makin cinta deh sama kamu, sayang," kata Steven sambil memeluk Sheila dan baby Sean bersamaan.


"Ish, gombal. Tuh Dek, Ayah kamu lagi gombalin Bunda tuh. Nanti kamu kalau udah besar jangan suka gombalin cewek ya Dek ya," Sheila berbicara pada baby Sean.


"Ayah kan nggak lagi ngegombal ya Dek, emang Ayah beneran makin cinta kok sama Bunda," ucap Steven membela diri. "Lagian ya Bun, nanti kalau Sean udah besar dia nggak perlu gombalin cewek, justru cewek-cewek yang akan berebut deketin Sean. Sean kita kan mewarisi semua kegantengan Ayah-nya dan semua kelembutan Bunda-nya," kata Steven, mulai mengikuti Sheila memanggil Ayah dan Bunda untuk mereka sendiri.


"Dih, makin narsis lagi. Jangan ditiru ya Dek kebiasaan buruk Ayah kamu itu," cibir Sheila.


"Nggak narsis Bun, fakta ini mah."


"Udah ah, Ayah sana deh. Kasian ini, engap Sean-nya, lagi mimik juga dipeluk-peluk," gerutu Sheila.


"Sean, itu punya Ayah, jangan dihabisin. Pokoknya jatah kamu cuma dua tahun aja, oke," kata Steven setelah melepas pelukannya.


"Apaan sih Yah," wajah Sheila sudah memerah mendengar perkataan Steven.


"Apanya yang apaan, Ayah kan cuma lagi ngingetin Sean doang," kata Steven tanpa dosa.


"Udah ah, jadi ngelantur kemana-mana. Awas jangan gangguin, Sean-nya mau bobok lagi ini," tegur Sheila kepada Steven yang sedang mengelusi pipi Sean.


"Bentar dulu, masih belum puas, mumpung anaknya lagi anteng juga," tolak Steven.


"Ayah, udah iihhh. Kasihan Sean-nya," keluh Sheila lagi.


"Iya deh iya. Belum juga genap sehari kamu udah ngerebut posisi Ayah jadi yang nomor satu di hati Bunda aja Sean," gerutu Steven.


Sheila tergelak mendengar perkataan Steven.


"Ya enggak dong Yah, Ayah tetep yang nomor satu di hati Bunda. Tapi Sean digendong sama Ayah, jadi dua-duanya sama-sama jadi yang nomor satu di hati Bunda," kata Sheila.


Giliran Steven yang tergelak sekarang.


"Bunda kamu udah pinter ngegombal juga sekarang Sean," kata Steven.

__ADS_1


"Ih, enggak ya," Sheila berkilah.


Steven dan Sheila kembali tergelak bersama-sama. Suasana di dalam kamar VIP itu begitu hangat dengan obrolan-obrolan ringan sepasang orang tua baru tersebut. Rasa syukur tak henti-hentinya Steven dan Sheila panjatkan kepada Tuhan untuk kebahagiaan keluarga kecil mereka yang semakin sempurna saat ini dengan hadirnya putra mereka, baby Sean Ravindra Setyo Aji.


__ADS_2