
Sudah akhir pekan dan Steven belum kembali juga dari Kalimantan. Empat hari ini dijalani Sheila sedikit berat. Ibu mertuanya selalu saja mencari-cari kesalahan Sheila untuk bisa menegurnya. Dan semua itu selalu terjadi tanpa sepengetahuan Ricko.
Jam sudah menunjukkan waktu hampir tengah malam. Semua sudah terlelap dalam tidurnya masing-masing, begitu juga dengan Sheila. Lelah yang dirasakannya karena tugas kuliah dan juga tadi disuruh membersihkan dapur oleh Amelia membuatnya tertidur cukup pulas.
Ceklek!
Pintu kamar terbuka pelan. Rupanya Steven sudah pulang malam ini. Melihat Sheila yang tertidur pulas di ranjang, dia tidak ingin membangunkannya. Ditutupnya pintu kamar pelan. Meletakkan tas di atas meja dan menjatuhkan tubuh lelahnya ke sofa. Steven menghembuskan nafas berat sambil menyandarkan kepalanya di sofa dan memejamkan mata sejenak.
Sheila terbangun mendengar pintu kamar ditutup. Pendengarannya sedikit peka apalagi di keheningan malam seperti ini. Dilihatnya Steven duduk di sofa sambil memejamkan mata. Terlihat sangat lelah. Sheila bangun dari tidurnya.
"Mas sudah pulang?"
"Ah, maaf membangunkanmu," jawab Steven sedikit kaget setelah membuka matanya.
Sheila turun dari tempat tidur lalu mengisi gelas kosong di atas nakas. Mendekati suaminya dan menyerahkan gelas berisi air putih.
"Minum dulu Mas."
"Terima kasih."
Setelah meneguk habis air itu Steven menyerahkan gelas kosong pada Sheila.
"Sudah makan malam Mas?" tanya Sheila sambil membantu melepaskan sepatu Steven.
Steven hanya mengangguk.
"Sudah sholat isya'?"
__ADS_1
Diam sesaat, tapi kemudian Steven menggelengkan kepalanya. Sheila tersenyum lembut, semua memang butuh proses.
"Aku siapin air hangat buat Mas mandi ya. Habis mandi Mas langsung sholat isya' terus istirahat. Kayaknya Mas capek banget."
Steven hanya mengangguk. Sheila berdiri sambil membawa sepatu Steven dan beranjak ke kamar mandi.
Hati Steven menghangat. Belum pernah dia mendapat perlakukan seperti ini. Lelah pulang bekerja dan ada seseorang yang melayani kebutuhannya di rumah.
Selesai mandi Steven melaksanakan ibadah sholat isya'. Sheila masih menunggunya, duduk di tepi ranjang. Selesai sholat Sheila membantu Steven melipat sajadahnya.
Steven mendudukkan dirinya di tepi ranjang. Memijat tengkuknya yang terasa pegal.
"Mau aku pijitin Mas, biar pegelnya berkurang," tawar Sheila.
Steven menganggukkan kepalanya. Sheila lalu duduk di belakang Steven dan mulai memijat bahu dan tengkuk Steven dengan tekanan yang pas.
"Apa Mas?"
"Semua perhatian dan perlakuan kamu ke aku, kenapa?"
Sheila tersenyum kecil. "Maaf Mas, aku tidak ada maksud apa-apa. Aku hanya ingin menjalankan kewajibanku sebagai seorang istri dengan baik, itu saja."
Sambil masih terus memijat Steven Sheila melanjutkan. "Aku tau kita udah punya kesepakatan Mas. Tapi sungguh, aku tidak punya maksud apa-apa. Aku menghormati pernikahan ini, karena biar bagaimanapun juga pernikahan ini syah secara agama dan hukum. Dan ya, aku tidak mungkin bisa membohongi Tuhan Mas. Itu kenapa aku memutuskan untuk menjalani pernikahan ini sebaik mungkin, selama aku masih terikat dalam pernikahan ini."
"Tapi aku tidak bisa menjanjikanmu apa-apa Sheila," Steven mendesah pelan.
"Aku tidak mengharapkan apapun Mas. Aku hanya ingin menjalankan kewajibanku sebagai seorang istri dengan baik, selama aku terikat dengan pernikahan ini."
__ADS_1
"Tapi kau tau kan, di hatiku ada wanita lain. Aku mencintai wanita lain Sheila."
"Aku tau Mas, dan sungguh, aku tidak mempermasalahkan hal itu. Seperti kataku tadi, aku hanya ingin menghormati pernikahan ini, karena aku tidak mungkin bisa membohongi Tuhan. Dan lagi, aku tidak ingin berbuat dosa dengan mempermainkan pernikahan ini Mas. Aku tidak mau kalau sampai kedua orang tuaku yang sudah meninggal ikut menanggung beban dosa yang aku perbuat."
Steven diam mencerna setiap perkataan yang diucapkan Sheila.
"Tolong jangan jadikan ini sebagai beban Mas. Sungguh, aku tidak mengharapkan apapun. Aku hanya ingin menjalankan kewajibanku sebagai seorang istri dengan baik. Agar pernikahan ini tidak seperti neraka yang menyiksa hanya karena aku tidak ikhlas menjalaninya."
"Maafkan aku."
"Kenapa Mas harus minta maaf? Mas tidak salah apa-apa. Kita jalani aja ya semuanya, biarkan seperti air yang mengalir."
"Sudah malam, tidurlah."
"Iya. Mas juga istirahat, capek banget kan."
Mereka berdua lalu berbaring bersisian di ranjang.
"Oh ya Mas, besok aku minta ijin ya, mau ziarah ke makam Ayah Jason sama Bunda Miranda. Tapi kalau boleh, sekalian aku mau mampir ke rumah Ayah Jefri. Bunda Sarah nanyain terus dari kemarin."
"Besok aku antar."
"Eh, enggak usah Mas. Mas kan masih capek. Biar aku sendiri aja."
"Aku antar. Daripada besok keluarga kamu mikir yang enggak-enggak karena kamu dateng sendirian."
"Oh, iya juga ya. Ya udah deh, aku ngikut aja kalau gitu."
__ADS_1
Sebelum memejamkan mata, diam-diam Steven masih memikirkan semua perkataan Sheila tadi. Semua yang dikatakan Sheila adalah benar, Steven akui itu. Dan entah kenapa, hatinya merasa sedikit bimbang saat ini. Haruskah Steven juga melakukan hal yang sama seperti Sheila? Tapi di hati Steven sudah ada Nila, wanita yang dia cintai selama tiga tahun belakangan ini.