
Hampir seminggu ini Steven selalu pulang malam karena menyelesaikan pekerjaannya di kantor. Sesuai instruksi Ken kemarin, mereka bertiga membagi tugas mengurus masalah di perusahaan. Tapi ternyata Ken kesulitan menyelesaikan masalah keuangan perusahaan sendirian dan Steven pun membantunya sembari mengurus masalah proyek dengan JJ Group.
Steven membuka pintu kamar pelan. Sheila yang memang belum tertidur karena sengaja menunggu pun segera menghampirinya.
"Udah pulang Mas?" tanya Sheila sembari mengambil alih tas kerja Steven kemudian menaruhnya di meja.
"Hmm," jawab Steven bergumam sambil menjatuhkan tubuhnya di sofa.
Sheila mengambil air minum dan memberikannya kepada Steven.
"Diminum dulu Mas."
Steven menerima gelas dari Sheila dan meminum airnya hingga tandas.
"Mas udah makan malem?"
Steven hanya mengangguk pelan. Terlihat sekali gurat kelelahan di wajahnya.
"Ya udah aku siapin air hangat dulu ya buat Mas mandi."
Sheila lalu beranjak menuju kamar mandi, menyiapkan air hangat dalam bath up untuk Steven.
Selesai mandi dan melaksanakan ibadah sholat isya' Steven lalu merebahkan tubuhnya di ranjang. Sheila pun menyusul duduk di samping Steven lalu mulai memijat pundak dan lengan Steven.
"Kerjaan di kantor lagi banyak banget ya Mas? Udah seminggu ini Mas pulang malem terus."
Steven merubah posisinya dan merebahkan kepalanya di pangkuan Sheila, seperti beberapa malam sebelumnya.
"Hmm. Kepalaku pusing banget Shei."
Sheila langsung memijat kepala Steven. Tidak berapa lama kemudian nafas Steven sudah berubah teratur. Rupanya Steven sudah tertidur. Sheila tersenyum. Beberapa hari ini Steven selalu tertidur di pangkuannya setelah dia memijat pundak atau kepalanya seperti malam ini.
Pelan-pelan Sheila memindahkan kepala Steven ke atas bantal. Merebahkan diri di samping Steven kemudian menyelimuti tubuh mereka berdua. Dan keesokan paginya Sheila akan terbangun dengan posisi Steven yang memeluk pinggangnya. Selalu seperti itu setiap paginya.
...
Pukul 2 siang, Sheila dan teman-temannya yang lain mulai keluar dari kelas. Jam terakhir untuk hari ini telah selesai. Tiba-tiba saja Sheila dikejutkan dengan bunyi ponselnya yang berdering nyaring.
'Mbak Santi? Kok tumben ya.'
Sheila segera mengangkat panggilan tersebut.
"Assalamualaikum Mbak Santi."
"Wa'alaikumsalam. Bu Sheila Bapak pingsan Bu. Tolong Ibu segera datang ke kantor ya Bu. Saya sudah menyuruh Pak Damar untuk menjemput Ibu di kampus," kata Santi sedikit panik.
"Apa Mbak? Pingsan? Iya Mbak, saya segera kesana ya," kata Sheila mulai ikut panik.
"Baik Bu, saya tunggu secepatnya ya Bu," kata Santi lalu mengakhiri panggilan teleponnya.
"Ada apa Shei?" tanya Dyah melihat Sheila panik.
"Mas Steven pingsan di kantor. Aku duluan ya, Pak Damar udah otewe katanya," pamit Sheila pada Dyah, Lusia dan Tya.
"Oke. Hati-hati ya Shei," balas ketiga sahabatnya.
Setelah mengangguk Sheila bergegas pergi ke depan kampus.
Sesampainya di kantor Sheila segera menuju ke ruangan Steven. Santi sudah menunggunya di depan pintu.
"Gimana Mbak?" tanya Sheila.
"Baru saja sadar Bu. Sekarang di dalam sama Pak Danny."
__ADS_1
"Ya sudah, saya masuk dulu ya."
Setelah mendapat anggukan kepala dari Santi, Sheila segera masuk ke ruangan Steven. Membuka pintu, ternyata Steven sedang menelepon seseorang. Sheila diam, tidak ingin mengganggu dulu.
"Sayang, aku sakit. Kamu bisa kan datang ke kantor sekarang?"
"Aduh sayang, gak bisa nih. Ini lagi ada acara sama temen-temen. Besok juga aku harus terbang ke Bali, ada pemotretan beberapa hari. Sorry ya."
Ah, sedang menelepon Nila ternyata. Entah kenapa hati Sheila sedikit sesak. Ponsel yang di-loud speaker membuat Sheila bisa mendengarkan pembicaraan mereka. Sementara posisi Danny dan Steven membelakangi pintu sehingga mereka tidak menyadari kedatangan Sheila.
"Kamu gak bisa nyempetin waktu sebentar aja Yang?" Steven masih berharap.
"Sayang tolong ngertiin dong, aku gak mungkin ninggalin acara ini gitu aja."
"Ya udah kalau gitu. Kamu hati-hati ya."
"Iya, kamu juga cepet sembuh ya. Love you sayang, emmuach."
Panggilan telepon berakhir.
"Apa gue bilang, udah percaya sekarang Lo," kata Danny sengit.
Sheila bisa melihat kekecewaan di wajah Steven yang pucat.
"Assalamualaikum," sapa Sheila memecah keheningan di antara mereka.
"Wa'alaikumsalam. Eh, Shei. Sejak kapan disitu?" tanya Danny setelah berbalik.
"Baru aja. Mas Steven kenapa Dan?" tanya Sheila sambil berjalan mendekat dan duduk di samping Steven.
"Dia sempet pingsan tadi setelah kita selesai meeting dengan klien."
"Kenapa gak panggil dokter?" tanya Sheila lagi memegang dahi Steven untuk mengecek suhu tubuhnya.
"Badan kamu panas Mas. Pusing enggak?"
Steven hanya mengangguk menjawab pertanyaan Sheila. Tidak lama kemudian Ken datang bersama Kania. Kania segera melakukan pemeriksaan terhadap Steven.
"Gimana kondisi Mas Steven Kak?" tanya Sheila.
"Steven cuma kelelahan Shei. Dia juga sedikit dehidrasi. Asam lambungnya juga naik, pasti beberapa hari belakangan ini makanannya gak teratur," jawab Kania menjelaskan.
"Astaga Mas," pekik Sheila pelan sedikit kaget.
"Sebaiknya kamu opname Steve, biar dapet penanganan medis," saran Kania.
"Gak bisa Kak. Aku gak mau sampe harus opname," tolak Steven tegas.
"Tapi Mas-"
"Enggak Shei," potong Steven cepat.
"Ya udah, tapi kamu harus istirahat full ya, minimal 2 hari deh," kata Kania lagi.
"Lo istirahat aja Steve, biar gue sama Danny yang ngurusin semuanya," kata Ken.
"Tapi masalah perusahaan lagi banyak banget, yakin kalian mampu cuma berdua aja?"
"Kan ada Bang Dika. Kita bisa minta tolong ke dia nanti," Danny meyakinkan.
"Oke kalau gitu," Steven akhirnya menurut.
"Sebaiknya kalian pulang sekarang Shei, biar Steven istirahat di rumah. Obatnya nanti akan langsung dianter ke rumah. Tolong nanti di rumah kamu kompres Steven ya biar demamnya cepet turun," kata Kania menyarankan.
__ADS_1
"Baik Kak," jawab Sheila.
Sheila lalu pamit dan membawa Steven pulang ke rumah.
Sesampainya di rumah, Sheila membantu Steven berjalan menuju kamar mereka. Karena sudah sore Sheila mengambil air hangat dalam baskom hendak membersihkan tubuh Steven.
"Aku bersihin badan kamu ya Mas."
Steven hanya mengangguk. Sheila mulai membuka kancing kemeja Steven. Tangannya sedikit bergetar, jantungnya juga berdetak tak karuan. Merasa malu dan tidak enak, tapi harus dia lakukan demi membersihkan tubuh suaminya.
Dengan wajah yang memerah, tangan yang gemetar dan perasaan yang begitu canggung Sheila mengelap tubuh bagian atas Steven perlahan. Bisa dibilang ini adalah pertama kalinya Sheila melihat tubuh bagian atas suaminya itu. Tubuh yang kekar, dada yang bidang, perut rata yang keras berlekuk-lekuk, dan jangan lupakan otot-otot di lengan yang terbentuk sempurna.
Selesai membersihkan tubuh bagian atas Steven Sheila lalu membantu memakaikan baju tidur yang tadi diambilnya.
"Mas, celananya..." Sheila tidak mampu melanjutkan perkataannya karena malu.
"Aku masih bisa ganti sendiri," balas Steven tak kalah canggungnya.
"Ya udah. Aku taruh ini dulu di kamar mandi ya," pamit Sheila lalu segera bergegas masuk ke kamar mandi.
Steven pelan-pelan mengganti celananya sendiri. Setelah selesai tidak lama kemudian Sheila juga keluar dari walk in closet.
Tiba-tiba pintu terbuka dan Amelia menghambur masuk ke dalam kamar.
"Sayang, Mama denger kamu sakit ya. Sakit apa Steve?" tanya Amelia sembari duduk di samping Steven.
"Steven cuma kelelahan kok Ma, gak perlu khawatir," jawab Steven menenangkan ibunya.
"Udah panggil dokter?"
"Tadi Kak Kania udah ke kantor Ma."
"Ya udah kalau gitu kamu istirahat ya biar cepet sembuh. Mama mau pergi dulu, ada acara arisan sama temen-temen Mama."
"Iya Ma."
Sheila yang masih berdiri di depan ranjang dapat melihat raut kecewa pada wajah Steven, meski Steven berusaha menampilkan senyuman terbaiknya.
Amelia berdiri dan berbalik badan. Kemudian menghampiri Sheila.
"Rawat Steven dengan baik, itu kewajiban kamu," pesan Amelia sedikit sinis.
"Baik Ma."
Amelia kemudian pergi meninggalkan kamar tersebut. Sheila segera mendekati Steven.
"Aku buatin bubur dulu ya Mas. Mas harus makan, setelah itu minum obat. Obatnya udah dianter tadi."
Steven mengangguk. Sheila kemudian keluar menuju ke dapur.
Beberapa saat kemudian Sheila kembali ke kamar dengan membawa nampan berisi semangkuk bubur dan air putih. Sheila lalu membantu Steven untuk duduk dan bersandar pada kepala ranjang.
Dengan telaten Sheila menyuapi Steven. Setelah buburnya habis Sheila membantu Steven meminum obatnya. Meletakkan gelas kembali ke atas nakas, Sheila kemudian membantu Steven berbaring kembali.
"Mas tidur ya, istirahat, biar cepet pulih. Aku balikin mangkuk dulu ke dapur."
Setelah mendapat persetujuan dari Steven Sheila lalu pergi ke dapur lagi. Sheila kembali dengan membawa baskom kecil berisi air hangat dan lap untuk mengompres.
Steven nampak sudah memejamkan matanya. Sheila duduk di samping Steven kemudian mulai mengompres dahi Steven pelan. Dengan telaten Sheila merawat Steven. Sheila ikhlas melakukan semua ini, karena ini memang kewajibannya sebagai seorang istri.
Steven sebenarnya belum tertidur. Dia masih memikirkan semua yang terjadi hari ini. Nila, kekasihnya, yang menolak untuk datang menjenguk apalagi merawatnya. Ibunya sendiri yang hanya sekedar menanyakan kabar, tapi kemudian pergi. Beliau lebih mementingkan arisannya dengan teman-temannya daripada Steven.
Sebenarnya Steven sudah biasa mendapati perlakuan mereka yang seperti itu. Nila dan ibunya sama-sama sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Tapi saat ini, ketika Sheila justru dengan sukarela mengorbankan semua waktu dan perhatiannya untuk merawat dan menjaga Steven, ada perasaan haru yang menyusup di dadanya. Bahkan mata Steven sudah memanas, kalau Steven tidak menutup matanya mungkin air mata itu sudah mengalir. Suatu hal yang sangat Steven hindari, menangis.
__ADS_1