
Danny dan Sheila duduk bersebelahan di kursi tunggu di depan ruang operasi. Selain keadaan Steven, Danny juga mencemaskan keadaan Sheila. Pandangannya kosong, isakan memang sudah tidak terdengar lagi dari mulutnya, tapi tetap saja air mata itu mengalir di pipinya. Dari tadi Danny sudah berusaha untuk menenangkannya tapi Sheila seakan tidak merespon.
Tidak lama kemudian Ken dan Santi datang dengan tergesa-gesa.
"Dan, gimana Steven?" tanya Ken memburu Danny.
Danny hanya mampu menggelengkan kepalanya, belum bisa memastikan. Ken nampak menghembuskan nafas kasar. Santi kemudian duduk di samping Sheila.
"Bu Sheila," panggil Santi dengan memegang pundak Sheila.
Sheila menoleh, keluar dari lamunannya, dan langsung menghambur memeluk Santi.
"Mbak Santi," Sheila kembali menangis di pelukan Santi.
"Yang sabar ya Bu. Bapak pasti baik-baik saja," kata Santi mencoba menenangkan sambil mengelus lembut punggung Sheila.
"Semua salahku Mbak. Mas Steven jadi seperti ini karena aku," kata Sheila sambil terisak merasa begitu bersalah.
"Jangan bicara seperti itu Bu."
"Dari awal aku udah curiga dengan sopir itu Mbak. Tapi kenapa aku tetap mau ikut sama dia. Harusnya semua ini nggak akan terjadi kalau aku nggak ikut sama sopir itu," Sheila menumpahkan semua penyesalannya pada Santi.
Santi mengurai pelukan mereka, menghapus air mata Sheila kemudian menggenggam kedua tangan Sheila.
"Cukup Bu. Jangan pernah menyalahkan diri ibu sendiri. Semuanya sudah menjadi takdir dari Allah SWT. Yang harus ibu lakukan sekarang adalah bersabar, terus berdo'a untuk keselamatan Bapak, jangan menyerah dan jangan putus asa. Ibu harus kuat, demi Bapak, demi calon bayi ibu. Saya yakin ibu pasti bisa," kata Santi mencoba menguatkan Sheila.
Sheila mulai berhenti menangis, Santi menghapus air mata Sheila dengan tangannya.
"Yang sabar ya Bu. Ibu harus kuat, biar Bapak juga ikut kuat berjuang di dalam sana," kata Santi lagi dan Sheila pun menganggukkan kepalanya.
'Gila, nih cewek kaku ternyata bisa sehebat ini kata-katanya. Bener-bener nggak nyangka gue. Kok bisa sih, sama gue dia kaku gitu, jutek abis, tapi sama orang lain dia bisa hangat, ramah gitu. Salah apa sih gue sama nih cewek sampe gue diketusin mulu tiap hari?' monolog Ken dalam hatinya.
"Kita sholat subuh dulu yuk Bu, udah masuk waktunya. Sekalian kita do'ain Bapak biar operasinya lancar dan Bapak selamat," ajak Santi.
Sheila masih merasa ragu, enggan meninggalkan operasi Steven yang belum selesai.
"Jangan khawatir Bu, kan ada Pak Danny sama Pak Ken. Yuk Bu, kita sholat dulu," ajak Santi lagi seakan mengerti keraguan Sheila.
Sheila akhirnya mengangguk pelan. Santi lalu membantu Sheila untuk berdiri.
"Dan, Ken, titip Mas Steven dulu ya," pamit Sheila.
__ADS_1
"Iya Shei, tenang aja. Kita langsung kabarin kalau operasinya udah selesai," balas Danny, Sheila tersenyum samar menanggapi.
"Jaga Sheila San," pesan Ken pelan kepada Santi.
"Tentu Pak. Mari Pak, kami permisi dulu," balas Santi sekaligus berpamitan.
Danny dan Ken mengangguk, Santi menuntun Sheila berjalan perlahan menuju ke mushola untuk melaksanakan sholat subuh.
"Untung aja Lo bawa Santi ikut kesini," kata Danny setelah Sheila dan Santi pergi.
"Dia yang maksa pengen ikut. Awalnya gue nolak mentah-mentah, udah malem banget, tempatnya jauh, dan juga kondisinya gimana udah kondusif apa belum kan gue belum tahu. Tapi tuh cewek ngotot, pokoknya dia mau ikut apapun keadaannya, dia bilang dia khawatir sama kondisi Sheila."
"Tapi syukurlah Santi ikut, seenggaknya ada yang bisa nemenin Sheila," kata Danny lagi.
"Ya juga sih, kalau sesama cewek kan bisa lebih saling mengerti juga. Tapi apa dia nanti nggak dicariin sama orang tuanya ya? Kerja nggak pulang-pulang, tapi nggak tahu juga sih kalau dia udah ngabarin duluan," kata Ken sambil mengangkat bahunya.
Danny memicingkan kedua matanya, menatap heran dan bingung ke arah Ken.
"Orang tua? Jangan bilang Lo nggak tahu kalau Santi itu yatim piatu?" tanya Danny setengah mencibir.
Giliran Ken yang terbelalak kaget dengan mulut menganga.
Ken menggelengkan kepalanya pelan.
"Kemana aja sih Lo Ken sampe info sebesar itu Lo bisa nggak tahu? Ngejar-ngejar cewek mulu sih Lo," cibir Danny sambil geleng-geleng kepala.
Ken hanya bisa melongo karena kaget. Setelah itu dia pun ikut tersenyum dan menggelengkan kepalanya samar. Bagaimana bisa dia tidak mengetahui informasi sebesar ini tentang sekertaris Steven, orang yang selalu membantu mereka di kantor setiap harinya.
Entahlah, mungkin karena Ken melihat Steven begitu mempercayai Santi dan kinerja Santi pun terbilang sangat bagus, makanya Ken tidak memiliki pemikiran buruk sampai harus menyelidiki latar belakang Santi.
Setelah Sheila dan Santi kembali dari mushola, Danny memaksa Ken untuk ikut sholat subuh bersamanya.
Ya, sedikit demi sedikit Danny sudah mulai rutin kembali melaksanakan ibadah sholat, karena pengaruh dari Lusia tentunya. Dan saat ini Danny beserta Steven sedang berusaha membuat Ken juga terbiasa dan mulai melaksanakan ibadah sholat kembali.
Menjelang pagi operasi Steven akhirnya selesai. Dokter mengatakan kalau operasinya berjalan dengan lancar. Kondisi Steven pun sudah mulai membaik.
Steven pun sudah dipindahkan ke ruang perawatan VIP. Sempat tersadar sebentar tapi kemudian Steven tertidur kembali karena pengaruh obat bius yang masih tersisa.
Sekitar pukul tujuh Ricko dan Amelia datang bersama Andika. Sheila kembali menangis di pelukan ibu mertuanya. Setelah keadaan Sheila lumayan tenang, Amelia mengajaknya untuk duduk di sofa diikuti oleh Santi.
"Kamu makan dulu ya sayang, dari kemarin kan kamu belum makan," kata Amelia.
__ADS_1
"Sheila nggak laper Ma," tolak Sheila.
"Jangan gitu dong sayang. Kamu harus mikirin kondisi kamu dan bayi kamu juga," bujuk Amelia lagi.
Sheila masih tetap menggelengkan kepalanya. Amelia melihat ke arah Santi yang berdiri di samping Sheila, seakan memberi kode. Santi pun tersenyum kemudian mengangguk pelan.
"Bu Sheila, kita makan dulu ya," ajak Santi setelah mendudukkan dirinya di sebelah Sheila.
"Aku nggak laper Mbak."
"Bu, ibu harus makan biar ibu tetep kuat dan sehat. Kasihan dedek bayinya juga," kata Santi sambil menggenggam kedua tangan Sheila yang berada di atas pangkuannya.
Sheila masih diam saja belum menanggapi.
"Ibu harus makan, biar ibu tidak ikut sakit. Nanti kalau ibu juga sakit siapa yang mau jagain Pak Steven? Kalau Pak Steven sadar terus lihat ibu kayak gini Bapak pasti akan sedih Bu. Ibu makan ya, demi dedek bayi juga," bujuk Santi lagi.
Dan seperti terhipnotis akhirnya Sheila pun bersedia memakan sarapan pagi yang dibawakan Amelia. Amelia dan yang lainnya pun menghembuskan nafas lega.
'Tuh cewek kaku kalo ngomong ada jampi-jampinya kali ya, dari tadi Sheila nurut banget kalau dia yang ngomong,' kata Ken di dalam hatinya.
Dering ponsel Andika tiba-tiba memecah keheningan. Ada nama Darius tertera di layar ponselnya. Andika sedikit menjauh kemudian mengangkat teleponnya.
Sesaat kemudian Andika kembali dan menghampiri Danny dan Ken.
"Darius minta kita ke kantor polisi sekarang juga, melengkapi berkas laporan dan pernyataan," kata Andika memberi tahu.
"Oke Bang, kita berangkat sekarang kalau begitu," balas Ken.
"Kalian berdua aja ya, biar Abang disini nemenin Pak Ricko, Bu Amelia, dan Sheila. Takutnya nanti sewaktu-waktu mereka butuh apa-apa," Andika menginstruksikan.
"Abang bener juga. Oke deh Bang," kata Ken kemudian berjalan mendekati Ricko untuk berpamitan.
"Dan ajak Santi pergi bersama kalian. Abang ngerasa dia akan berguna untuk Ken nanti disana," bisik Andika kepada Danny.
Mengernyit sejenak, Danny pun akhirnya menganggukkan kepalanya setelah mengerti maksud dari perkataan Andika.
"Santi, kamu ikut kita ya," ajak Danny.
"Baik Pak," balas Santi seperti biasa, cepat patuh dan tidak banyak bertanya meski merasa sedikit bingung.
Setelah berpamitan Danny, Ken, dan Santi kemudian pergi ke kantor polisi untuk melengkapi berkas laporan terhadap Raka dan Celine.
__ADS_1