Cinta Sheila

Cinta Sheila
S2 Masa Lalu Vs Masa Depan


__ADS_3

Semenjak tau kalau Ana bekerja sampingan di cafe, Sean seringkali menyempatkan diri untuk datang ke cafe tersebut. Seringnya bersama dengan Nadirga, dengan alasan mencari suasana yang lebih nyaman untuk membahas masalah pekerjaan.


Sean terkadang heran juga dengan dirinya sendiri, entah kenapa Sean selalu mencari kesempatan untuk bisa bertemu dengan Ana. Dan yang lebih membuat Sean heran lagi adalah perasaan Sean yang selalu tidak bisa dijelaskan ketika sedang berhadapan dengan Ana. Perasaan asing yang belum pernah Sean rasakan sebelumnya selama ini.


Adrian yang tiba-tiba masuk ke ruang kerjanya membuat Sean tersadar dari lamunannya.


"Lo dateng nggak ke acara reuni entar malem?" tanya Adrian setelah mendudukkan dirinya di kursi di depan Sean.


"Lo sendiri gimana? Kalau Lo dateng gue juga dateng."


"Agak males sih sebenernya. Tapi nggak enak juga sama temen-temen yang udah ngundang dan nyiapin acara itu," kata Adrian.


"Ya udah, gimana kalau kita dateng tapi bentar aja? Gue nggak bisa kalau harus nunggu acara sampai selesai," usul Sean.


"Sama gue juga. Oke, gue setuju sama Lo."


"Kita bareng aja. Lo jemput gue di apartemen gue ya," kata Sean.


"Oke. Seneng amat sih Lo di apartemen, pulang napa?" celetuk Adrian.


"Sabtu Minggu juga gue pasti pulang kok. Ya, gue lebih ngerasa nyaman aja di apartemen, bisa ngerjain kerjaan dengan tenang juga. Kalau di rumah mah boro-boro, tiap hari dengerin Syafiq sama Safa berantem mulu. Nggak bisa fokus gue," jawab Sean.


"Iya juga sih. Tapi kasihan Bunda tuh, kamu tinggalin mulu."


"Apaan? Enggak ya. Justru Bunda kok yang selalu dukung gue. Tiap malem juga gue selalu telponan sama Bunda. Weekend juga kan gue pulang tidur di rumah. Jangan ngadi-ngadi deh."


"Iya deh iya. Nggak bakalan menang gue ngomong sama Lo. Dah lah, gue balik ke ruangan gue dulu," pamit Adrian seraya berdiri.


"Gue tunggu nanti malem."


Adrian mengacungkan jempolnya sebagai jawaban kemudian berbalik dan melangkah meninggalkan ruangan Sean.


🌸🌸🌸


Sesuai rencana, malam ini Adrian menjemput Sean di apartemennya. Keduanya kemudian berangkat bersama menuju ke sebuah restoran, tempat diadakannya acara reuni bersama dengan teman-teman kuliah mereka dulu.


"Hai Bro," sapa salah seorang teman mereka begitu mereka memasuki ruangan yang telah direservasi khusus untuk acara reuni malam ini.


"Hai semuanya," sapa Sean dan Adrian bersamaan.


Sean dan Adrian ber-tos ria dengan semua teman mereka. Mereka berdua kemudian bergabung dan duduk bersama dengan teman-teman mereka itu.


"Wuih, dua CEO hebat kita bisa menyempatkan waktu untuk dateng ke acara kecil kayak gini, bener-bener tersanjung gue sebagai penyelenggara," ucap salah satu teman mereka.


"Apaan sih Lo. Jangan berlebihan gitu deh," balas Adrian merasa tidak enak hati.


"Tapi bener kok Yan, kita semua salut sama Lo berdua yang bisa sukses di usia semuda ini," kata teman yang tadi menyapa mereka saat baru masuk.


"Itupun dengan usaha kalian sendiri, dari nol. Hebat banget Lo berdua," sambung teman di sebelahnya juga.

__ADS_1


"Udah, jangan berlebihan gitu ah. Kita juga masih belajar kok, sama kayak kalian juga," balas Sean.


Acara pun dimulai. Obrolan demi obrolan tentang masa-masa kuliah dulu, bahkan juga tentang keadaan mereka saat ini. Gelak tawa seringkali terdengar, terkadang juga diiringi ejekan untuk menggoda teman yang lainnya.


"Sean, dari tadi Grizelle ngeliatin Lo mulu. Lo nggak mau nyapa dia?" tanya Adrian setengah berbisik agar tidak didengar oleh yang lainnya.


"Suka-suka dialah. Udah biarin aja, nggak penting juga," jawab Sean acuh.


"Seriusan Lo?" tanya Adrian lagi seakan tidak percaya.


"Serius lah. Lo kenapa sih Yan, jadi heboh sendiri gini?" Sean balik bertanya, yang sejujurnya adalah untuk menutupi rasa canggung di hatinya.


Ya, tentu saja Sean tau kalau dari tadi Grizelle selalu mencuri pandang ke arah Sean. Tapi entah kenapa Sean sudah tidak merasakan lagi perasaan suka yang dulu pernah dia rasakan kepada Grizelle ketika mereka masih kuliah dulu.


Mungkin karena dulu Grizelle selalu mengabaikan Sean dan tidak pernah menanggapi perasaan Sean pada dirinya, entahlah. Itu juga yang membuat Sean bingung harus bagaimana menghadapi Grizelle, tidak enak hati dan canggung. Maka dari itu Sean lebih memilih untuk bersikap cuek.


Sean melihat ke arah jam tangannya.


"Balik sekarang yuk. Gue masih ada berkas yang harus gue periksa buat bahan meeting besok," ajak Sean.


"Oke. Gue juga masih ada kerjaan yang gue bawa pulang ke rumah tadi," balas Adrian.


Sean dan Adrian kemudian pamit kepada teman-temannya yang lain untuk pulang lebih dulu.


"Guys, sorry ya kita berdua pamit balik duluan. Masih ada urusan lain," pamit Adrian.


"Oh, oke deh, nggak masalah," balas salah satu teman mereka.


"Sama-sama," balas Sean.


"Kapan-kapan kalau ada acara kayak gini lagi kalian masih mau dateng kan?" tanya teman mereka yang lain.


"Kita usahain. Semoga aja kita pas ada waktu luang," jawab Adrian.


"Oke deh, hati-hati ya kalian berdua," pesan teman mereka yang paling akhir tos dengan Sean dan Adrian.


"Yup. Thanks ya. Kita duluan guys," pamit Sean dan Adrian lagi.


"Yoi," balas teman-teman mereka dengan melambaikan tangan.


Sean dan Adrian pun kemudian pulang.


"Lo beneran Sean udah nggak ada rasa apapun lagi sama Grizelle?" tanya Adrian saat mobilnya sudah melaju meninggalkan restoran tadi.


"Ck, jangan mulai lagi deh. Males ah gue," decak Sean menjawab dengan malas.


"Oke-oke, sorry," balas Adrian.


Tidak ada lagi pembicaraan di antara mereka berdua. Tidak lama kemudian sampailah mereka di depan loby apartemen Sean.

__ADS_1


"Gue langsung balik ya," pamit Adrian.


"Oke, thanks ya. Hati-hati Lo. Assalamu'alaikum," ucap Sean.


"Yup. Wa'alaikumsalam."


Sean kemudian turun dari mobil Adrian. Dan setelah mobil Adrian berlalu meninggalkan apartemennya, Sean bergegas ke parkiran di basement apartemen untuk mengambil sepeda motornya.


Sean mengenakan jaket dan helm-nya kemudian memacu sepeda motornya keluar dari basement apartemen tersebut.


Sepeda motor tipe Ninja ZX-10R dengan kapasitas 998 cc dan kecepatan maksimum 300 km/jam seharga lebih dari setengah miliar itu melaju membelah jalanan malam ibu kota.


Sean menghentikan motornya ketika sudah sampai di parkiran cafe tempat Sonia bekerja. Sean kemudian masuk ke dalam cafe dan mengambil tempat duduk di dekat jendela kaca seperti biasanya.


Sonia segera menghampiri Sean untuk mencatat pesanan pelanggan yang belakangan ini menjadi pelanggan tetap di cafe tersebut.


"Selamat malam Pak Sean," sapa Sonia dengan ramah.


"Oh, hai Ana. Selamat malam," balas Sean yang tiba-tiba saja menjadi gugup dan berdebar-debar.


"Seperti biasa kah? Capuccino dan cake coklat?" tanya Sonia lagi memastikan pesanan Sean.


"Ya, seperti biasanya saja. Kamu sudah hafal rupanya," jawab Sean.


"Hampir setiap malam bapak kesini dan memesan capuccino serta cake coklat, tentu saja saya jadi hafal," balas Sonia.


"Ah, ya. Sesering itu ya ternyata," kata Sean yang kemudian tertawa kecil.


Dan ternyata tawa Sean menular, karena Sonia pun kemudian ikut tersenyum. Senyum yang selalu sukses menjungkirbalikkan hati dan perasaan Sean.


"Bapak tidak menyadarinya?" tanya Sonia.


"Sama sekali tidak. Aku merasa nyaman saja ketika datang ke cafe ini, lumayan mengobati penat setelah seharian bekerja. Jadi yah, aku jadi suka datang kesini," jawab Sean tidak sepenuhnya berbohong.


"Baiklah kalau begitu. Bapak tunggu sebentar ya. Saya permisi dulu," pamit Sonia.


Sean tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. Sonia membalas senyuman Sean kemudian berbalik untuk melanjutkan pekerjaannya.


Tanpa mereka berdua sadari ternyata interaksi Sean dan Sonia diawasi oleh dua orang gadis dari dalam mobil yang terparkir tidak jauh dari cafe tersebut.


"Lo tertarik buat deketin Sean lagi Elle?" tanya Monic, gadis di sebelah Grizelle yang saat ini sedang duduk di belakang kemudi.


"Why not? Sean sekarang sudah jadi pengusaha muda yang sukses dan mapan. Dia juga sangat tampan," jawab Grizelle yang perhatiannya masih tertuju pada Sean.


"Gila Lo. Terus kenapa dulu Lo mengabaikan perasaan Sean ke Lo?" tanya Monic tidak habis pikir.


"Dulu kan dia belum sukses kayak sekarang. Lagian juga dulu ada Zayn yang lebih segala-galanya dari Sean. Ya jelas gue pilih Zayn lah," jawab Grizelle ringan.


"Dan sekarang setelah Lo puas sama Zayn, Lo mau deketin Sean yang udah sukses? Dasar nggak mau rugi Lo," cibir Monic.

__ADS_1


"Realitas lah say. Kita pasti nyari cowok yang bisa nyukupin semua kebutuhan hidup mewah kita," balas Grizelle dengan santainya membuat Monic geleng-geleng kepala dengan kelakuan temannya itu.


__ADS_2