Cinta Sheila

Cinta Sheila
Danny Dan Lusia 2


__ADS_3

"Maaasss, udaaah," rengek Sheila ketika tangan Steven kembali meremat bongkahan di dadanya.


"Belum puas sayang. Siapa suruh kamu senikmat ini," balas Steven semakin menggoda dengan mulai menciumi ceruk leher Sheila.


"Tapi aku capek mas, laper juga. Ini udah siang loh. Habis subuh sampe sekarang udah tiga kali, Mas gak capek apa? Belum lagi yang semalam," gerutu Sheila sambil menahan d e s a h a n.


"Kalau sama kamu Mas gak ada capeknya."


Ciuman Steven beralih ke bibir mungil Sheila, m e l u m a t dengan lembut sambil tangannya terus meremat di dua bagian favoritnya. Kalau sudah seperti ini, tidak ada yang bisa Sheila lakukan selain menikmati dan membalas segala bentuk rayuan Steven pada dirinya.


Namun tiba-tiba perut Sheila berbunyi nyaring. Sontak keduanya memutuskan pertautan bibir mereka. Saling memandang dengan ekspresi kaget, dan akhirnya tertawa bersamaan.


"Astaga Shei!!!"


"Kan aku udah bilang aku laper. Semalam juga kita gak makan malam. Mas sih habis sholat isya' langsung main terkam aja," gerutu Sheila memanyunkan bibirnya.


Steven mengecup bibir istrinya singkat.


"Iya-iya maaf. Oke, sekarang kita mandi habis itu kita cari makan di luar terus sekalian belanja buat masak, kamu mau?"


"Mau mau," Sheila menganggukkan kepalanya antusias.


Sejurus kemudian Steven sudah bangkit dan mengangkat Sheila. Membuat istrinya itu memekik pelan, kemudian menggendongnya menuju ke kamar mandi.


...


"Mas sih ngeyel. Kan kemarin aku udah bilang, kita mampir belanja bahan makanan dulu biar aku bisa masakin Mas, jadinya kita gak perlu cari makan di luar kayak gini," kata Sheila.


Saat ini keduanya sudah berada di dalam mobil menuju ke salah satu mall yang tidak jauh dari apartemen.


"Habisnya Mas udah gak sabar, kangen sama kamu."


"Lebay deh. Pagi aja Mas nganterin aku ke kampus, siang juga video call-an, eh sore udah bilang kangen aja."


"Mas itu sekarang udah ketergantungan sama kamu sayang. Jadi gak ketemu sebentar aja tuh rasanya udah kayak orang sakau tau gak."


"Sakau? Emang aku narkoba apa pake acara ketergantungan segala."


"Iya, kamu itu kayak narkoba buat Mas," kata Steven sambil mencubit hidung Sheila gemas.


"Maaasss,,," rajuk Sheila dengan memanjangkan kata.


"Habisnya gemes sih."


"Mas ini ya, kayak gak ada puasnya deh. Setelah dari rumah Ayah sama Bunda waktu itu, hampir tiap malam loh Mas selalu 'minta itu', libur paling cuma satu dua kali kalau aku benar-benar udah kecapekan. Dan udah tiga minggu ini tiap weekend pasti Mas ngajakin nginep di apartemen terus. Gak mau diganggu banget ya Mas?" protes Sheila.


"Kan kalau di apartemen mau bangun siang kamu gak perlu merasa gak enak sama Mama sama Papa."


"Astaghfirullah, pinter banget ya ternyata suami aku ini," cibir Sheila.


"Ya iyalah. Habisnya kamu membuat Mas ketagihan sih sayang."

__ADS_1


Sheila memutar kedua bola matanya malas.


"Dasar m*sum."


"Mesumin istri sendiri dapet pahala loh sayang."


Sheila menghembuskan nafasnya jengkel. Sementara Steven hanya tertawa menanggapi ekspresi malas istrinya itu.


Sesampainya di mall mereka berdua langsung menuju ke salah satu kafe untuk sarapan pagi yang sudah sangat terlambat itu. Setelah selesai makan sesuai rencana Steven dan Sheila pun berbelanja kebutuhan mereka selama di apartemen nanti.


Sekarang menemani Sheila berbelanja sudah menjadi hobi baru bagi Steven. Bahkan seringkali Steven yang lebih antusias dalam memilih bahan makanan apa saja yang mau dibeli. Karena dengan begitu dia jadi bisa meminta Sheila untuk memasakkan makanan sesuai dengan keinginannya.


Selesai acara belanja, yang begitu menyenangkan menurut Steven, mereka berdua melanjutkan jalan-jalannya mengelilingi mall tersebut.


"Mas, itu bukannya Danny sama Lusia ya?" tunjuk Sheila sambil menghentikan langkah kaki mereka.


Steven melihat ke arah yang dimaksud istrinya. Benar saja, nampak Danny dan Lusia sedang makan bersama di sebuah kafe sambil sesekali tertawa bersama.


"Hmm, kayaknya ada yang lagi kencan nih. Kita godain yuk!" ajak Steven dan langsung menarik Sheila memasuki kafe tersebut.


"Jangan dong Mas. Entar kita ganggu mereka," tolak Sheila.


Tapi terlambat. Steven sudah membawa Sheila mendekati meja Danny dan Lusia. Sheila menghembuskan nafas kasar, suaminya ini kalau sudah ada maunya susah sekali dihentikan.


"Ekhem," sengaja Steven mengeraskan dehemannya.


Sontak Danny dan Lusia mendongak dan terkejut melihat Steven dan Sheila ada di samping mereka.


"H-hai Shei, Bang," sapa Lusia gugup.


"Geser Lo, gue mau duduk," pinta Steven seenaknya.


"Kan masih banyak meja kosong Bro."


"Jadi kita gak boleh nih gabung sama kalian?" tanya Steven yang sudah memaksa duduk di sebelah Danny. Sheila pun mau tidak mau akhirnya duduk di sebelah Lusia.


"Bukannya gitu. Ah sialan Lo, sengaja kan Lo gangguin kita? Dasar temen gak ada akhlak Lo," gerutu Danny.


"Emang kalian lagi ngapain sampe ngerasa kita gangguin?" goda Steven.


Danny dan Lusia semakin salah tingkah membuat Steven tergelak.


"Kamu kenapa jadi pendiem gini sih Lus? Biasanya juga paling berisik," akhirnya Sheila tidak tahan dan ikut menggoda mereka juga.


"Apaan sih Shei."


"Ooh, jadi diem-diem ada yang udah jadian nih. Syukur deh temen gue yang cuek ini gak jomblo lagi," goda Steven lagi.


"Berisik banget tuh mulut. Gue sumpel juga nih pake kue," kata Danny sambil mengangkat cake yang ada dihadapannya.


"Weiss, sabar Bro. Kalem dikit napa, malu tuh sama cewek Lo."

__ADS_1


"Sialan Lo, ganggu kencan kita aja."


"Wohoo, kencan? Jadi beneran udah jadian nih? Sejak kapan? Wuih, selamat ya buat kalian berdua."


"Sejak kapan sih Lo jadi cerewet kayak gini Steve, heran deh gue. Perasaan dulu gak gini-gini amat dah."


"Heleh, ngeles aja Lo. Bilang aja mau ngalihin pembicaraan."


Sheila geleng-geleng kepala melihat kelakuan Steven dan Danny, sementara Lusia masih tertunduk dengan wajah memerah


"Sejak kapan kamu jadian sama Danny Lus?" tanya Sheila pada Lusia di sebelahnya.


"Belum genap sebulan kok Shei. Sorry gak pernah cerita ke Lo," jawab Lusia malu-malu.


"Yang lain juga belum tau?"


"Belum. Gue malu Shei, entar kalian ngeledekin gue lagi."


"Ya Allah Lus, ya gak mungkin lah. Kenapa juga kita ngeledekin kamu. Kita justru ikut seneng, akhirnya kamu yang cuek banget ini kenal yang namanya cinta juga."


"Jadi yang Lo belakangan ini sering ijin itu buat nemuin Lusia Dan?" tanya Steven.


"Iya Bro, biasalah namanya juga lagi PDKT," jawab Danny tidak berusaha menutup-nutupi sama sekali.


"Gue ikut seneng, akhirnya kalian berdua jadian juga. Yang sabar ya Lus ngadepin temen gue yang satu ini. Dia emang orangnya agak cuek, gak romantis, seenaknya sendiri, tapi dia sebenarnya baik kok, perhatian juga," kata Steven pada Lusia.


"Lo ini sebenarnya muji gue apa jatohin gue sih Steve?" keluh Danny.


"Dua-duanya. Ya sorry, biar Lusia gak kaget aja gitu."


"Gue juga orangnya kayak gitu kok Bang. Makanya gue ngerasa bisa cocok aja gitu sama Bang Danny," jawab Lusia.


"Eh, bener juga ya. Kalau dilihat-lihat sifat kalian berdua ini emang mirip sih, pantes aja jodoh," kelakar Steven.


Mereka berempat pun tertawa bersama-sama. Akhirnya mereka mengobrol dan bercanda bersama di kafe tersebut.


...


Sheila dan Lusia sedang ngobrol di depan mall sambil menunggu Steven dan Danny yang sedang mengambil mobil di parkiran. Cuacanya terlalu panas, makanya kedua wanita itu disuruh menunggu di depan mall saja.


Mobil Steven dan Danny berhenti. Steven lalu membantu memasukkan barang belanjaan ke bagian belakang mobil. Mereka berempat kemudian berpamitan satu sama lain.


Steven berjalan hendak memasuki mobilnya dan tidak memperhatikan ada sebuah mobil yang melaju cukup kencang ke arahnya. Sheila yang terlebih dahulu menyadari hal tersebut langsung berlari memburu ke arah suaminya.


"Mas Steven AWAAASSS!!!" teriak Sheila mendorong Steven sekuat tenaga.


CIIITTT!!!


BRAAKKK!!!


Sayangnya Sheila justru tidak sempat menghindar dan akhirnya tertabrak.

__ADS_1


"SHEILA!!!" teriak Steven, Danny, dan Lusia bersamaan.


__ADS_2