Cinta Sheila

Cinta Sheila
Limpahan Kasih Sayang Untuk Santi


__ADS_3

Suara bel apartemennya yang berbunyi nyaring membuat Santi bergegas untuk membukakan pintu. Dan begitu terkejutnya Santi mendapati Ken berdiri di depan pintu apartemennya padahal ini masih jam tujuh pagi.


"Loh, Mas Ken? Kok udah dateng? Ini baru jam tujuh lho," tanya Santi setelah melihat jam yang terpasang di dinding.


"Mamih yang nyuruh, katanya suruh nganterin kamu belanja dulu. Mamih bilang udah ngabarin kamu lewat chat," jawab Ken sejujurnya.


"Oh ya? Duh, dari tadi aku belum sempat ngecek hp. Eh, mari masuk dulu Mas. Maaf, saking kagetnya sampai lupa mempersilahkan masuk," kata Santi merasa tidak enak.


"Nggak pa-pa. Makasih ya," balas Ken kemudian masuk ke dalam apartemen Santi.


"Duduk dulu Mas, aku buatin minum sebentar," kata Santi setelah menutup pintu apartemennya.


"Nggak usah repot-repot San," tolak Ken.


"Nggak repot kok Mas. Mas Ken udah sarapan?" tanya Santi sebelum beranjak ke dapur.


"Belum sempet. Tadi mamih langsung nyuruh buruan berangkat, soalnya masih harus belanja dulu katanya," jawab Ken sejujurnya.


"Kebetulan, kalau gitu sekalian sarapan dulu yuk, aku bikin nasi goreng tadi," ajak Santi.


"Duh, malah jadi ngerepotin nih," kata Ken merasa tidak enak.


"Enggak kok Mas. Yuk," ajak Santi lagi.


Ken mengangguk kemudian mengikuti Santi berjalan ke arah meja makan di dapur. Ken duduk di salah satu kursi. Santi dengan cekatan membuatkan teh hangat untuk Ken. Setelah itu Santi menyiapkan nasi goreng untuk Ken sarapan.


Senyum tidak pernah luntur dari bibir Ken sejak tadi. Merasa bahagia diperlakukan seperti itu oleh Santi.


'Duh, gini ya rasanya ada yang ngelayanin. Berasa udah punya istri gue. Ahhh, jadi nggak sabar kan pengen cepet-cepet ngehalalin."


"Makasih ya San," kata Ken setelah Santi meletakkan sepiring nasi goreng dengan telur diatasnya di hadapannya.


"Sama-sama. Silahkan dimakan Mas, semoga suka," balas Santi.


Ken pun mulai menyuap nasi goreng masuk ke dalam mulutnya.


"Hmm, enak banget San," puji Ken jujur.


"Makasih. Ya udah, Mas habisin dulu sarapannya, aku siap-siap sebentar ya," pamit Santi.


Ken mengangguk sambil terus menyuap nasi goreng ke mulutnya. Santi mengulum senyum melihat tingkah Ken, kemudian bergegas masuk ke dalam kamar untuk bersiap-siap.


Tak lama kemudian Santi sudah keluar dari kamar dengan membawa tas selempang kecil.


"Iya Mas, ternyata bener Tante Jihan chat aku. Duh dari tadi pagi hp aku charge jadi nggak tahu deh," sesal Santi setelah duduk di kursi sebelah Ken.


"Ya udah, nggak pa-pa. Kita berangkat sekarang?"


"Iya Mas, sekarang aja. Masih harus mampir belanja dulu, takut kesiangan."


"Yuk," ajak Ken sambil berdiri dari duduknya.


Santi pun ikut berdiri kemudian berjalan beriringan dengan Ken.

__ADS_1


"By the way, makasih ya sarapannya. Enak banget masakan kamu," puji Ken.


"Sama-sama Mas. Jangan berlebihan gitu ah," balas Santi tidak enak hati.


"Mas nggak berlebihan kok, emang beneran enak masakan kamu," kata Ken meyakinkan.


"Iya Mas iya, udah ah," rajuk Santi tersipu.


Ken tersenyum kemudian mengusak kepala Santi lembut, membuat wajah Santi semakin merona.


...


"Assalamu'alaikum," sapa Ken dan Santi sambil berjalan masuk ke dalam rumah.


"Wa'alaikumsalam," balas Jihan yang duduk di sofa ruang keluarga.


"Akhirnya yang ditunggu dateng juga," kata Jihan berdiri dari duduknya dan langsung memeluk Santi.


Santi sempat merasa kaget mendapat sambutan sehangat ini dari Jihan.


"Maaf Tante agak lama, tadi lumayan rame di supermarket. Maaf juga nggak bales chat dari Tante tadi pagi, HP-nya Santi charge jadi Santi nggak tahu," kata Santi setelah pelukan mereka terlepas.


"Nggak pa-pa kok sayang, santai aja," balas Jihan sambil mengusap-usap lengan Santi.


Hati Santi menghangat dipanggil 'sayang' oleh Jihan. Terharu merasakan kasih sayang dari Jihan, kasih sayang seorang ibu yang selama ini tidak pernah dia dapatkan selain dari ummi di panti asuhan dulu. Dan hal tersebut tidak luput dari perhatian Ken.


"Yuk kita langsung ke dapur. Ken bawa semua belanjaannya ke dapur ya."


"Siap mih."


"Taruh aja di meja Ken. Udah kamu ke taman belakang aja sana main sama Kiara. Sekalian panggilin Kania suruh kesini, ya," perintah Jihan.


"Oke deh mih."


Setelah menaruh belanjaan di atas meja Ken kemudian bergegas ke taman belakang. Tidak lama kemudian Kania masuk ke dapur. Setelah memeluk dan cium pipi kanan kiri dengan Santi lalu acara memasak pun dimulai.


Acara memasak mereka diiringi dengan banyak mengobrol dan bercanda. Seringkali terdengar tawa dari ketiga wanita berbeda generasi itu di dapur tersebut. Santi merasa terharu mendapat perlakuan yang begitu hangat dari keluarga Ken.


Selesai memasak dan membersihkan tubuh masing-masing, makan siang pun dimulai. Suasana hangat penuh canda tawa menghiasi meja makan. Semua memperlakukan Santi dengan begitu hangat, seperti keluarga sendiri. Senyuman tidak pernah luntur dari wajah Santi, bahagia bisa merasakan kehangatan keluarga seperti ini.


Kebahagiaan yang sama juga dirasakan oleh Ken. Bisa menghabiskan banyak waktu dengan gadis pujaannya apalagi melihat senyum yang tidak pernah luntur dari wajah sang gadis, membuat hati Ken ikut merasa bahagia.


Selesai makan siang dan sholat Dzuhur berjamaah Wirawan berangkat ke rumah sakit karena ada keadaan darurat. Jery dan Kania ijin keluar sebentar karena ada urusan, tapi si kecil Kiara tidak ikut. Kiara lebih memilih bermain bersama dengan Ken dan Santi di taman belakang.


Lelah bermain kejar-kejaran ketiganya duduk di rerumputan, beristirahat sejenak sambil mengatur nafas.


"Capek ya? Tante ambilin minum sebentar ya sayang," kata Santi sambil menghapus keringat di dahi Kiara.


"Yang dingin ya Tante, biar seger," pinta Kiara


"Siap cantik. Mas mau aku ambilin sekalian?" tawar Santi beralih kepada Ken.


"Boleh deh."

__ADS_1


Santi lalu beranjak ke dapur untuk mengambil air dingin. Membawanya ke taman belakang dan memberikannya kepada Ken dan Kiara yang langsung ditenggak habis oleh keduanya. Santi kemudian mengembalikan gelas yang sudah kosong ke dapur.


"Nggak usah dicuci sayang, biar nanti bibik aja," kata Jihan yang baru saja masuk ke dapur.


"Cuma gelas aja kok Tan, nggak pa-pa," Santi tetap melanjutkan mencuci gelasnya.


"Duduk sini sayang, sama Tante," pinta Jihan setelah Santi selesai mencuci gelas.


Setelah mengeringkan tangannya Santi kemudian duduk di sebelah Jihan di meja makan.


"Boleh Tante bertanya sesuatu sama kamu sayang?" tanya Jihan meminta ijin.


"Boleh dong Tan."


"Apa Ken sudah mengungkapkan perasaannya sama kamu?" tanya Jihan to the point.


Pertanyaan Jihan membuat Santi gelagapan dan salah tingkah.


"Tante tahu kalau Ken suka sama kamu. Semuanya terlihat jelas dari bagaimana cara Ken memandang kamu dan juga memperlakukan kamu. Belum pernah Tante melihat Ken seserius ini pada seorang wanita."


"Mas Ken emang udah pernah bilang tentang perasaannya ke Santi Tante," jawab Santi setelah terdiam cukup lama. "Tapi..."


Santi tidak mampu melanjutkan perkataannya. Wajahnya tertunduk dengan tangan yang saling meremas di atas pangkuannya.


"Kenapa? Kamu masih ragu dengan perasaan Ken?" tanya Jihan lembut, tidak ingin menghakimi.


Santi menggelengkan kepalanya.


"Santi ragu pada diri Santi sendiri Tante. Santi merasa tidak pantas," lirih Santi.


Jihan menggenggam tangan Santi.


"Apa yang membuat kamu merasa tidak pantas sayang?"


Jihan tahu, tapi dia ingin mendengar langsung jawaban dari Santi.


"Santi bukan siapa-siapa Tante. Santi hanya anak yatim piatu yang dibesarkan di panti asuhan. Bahkan siapa orang tua Santi pun Santi tidak tahu. Santi tidak ingin membuat Mas Ken malu. Santi tidak pantas untuk Mas Ken," jawab Santi rendah diri.


"Kenapa kamu berpikiran sepicik itu sayang? Mana Santi yang kuat dan tegar yang biasa Tante temui?" tanya Jihan.


"Maaf Tante," sesal Santi dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


"Kamu salah kalau menganggap diri kamu tidak pantas sayang. Kamu pantas, sangat pantas. Tante dan keluarga Tante tidak pernah menilai seseorang dari asal usul maupun derajat keluarganya. Kami menilai seseorang dari sifat dan kepribadiannya. Dan menurut penilaian kami, kamu sangat pantas sayang," kata Jihan sambil meremas lembut tangan Santi.


Santi mengangkat wajahnya. Air mata sudah mengalir di kedua pipinya. Jihan segera mengusap air mata itu dengan jarinya.


"Tante tahu kamu memiliki pengalaman buruk dengan hubungan di masa lalu. Tapi satu yang Tante bisa janjikan sama kamu, bahwa Tante dan keluarga Tante tidak seperti mereka. Kami semua bahkan sudah sangat menyayangi kamu nak. Jadi Tante mohon sama kamu, tolong pertimbangkan lagi perasaan Ken ya sayang," pinta Jihan.


Air mata Santi luruh semakin deras. Rasa haru menyeruak di dalam hatinya. Santi kemudian menganggukkan kepalanya pelan. Jihan tersenyum bahagia lalu membawa Santi ke dalam pelukannya, dan Santi justru mulai terisak dalam tangisnya.


"Jangan menangis sayang, kami semua sayang sama kamu," kata Jihan sambil mengusap lembut kepala Santi.


"Terima kasih Tante. Belum pernah Santi merasakan kasih sayang sebesar ini," lirih Santi dalam pelukan Jihan.

__ADS_1


"Mulai sekarang kamu akan selalu mendapatkan limpahan kasih sayang dari mamih dan juga yang lainnya sayang," kata Jihan, merubah panggilan untuk dirinya sendiri kepada Santi.


Rasa haru dan bahagia membuncah di hati Santi. Begitu banyak kasih sayang yang dia dapatkan dari Ken dan juga keluarganya.


__ADS_2