
Dua hari penuh Steven beristirahat di rumah. Dan selama dua hari itu pula Sheila juga merawat Steven dengan telaten. Sheila bahkan tidak pergi kuliah dan rela belajar dari rumah. Mengerjakan tugas-tugas kuliahnya yang dikirim sahabat-sahabatnya pada waktu senggang ketika Steven sedang tertidur.
Sekarang Steven sudah benar-benar pulih. Dia sudah kembali bekerja seperti biasanya, meski dengan pengawasan yang sedikit ketat dari Sheila karena tidak ingin kecolongan lagi.
"Mbak Santi tolong untuk makan Bapak diperhatikan dengan baik ya asupan gizinya. Dan juga tolong pastikan gelas di atas meja Bapak jangan sampai kosong airnya, biar Bapak tidak dehidrasi lagi. Saya akan sering-sering mengingatkan Bapak untuk minum. Dan kalau Bapak sengaja melewatkan makannya tolong langsung hubungi saya ya Mbak," pesan Sheila panjang lebar kepada sekretaris Steven.
Sudah layaknya seorang istri yang begitu mengkhawatirkan keadaan suaminya saja, eh tapi memang benar kalau Sheila mengkhawatirkan Steven kan.
"Baik Bu, akan saya ingat baik-baik pesan Ibu," balas Santi hormat.
Hari-hari berlalu. Sheila selalu menghubungi Steven untuk sekedar mengingatkannya agar banyak minum air putih, mengingatkan waktu makannya, dan yang paling penting mengingatkan untuk sholat tepat waktu.
Bahkan tak jarang Sheila juga menghubungi Santi untuk menanyakan keadaan suaminya, memastikan bahwa Steven makan tepat waktu dan banyak minum air putih.
Siang ini Steven menerima email dari orang yang tidak dikenal. Sedikit penasaran dengan notif 'urgent' yang menyertai email tersebut, Steven pun membuka email itu. Dan bola mata Steven seketika terbelalak melihat isi dari email tersebut.
"Shit!!! Apa-apaan ini," umpat Steven.
Jari tangannya terus menggeser foto demi foto yang memperlihatkan Nila yang sedang jalan berdua bahkan bermesraan dan berciuman dengan seorang laki-laki. Ada juga foto yang menunjukkan saat mereka berdua memasuki sebuah kamar hotel.
Sesaat kemudian sebuah notifikasi pesan masuk di ponselnya. Segera Steven membukanya.
'Datanglah ke apartemen Nila sekarang kalau kau penasaran.'
Hampir saja Steven membanting ponselnya ke lantai. Tapi akal sehatnya masih bekerja. Secepat kilat Steven keluar dari ruangannya dan menuju ke apartemen Nila. Mengabaikan segala macam pertanyaan dan teriakan dari Santi sekretarisnya.
Selama perjalanan Steven berkali-kali mengumpat, tangannya memukul kemudi berulang kali. Dalam hati Steven berharap semoga ini semua tidak benar. Semua hanya kebohongan dan rekayasa seseorang.
__ADS_1
Memarkirkan mobilnya di basement Steven segera masuk ke dalam lift menuju unit milik Nila. Steven memasukkan password kemudian membuka pintu perlahan. Steven tahu benar password apartemen Nila karena apartemen ini merupakan pemberian Steven untuk Nila.
Suasana apartemen nampak lengang. Melangkah lebih jauh masuk ke dalam apartemen tersebut, Steven mulai mendengar suara-suara dari dalam kamar Nila.
Perasaan Steven sudah tidak karuan, jantungnya juga berdetak sangat kencang ketika suara desahan dan teriakan nikmat itu semakin terdengar jelas. Itu jelas suara Nila. Dengan segera Steven membuka pintu kamar yang untungnya tidak terkunci.
Sebuah pemandangan yang membuat Steven terkejut. Rasanya seperti ada batu besar yang menghantam kepalanya. Jantungnya serasa diremas oleh tangan tak kasat mata. Oksigen seakan menghilang dari sekelilingnya. Dadanya terasa sesak begitu melihat Nila, kekasihnya, sedang bergumul di atas ranjang dengan seorang laki-laki yang Steven ketahui itu adalah Joe, fotografer yang biasa bekerja sama dengan Nila.
Suara pintu yang terbuka membuat kedua orang itu terhenti dari aktivitas mereka. Mata Nila langsung membelalak kaget melihat Steven berdiri di ambang pintu. Segera Nila mendorong Joe dari atas tubuhnya. Diraihnya selimut untuk menutupi tubuh telanjangnya dan segera memburu Steven.
"Sayang aku bisa jelasin semuanya," kata Nila sambil memegang tangan Steven.
Steven menghempaskan tangan Nila kasar.
"Aku tidak butuh penjelasan apapun darimu. Apa yang kulihat dengan mata kepalaku sendiri sudah cukup menjelaskan semuanya."
Steven segera berbalik dan pergi meninggalkan Nila.
Di dalam mobil Steven melampiaskan kemarahannya dengan memukul-mukul kemudi. Tiga tahun bukan waktu yang sebentar. Steven tidak menyangka kalau Nila bisa mengkhianatinya seperti ini. Padahal selama ini Steven selalu menghormati Nila dengan tidak melebihi batas ketika sedang bersama kekasihnya itu. Steven tidak ingin merusak masa depan Nila hanya demi menuruti hawa nafsunya.
Merasa kacau Steven kemudian melajukan mobilnya ke arah club X. Club ini milik salah satu teman kuliahnya dulu. Dan Steven juga sering berkumpul dengan teman-temannya yang lain di club tersebut, meski Steven jarang sekali ikut minum. Club ini bukan club sembarangan, jadi pengunjungnya pun kebanyakan juga dari kalangan pebisnis dan eksekutif.
Steven duduk di depan bartender dan langsung memesan wine. Sang bartender yang sudah mengenal Steven sebagai teman bos-nya sedikit terkejut pasalnya Steven jarang sekali meminum minuman beralkohol. Diam-diam bartender tersebut menghubungi bos-nya dan memberitahukan keberadaan Steven.
David, pemilik club sekaligus teman Steven, Danny dan Ken, segera turun ketika mendapat laporan dari bartendernya. Melihat Steven yang sudah setengah mabuk David segera menghampirinya.
"Hai bro, tumben jam segini udah kesini," sapa David menepuk pundak Steven kemudian duduk di sampingnya.
__ADS_1
"Oh, hai Vid. Gue lagi suntuk, please jangan ganggu gue. Gue pengen nenangin diri," kesadaran Steven masih lebih dari setengah makanya dia masih bisa mengenali David.
David merasa ada yang tidak beres dengan temannya ini. Baru saja dia akan menghubungi Danny atau Ken untuk memberi tahu keberadaan Steven tapi David sudah melihat Danny memasuki club-nya. David beranjak dari kursinya dan menghampiri Danny.
"Steven kenapa Dan? Gak biasanya dia minum-minum kayak gitu?" tanya David to the point.
"Dia baru aja menangkap basah pengkhianatan Nila."
"Oh, pantes. Akhirnya tau juga dia kebusukan wanita itu. Dari dulu kan dia paling gak mau dengerin kita jelek-jelekin Nila, padahal kita ngomongin fakta."
"Gue sama Ken sengaja nyuruh orang mata-matain Nila, terus gue kirim tuh foto-foto kemesraan Nila sama Joe ke Steven. Nasib baik berpihak ke kita, Nila lagi sama Joe di apartemennya, gue langsung chat Steven suruh dateng kesana. Dan tebakan gue Steven ngeliat dengan mata kepalanya sendiri saat Nila lagi ML sama Joe," terang Danny panjang lebar.
"Gila, udah sejauh itu mereka?"
"Hmm. Gue sama Ken udah lama tau, tapi ya itu tadi, Steven gak pernah dengerin omongan kita. Apalagi sekarang udah ada Sheila, istri Steven. Gadis itu baik banget. Dan dia udah bisa ngerubah Steven menjadi lebih baik dari sebelumnya. Gue sama Ken gak rela aja ngeliat Sheila terluka dan Steven juga dibohongin terus sama Nila."
"Jadi bener Steven udah nikah? Gue kira kabar itu bohong."
"Pernikahan yang lebih tepatnya perjanjian di antara mereka berdua. Sheila tau tentang Nila dan dia ngijinin Steven masih berhubungan sama Nila. Gila gak tuh?"
"Ckckck, bener-bener gak nyangka gue," gumam David sambil menggelengkan kepalanya.
"Rumit mah masalah mereka berdua kalau Lo mau tau. Intinya gue sama Ken gak rela aja Sheila terluka dan Steven juga terus dibohongin sama Nila. Makanya kita berdua nekat ngelakuin ini semua."
"Beruntung banget ya Steven punya sahabat kayak kalian berdua."
"Lebih beruntung lagi Steven yang punya istri kayak Sheila."
__ADS_1
"Gue jadi penasaran kayak apa sih istrinya Steven yang bernama Sheila itu."
"Bentar lagi juga Lo bakalan tau. Gue udah nyuruh Pak Damar jemput dia suruh bawa kesini. Biar Sheila bisa bawa Steven pulang. Udah mulai mabuk kayaknya tuh anak," kata Danny sambil melihat Steven yang mulai meracau dan hilang kesadaran.