
Dua hari setelah kejadian malam itu. Sheila menerima kiriman foto-foto pada ponselnya dari nomor tidak dikenal. Dalam foto-foto tersebut terlihat Steven sedang makan siang bersama dengan Celine. Foto selanjutnya menampakkan keduanya yang sedang tertawa bersama. Lalu ada juga foto ketika Celine membersihkan sisa saus di sudut bibir Steven. Dan beberapa foto lainnya yang memperlihatkan kedekatan Steven dengan Celine.
Ada rasa sesak yang tiba-tiba menyeruak di dada Sheila. Seperti ada tangan tak kasat mata yang meremas hatinya hingga terasa begitu sakit. Tapi sebisa mungkin Sheila mencoba untuk tetap berpikir positif.
Sore harinya setelah Steven pulang dari kantor. Sheila melayani keperluan Steven seperti biasanya.
"Diminum dulu Mas," kata Sheila sembari mengangsurkan segelas air putih.
"Terima kasih sayang," balas Steven menerima gelas dari tangan Sheila kemudian meminum isinya hingga tandas.
Meletakkan gelas di atas meja Sheila kemudian berlutut hendak membuka sepatu Steven. Namun Steven segera menghentikannya.
"Sayang, kamu tidak perlu membantu membukakan sepatu Mas lagi. Kasihan dedek bayi kalau sampai perut kamu tertekan," cegah Steven seraya membantu Sheila untuk bangun kemudian mendudukkannya di samping Steven.
"Aku nggak pa-pa kok Mas."
"No. Mas tetap tidak setuju. Kamu harus memikirkan kandunganmu juga sayang. Mas masih sanggup membuka sepatu Mas sendiri, oke?"
"Iya Mas, ya sudah kalau begitu."
"Itu baru istri Mas. Mas suka kamu selalu mendengar dan mematuhi setiap perkataan Mas," kata Steven kemudian mencium kening Sheila.
Steven pun membuka sepatunya sendiri.
"Tadi Mas makan siang bareng mbak Celine ya Mas?" tanya Sheila hati-hati
"Iya sayang. Dari kemarin ngajakin terus, baru bisa hari ini. Itupun kita nyempetin banget waktunya."
"Kita?" tanya Sheila sambil mengkerutkan keningnya bingung.
"Maksudnya Mas, Danny, sama Ken. Kamu tahu sendiri kan belakangan ini Mas sibuk banget."
"Bukannya cuma berdua ya Mas?" tanya Sheila bingung.
"Berdua? Maksud kamu apa sayang?" tanya balik Steven ikut bingung juga.
"Mas lihat deh ini," kata Sheila kemudian menunjukkan foto-foto yang terkirim ke ponselnya tadi siang.
Steven mengambil ponsel dari tangan Sheila kemudian melihat satu persatu foto-foto yang terkirim pada ponsel tersebut. Mata Steven terbelalak kaget.
"Astaga. Ini editan sayang. Sungguh, Mas nggak bohong. Kita makan siang berempat, nggak cuma berdua seperti ini," sangkal Steven tegas.
Steven beralih menatap Sheila kemudian menggenggam kedua tangan Sheila.
"Kamu percaya sama Mas kan sayang? Foto-foto itu semua nggak bener. Mas telepon Danny sama Ken sekarang juga ya biar kamu percaya sama Mas kalau Mas nggak cuma makan berdua dengan Celine, tapi ada Danny sama Ken juga."
__ADS_1
Sheila tersenyum lembut sebelum menjawab.
"Nggak perlu Mas. Aku percaya kok sama Mas Steven."
"Sungguh?"
"Iya Mas," jawab Sheila meyakinkan.
"Syukurlah," Steven menghembuskan nafas lega. "Bagus sayang. Lain kali kalau kamu menerima kiriman foto lagi, terror chat, atau informasi apapun tentang Mas dengan Celine, kamu harus langsung mengatakannya kepada Mas, ya," pinta Steven.
"Iya Mas."
"Apapun itu, kamu jangan langsung percaya sebelum kamu mengklarifikasi-nya langsung kepada Mas, oke?"
Sheila mengangguk sambil tersenyum lembut.
"Huft. Untung saja kamu langsung bilang sama Mas, kalau enggak pasti terjadi kesalahpahaman di antara kita sayang. Tapi kamu beneran nggak pa-pa kan sayang?"
"Aku nggak pa-pa Mas."
"Sungguh?"
"Ya awalnya aku emang sempat kaget dan kecewa setelah melihat foto-foto tersebut. Tapi kemudian aku ingat pesan Mas Steven, kalau aku tidak boleh langsung percaya begitu saja dengan apapun yang aku dengar dan aku lihat sebelum mengklarifikasinya langsung dengan Mas," jawab Sheila jujur.
"Terima kasih sudah mematuhi perintah Mas dan tidak langsung percaya dengan foto-foto tersebut sayang. Kedepannya Mas yakin pasti akan lebih berat dari ini. Jadi Mas berharap supaya kamu bisa sabar dan tetap percaya kepada Mas ya sayang," pinta Steven.
"Iya Mas."
...
Keesokan harinya di kantor.
"Ada apa Steve pagi-pagi sudah menyuruh kita kesini?" tanya Danny setelah memasuki ruangan Steven bersama dengan Ken di belakangnya.
"Duduk," perintah Steven.
Danny dan Ken kemudian duduk di depan Steven.
"Coba kalian lihat foto-foto ini," kata Steven memberikan ponselnya kepada kedua sahabatnya.
Danny meraih ponsel dari tangan Steven kemudian melihat isinya bersama Ken.
"Apa-apaan ini?" tanya Ken.
"Shit," umpat Danny. "Ini bener-bener keterlaluan. Gue nggak nyangka Celine akan senekat ini."
__ADS_1
"Untung aja Sheila nggak langsung percaya dan klarifikasi dulu ke gue. Nggak bisa ngebayangin gue kalau sampai terjadi salah paham antara gue sama Sheila."
"Kita tegur langsung aja, bawa foto-foto ini sebagai bukti," usul Danny.
"Belum ada bukti kalau yang ngirim foto-foto ini ke Sheila adalah orang suruhan Celine. Kita bisa diserang balik karena nuduh sembarangan tanpa bukti yang jelas," balas Steven.
Ken nampak diam saja. Raut wajahnya datar tidak bisa dibaca. Steven dan Danny saling memandang dan memberi kode.
"Lo kenapa Ken? Dari tadi kok diem aja?" tanya Steven.
"Lo masih cinta kan sama Celine? Dan Lo sekarang kecewa?" tanya Danny.
Ken tertawa hambar, menertawai dirinya sendiri.
"Bodohnya gue yang dibutakan oleh cinta. Gue selalu berharap suatu saat Celine bisa ngelihat cinta gue buat dia, apalagi setelah Steven menikah. Empat tahun lebih, ternyata penantian gue sia-sia. Cinta Celine masih tetap buat Steven," kata Ken.
"Ini bukan cinta namanya Ken, tapi obsesi. Kalau Celine emang cinta sama Steven seharusnya dia bahagia melihat Steven juga bahagia. Bukannya malah berbuat nekat seperti ini," sanggah Danny.
"Apa Lo masih tetap akan memperjuangkan cinta Lo buat Celine?" tanya Steven.
Ken membuang nafas kasar. Menyandarkan punggungnya pada kursi yang dia duduki sambil menatap kosong ke arah depan.
"Entahlah Steve. Gue ngerasa seperti orang bodoh. Terus menanti bahkan berjuang demi seseorang yang bahkan nggak pernah menganggap cinta gue sama sekali."
Mereka bertiga terdiam dengan pemikiran masing-masing.
"Kita ikuti aja alurnya, sambil kita cari celah kesalahan Celine. Yang penting Lo harus bisa yakinin Sheila untuk nggak langsung percaya dengan semua tipu muslihat Celine," usul Danny.
"Lo bener Dan. Gue juga udah berulang kali bilang ke Sheila untuk selalu percaya sama gue, dan klarifikasi dulu ke gue setiap kali dia dapat berita apapun itu tentang gue dan Celine," kata Steven.
"Lo tenang aja Steve, seperti yang gue bilang kemarin, gue akan selalu siap buat ngalihin perhatian Celine dari Lo," kata Ken.
"Lo yakin Ken masih mau ngelanjutin rencana kita kemarin?" tanya Steven.
"Why not? Sekalian gue mau mastiin perasaan gue ke Celine, apakah cinta ini masih sebesar yang dulu atau justru sudah mati perlahan-lahan karena selalu diabaikan," jawab Ken miris.
"Gue yakin Lo pasti bisa Bro," kata Danny memberi semangat dengan menepuk pundak Ken.
"Kalaupun cinta Lo udah mati buat Celine, yakin aja Bro pasti Lo akan dapat ganti yang lebih baik. Karena Celine mungkin memang bukan yang terbaik buat Lo," kata Steven ikut menyemangati.
"Semoga saja. Sebelum gue bener-bener udah nggak percaya lagi kalau cinta sejati itu memang ada buat gue."
"Hei, semangat dong Bro. Mana playboy kita yang biasanya? Kenapa jadi melow dan putus asa kayak gini? Bukan Lo banget tahu nggak. Optimis, ceria seperti biasanya dong. Tunjukkan jiwa ke-playboy-an Lo yang handal itu," kelakar Danny mencoba mencairkan suasana.
"Sialan Lo," kata Ken mulai bisa tertawa lagi meski di dalam hatinya masih terjadi pergulatan hebat.
__ADS_1