
Setelah tiga hari dirawat di rumah sakit, akhirnya hari ini Sonia sudah diperbolehkan untuk pulang. Tetapi di tengah perjalanan pulangnya bersama Sean, ada sesuatu hal yang membuat kening Sonia berkerut bingung. Saat ini mobil yang dikemudikan oleh Sean tidak menuju ke arah dimana apartemen mereka berada.
"Loh, ini kan bukan jalan menuju ke apartemen kita Mas? Kita mau kemana dulu emangnya?" tanya Sonia bingung.
"Ya mau pulang dong sayang," jawab Sean yang masih fokus dengan mengemudikan mobilnya.
"Hmm? Tapi kok lewatnya sini Mas?" tanya Sonia lagi.
"Kejutan. Kamu duduk dulu dengan tenang ya."
"Kejutan apa sih Mas?" tanya Sonia penasaran.
"Hanya sebuah kejutan kecil kok sayang. Nanti juga kamu bakalan tau sendiri kok. Sabar sebentar lagi ya," jawab Sean masih berteka-teki.
Sonia mengerucutkan bibirnya, membuat Sean tertawa karena merasa gemas melihat wajah lucu istrinya itu.
"Jangan digituin bibirnya, kalau nggak mau Mas cium sekarang juga," ancam Sean dengan sisa-sisa tawanya.
"Iihhh, modus," gerutu Sonia.
"Biarin, modusin istri sendiri ini," kata Sean membela diri.
"Tau ah, Mas Sean nggak asik," ketus Sonia kemudian menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi dan mengalihkan pandangannya ke arah luar jendela.
Tapi begitu mobil yang Sean kemudikan memasuki sebuah kompleks perumahan yang sangat tidak asing bagi Sonia, Sonia pun kembali menegakkan tubuhnya. Kedua mata indah Sonia membola, melihat bagian demi bagian dari kompleks perumahan yang saat ini sedang dilewatinya itu.
__ADS_1
Tidak ada perubahan yang signifikan. Hampir semuanya masih sama dengan keadaan ketika lima tahun yang lalu, saat Sonia dan keluarganya terpaksa meninggalkan tempat ini. Memori itupun kembali terputar di dalam ingatan Sonia. Kenangan-kenangan yang dulu pernah Sonia lewati bersama dengan ayah, ibu, dan kedua adiknya.
Dan ketika mobil yang Sean kemudikan berbelok, memasuki gerbang sebuah rumah, Sonia sampai menutup mulut dengan kedua tangannya karena saking terkejutnya. Air mata seketika mengalir di pipi Sonia tanpa meminta ijin terlebih dahulu.
Mobil yang Sean kemudikan berhenti di depan sebuah rumah besar berlantai dua dengan gaya semi klasik dan cat dominan warna putih. Dengan halaman yang luas yang dipenuhi dengan berbagai macam jenis bunga dan tanaman. Area bermain di taman samping rumah nampaknya juga baru saja selesai direnovasi. Dan juga beberapa pohon di belakang dan samping rumah yang tidak terlalu tinggi tetapi cukup meneduhkan. Hampir semuanya masih sama dengan keadaan lima tahun yang lalu.
Sean turun terlebih dahulu kemudian memutari setengah bagian mobil dan membuka pintu mobil untuk Sonia. Sementara Sonia masih terpukau dengan apa yang dilihatnya saat ini. Seakan bermimpi, Sonia tidak pernah menyangka akan bisa kembali ke rumah ini lagi. Rumah dimana dirinya dulu menjalani hari-hari penuh kebahagiaan bersama ayah, ibu, dan kedua adiknya.
"Mas, ini..." Sonia tidak mampu melanjutkan perkataannya.
"Ayo sayang, kita udah sampai di rumah kita," ajak Sean dengan tersenyum dan mengulurkan tangan kanannya untuk Sonia genggam.
Sonia menyambut uluran tangan Sean. Dan ketika Sonia turun dari mobil, Sonia dikejutkan dengan keberadaan ibu dan kedua adiknya yang sudah menunggu kedatangan Sonia di teras depan rumah. Ada juga Bunda Sheila, Safa, dan ibu Anita disana.
Melihat ibunya yang tersenyum dengan merentangkan kedua tangannya, Sonia kemudian berlari dan menghambur ke dalam pelukan ibunya tersebut. Sonia menumpahkan tangisannya di dalam pelukan sang ibu. Suci pun membelai lembut kepala putri sulungnya itu.
"Ibu..." isak Sonia.
"Iya, ibu disini kak. Kakak yang sabar ya. Biarkan dia jadi tabungan untuk kakak dan nak Sean ketika di akhirat nanti. Dan insya Allah, pasti akan segera diberikan ganti dengan yang lebih baik oleh Allah SWT untuk kalian berdua nanti. Udah ya, kakak jangan nangis lagi, ikhlaskan kepergiannya," kata Suci menenangkan Sonia.
Sonia mengangguk pelan di dalam pelukan ibunya, wanita yang telah melahirkan dirinya ke dunia ini 22 tahun yang lalu tersebut. Kesedihan karena keguguran yang telah Sonia alami kembali membayang di dalam ingatan Sonia. Tetapi di dalam hati, Sonia bertekad bahwa dirinya harus bisa menjadi seorang ibu yang lebih baik lagi untuk putra putrinya kedepannya nanti.
Setelah beberapa saat, tangisan Sonia pun mulai mereda. Sonia melepaskan pelukannya tapi kemudian bersandar manja pada ibunya. Sean memegang lembut pundak istrinya itu sehingga membuat Sonia menoleh ke arah Sean.
"Kita masuk yuk. Kamu kan juga masih harus istirahat, sayang," kata Sean.
__ADS_1
Sonia mengangguk pelan. Mereka semua kemudian masuk ke dalam rumah. Dan saat ini mereka semua sudah duduk bersama di ruang keluarga di dalam rumah tersebut. Sonia mengedarkan pandangannya, melihat area sekeliling rumah tersebut. Semuanya masih sama dengan keadaan ketika dirinya tinggal di rumah ini bersama dengan keluarganya dulu. Kenangan kebersamaan Sonia bersama dengan ayah, ibu, dan kedua adiknya terlintas kembali di dalam ingatan Sonia.
"Mas, ini..." Sonia bertanya kepada Sean yang duduk di sebelahnya.
"Mas sudah membeli kembali rumah ini sayang, setelah kita kembali dari rumah ibu waktu nenek meninggal dulu itu. Tapi ada beberapa bagian yang perlu untuk direnovasi terlebih dahulu, makanya baru sekarang Mas bisa mengajak kamu pulang kesini," jawab Sean.
"Jadi rumah ini?" tanya Sonia seakan masih belum percaya.
"Iya, ini adalah rumah kita sayang. Dan ibu, Sendy, juga Dennis akan tinggal bersama dengan kita disini. Mas udah mengurus kepindahan mereka semua kesini," jawab Sean.
Sonia langsung memeluk Sean dengan erat dan kembali terisak di dada bidang suaminya itu.
"Terima kasih Mas, terima kasih," kata Sonia di sela isak tangisnya.
Sean mengelus lembut kepala Sonia yang tertutup hijab tersebut. Sean pun kemudian mencium puncak kepala istrinya itu.
"Sama-sama sayang. Apapun akan Mas lakukan untuk kebahagiaan kamu," kata Sean penuh keyakinan.
"Mbak Suci, acara pengajian dan syukuran untuk mengumumkan pernikahan Abang Sean dan Sonia minggu depan rencananya juga mau kita adakan disini saja. Nanti Mbak Suci bisa mengundang kerabat dan teman-teman Mbak Suci dulu untuk datang ke acara itu juga," kata Sheila dengan memegang tangan Suci yang duduk di sebelahnya.
"Makasih banyak sebelumnya ya Mbak," balas Suci kepada Sheila.
"Nggak perlu bilang makasih Mbak, kan kita sekarang udah jadi keluarga," kata Sheila yang kemudian memeluk Suci dengan hangat.
Di dalam hati Suci sangat bersyukur karena Sonia mendapatkan suami yang sangat baik. Dan rasa syukur yang lebih banyak lagi juga Suci panjatkan kepada Allah SWT, karena Suci mendapatkan besan dengan keluarga besarnya yang juga begitu baik hati dan ramah. Mereka semua pun juga begitu menyayangi Sonia.
__ADS_1