
"Abang kamu ada kan Ga?" tanya Steven begitu sampai di depan meja kerja Nadirga.
Nadirga yang sedang fokus dengan pekerjaannya pun sedikit terkejut dan langsung mendongakkan kepalanya. Nadirga langsung berdiri begitu menyadari keberadaan Steven di depan meja kerjanya.
"A-ada kok Yah. Tapi,,," Nadirga tampak ragu untuk melanjutkan perkataannya.
"Tapi apa?" tanya Steven dengan sebelah alis yang terangkat.
"Ada Sonia di dalam," jawab Nadirga pelan.
"Oh. Sudah dari tadi?" tanya Steven tidak terkejut sama sekali.
"Sejak istirahat makan siang," lirih Nadirga.
"Apa? Sampai sekarang? Haish, anak ini," kaget Steven kemudian menggelengkan kepalanya beberapa kali.
Steven berlalu meninggalkan Nadirga dan langsung masuk ke dalam ruangan Sean. Dilihatnya ruangan dalam keadaan kosong. Kembali Steven menggelengkan kepalanya beberapa kali. Akhirnya Steven pun memutuskan untuk duduk di sofa. Menunggu Sean dan Sonia selesai dengan urusan mereka.
Untungnya Steven tidak perlu menunggu terlalu lama. Sekitar sepuluh menit kemudian, terdengar pintu ruang istirahat Sean terbuka. Sonia yang baru saja membuka pintu nampak ditarik kembali oleh Sean dan diputar menghadap ke arah Sean. Sean memeluk Sonia dan langsung menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Sonia yang tertutup oleh hijabnya.
"Mas, udah dong. Udah jam berapa ini," keluh Sonia.
"Masih kurang sayang. Tenang aja, Dirga udah urus semuanya."
"Tapi Mas,,,"
"Ekhem," Steven berdehem cukup keras.
Sean langsung mengangkat wajahnya dari ceruk leher Sonia. Tubuh Sean dan Sonia kompak menegang karena terkejut.
"Ayah," kata Sean dan Sonia bersamaan setelah memutar badan dan melihat keberadaan Steven di ruangan tersebut.
Dengan wajah yang tertunduk karena malu Sonia menghampiri Steven kemudian mencium punggung tangan kanan Steven dengan takzim. Sean mengekor di belakang Sonia. Bergantian mencium punggung tangan kanan Steven setelah Sonia selesai.
"Kamu sebaiknya kembali ke divisi kamu sekarang Sonia," kata Steven.
"Baik Ayah. Kalau begitu Sonia permisi dulu. Assalamu'alaikum," pamit Sonia.
"Wa'alaikumsalam," balas Steven dan Sean bersamaan.
Dan setelah membalas senyuman serta anggukan kepala dari Sean, Sonia pun meninggalkan ruangan Sean tersebut.
"Duduk Bang!" perintah Steven yang sudah lebih dulu kembali mendudukkan dirinya di sofa.
Sean menuruti perintah Steven dan duduk di sofa di depan ayah-nya tersebut.
__ADS_1
"Bukannya Ayah mau ngelarang, tapi lain kali tau waktu lah Bang. Ini di kantor, memangnya yang di rumah masih belum cukup?"
"Maaf Yah," kata Sean dengan menundukkan kepalanya, merasa menyesal dan malu dalam waktu yang bersamaan.
Steven menghembuskan nafasnya kasar. Steven sangat paham apa yang dirasakan Sean saat ini. Steven sendiri juga pernah mengalaminya. Pasti apa yang dirasakan Sean saat ini tidak jauh berbeda dengan apa yang dia rasakan dulu.
"Ayah paham perasaan kamu Bang. Dulu Ayah dan Bunda juga pernah berada di posisi yang sama dengan kalian saat ini. Cuma bedanya, dulu Bunda hanya berstatus sebagai mahasiswa magang di perusahaan Ayah. Dan semua karyawan di perusahaan Ayah sudah mengetahui tentang identitas Bunda sebagai istri Ayah."
"Tapi Sonia? Dia seorang karyawan disini Bang. Dia memiliki tanggung jawab dalam pekerjaannya. Dan satu lagi, karyawan Abang yang lain tidak tau tentang status Sonia sebagai istri Abang. Kecuali Adrian, Nadirga, dan Rizky. Abang nggak mikirin gimana tanggapan karyawan lain terhadap Sonia nanti? Terutama teman-teman satu divisinya? Abang nggak mikirin berapa banyak alasan yang harus dibuat oleh Sonia untuk menutupi perbuatan kalian jika temannya bertanya dari mana saja dia, kenapa baru kembali?"
Sean terdiam mendengarkan semua perkataan Steven. Ya, Sean akui semua yang dikatakan oleh Steven itu benar adanya. Merasa bersalah? Tentu saja Sean merasa bersalah. Amat sangat merasa bersalah. Entah kenapa Sean tidak berpikir sampai sejauh itu sebelumnya.
"Maafin Abang, Yah. Abang tau Abang salah. Dan Abang sangat menyesal Yah," sesal Sean.
"Huft,,," lagi, Steven membuang nafasnya kasar.
"Lain kali lebih hati-hati lagi Bang. Lihat tempat, ingat waktu. Lihat situasi dan kondisi juga. Jangan hanya menuruti kesenangan kamu saja," nasehat Steven.
"Iya Yah. Lain kali Abang akan lebih berhati-hati lagi," janji Sean.
"Ya sudah kalau begitu. Oh iya, Ayah datang kesini mau nyampein pesan dari Om Darius."
Sean mengangkat wajahnya. Sean tau pasti kalau pesan dari Om Darius itu pasti menyangkut tentang Sonia. Dan itu pasti sesuatu yang penting. Raut wajah serius terlihat dari kedua ayah dan anak itu.
"Menurut pengamatan dari mata-mata Om Darius, Raka sudah mulai bergerak kembali."
"Kita harus lebih berhati-hati lagi Bang. Mulai hari ini, Sena dan Rey akan berjaga di sekitar Sonia. Dan Om Bima juga akan memasukkan beberapa orang kita untuk masuk ke dalam staff keamanan di apartemen Abang. CCTV di dalam dan luar apartemen Abang juga akan ditambah."
"Ponsel, jam tangan, dan kalung Sonia yang berisi sinyal GPS akan selalu dipantau dari markas. Kita harus benar-benar waspada kali ini. Raka bukan orang yang bisa kita anggap remeh begitu saja," kata Steven serius.
"Abang paham Yah," balas Sean dengan menganggukkan kepalanya.
Pembicaraan Steven dan Sean masih berlangsung beberapa saat. Sampai akhirnya Steven pamit untuk kembali ke perusahaannya.
🌸🌸🌸
Malam harinya di apartemen Sean.
Saat ini Sean dan Sonia sedang makan malam bersama.
"Mas tadi dimarahi Ayah ya?" tanya Sonia.
"Enggak kok sayang. Cuma dikasih sedikit nasehat aja."
"Beneran?"
__ADS_1
"Iya, beneran sayang," kata Sean meyakinkan Sonia sambil tersenyum.
Sean dan Steven memutuskan untuk tidak memberitahukan keadaan yang sebenarnya tentang Raka kepada Sonia. Tidak ingin membuat Sonia takut dan khawatir berlebihan.
"Malu banget aku Mas, ketahuan sama Ayah kayak tadi," keluh Sonia dengan wajah manyun.
"Kenapa harus malu sayang?" tanya Sean dengan tertawa kecil.
"Mas sih kalau aku bilangin ngeyel. Aku kan udah berkali-kali bilang Mas, jangan lebih dari jam istirahat," keluh Sonia lagi.
Sean masih terkikik melihat wajah Sonia yang merajuk seperti itu.
"Malah ketawa lagi," gerutu Sonia kesal.
"Iya sayang, iya. Mas minta maaf deh nggak dengerin omongan kamu," balas Sean pada akhirnya.
"Padahal di rumah juga udah, masih aja nambah pas di kantor. Emangnya Mas nggak capek apa?" tanya Sonia menggerutu.
"Kalau sama kamu mah nggak akan pernah ada kata capek buat Mas, sayang. Bahkan kurang terus yang ada. Makanya pengen nambah lagi dan lagi," goda Sean.
"Mas Sean iiihhh,,," gerutu Sonia dengan memanjangkan kata.
Sean kembali tergelak. Mengusak pelan puncak kepala Sonia. Sebuah kesenangan tersendiri bagi Sean sekarang untuk selalu menggoda Sonia seperti itu.
🌸🌸🌸
Sementara itu di tempat Raka.
"Bagaimana perkembangannya?" tanya Raka pada asistennya.
"Sesuai informasi dari pemuda itu, kita sudah mendapatkan alamat apartemen dan kantor Sean dan Sonia. Tapi sepertinya mereka juga sudah mengantisipasi serangan kita bos. Mereka memperketat penjagaan dan pengawasan di sekitar apartemen dan juga terhadap Sonia," jawab sang asisten melaporkan.
Raka tersenyum mencibir.
"Rupanya Steven benar-benar tidak bisa kita anggap remeh. Tapi kita lihat saja, kali ini siapa yang lebih unggul. Karena Raka yang sekarang bukan Raka yang dia kenal dulu," kata Raka dengan menyeringai.
"Apa rencana kalian?" tanya Raka lagi.
"Berdasarkan informasi yang kami dapat, besok sore Sean ada meeting penting dengan klien. Dengan kata lain, Sonia akan terlepas dari pengawasan Sean untuk sementara waktu. Dan kami akan memanfaatkan kesempatan itu untuk bisa menculik Sonia, bos."
"Kalian yakin tidak ada pengawal yang menjaga gadis itu?"
"Ada bos. Dan kami juga sudah memperhitungkan masalah itu dengan baik."
"Bagus. Segera dapatkan gadis itu. Aku juga sudah tidak sabar untuk membuat perhitungan dengan Steven dan anaknya yang bernama Sean itu. Berani sekali mereka mengambil gadis yang seharusnya menjadi milik Raka."
__ADS_1
"Sekalian saja, aku juga akan membalas dendam atas perbuatan Steven yang sudah membuatku masuk penjara dulu. Benar-benar permainan yang luar biasa. Aku bisa menghancurkan ayah dan anak itu sekaligus, hahahahaha,,,"
Suara tawa Raka menggelegar memenuhi ruangan itu. Akankah rencana licik yang sudah disusun oleh anak buah Raka itu akan berhasil?