Cinta Sheila

Cinta Sheila
Menjaga Dan Melindungimu


__ADS_3

Steven dan Danny terus berkendara mencari keberadaan mobil yang membawa pergi Sheila. Sampai akhirnya,


Tiit tiit...


"Gotcha!!! Sheila sudah menekan jam-nya," teriak Steven bersemangat.


Danny di sampingnya merasa sedikit lega.


Steven lalu mengotak atik handphone-nya untuk mengetahui lokasi keberadaan Sheila sekarang.


"Lebih cepat lagi Dan. Posisinya ada di pinggiran kota."


Setelah mendapatkan arahan dari Steven, Danny mengemudikan mobilnya secepat yang dia bisa. Steven menghubungi anak buahnya agar langsung menuju ke tempat yang dia sebutkan.


Beberapa saat kemudian Steven dan Danny sampai di sebuah rumah di pinggir pantai. Rumahnya tidak terlalu besar tapi cukup terawat. Terlihat beberapa pemuda berjaga di luar, mungkin itu teman-teman Alex.


Steven dan Danny bergegas turun dan langsung menerobos masuk. Mendapat perlawanan tentu saja. Perkelahian pun tak terelakkan. Meski dikeroyok lima orang tapi Steven dan Danny tidak merasa kewalahan.


Sesaat kemudian anak buah Steven datang dan langsung membantu.


"Lo masuk aja Steve, biar kita urus mereka," kata Danny.


Steven mengangguk. Dia lalu berlari menerobos masuk ke dalam rumah. Terdengar teriakan Sheila dari salah satu kamar. Steven segera berlari menuju ke kamar tersebut. Mendapati pintu kamar yang terkunci Steven pun berusaha mendobraknya sekuat tenaga.


Brakkk!!!


Steven melihat nyalang Alex yang berusaha merobek kaos Sheila yang tergeletak lemah di lantai.


"Jauhkan tanganmu dari istriku!" raung Steven penuh amarah.


Steven kemudian berlari memburu Alex. Mencengkeram kerah bajunya lalu mendaratkan satu pukulan keras di wajah Alex. Tidak berhenti sampai disitu, Steven terus memukuli Alex dengan membabi buta, meluapkan semua emosinya.


Steven baru berhenti setelah Danny dan beberapa anak buahnya masuk dan meringkus Alex yang sudah terkapar tidak berdaya di lantai. Steven segera berlari menghampiri Sheila. Direngkuhnya tubuh istrinya yang tergeletak lemah di lantai.


"Kau tidak apa-apa Shei?" tanya Steven panik melihat kondisi istrinya yang cukup mengenaskan.


Sheila tersenyum lembut. "Aku tau mas pasti akan datang."


Setelah berkata demikian Sheila lalu jatuh pingsan.


"Sheila. Bangun Shei," teriak Steven bertambah panik.


Steven segera menggendong Sheila.


"Kita ke rumah sakit Dan. Kalian urus mereka semua," perintah Steven.


"Baik Tuan," balas para anak buah Steven.


Steven dan Danny segera membawa Sheila ke rumah sakit.


...


Perlahan-lahan Sheila mulai membuka matanya. Kepalanya masih pusing dan dia juga sedikit bingung karena terbangun di tempat yang asing.


"Syukurlah kau sudah sadar Shei," kata Steven lega.

__ADS_1


Sheila melihat ke arah Steven yang duduk di sebelah bed-nya sembari menggenggam tangan kirinya yang bebas dari jarum infus. Dahi dan lengan Sheila yang terluka sudah terbalut perban. Memar di pipi dan robek di sudut bibirnya yang nampak keunguan, masih begitu nyeri dirasakan Sheila.


"Aku dimana mas?"


"Di rumah sakit Shei."


Sheila mengernyitkan keningnya. Ingatannya lalu ditarik mundur mengenai kejadian apa saja yang sudah dialaminya. Sedikit terkejut Sheila lalu balik menggenggam tangan Steven.


"Papa dan keluarga yang lainnya sudah tau mas?"


"Belum. Maaf aku terlalu panik sampai lupa mengabari mereka."


Sheila menghembuskan nafas lega."Tolong jangan beritahu keluarga kita yang lain ya mas," pinta Sheila.


"Kenapa Shei?" tanya Steven bingung.


"Aku tidak ingin membuat mereka semua merasa khawatir mas. Bisakah kalau kita tidak pulang ke rumah dulu? Minimal sampai memarku hilang saja mas," pinta Sheila lagi sambil menggenggam erat tangan Steven.


Steven terdiam tampak berfikir.


"Baiklah, kita pulang ke apartemenku nanti."


"Apa aku sudah boleh pulang sekarang mas?"


"Kondisimu belum pulih benar Shei."


"Tolonglah mas, aku selalu teringat kejadian Ayah Jason dan Bunda Miranda kalau berlama-lama di rumah sakit. Aku mau pulang saja mas, aku bisa istirahat di rumah, aku udah gak pa-pa, sungguh," kata Sheila mencoba meyakinkan Steven.


Steven melihat raut wajah Sheila yang tertekan, ketakutan dan memelas dalam waktu bersamaan. Mengesah pelan Steven kemudian mengangguk.


Sheila nampak tersenyum lega. Steven kemudian menelpon Danny dan menyuruhnya mengurus kepulangan Sheila dari rumah sakit.


Beberapa saat kemudian masuk seorang dokter wanita cantik diikuti suster dan juga Danny di belakangnya.


"Kenapa maksa pulang sih Steve? Kondisi istrimu belum pulih," tanya dokter wanita itu.


"Sheila pengen istirahat di rumah aja kak," jawab Steven, dia lalu beralih ke Sheila, " Sheila ini kak Kania, dia kakaknya Ken," lanjutnya memperkenalkan mereka berdua.


"Hai Sheila, aku Kania kakaknya Ken."


"Hai kak, salam kenal," kata Sheila tersenyum ramah.


"Ya udah, kakak ijinin kamu pulang, tapi dengan syarat tiap hari sepulang dari rumah sakit kakak sendiri yang akan datang memeriksa kondisimu, oke?"


"Iya kak, maaf merepotkan," kata Sheila dengan senyum ramahnya.


Kania membalasnya dengan senyuman tak kalah ramah. Suster kemudian melepas jarum infus pada tangan Sheila dan menutupnya dengan plester.


...


Danny membuka pintu apartemen kemudian Sheila masuk ke dalam dibantu Steven. Steven langsung membawa Sheila masuk ke kamar dan membantunya merebahkan diri di ranjang. Steven lalu menarik selimut menutupi tubuh Sheila sampai sebatas perut.


"Lo tenang aja Shei, gue udah ngode temen-temen Lo untuk merahasiakan kejadian ini dari keluarga kalian. Lusia tadi bilang besok pulang kuliah mereka langsung kesini."


"Makasih banyak ya Dan," kata Sheila tulus.

__ADS_1


"Sama-sama. Gue tadi juga udah ngabarin Bik Lastri Steve mulai besok Bik Lastri akan dateng tiap hari."


"Oke. Thanks bro untuk hari ini."


"It's okey. Udah malem, gue balik ya. Cepet sembuh ya Shei gue balik dulu," pamit Danny.


Sheila mengangguk dan tersenyum, "Makasih ya Dan, hati-hati."


Danny lalu pergi meninggalkan mereka berdua di apartemen.


"Terima kasih ya mas, udah nolongin aku. Dan maaf kalau aku merepotkan mas," kata Sheila setelah Danny pulang.


"Kamu ngomong apa sih Shei. Itu udah tanggung jawabku untuk selalu menjaga dan melindungi kamu. Tidak ada kata merepotkan," balas Steven sembari duduk di pinggir ranjang.


Air mata Sheila mengalir di pipinya. Hatinya menghangat mendengar perkataan Steven yang sarat akan perhatian.


"Hei, kenapa nangis? Ada yang sakit lagi?" tanya Steven sedikit panik.


Sheila menghapus air matanya lalu menggeleng pelan dan tersenyum.


"Maaf ya Shei aku datang terlambat, sampai kamu harus terluka seperti ini."


"Mas gak salah. Mas dateng aja aku udah bersyukur banget," kata Sheila sambil memegang tangan kanan Steven.


Steven balas menggenggam tangan Sheila.


"Tidur ya, udah malem, kamu harus banyak istirahat."


Sheila tersenyum dan mengangguk. Steven lalu ikut naik ke atas ranjang dan masuk ke dalam selimut.


Baru sekitar satu jam tertidur Steven merasakan Sheila yang bergerak gelisah di sebelahnya.


"Jangan kak, tolong lepaskan," racau Sheila dalam tidurnya.


"Sheila. Shei," kata Steven mencoba membangunkan Sheila dengan mengguncangkan bahunya.


Sontak Sheila langsung membuka kedua matanya. Nafasnya tersengal-sengal, air mata langsung membasahi pipinya.


"Mas," reflek Sheila langsung memeluk Steven.


Sheila menumpahkan tangisannya dalam pelukan suaminya. Ternyata ketakutan itu masih ada. Steven membalas pelukan Sheila dan mengusap-usap punggung Sheila naik turun, mencoba menenangkan.


"Sssttt, jangan takut, ada mas disini. Mas akan selalu menjaga dan melindungi kamu, ya."


"Aku takut mas."


"Ada mas disini. Kamu tenang aja ya. Kamu percaya kan sama mas?" tanya Steven setelah menjauhkan sedikit badannya dari Sheila demi bisa melihat wajah Sheila.


Sheila mengangguk. Steven lalu menghapus air mata di wajah Sheila menggunakan ibu jarinya.


"Kita tidur lagi ya."


Sheila kembali mengangguk. Steven kemudian membawa tubuh Sheila dalam pelukannya untuk kembali berbaring. Dikecupnya puncak kepala Sheila kemudian membelainya lembut.


Sheila melingkarkan tangannya di pinggang Steven, melesakkan wajahnya di dada sang suami. Isakannya masih terdengar. Lama kelamaan nafasnya berubah teratur. Berada dalam pelukan Steven membuatnya merasa nyaman dan tenang hingga akhirnya dia tertidur.

__ADS_1


Steven kembali mengecup puncak kepala Sheila. Dalam hati dia berjanji tidak akan membiarkan hal ini sampai terjadi lagi. Dia akan selalu menjaga dan melindungi Sheila.


__ADS_2