Cinta Sheila

Cinta Sheila
S2 Buku Nikah


__ADS_3

Sudah tiga hari Sean dan Sonia berada di desa. Kemarin pagi bahkan Sean sudah diajak oleh Sonia untuk ziarah ke makam ayah Ihsan. Tentu saja kesempatan itu sekaligus mereka gunakan untuk meminta restu kepada almarhum ayah Ihsan tentang pernikahan mereka.


Sekarang sudah hari Minggu. Mau tidak mau Sean dan Sonia harus kembali ke ibu kota karena besok mereka harus kembali masuk kerja.


"Kakak sama Mas Sean balik dulu ya Bu. Maaf nggak bisa lama disini," kata Sonia meminta maaf sambil memeluk Suci.


"Iya kak, nggak pa-pa. Ibu ngerti kok, besok kalian kan harus masuk kerja. Apalagi Sean yang memiliki tanggung jawab yang besar di perusahaan, tentu saja tidak bisa meninggalkan pekerjaan-nya terlalu lama," balas Suci.


"Iya Bu," kata Sonia setelah melepas pelukan mereka.


"Kami balik dulu ya Bu. Kalau ada masalah, apapun itu, jangan sungkan untuk langsung menghubungi Sean ya Bu," kata Sean juga.


"Iya Sean. Kalian berdua hati-hati ya. Ibu titip Sonia sama kamu."


"Pasti Bu. Sean akan menjaga dan melindungi Sonia dengan sebaik yang Sean mampu. Ibu tidak perlu khawatir."


Suci tersenyum lembut kemudian menganggukkan kepalanya, mengiyakan perkataan Sean. Sean dan Sonia kemudian mencium punggung tangan kanan Suci. Setelah itu gantian Sendy dan Dennis yang mencium punggung tangan kanan Sean dan Sonia.


"Assalamu'alaikum," pamit Sean dan Sonia bersamaan.


"Wa'alaikumsalam," balas Suci, Sendy, dan Dennis.


Sean dan Sonia kemudian memasuki mobil anak buah Bima yang sudah menunggu mereka sedari tadi. Mobil pun mulai bergerak meninggalkan halaman rumah diiringi lambaian tangan dari Suci, Sendy, dan Dennis.


🌸🌸🌸


Keesokan harinya. Sean dan Sonia sudah kembali masuk kerja seperti biasanya.


Tok tok tok.


Terdengar ketukan pada pintu ruangan kerja Sean. Tidak lama kemudian pintu mengayun terbuka dan Nadirga melangkah masuk ke dalam ruangan. Nadirga pun menghampiri Sean yang sedang sibuk dengan beberapa berkas di meja kerjanya itu.


"Buku nikah anda sudah jadi Pak. Silahkan," kata Nadirga seraya menyerahkan dua buah buku nikah kepada Sean.


"Thanks ya Ga," balas Sean seraya menerima dua buku nikah dari tangan Nadirga.


"Sama-sama Pak. Itu sudah menjadi kewajiban saya."


"Gue kok risih ya Ga, denger Lo panggil gue Pak kayak gitu," keluh Sean.


"Dibiasakan aja Pak. Biar bagaimanapun juga bapak adalah atasan saya di kantor, jadi selama di kantor saya tetap harus bersikap profesional," jawab Nadirga.


"Haish, terserah Lo aja lah Ga kalau gitu."


Nadirga tersenyum menanggapi.


"Oh iya Pak, sore ini bapak ada meeting dengan Mr. Kim," kata Nadirga memberitahukan jadwal Sean hari ini.

__ADS_1


"Haduh, alamat lama ini kalau meeting sama Mr. Kim. Ada aja bahan buat diomongin," keluh Sean sambil memijat pelipisnya.


"Tapi biar bagaimanapun juga Mr. Kim adalah salah satu investor terbesar kita Pak."


"Huft, maka dari itu gue selalu bersikap sopan sama dia dan berusaha menanggapi semua cerita dia dengan baik. Hmh, ada ya ternyata laki-laki yang cerewet kayak Mr. Kim gitu, kirain cewek aja yang biasanya cerewet."


Sean dan Nadirga tertawa kecil bersamaan.


"Ya udah, tolong kamu siapin semua yang kita perlukan untuk meeting nanti ya "


"Baik Pak. Saya permisi dulu kalau begitu."


Nadirga kemudian pergi meninggalkan ruangan Sean. Setelah Nadirga menghilang di balik pintu, Sean kemudian mengambil ponselnya yang tergeletak di atas meja dan mengetikkan pesan kepada Sonia.


'Mas ada meeting penting sore ini, pulangnya mungkin agak malam. Kamu nggak pa-pa kan pulang sendiri? Atau biar Mas suruh sopir buat jemput kamu?'


Sesaat kemudian terdengar sebuah notifikasi pesan masuk. Sean segera membuka pesan tersebut.


'Aku pulang sendiri aja Mas, nggak pa-pa kok. Semangat ya Mas. Aku do'akan semoga meeting-nya nanti lancar, aamiin.'


Senyum Sean terbit di bibirnya. Ada rasa yang begitu hangat memenuhi relung hatinya. Sebuah perhatian kecil seperti ini saja sudah membuat Sean merasa begitu bahagia.


🌸🌸🌸


Sudah jam sembilan malam lebih dan Sean belum juga pulang. Jujur saja ada sedikit rasa khawatir yang Sonia rasakan. Tapi Sonia mencoba untuk berpikir positif, mungkin memang meeting-nya belum selesai.


Sonia yang saat ini sedang mengaplikasikan cream malam pada wajahnya sedikit melamun sehingga tidak menyadari kedatangan Sean.


Langkah Sean terhenti melihat pemandangan yang begitu menakjubkan di depan matanya. Untuk pertama kalinya Sean melihat Sonia tanpa mengenakan hijabnya. Rambut Sonia panjang, hitam, dan begitu indah. Sean benar-benar terpukau melihat pemandangan tersebut.


Sean tersenyum kecil melihat Sonia yang sedang melamun di depan meja riasnya sambil mengaplikasikan cream malam ke wajahnya.


"Assalamu'alaikum," sapa Sean lembut tidak ingin membuat Sonia terkejut.


Tapi tetap saja, Sean melihat Sonia sedikit berjengit kemudian langsung menoleh ke arah Sean.


"Mas sudah pulang? Wa'alaikumsalam. Eh,,," Sonia kembali terkejut menyadari saat ini dirinya tidak mengenakan hijab.


Sonia segera bangkit berdiri dan hendak mengambil jilbabnya yang dia letakkan di atas tempat tidur. Namun secepat kilat Sean segera menangkap tangan Sonia.


"Kenapa? Apa Mas tidak boleh melihatnya? Mas suami kamu sekarang," kata Sean sambil tersenyum lembut.


"Maaf Mas. Aku hanya masih malu dan belum terbiasa," jawab Sonia dengan menundukkan wajahnya.


Sean semakin melebarkan senyuman-nya. Sean kemudian membawa Sonia untuk duduk di tepi ranjang bersama dirinya.


"Biasakan mulai sekarang, ya. Kalau di dalam kamar kamu nggak perlu pakai jilbab kamu. Apa kamu keberatan?"

__ADS_1


Sonia menggelengkan kepalanya.


"Baguslah kalau begitu. Kamu cantik sekali Sonia, rambut kamu indah," puji Sean seraya mengelus lembut rambut hitam Sonia.


Sonia tersipu dan sedikit salah tingkah dengan perlakuan Sean tersebut. Jantungnya bahkan sudah berdetak tidak beraturan di dalam sana.


Sean seperti tersihir dengan kelembutan rambut Sonia. Dari tadi Sean tidak berhenti dan terus menyentuh serta mengelus rambut hitam Sonia.


"Mas," panggil Sonia, dia harus segera menghentikan adegan ini atau jantungnya tidak akan mampu lagi mentolerir detakan yang dirasakannya semakin menggila ini.


"Ah, eh, iya," Sean pun sedikit tergagap kemudian menarik tangannya dari rambut Sonia.


Sean berdehem untuk menormalkan kembali detak jantungnya yang ternyata juga sama hebohnya dengan detak jantung Sonia.


"Oh iya Sonia, ada sesuatu yang mau Mas tunjukin sama kamu."


"Apa itu Mas?"


Sean kemudian mengambil dua buku nikah yang tadi diberikan Nadirga kepada dirinya dan memberikan kedua buku nikah tersebut kepada Sonia.


"Subhanallah," pekik Sonia pelan. "Buku nikah kita udah jadi Mas?" tanya Sonia sembari menerima dua buku nikah yang disodorkan Sean kepada dirinya.


"Alhamdulillaah, udah."


Wajah Sonia nampak berbinar menatap kedua buku nikah yang ada di tangannya saat ini. Sonia kemudian membuka buku nikah tersebut. Senyum merekah seketika terukir di bibir Sonia.


"Besok sore sepulang dari kantor kita ke rumah Ayah ya. Kita beritahu kabar bahagia pernikahan kita pada keluarga Mas."


Sonia nampak sedikit terkejut. Raut wajah khawatir itu bisa ditangkap dengan baik oleh Sean.


"Jangan takut, semua pasti baik-baik saja. Mas sudah menghubungi Ayah tadi sore, dan Ayah juga sudah setuju kita datang besok. Ayah bilang Ayah yang akan mempersiapkan semuanya di rumah. Kamu mau kan besok pulang ke rumah Ayah bersama Mas?"


"Iya Mas, aku mau," jawab Sonia dengan tersenyum lembut.


Sean pun ikut tersenyum kemudian mengusap kepala Sonia dengan lembut. Merasakan kembali kelembutan rambut Sonia dengan sentuhan tangannya.


Sonia yang awalnya tersipu seketika menegang mengingat sesuatu.


"Safa?" lirih Sonia.


"Iya, kamu juga akan ketemu sama Safa," jawab Sean mantap.


Air mata seketika lolos begitu saja dari mata indah Sonia. Tapi justru senyuman yang terukir di bibir wanita cantik itu. Sean menghapus air mata Sonia dengan ibu jarinya kemudian merengkuh tubuh istrinya itu ke dalam pelukannya.


"Sssttt, jangan nangis lagi, ya."


"Aku kangen banget sama Safa, Mas," lirih Sonia di sela isak tangisnya.

__ADS_1


"Iya, Mas tau itu. Safa juga kangen banget sama kamu. Sabar ya, besok Mas bawa kamu ketemu sama Safa."


Sean merasakan anggukan Sonia di dadanya. Sean pun mencium puncak kepala Sonia kemudian mengusap-usap punggungnya lembut.


__ADS_2