Cinta Sheila

Cinta Sheila
Kontraksi


__ADS_3

Ken dan Santi sedang mengobrol berdua di kursi taman di luar ballroom. Ken sengaja mengajak Santi keluar untuk mencari udara segar sekaligus ingin membuat gadis pujaannya itu ceria kembali.


"Santi, bisa kita bicara sebentar?" tanya Ryo yang tiba-tiba datang.


Ken dan Santi menoleh bersamaan karena sama-sama merasa kaget dengan kedatangan Ryo yang tiba-tiba.


"Maaf, tapi sepertinya tidak ada yang perlu kita bicarakan," tolak Santi sopan.


"Aku mohon San, kasih aku kesempatan untuk bicara sama kamu," mohon Ryo.


Ken meremas lembut tangan Santi yang sedang digenggamnya dan tersenyum mengiyakan ketika Santi menoleh ke arahnya.


"Baiklah, kamu bisa bicara sekarang," kata Santi pada akhirnya.


"Tidak disini. Aku ingin kita bicara berdua saja," pinta Ryo lagi.


"Nope. Bicara sekarang atau tidak sama sekali. Aku tidak ingin menimbulkan masalah baru," tegas Santi.


"Bicaralah Yo, gue nggak akan ikut campur urusan kalian. Gue disini cuma menghindari supaya Leana ataupun orang lain nggak salah paham kalau melihat kalian bicara berdua saja," kata Ken bijak.


Menghembuskan nafasnya kasar, Ryo akui perkataan Ken benar.


"Aku mau minta maaf sama kamu San, tolong maafkan aku untuk semua kesalahanku dulu," kata Ryo memulai pembicaraannya.


"Udah aku maafin dari dulu, tenang aja," jawab Santi ringan.


"Tapi jujur, aku masih sayang sama kamu San, sampai sekarang," kata Ryo lagi.


Rahang Ken mengeras mendengar perkataan Ryo, tapi Santi segera meremas lembut jari tangan Ken yang sedang bertautan dengan jemarinya, mencoba menenangkan Ken.


"Jangan bicara omong kosong Ryo, kamu sudah punya tunangan sekarang," Santi mengingatkan Ryo, masih dengan sikap tenangnya.


"Tapi sungguh aku masih sayang sama kamu San," Ryo mencoba meyakinkan.


"Sayang? Setelah tiga tahun dan sekarang kamu ngomong kayak gitu?" cibir Santi.


"Justru selama tiga tahun itu aku mencoba untuk melupakan kamu dan menerima keputusan dari Mamah, tapi ternyata tidak bisa. Dan baru aku sadari kalau ternyata aku masih menyayangi kamu San, aku masih mencintai kamu," aku Ryo.


"Cukup Ryo. Terlambat kamu mengatakan semua itu sekarang. Rasa itu sudah mati sejak kamu memutuskan untuk meninggalkan aku tanpa membelaku sedikit pun tiga tahun yang lalu. Sekarang sebaiknya kita jalani kehidupan kita masing-masing dan jangan pernah mengungkit masalah yang telah lalu," kata Santi.


"Tapi aku tidak bisa San. Semakin aku mencoba melupakan kamu semakin aku menyadari kalau aku masih sangat menyayangi kamu," kata Ryo memelas.

__ADS_1


"Sudahlah Ryo, sebaiknya kita akhiri pembicaraan ini karena tidak akan ada manfaatnya. Lupakan masa lalu, sekarang kita juga sudah memiliki pasangan masing-masing. Satu pesan dariku, belajarlah dari pengalaman. Hargai orang yang mencintaimu dengan tulus. Karena yang tulus pun bisa pergi ketika merasa lelah karena selalu kamu abaikan," kata Santi menyudahi pembicaraannya.


Santi kemudian menarik Ken untuk ikut berdiri bersamanya. Setelah itu keduanya pergi meninggalkan Ryo yang masih termenung dalam pemikirannya sendiri.


"Hmh, ada yang niru kata-kata Mas rupanya," kata Ken.


Santi yang sedang menggenggam tangan Ken pun menoleh kemudian tergelak ringan.


"Habisnya kata-kata Mas menyentuh banget sih, maknanya dalem banget. Santi jadi terinspirasi deh," balas Santi.


"Nggak gratis ya, harus ada imbalannya," kata Ken lagi.


"Oh ya, Mas mau minta imbalan apa emangnya?" tanya Santi.


Ken menghentikan langkahnya membuat Santi pun ikut berhenti. Posisi mereka berdua masih berada di luar ballroom sekarang.


Ken kemudian merangkum wajah Santi dengan satu tangannya yang bebas. Perlahan mendekatkan wajahnya kemudian mencium bibir Santi pelan dan lembut. Menyesapnya perlahan penuh perasaan sayang. Santi yang awalnya kaget pun akhirnya ikut memejamkan mata, terbuai dengan manisnya rayuan Ken pada bibirnya.


Jantung Santi sudah menggila di dalam dadanya, ini adalah pertama kali untuk Santi. Sementara Ken, memang ini bukan yang pertama untuknya, tapi jantungnya pun tak kalah heboh debarannya. Rasanya benar-benar berbeda. Perasaannya membuncah bahagia.


Ken melepas ciumannya setelah merasakan Santi mulai kehabisan nafas. Menyatukan keningnya dengan kening Santi, keduanya masih terpejam sambil mengatur nafas masing-masing yang tidak beraturan.


"Mas mencintai kamu San," kata Ken untuk yang kesekian kalinya kemudian menarik Santi ke dalam pelukannya.


"Sayang kamu beneran nggak pa-pa? Wajah kamu makin pucat loh," tanya Steven sambil mengelus tangan Sheila yang digenggamnya.


"Iya Shei, kamu juga keringat dingin gitu. Ada apa?" tanya Anita juga.


Sheila justru mengeratkan genggaman tangannya pada tangan Steven membuat Steven semakin khawatir.


"Sayang, ada apa? Ada yang sakit?" tanya Steven lagi nampak begitu khawatir.


"Perut aku sakit Mas," jawab Sheila pelan sambil meringis.


"Kamu mengalami kontraksi sayang?" tanya Steven cemas sambil mengelus perut Sheila.


Sheila hanya mampu menganggukkan kepalanya.


"Bawa ke rumah sakit sekarang Steve," saran Anita.


"Iya kak," jawab Steven mantap. "Bang, tolong hubungi Pak Damar, suruh stand by di depan. Tadi aku udah suruh nunggu soalnya. Aku akan bawa Sheila keluar lewat pintu samping. Setelah itu tolong beritahu Papa, Mama, dan keluarga yang lain pelan-pelan, suruh langsung nyusul ke rumah sakit," kata Steven menginstruksikan kepada Andika.

__ADS_1


"Oke Steve," balas Andika yang langsung menghubungi Pak Damar.


"Bu Sheila kenapa Pak?" tanya Santi yang baru saja datang bersama Ken.


"Sepertinya Sheila akan melahirkan sekarang. Ken tolong Lo hubungi Tante Wanda ya, suruh siapin semuanya. Gue bawa Sheila ke rumah sakit sekarang," jawab Steven sekaligus meminta tolong kepada Ken.


"Oke Bro. Hati-hati ya, gue sama Santi segera nyusul setelah pamitan," balas Ken.


"Oke," kata Steven.


"Pak Damar udah siap Steve. Kamu bawa Sheila sekarang. Abang nyusul sama Pak Ricko dan Bu Amel nanti," kata Andika.


"Oke Bang. Thanks semuanya, mohon do'anya ya," pinta Steven.


Steven segera membopong Sheila setelah mendapat anggukan dari Andika, Anita, Ken, dan Santi. Steven keluar lewat pintu samping, menghindari kehebohan.


"Sakit banget ya sayang?" tanya Steven sambil berusaha secepat mungkin tiba di depan.


"Enggak kok Mas," jawab Sheila lemah tidak ingin membuat Steven semakin khawatir.


Sampai di depan Pak Damar sudah menunggu dengan pintu mobil yang sudah terbuka. Steven membawa Sheila duduk di kursi belakang dengan hati-hati. Sekuat tenaga mencoba untuk tetap tenang, walaupun jujur pikirannya pun lumayan kalut. Tidak tega melihat Sheila yang kesakitan dan juga gugup dengan proses persalinan yang akan dijalani istrinya itu.


"Tolong secepat mungkin ya Pak," pinta Steven kepada Pak Damar.


"Baik Den," balas Pak Damar.


Sesuai perintah Pak Damar mengemudikan mobilnya sedikit lebih cepat tapi tetap berhati-hati. Sesampainya di rumah sakit, dokter Wanda sudah menunggu di depan loby bersama beberapa perawat yang membawa brankar.


Sheila segera dibawa ke ruangan bersalin. Steven terus menggenggam tangan Sheila, mencoba menyalurkan kekuatan.


"Sabar ya sayang, kamu pasti bisa, Mas tahu kamu sangat kuat," kata Steven menyemangati.


Sheila tersenyum lembut kemudian menganggukkan kepalanya, membalas perkataan Steven.


"Kamu tunggu dulu ya Steve, biar Tante periksa dulu keadaan Sheila," kata dokter Wanda menghentikan Steven di depan ruang bersalin.


"Tapi nanti Steven boleh masuk menemani Sheila kan Tan?" tanya Steven memohon.


"Tentu boleh. Tapi sekarang kamu tunggu dulu ya, biarkan Tante observasi istri kamu dulu," jawab dokter Wanda.


Steven pun akhirnya menunggu di luar seperti yang diinstruksikan dokter Wanda. Beberapa saat kemudian seorang perawat meminta Steven untuk ikut masuk ke dalam ruang bersalin.

__ADS_1


"It's show time," lirih Steven.


__ADS_2