Cinta Sheila

Cinta Sheila
Rencana Syukuran


__ADS_3

Hari yang sudah beranjak siang. Perlahan-lahan Steven mulai membuka matanya. Sheila yang duduk di sebelah bed Steven pun sudah menunggu dengan perasaan berdebar-debar. Begitu juga dengan Andika, Ricko, dan Amelia yang berdiri di sisi bed satu lagi.


"Mas," panggil Sheila ketika Steven berhasil membuka matanya meski masih dengan mengerjab sesekali.


"Shei," lirih Steven.


Air mata lolos begitu saja. Sheila mengangkat tangan Steven yang sedari tadi dipegangnya kemudian menciumnya. Andika kemudian memencet tombol di atas bed Steven untuk memanggil dokter.


"Alhamdulillaah akhirnya Mas sadar juga," kata Sheila.


"Kamu nggak pa-pa kan sayang?" tanya Steven.


"Harusnya aku yang tanya kayak gitu, Mas nggak pa-pa kan? Pasti masih sakit ya?" tanya Sheila masih terlihat sangat khawatir.


Steven tersenyum lembut, begitu juga dengan Andika, Ricko, dan Amelia.


"Demi kamu sama adek bayi, apapun akan Mas lakuin."


"Makasih ya Mas, selalu ada untuk melindungi kami," kata Sheila dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


"Itu sudah menjadi kewajiban Mas, sayang."


Tidak lama kemudian dokter dan perawat masuk. Dokter lalu memeriksa kondisi Steven. Sheila berdiri dan memberi ruang kepada dokter dan perawat untuk melaksanakan tugasnya.


"Bagaimana dok?" tanya Sheila tidak sabar setelah dokter selesai memeriksa kondisi Steven.


"Kondisi pasien sudah stabil. Tinggal menunggu pemulihan-nya saja. Usahakan jangan terlalu banyak bergerak dulu ya biar jahitan di lukanya bisa segera kering," pesan dokter.


"Baik Dok, terima kasih banyak," kata Sheila.


Setelah dokter dan perawat keluar Sheila kembali duduk di sebelah Steven. Menggenggam tangan Steven yang tidak diinfus kemudian menciumnya.


"Maafin Mas ya sayang," lirih Steven.


"Aku yang salah, aku yang minta maaf sama Mas. Dari awal aku sebenarnya udah curiga sama sopir itu. Dan harusnya aku nggak mau ikut sama sopir itu. Kalau saja aku nggak ikut sama sopir itu pasti semua ini nggak akan terjadi Mas," sesal Sheila.


"Sssttt. Udah, jangan menyalahkan diri kamu sendiri seperti itu, Mas nggak suka," kata Steven.

__ADS_1


"Kamu nggak pa-pa kan Steve?" tanya Amelia setelah Steven mengalihkan perhatiannya pada Mama-nya itu.


"Steven nggak pa-pa kok Ma, Pa," jawab Steven.


Ricko menghembuskan nafas kasar.


"Baru juga satu tahun, udah berapa kali coba kalian bolak balik ke rumah sakit? Kalau nggak Sheila ya kamu Steve," gerutu Ricko.


"Bukan mau Steven juga kayak gini Pa," jawab Steven enteng.


"Hobi kok keluar masuk rumah sakit. Nggak enak Papa sama keluarganya Jefri. Dikiranya kita nggak bisa jagain Sheila dengan baik," kata Ricko lagi.


"Kan kita udah berusaha semaksimal mungkin Pa. Yang namanya takdir dari Tuhan ya kita mau gimana lagi. Ayah sama keluarganya juga pasti paham kok," balas Steven.


"Ngeles aja kamu kalau dibilangin sama Papa."


"Bukannya ngeles Pa. Steven kan bicara fakta."


"Udah-udah, kok malah jadi pada debat sih, bahas masalah nggak penting kayak gitu," lerai Amelia yang paham betul watak suami dan anaknya.


"Danny mana Bang?" tanya Steven pada Andika.


"Kantor kurang personil dong Bang? Yas udah bisa masuk belum?"


"Kamu tenang aja, hari ini Yas udah mulai masuk, jadi dia bisa bantu Santi meng-handle pekerjaan kamu," Andika menjelaskan.


"Anak-anak?" tanya Steven lagi.


"Udah balik juga. Beberapa terluka tapi nggak parah, langsung diobati juga semalam disini," jawab Andika.


"Dua penjahat itu dan anak buahnya?" tanya Steven enggan menyebut nama Celine dan Raka.


"Om Arya udah ngurus semuanya dibantu Darius. Mereka nggak akan lolos kali ini," jawab Andika lagi.


"Mas ini lagi sakit tapi pikirannya masih aja mikirin semua orang, kebiasaan. Fokus sama kesembuhan Mas sendiri dulu kenapa sih," keluh Sheila sambil mengerucutkan bibirnya.


"Iya-iya sayang, maaf," kata Steven lembut. "Jangan cemberut gitu, Mas masih sanggup loh hukum kamu."

__ADS_1


"Apaan sih Mas. Sembuh dulu, pikirannya udah yang enggak-enggak aja."


"Eh, nantangin? Mau bukti?"


"Iya-iya percaya. Udah deh jangan aneh-aneh. Sembuh aja dulu, nggak usah mikir yang macem-macem."


"Siap Bunda," kata Steven pada akhirnya.


Sheila tersenyum mendengar Steven memanggilnya seperti itu. Andika, Ricko, dan Amelia juga hanya bisa tersenyum melihat interaksi sepasang suami istri itu.


...


Tiga hari dirawat di rumah sakit Steven akhirnya diperbolehkan untuk pulang. Menempuh perjalanan yang lumayan jauh, mobil yang dikendarai Andika pun akhirnya sampai dengan selamat di kediaman Ricko.


Setelah membantu Steven untuk masuk dan beristirahat di dalam kamarnya, Andika dan Ricko pamit berangkat ke kantor. Amelia juga sudah pamit meninggalkan Steven dan Sheila berdua di dalam kamar untuk beristirahat.


"Sayang, maaf ya acara anniversary pertama kita jadi gagal," kata Steven yang sedang bersandar pada headboard tempat tidur dengan memeluk Sheila.


"Nggak pa-pa kok Mas. Yang penting Mas selalu bersama dengan Sheila, itu udah lebih dari cukup," jawab Sheila dari dalam pelukan Steven.


"Weekend ini kita adain pengajian yuk sayang," ajak Steven tiba-tiba.


"Pengajian apa Mas?" tanya Sheila bingung.


"Syukuran ulang tahun pernikahan kita yang pertama sekaligus syukuran empat bulanan kehamilan kamu. Gimana menurut kamu, sayang?" tanya Steven setelah mendapat ide yang tiba-tiba muncul di kepalanya.


"Tinggal empat hari loh Mas sebelum weekend, emang cukup waktunya buat mempersiapkan semuanya? Repot banget pasti Mas mempersiapkan semuanya," Sheila balik bertanya.


"Kita buat yang sederhana aja sayang. Yang penting keluarga dan temen-temen kita. Sekalian tuh kita undang anak-anak panti asuhan tempatnya Santi. Itu kan panti asuhan milik Papa," kata Steven menjelaskan.


"Hmm, boleh juga tuh Mas. Aku setuju kalau begitu," balas Sheila antusias.


"Oke, biar Mas hubungi Santi untuk mempersiapkan semuanya" kata Steven lalu mengambil ponselnya di atas nakas di samping tempat tidur.


"Kasian Mbak Santi dong Mas, udah repot ngurusin semua pekerjaan yang Mas tinggalin, eh masih harus nyiapin semua untuk acara syukuran kita dan adek bayi," kata Sheila.


"Kan udah ada Yas sayang. Kerepotan Santi udah ada yang bantuin sekarang. Jangan salah, biarpun masih muda dan fresh graduate tapi kecakapan Yas itu tidak bisa diremehkan loh. Sama seperti Santi, Yas adalah salah satu anak panti yang cerdas yang lulus dengan nilai yang memuaskan. Nggak sia-sia deh pokoknya Papa membiayai pendidikan mereka," jawab Steven penuh keyakinan.

__ADS_1


Sheila hanya manggut-manggut mendengarkan penjelasan suaminya.


Steven kemudian menghubungi Santi dan meminta tolong untuk mempersiapkan segala sesuatu untuk acara syukuran yang akan diadakan weekend nanti. Syukuran ulang tahun pernikahan Steven dan Sheila yang pertama sekaligus syukuran empat bulanan kehamilan Sheila.


__ADS_2