Cinta Sheila

Cinta Sheila
S2 Ternyata Dia ...


__ADS_3

Hari Senin yang biasanya menjadi hari yang membosankan dan tidak disukai oleh sebagian orang, nyatanya tidak berlaku bagi Sean. Hari Senin ini Sean begitu bersemangat. Entah kenapa Sean begitu tidak sabar untuk segera bertemu kembali dan mendengar suara merdu gadis itu lagi.


Siang ini Sean melangkah ke arah musholla dengan begitu bersemangat. Senyum tipis juga tak lupa menghiasi wajah tampan Sean. Setelah melepas sepatunya Sean lalu mengambil wudhu kemudian melaksanakan ibadah sholat Dzuhur dengan khidmat.


Selesai sholat, dzikir, dan berdo'a, Sean mencari keberadaan gadis itu. Namun sayang, Sean sama sekali tidak melihat keberadaan gadis itu di dalam musholla ini. Raut kecewa nampak jelas terlihat di wajah Sean.


'Ini kan hari Senin, kenapa dia tidak mengaji seperti kemarin-kemarin? Apa dia sedang tidak berpuasa?' monolog Sean di dalam hatinya.


"Cari siapa Lo celingak celinguk gitu?" tanya Adrian tiba-tiba, mengagetkan Sean dari lamunannya.


"Hah, ah enggak. Nggak lagi nyari siapa-siapa kok," elak Sean.


"Tumben Lo baru turun buat sholat? Biasanya paling duluan," Sean mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Masih ada beberapa berkas yang perlu gue tanda tanganin tadi," jawab Adrian.


"Ya udah, buruan sholat. Gue tungguin di depan, kita makan siang bareng," kata Sean.


"Emang Lo nggak lagi ada acara lain?" tanya Adrian dengan memicingkan kedua matanya.


"Acara apaan? Kalau gue ada acara Lo pasti juga tau lah Yan, kan jadwal kita terhubung satu sama lain."


"Acara di luar jadwal kita mungkin," celetuk Adrian sambil menaikkan bahunya.


"Jangan ngadi-ngadi deh. Udah buruan sana sholat dulu," balas Sean malas kemudian berbalik dan melangkah keluar dari musholla tersebut.


'Sepertinya hari ini tidak berjalan sesuai dengan harapan Sean. Orang yang dia tunggu tidak muncul. Haish, jadi makin penasaran kan gue siapa orang itu,' batin Adrian sambil menggelengkan kepalanya pelan.


🌸🌸🌸


Ini sudah hari Kamis dan Sean berharap bisa bertemu dengan gadis itu lagi dan mendengarkan suara merdunya yang sedang mengaji.


Saat Sean sedang membuka sepatunya tanpa sengaja bertepatan dengan Hana, Tari, dan Fifi yang baru saja keluar dari musholla.


"Ana mana, kok belum kelihatan?" tanya Fifi sambil celingukan mencari keberadaan Sonia.


Sean masih ingat dengan ketiga wanita itu. Mereka adalah teman gadis berhijab itu. Sean pun kembali mempertajam indera pendengarannya, berharap mendapatkan informasi dari mereka bertiga.


"Masih di toilet mungkin ganti pembalut," jawab Tari sembari mengenakan heels-nya.


"Udah, chat aja suruh langsung nyusul ke kafetaria," usul Hana.


"Iya deh, gue chat dia sekarang," kata Fifi lalu mulai mengetikkan sesuatu di ponselnya.


"Udah yuk, keburu laper nih gue," celetuk Tari.


"Ah elo Ri, kebiasaan deh," balas Hana lalu ketiganya tertawa sambil beranjak meninggalkan musholla.

__ADS_1


'Ah, ternyata benar sedang halangan, pantas saja dari hari Senin aku nggak ngelihat gadis itu di musholla.'


Sean menghembuskan nafasnya lega. Dia kemudian beranjak ke tempat wudhu khusus laki-laki.


🌸🌸🌸


Tak terasa sekarang sudah hari Senin lagi. Dan siang ini Sean berharap sudah bisa melihat gadis itu lagi di musholla dan mendengar suara merdunya yang sedang mengaji.


Setelah mengambil wudhu Sean masuk ke dalam musholla dan pandangannya langsung jatuh kepada gadis berhijab itu dan ketiga temannya yang sedang melipat mukena mereka masing-masing.


'Ah, akhirnya,' Sean mendesah lega.


Sean kemudian melaksanakan ibadah sholat Dzuhur. Selesai sholat, dzikir, dan berdo'a, kembali Sean mengambil tempat duduk di dekat dinding, beberapa meter di depan gadis itu. Seperti biasanya Sean menundukkan kepalanya mendengarkan suara merdu gadis yang sedang mengaji itu.


Adrian diam-diam mengamati semua tingkah laku Sean dari luar. Dan ketika pandangannya sampai pada gadis berhijab yang sedang mengaji di belakang Sean, senyum tersungging di bibir Adrian.


'Jadi bener karena seorang gadis. Ah, akhirnya hati beku Lo mulai mencair juga Sean,' batin Adrian.


Tapi kemudian senyum itu sedikit demi sedikit mulai menghilang dari wajah Adrian ketika dia memperhatikan dengan seksama siapa gadis berhijab yang sedang mengaji itu. Samar-samar Adrian mulai mengenali wajah gadis itu.


"Mungkinkah?" tanya Adrian pada dirinya sendiri.


Adrian mengeluarkan ponselnya kemudian mengambil foto gadis itu. Setelah itu Adrian berbalik dan meninggalkan musholla. Dengan sedikit tergesa-gesa Adrian menuju ke ruangan HRD.


"Assalamu'alaikum, selamat siang Pak," sapa Adrian begitu memasuki ruangan Kepala HRD.


"Wa'alaikumsalam. Oh, Pak Adrian, ada yang bisa saya bantu Pak?" tanya Kepala HRD.


"Bapak kenal dengan karyawan ini?" tanya Adrian langsung pada intinya.


Sesaat Kepala HRD tersebut memperhatikan foto yang ditunjukkan oleh Adrian dengan sungguh-sungguh.


"Oh, dia Anastasia Pak. Karyawan baru di divisi keuangan," jawab Kepala HRD.


"Anastasia?" ulang Adrian meyakinkan apa yang dia dengar.


"Betul Pak. Dia mendapat rekomendasi langsung dari universitas negeri kota S. Dan Pak Yas juga menyampaikan pesan dari Pak Steven untuk langsung meng-ACC rekomendasi dari universitas negeri tersebut karena sudah memenuhi syarat," jawab Kepala HRD menjelaskan.


'Papa Yas? Ayah Steven?'


Adrian semakin dibuat bingung dengan keadaan saat ini.


"Boleh saya lihat data pribadi karyawan ini Pak?" pinta Adrian.


"Tentu Pak Adrian. Sebentar saya ambilkan."


Kepala HRD kemudian berdiri dan mencari data yang diminta Adrian di rak sebelah meja kerjanya.

__ADS_1


"Loh, bukannya bapak bilang namanya Anastasia, lalu kenapa bapak mencari di berkas huruf S?" tanya Adrian semakin bingung ketika melihat Kepala HRD mencari berkas di bagian huruf S.


Kepala HRD tersenyum kemudian membawa berkas yang sudah dia ambil dan menyerahkannya pada Adrian.


"Namanya memang Anastasia Pak, tapi ada inisial S di depan namanya," jawab Kepala HRD tersebut setelah kembali duduk di kursinya.


Adrian yang semakin penasaran pun segera membuka berkas yang ada di tangannya. Dan ketika melihat foto Sonia, Adrian semakin yakin kalau itu adalah Sonia sahabat Safa yang hilang selama ini.


"S. Anastasia W."


Adrian membaca nama yang tertulis di berkas tersebut. Dan ketika melihat fotokopi kartu keluarga yang terlampir di belakangnya, sontak mata Adrian membulat sempurna.


"Berkas ini saya pinjam dulu ya Pak," ijin Adrian.


"Iya Pak Adrian, silahkan."


"Saya permisi dulu kalau gitu Pak. Assalamu'alaikum," pamit Adrian.


"Silahkan Pak. Wa'alaikumsalam."


Adrian meninggalkan ruangan Kepala HRD. Begitu sampai di luar, melihat keadaan sekitar yang sepi dan aman, Adrian segera mengeluarkan ponselnya.


"Assalamu'alaikum, ada apa Yan?" tanya Steven dari seberang panggilan.


"Wa'alaikumsalam Yah. Sonia...," Adrian menggantungkan perkataannya.


"Ah, akhirnya kamu tau juga," kata Steven tidak tampak terkejut sama sekali.


"Jadi ayah sudah tau?" tanya Adrian semakin bingung.


"Ya, Ayah sudah tau. Bagaimana dengan Sean, dia tau juga?"


"Belum Yah. Bahkan ternyata gadis yang membuat Sean kepikiran dan hilang fokus belakangan ini itu adalah Sonia," jawab Adrian sekaligus memberi informasi.


"Apa? Kamu serius Yan?" tanya Steven yang kali ini terdengar begitu terkejut.


"Iya Yah."


"Kamu ke kantor ayah Dika sekarang. Ayah juga akan nyusulin kesana. Kita bicarakan masalah ini sama ayah kamu."


"Baik Yah. Rian berangkat sekarang."


"Jangan bilang apa-apa dulu sama Sean."


"Oke Yah. Sean juga masih di musholla sekarang, dengerin Sonia yang lagi ngaji."


"Ya udah, kita berangkat sekarang. Assalamu'alaikum."

__ADS_1


"Wa'alaikumsalam Yah."


Sambungan telepon terputus. Adrian kemudian bergegas menuju ke parkiran di basement gedung kantor itu.


__ADS_2