Cinta Sheila

Cinta Sheila
S2 New Season Begin : Kehilangan Sahabat


__ADS_3

Enam belas tahun kemudian.


Suara ponselnya yang berbunyi nyaring mengusik tidur lelap Sean. Tangan kanan Sean pun mulai meraba untuk mencari keberadaan ponselnya tersebut. Mata Sean menyipit melihat siapa yang menelponnya malam-malam begini.


"Syafiq?" gumam Sean.


Saat ini di London sudah jam satu malam, itu berarti disana pukul delapan pagi. Merasa ada yang tidak beres Sean pun segera menggeser tombol hijau di ponselnya.


"Assalamu'alaikum," sapa Sean.


"Wa'alaikumsalam, Safa masuk rumah sakit Bang. Ayah sama Bunda lagi di dalem nemenin Safa," kata Syafiq memberitahu.


"Apa? Kok bisa? Sakit apa?" tanya Sean yang langsung mendudukkan tubuhnya, kaget bercampur panik.


"Tante Kania bilang tekanan darah Safa rendah, udah gitu dari kemarin Safa juga nggak mau makan dan cuma mengurung diri di kamarnya aja. Menurut cerita Bunda sih Safa sedih karena sahabat baiknya di sekolah tiba-tiba saja pindah tanpa pemberitahuan terlebih dahulu, nggak pamitan juga ke Safa," jawab Syafiq menjelaskan apa yang diketahuinya.


"Udah coba cari tau tentang sahabat Safa yang pindah itu?"


"Gue sama Alvin udah minta bantuan Om Bima buat ngelacak keberadaan Sonia, tapi nihil, semuanya tanpa jejak. Seolah-olah keluarga Wicaksono dibuat hilang gitu aja."


"Wicaksono? Pengusaha yang sedang berseteru hebat dengan RKG?" tanya Sean memperjelas.


"Iya Bang. Menurut info yang gue denger Raka King Group sudah berhasil membuat Wicaksono Group kalah telak, bahkan sampai semua asetnya termasuk aset pribadi disita oleh bank. Mungkin itu juga yang membuat keluarga Wicaksono pergi. Tapi kenapa bisa sampai nggak ada jejak kayak gini ya Bang?" suara Syafiq terdengar frustasi.


"Gimana keadaan Safa sekarang?"


"Tadi udah sempet sadar Bang, tapi ini udah tidur lagi. Dia nangis terus kalau pas bangun, keinget sahabatnya itu terus."


"Oke. Lo urus dulu semuanya, jaga Safa baik-baik. Abang akan ajuin cuti ke pihak kampus, Abang langsung pulang sama Adrian."


"Siap Bang. Safa pasti nurut kalau Abang yang bilangin."


"Ya udah, Abang tutup dulu, salam buat Ayah sama Bunda juga. Assalamu'alaikum."


"Oke Bang, nanti gue sampein. Wa'alaikumsalam."


Tut.


Sambungan telepon pun terputus. Sean menghembuskan nafasnya kasar. Meletakkan ponsel kembali ke atas nakas.


"Kosong," dengus Sean melihat pitcher air di atas nakas dalam kondisi kosong.


Sean turun dari tempat tidur kemudian berjalan keluar kamar. Menuruni anak tangga perlahan langkah Sean pun menuju ke arah dapur. Dan Sean sedikit terkejut ketika mendapati Adrian sedang duduk sambil meminum air putih di kursi makan di dekat dapur.


"Tumben?" celetuk Sean sembari duduk di sebelah Adrian kemudian menuang air ke dalam gelas dan meminumnya.


"Nggak tau, tiba-tiba kebangun karena mimpi buruk, sampai-sampai gue ngerasa dada gue sesek banget. Eh pas mau minum ternyata pitcher air gue kosong," jawab Adrian.


Sean mengernyitkan keningnya. Sepertinya bukan sebuah kebetulan, karena pasti selalu seperti ini kalau terjadi sesuatu pada Safa. Seolah-olah ada ikatan tak kasat mata antara Adrian dan Safa, itu yang selalu dipikirkan oleh Sean.


"Syafiq barusan telpon gue. Safa masuk rumah sakit, besok kita pulang."


"Apa? Kenapa? Sakit apa? Gimana keadaan Safa sekarang?" pertanyaan Adrian memberondong saking paniknya.

__ADS_1


"Weiss, selow Bro. Satu-satu napa?" balas Sean dengan menaikkan sebelah alisnya melihat kepanikan sahabatnya itu.


"Sorry," sesal Adrian.


"Tekanan darahnya rendah. Sepertinya Safa terlalu bersedih karena sahabatnya tiba-tiba pindah tanpa pamit."


"Sonia?"


"Iya, Syafiq bilang namanya Sonia. Udah diselidiki Om Bima tapi katanya nggak ada jejak sama sekali."


"Kenapa bisa seaneh itu?" tanya Adrian mengerutkan keningnya.


Sean mengangkat bahunya.


"Hari ini juga kita pulang," kata Sean.


"Oke, gue urus cuti kita."


"By the way yang namanya Sonia itu yang mana sih? Sering denger Safa cerita, tapi belum pernah ketemu gue," kata Sean.


"Lo sih, cuek banget ke cewek. Bahkan cuma dikenalin ke temen-temen Safa yang datang ke rumah aja Lo nggak mau. Makanya Lo nggak tau kan temennya Safa siapa aja," cibir Adrian.


"Bukannya nggak mau tau. Selama Om Bima udah bilang temennya Safa itu baik, ya udah gue sih percaya aja. Penyelidikan Om Bima kan nggak pernah keliru. Dan juga, gue pengen adek gue merasa memiliki kebebasan menjalin persahabatan dengan temen-temennya. Itu kenapa gue tak terlalu ikut campur, cukup mantau aja," balas Sean.


Adrian manggut-manggut mendengar alasan sahabatnya itu.


Saat ini Sean dan Adrian kuliah di London dan mereka tinggal bersama di apartemen mewah yang dibelikan oleh Steven.


🌸🌸🌸


"Wa'alaikumsalam," jawab semua yang ada disana bersamaan.


"Sean, Adrian," panggil Sheila dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


"Bunda," panggil Sean kemudian mencium punggung tangan Sheila lalu memeluknya erat.


"Gimana kabar Abang?"


"Alhamdulillaah Abang baik Bun," jawab Sean.


Setelah pelukan Sean terlepas, lalu giliran Adrian.


"Assalamu'alaikum Bunda," sapa Adrian lalu mencium punggung tangan Sheila.


"Wa'alaikumsalam, anak bunda yang paling besar," balas Sheila kemudian memeluk Adrian penuh sayang.


"Bunda kebiasaan deh, kalau udah ada Adrian Abang jadi dinomor-duakan," keluh Sean.


"Sssttt, nggak boleh protes," tegur Sheila pura-pura galak.


Sean justru semakin memberengutkan wajahnya.


"Biarin aja sayang, kamu juga tetep kesayangan-nya ibu kok," hibur Anita yang langsung mendapatkan pelukan hangat dari Sean.

__ADS_1


"Ibu juga sama aja, kalau udah ada Sean Mas Rian jadi nggak kelihatan," keluh Adrian setelah Sheila melepaskan pelukannya.


"Sssttt, nggak boleh protes," Anita menirukan gaya bicara Sheila tadi.


Amelia, Sarah, dan Safa tertawa menanggapi drama perebutan ibu yang selalu terjadi tiap kali mereka bertemu. Sudah terlalu hafal, tapi tetap saja menjadi hiburan tersendiri bagi mereka.


Sean dan Adrian tiba di tanah air pukul 9 pagi keesokan harinya dan mereka pun langsung menuju ke rumah sakit. Para laki-laki tentu saja sedang ada di kantor saat ini. Jadi yang menemani Safa adalah Sheila, Anita, Sarah, dan Amelia.


Sean berjalan mendekati adiknya yang sedang dalam posisi setengah duduk, Adrian mengikuti di belakangnya.


"Kamu kenapa Dek?" tanya Sean.


Bukan jawaban yang didapat Sean tapi justru tubrukan pelukan dari adiknya yang langsung menangis sesenggukan sambil memeluk perut Sean.


"Sonia pergi Bang. Om Bima bahkan nggak bisa ngelacak keberadaan dia sekarang," keluh Safa di sela isak tangisnya.


"Sssttt, udah Dek, jangan nangis lagi, nanti Abang bantu nyari Sonia, ya," bujuk Sean sambil membelai lembut rambut adiknya itu.


Adrian ikut menenangkan dan menepuk-nepuk punggung Safa lembut. Anita merangkul pundak Sheila yang sedang menghapus air mata di pipinya. Hati Sheila ikut merasa sedih melihat putri kesayangannya terus menangis selama beberapa hari ini.


🌸🌸🌸


Tiga hari sudah Sean dan Adrian turun tangan langsung dalam pencarian Sonia. Dan ternyata benar yang dikatakan Syafiq, kepergian Sonia dan keluarganya sama sekali tidak bisa dilacak. Seperti ada yang sengaja menyembunyikan keberadaan mereka.


Malam ini Sean, Syafiq, dan Steven sedang berkumpul di ruang kerja Steven.


"Bener kan Bang apa kata gue, sulit banget mencari keberadaan Sonia dan keluarganya," kata Syafiq.


"Iya, baru kali ini juga Bima sampe kewalahan," keluh Steven lalu menghembuskan nafasnya kasar.


"Tapi kita nggak bisa membiarkan Safa terus kayak gini Yah," kata Sean.


"Maka dari itu Bang. Apa saran Abang?" tanya Steven mencoba menanyakan pendapat Sean.


Sean berpikir sejenak.


"Biarkan Safa ikut Abang sama Adrian Yah. Biar Safa juga ada suasana baru dan pemikirannya sedikit teralihkan dari kesedihan karena kehilangan sahabatnya itu. Biarkan Safa melanjutkan pendidikannya di London aja," saran Sean pada akhirnya.


Steven dan Syafiq nampak berpikir, mempertimbangkan saran dari Sean tersebut.


"Ayah sebenarnya setuju dengan saran kamu Bang, tapi kita tetep harus tanya Bunda juga. Biar malam ini Ayah coba bicara sama Bunda dulu ya," kata Steven.


Sean dan Syafiq mengangguk menyetujui. perkataan Steven.


Akhirnya setelah melalui perbincangan yang cukup panjang disertai bujukan-bujukan dari Steven, dengan berat hati Sheila pun akhirnya menyetujui saran dari Sean.


Sedikit bujukan dari Sean dan Syafiq, akhirnya Safa juga setuju untuk ikut dengan Sean dan Adrian, melanjutkan pendidikannya di London. Tentu saja disertai janji dari Steven bahwa pencarian terhadap Sonia akan tetap dilanjutkan. Dan Safa akan menjadi orang pertama yang diberitahu apabila ada kabar tentang Sonia.


Jujur, dalam hatinya Sean begitu penasaran dengan sosok Sonia, sahabat yang bisa membuat adiknya begitu terpuruk seperti ini. Sedikit penyesalan juga Sean rasakan karena tidak pernah mengenal dengan dekat sahabat-sahabat adiknya itu.


Sean percaya dengan penyelidikan Bima, bila Bima sudah menyelidiki dan mengatakan bahwa sahabat Safa itu orang baik, maka Sean juga tidak akan mempermasalahkannya lagi, dan membiarkan adiknya itu berhubungan dengan baik bersama sahabat-sahabatnya itu.


Dan sesuai kesepakatan bersama akhirnya pagi ini Sean, Adrian, dan Safa berangkat ke London. Steven, Sheila, Syafiq, Amelia, Sarah, Andika dan Anita mengantar kepergian mereka sampai ke bandara. Air mata mengiringi kepergian Safa kali ini. Dengan harapan dari semua orang, semoga suasana hati Safa bisa membaik setelah di London nanti.

__ADS_1


__ADS_2