Cinta Sheila

Cinta Sheila
Kebahagiaan Yang Berlipat


__ADS_3

Steven tertidur di kursi di samping bed hidrolik Sheila. Kepalanya diletakkan menyamping di sebelah tangan Sheila yang sedang digenggamnya. Sementara Max nampak tertidur di sofa bed.


Jam di dinding menunjukkan pukul tiga dini hari. Perlahan-lahan Sheila mulai membuka matanya, mengerjab berusaha menyesuaikan pandangannya dengan silau cahaya lampu.


Steven yang merasakan jemari Sheila bergerak dalam genggamannya terkejut dan langsung menegakkan tubuhnya.


"Sheila," panggil Steven setelah berhasil meraih kesadarannya.


Steven melihat Sheila masih berusaha menyesuaikan pandangan matanya dan mencoba meraih kesadaran. Steven beranjak duduk di atas bed tepat di samping Sheila. Diciumnya tangan Sheila yang digenggamnya kemudian membelai lembut kepala Sheila.


"Kamu sudah sadar sayang?" tanya Steven.


"Mas Steven,,," panggil Sheila lemah.


Steven segera menekan tombol di atas bed hidrolik Sheila.


"Iya sayang, Mas disini," balas Steven kemudian mencium kening Sheila dalam, seakan hal itu bisa meluruhkan segala kekhawatiran yang dirasakannya sejak kemarin.


Tak lama kemudian dokter dan perawat masuk. Max terjaga dari tidurnya karena kedatangan dokter dan perawat tersebut. Pandangannya lalu beralih ke bed rumah sakit, seketika hatinya merasa lega melihat Sheila sudah sadar.


Steven berdiri dan sedikit menjauh dari bed, memberikan ruang kepada dokter untuk memeriksa kondisi Sheila. Max segera menghampiri Steven.


"Udah dari tadi Sheila sadar Steve?" tanya Max.


"Baru aja."


Beberapa saat kemudian dokter sudah selesai memeriksa kondisi Sheila.


"Kondisi pasien sudah stabil, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Hanya tinggal pemulihannya saja," kata dokter menjelaskan.


"Baik Dok, terima kasih," balas Steven.


Dokter dan perawat kemudian keluar. Max segera menghampiri bed Sheila.


"Kamu gak pa-pa kan Dek?" tanya Max masih terlihat khawatir.

__ADS_1


"Aku gak pa-pa kok kak."


"Ya udah, istirahat ya, biar cepet pulih. Kakak kabarin Ayah sama Bunda dulu," kata Max sambil mengusak lembut kepala Sheila.


Sheila hanya mengangguk sambil tersenyum. Max lalu menjauh, hendak menghubungi orang tuanya. Gantian Steven yang mendekat dan duduk kembali di atas bed menghadap ke arah Sheila. Diraihnya tangan Sheila lalu diciumnya.


"Jangan pernah membuat Mas ketakutan seperti ini lagi ya Shei. Rasanya dunia Mas hancur melihat kamu seperti kemarin. Mas bener-bener takut kamu akan pergi ninggalin Mas Shei. Mas gak kuat, Mas gak sanggup, Mas gak akan bisa hidup tanpa kamu Shei."


Sheila tersenyum lembut mendengar semua ucapan Steven yang begitu tulus dirasakannya. Steven menunduk lalu mengecup bibir Sheila lembut.


"I love you Shei," bisiknya di depan wajah Sheila.


Mata Sheila membulat karena kaget. Sesaat kemudian air mata mengalir di pipinya berbanding terbalik dengan senyum yang mengembang di bibirnya. Air mata bahagia mendengar ungkapan cinta dari Steven, suaminya.


"Mas mencintai kamu Shei. Mas sayang sama kamu. Jangan pernah tinggalin Mas ya Shei. Mas gak bisa hidup tanpa kamu," kata Steven sembari menghapus air mata di pipi Sheila.


Sheila tidak mampu berkata-kata, dia hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. Steven lalu memeluk Sheila yang masih terbaring lemah di atas bed rumah sakit.


Max yang melihat interaksi keduanya hanya bisa mengulas senyum dan mengucap syukur dalam hati. Ikut berbahagia karena akhirnya adiknya Sheila bisa berbahagia dan dicintai oleh suaminya Steven.


"Assalamu'alaikum. Sheila sayang, putri Bunda, kamu gak pa-pa kan nak?" tanya Sarah setelah membuka pintu dan langsung menghambur memeluk Sheila, Jefri dan Leon berjalan di belakangnya.


"Wa'alaikumsalam, alhamdulillaah Sheila udah gak pa-pa kok Bun."


"Bunda semalem sampai gak bisa tidur karena mikirin kamu Shei. Tadi pas Max telepon juga rasanya Bunda udah pengen cepet-cepet dateng kesini, tapi gak boleh tuh sama Ayah kamu, nunggu pagi aja katanya," gerutu Sarah sambil melirik sebal ke arah Jefri.


"Ini kan juga udah dianterin pagi-pagi Bun, sebelum berangkat ke kantor malah, masih marah juga?" balas Jefri tertawa pelan.


Dan mereka ngobrol sebentar sampai akhirnya Jefri dan Leon pamit untuk berangkat ke kantor. Max pulang dulu untuk bersih-bersih, dia ada meeting dengan klien nanti sekalian makan siang katanya. Sementara Steven sudah mengabari Santi dan Ken kalau dia tidak ke kantor hari ini.


Setelah jam makan siang Ricko dan Amelia datang menjenguk Sheila.


"Assalamu'alaikum," sapa Ricko dan Amelia membuka pintu kamar rawat Sheila.


"Wa'alaikumsalam," jawab Sheila dan Sarah bersamaan.

__ADS_1


"Gimana kabar kamu sayang?" tanya Ricko.


"Alhamdulillaah udah mendingan Pa," jawab Sheila.


"Steven mana?" tanya Ricko lagi.


"Ke ruang administrasi sebentar Pa, ada data yang harus dilengkapi katanya," jawab Sheila. Sheila lalu beralih ke Amelia, "Terima kasih banyak ya Ma. Mama udah bersedia nolongin Sheila dan donorin darah Mama buat Sheila," kata Sheila tulus.


Amelia nampak tersenyum canggung sebelum menjawab.


"Iya Shei, sama-sama. Kamu terluka kayak gini kan juga karena nolongin Steven," balas Amelia.


Sarah berdiri dari kursi di sebelah bed Sheila, mempersilahkan Amelia untuk duduk di sana.


"Shei, Mama minta maaf ya kalau selama ini Mama sering nyakitin hati kamu dan nuduh kamu yang enggak-enggak," kata Amelia setelah duduk sambil menggenggam tangan Sheila.


Sheila nampak terkejut mendengar permintaan maaf dari ibu mertuanya. Tapi Sheila segera bisa kembali menguasai diri dan tersenyum lembut.


"Gak ada yang perlu dimaafkan Ma. Mama gak punya salah apa-apa kok sama Sheila," Sheila berkata dengan tulus.


"Kamu memang benar anak Miranda, sifat kalian mirip sekali. Wajahmu juga secantik Bunda kamu. Maaf karena selama ini ternyata Mama sudah salah paham sama kamu dan Bunda-mu ya Shei," kata Amelia mengelus lembut kepala Sheila.


Air mata Sheila mengalir tanpa bisa dicegah. Percampuran antara rasa haru karena ibu mertuanya sudah tidak menyalahkan Bunda-nya lagi, tidak membenci dirinya lagi, bahkan sekarang ibu mertuanya bersikap begitu baik padanya, membuat Sheila merasa mendapatkan kasih sayang seorang ibu.


"Mama," lirih Sheila.


Amelia langsung memeluk Sheila dan mengusap kepalanya penuh sayang.


"Sekali lagi maafin Mama ya Shei."


"Mama gak salah apa-apa Ma," jawab Sheila dengan menggelengkan kepalanya.


Sarah dan Ricko memandang haru pada keduanya. Dan tanpa mereka sadari ternyata Steven sudah berdiri di depan pintu memperhatikan interaksi antara ibu dan istrinya. Rasa haru juga menyergap ke dalam hati Steven, melihat kedua wanita yang paling dicintainya saling berbagi kasih sayang seperti itu.


Sementara Sheila merasa sangat bersyukur karena kecelakaan yang dialaminya demi menyelamatkan Steven, suaminya, justru membuatnya merasakan begitu banyak kebahagiaan yang berlipat-lipat. Mulai dari Steven yang menyatakan perasaan cinta kepadanya, kesalahpahaman antara dirinya, Bunda-nya, dan ibu mertuanya yang telah terselesaikan, dan sekarang ibu mertuanya pun sudah bisa menerima Sheila dan bahkan menyayangi Sheila seperti anaknya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2