
"Assalamu'alaikum," sapa Sheila setelah membuka pintu kamar rawat Sonia.
"Wa'alaikumsalam," jawab Sean dan Sonia bersamaan.
Sheila kemudian masuk ke dalam kamar VVIP dimana Sonia dirawat saat ini. Di belakang Sheila menyusul Anita, Santi, Lusia, Dyah, Tya, Sylvia, Kania dan juga Nia.
Kebetulan Sean baru saja selesai membantu Sonia untuk meminum obatnya. Sean kemudian meletakkan gelas yang sudah selesai digunakan untuk minum oleh Sonia ke atas nakas di samping bed Sonia.
Sean berdiri untuk menyalami satu per satu para ibu yang datang bersamaan. Sheila kemudian mendekati bed Sonia dan langsung memeluk menantunya yang sedang duduk bersandar pada bed yang dinaikkan bagian kepalanya itu.
"Bunda," lirih Sonia.
"Yang sabar ya sayang. Insya Allah nanti segera diganti dengan yang lebih baik oleh Allah SWT," hibur Sheila.
"Iya Bun," balas Sonia dalam pelukan Sheila.
Sheila kemudian melepaskan pelukannya pada Sonia.
"Oh iya sayang, kenalin, itu ibu Anita, mamih Santi, mommy Lusia, mama Dyah, mama Tya, bunda Sylvia, mommy Kania, dan mama Nia. Mereka semua adalah orang tua kamu juga sekarang. Abang pasti udah pernah cerita kan sama kamu sebelumnya?" tanya Sheila setelah memperkenalkan sahabatnya satu per satu.
"Sudah kok Bun," jawab Sonia dengan tersenyum.
"Sonia sayang, yang sabar ya nak," kata Lusia dengan memeluk Sonia.
"Iya mom, makasih ya mom," balas Sonia.
"Yang sabar ya sayang, semoga segera mendapatkan ganti yang lebih baik," giliran Santi yang memeluk Sonia setelah Lusia.
"Iya mih. Aamiin, makasih ya mih," balas Sonia pula.
Yang lain pun satu per satu bergantian memeluk Sonia dan memberi dukungan juga semangat. Sampai tiba giliran Anita yang memang sengaja memilih urutan paling terakhir.
"Yang sabar ya, menantunya ibu yang cantik," kata Anita dengan memeluk Sonia.
"Iya ibu, makasih."
Anita melepaskan pelukannya, tapi kemudian duduk di samping Sonia dan merangkulnya dari samping.
"Kamu sama Abang masih muda, kesempatan kalian masih banyak. Jangan berkecil hati, jangan putus asa, ya," nasehat Anita.
"Iya Bu."
"Abang tega banget sih sama ibu, masak nyembunyiin hal sepenting ini dari ibu dan juga kami semua. Kalau bukan karena musibah ini, entah sampai kapan kami baru tau kalau ternyata Abang udah nikah dan kami punya menantu secantik ini," kata Anita dengan memegang dagu Sonia.
"Maafin Abang Bu, mih, mom, ma, semuanya. Bukannya Abang sengaja, tapi waktu itu emang semuanya mendadak banget, diluar perkiraan juga," balas Sean membela diri.
"Jangankan kalian, kami aja kalo nggak Ayah-nya yang datengin ke apartemen duluan dan menangkap basah hubungan mereka berdua, entah sampai kapan mereka baru mau ngaku ke kami," keluh Sheila juga.
__ADS_1
"Maaf Bun, bukan gitu maksudnya Abang sama Sonia. Kami cuma belum nemu waktu yang pas aja untuk cerita ke Ayah sama Bunda waktu itu," sesal Sean.
Sonia pun nampak menundukkan kepalanya, merasa bersalah dan tidak enak hati juga.
"Udah dong Shei. Lihat nih, kamu buat menantu kesayangan kita jadi ikut sedih karena merasa bersalah," kata Anita yang menyadari perubahan Sonia.
Sheila mendekat, duduk di sisi Sonia yang satunya lagi kemudian memeluknya dari samping juga.
"Maafin Bunda ya sayang, Bunda nggak bermaksud nyalahin kamu sama Abang kok. Cuma sekedar menanggapi keluhan ibu Anita aja tadi," kata Sheila meminta maaf dan mencoba untuk menenangkan Sonia.
"Iya Bun, nggak pa-pa. Sonia ngerti kok. Maafin Sonia sama Mas Sean juga ya Bun, Bu, dan semuanya, bukan maksud kami untuk menyembunyikan pernikahan kami dari kalian semua," sesal Sonia juga dengan melihat bergantian ke arah Sheila, Anita, kemudian ke para ibu yang lainnya.
"Udah sayang, nggak usah dipikirin lagi. Kita semua ngerti kok kalau kemarin-kemarin itu keselamatan kamu masih belum sepenuhnya aman," kata Sylvia.
"Iya Sonia sayang. Udah ya, jangan merasa bersalah lagi," imbuh Santi juga.
"Duh Mbak, rupanya kita diam-diam udah kalah lagi dari Sheila sama kak Steven," celetuk Tya kepada Santi.
"Hmh, maksudnya?" tanya Santi dengan kening berkerut karena bingung.
"Maksud Lo gimana sih Ya? Ngomong yang jelas ngapa," tanya Lusia yang juga ikutan bingung.
"Itu loh, Sheila sama kak Steven kan ternyata udah lebih dulu mantu daripada kita. Gagal deh gue sama Mbak Santi yang mau jadi yang pertama mantu di antara kita setelah kak Kania," jawab Tya.
"Eh, iya juga ya. Kirain kita yang bakalan mantu duluan. Eh, nggak taunya ternyata Sheila udah duluan punya mantu," Santi ikut menambahi setelah sempat terdiam mencerna perkataan Tya tadi.
"Udah-udah, mantu kok kalian jadiin kayak pertandingan sih. Jelas-jelas kakak loh yang udah mantu lebih dulu, udah punya cucu pula," kata Kania sedikit pongah untuk melerai.
"Kalau kakak mah nggak masuk itungan. Kita nikah aja anak kakak, si Kiara, udah gede juga," balas Sylvia.
"Iya, apalagi pas aku nikah, semua udah pada punya buntut," tambah Nia juga yang memang menikah paling akhir di antara mereka ber-sembilan.
"Iya deh iya, ngalah aja deh kakak," kata Kania akhirnya mengalah.
Para ibu-ibu itu pun tertawa bersamaan. Sonia juga ikut mengulum senyum. Dan Sean pun merasa lega melihat istrinya sudah bisa tersenyum kembali seperti sekarang.
πΈπΈπΈ
Saat ini hanya tinggal Sheila dan Anita yang menemani Sean juga Sonia. Yang lain sudah pamit pulang tadi setelah berkunjung cukup lama.
"Sayang, sepuluh hari lagi Ayah sama Bunda mau ngadain pengajian dan syukuran buat ngumumin pernikahan kalian secara resmi ke semua orang," kata Sheila memberitahu.
"Mmm, tapi Bun..."
"Sssttt, nggak ada penolakan ya. Suami kamu udah nolak rencana resepsi yang Ayah sama Bunda usulin loh. Dan untuk pengajian kali ini pokoknya Bunda mau nggak ada penolakan lagi," kata Sheila memotong perkataan Sonia.
"Udah sayang, kamu nurut aja ya apa kata Bunda kamu tadi," ucap Anita sambil merangkul kembali pundak Sonia.
__ADS_1
"Tapi Sonia nggak mau ngerepotin Bu," lirih Sonia.
"Nggak ada kata repot, sayang. Biar semua orang tau kalau kamu sama Abang udah nikah. Jadi kalian nggak perlu sembunyi-sembunyi lagi kayak kemarin," kata Sheila yang juga ikut merangkul pundak Sonia.
Posisi mereka masih sama seperti tadi, dengan Sonia berada di tengah dan diapit oleh Sheila dan juga Anita yang duduk di kanan dan kiri Sonia.
"Dan juga, biar semua orang bisa ikut mendo'akan untuk kebahagiaan pernikahan kalian berdua, ya," imbuh Anita juga.
Sonia melihat ke arah Sean. Dan setelah melihat suaminya itu mengangguk pelan dan tersenyum, akhirnya Sonia pun mengiyakan.
"Baik Bun, ibu, Sonia setuju aja kalau gitu," kata Sonia dengan tersenyum juga.
"Nah, gitu dong. Ayah juga udah nyuruh orang buat jemput ibu sama adik-adik kamu, sayang. Jadi kamu tenang aja, ya."
"Iya Bun."
"Assalamu'alaikum," sapa Safa dan Adrian setelah membuka pintu ruang rawat Sonia.
"Wa'alaikumsalam," balas Sean, Sonia, Sheila, dan Anita.
Safa dan Adrian kemudian masuk ke dalam kamar rawat Sonia.
"So, itu ibu mertua aku ya, kenapa jadi kamu monopoli kayak gitu sih?" tanya Safa dengan berpura-pura marah dan berkacak pinggang setelah melihat Anita dan Sheila yang sama-sama merangkul Sonia dari samping kanan dan kiri.
"Apaan sih? Ibu Anita bilang beliau juga ibunya Mas Sean kok, berarti beliau ibu aku juga dong," jawab Sonia tidak mau kalah.
"Iiisshh, kamu udah ada Bunda loh, masak mau ibu juga? Jangan maruk gitu dong," rajuk Safa.
"Biarin, wleee,,," balas Sonia dengan menjulurkan lidahnya.
"Eh, udah-udah. Jangan berantem lagi, dua-duanya menantu kesayangan ibu yang cantik-cantik kok," lerai Anita yang kemudian bangkit dari duduknya, mendekati Safa kemudian memeluknya.
Safa menjulurkan lidahnya mengejek Sonia dari balik pelukan Anita.
"Bunda, lihat tuh Safa ngeledek Sonia," adu Sonia kepada Sheila yang masih duduk di sebelahnya.
"Udah, biarin aja sayang. Kan kamu juga masih punya Bunda," hibur Sheila.
"Yeay, makasih Bunda sayang," kata Sonia dengan memeluk Sheila.
"Ini kenapa jadi pada rebutan ibu sama Bunda sih?" tanya Sean tiba-tiba melihat tingkah istri dan juga adik perempuan-nya itu.
"Hilih, kayak Abang sama Mas Rian enggak aja. Kalian berdua kan juga selalu rebutan Bunda sama ibu. Wajar dong kalau kita berdua juga sama aja kayak Abang dan Mas Rian, kan sehati, hehe," jawab Safa diakhiri dengan cengiran.
Sean, Sonia, Sheila, Anita, Safa, dan Adrian pun tertawa bersamaan, membenarkan perkataan Safa tadi. Di dalam hati Sonia begitu bersyukur karena bisa merasakan kehangatan dan kasih sayang yang begitu berlimpah dari keluarga suaminya dan juga dari delapan keluarga sahabat orang tua mereka yang lainnya, keluarga besar mereka saat ini.
.....
__ADS_1
*Menuju detik-detik ending tapi justru ide sering mampet karena kesibukan di RL π,,, maaf ya kalau update nya jadi nggak menentu πππ,,, RL seringkali nggak bisa diajak kerja sama πππ*