Cinta Sheila

Cinta Sheila
Alex


__ADS_3

Sheila, Dyah, Tya, dan Lusia sedang duduk bersama di kursi taman depan kampus. Mereka ngobrol sambil menemani Sheila menunggu jemputannya.


"Hey ladies, boleh ikut gabung ya," pinta seorang pemuda tiba-tiba datang dan langsung duduk bersama mereka.


"Kak Alex." kata Tya dan Lusia bersamaan .


Alex adalah kakak tingkat mereka. Dan bukan rahasia umum lagi kalau Alex menaruh hati pada Sheila. Sayangnya Sheila tidak pernah membalas perasaan Alex tersebut.


"Sheila hari ini kita nonton yuk, ada film baru loh," ajak Alex to the point.


"Maaf kak, aku nggak bisa. Suami aku udah otewe jemput nih."


"Suami? Nggak salah nih?" tanya Alex sedikit meremehkan. "Paling ini cuma akal-akalan Lo aja kan Shei biar bisa ngindarin gue?"


"Enggak kak, aku emang udah nikah dua minggu yang lalu."


"Bohong. Lo pasti bohongin gue kan Shei?"


"Enggak kak, beneran. Tanya aja sama Dyah, Tya dan Lusia kalau kakak nggak percaya. Mereka kemarin dateng kok ke nikahan aku."


"Gue nggak percaya. Lo cuma cari alasan aja kan biar bisa menghindar dari gue? Temen-temen Lo juga udah pasti bakal belain Lo."


"Tapi Sheila emang udah nikah kak dua minggu yang lalu," bela Dyah.


"Iya kak, kita bertiga dateng kok ke acara nikahan dia," sambung Tya.


"Diem kalian," gertak Alex.


Dyah dan Tya seketika diam. Wajah Alex sudah memerah karena menahan emosi. Alex lalu mencengkeram tangan kanan Sheila sedikit kuat.


"Lo pasti bohong kan Shei?"

__ADS_1


"Aaw, sakit kak," kata Sheila sambil meringis.


"Woi kak, jangan kasar dong sama cewek," tegur Lusia galak.


"Diem Lo, ini urusan gue sama Sheila," Alex melotot tajam ke arah Lusia. "Kenapa sih Lo tega banget sama gue Shei? Lo nggak pernah ngehargain usaha gue selama ini buat deketin Lo. Lo selalu aja menghindar dari gue. Dan sekarang, Lo beralasan kalau Lo udah nikah biar gue ngejauhin Lo gitu, jangan harap gue percaya Shei. Gue nggak akan mundur sebelum gue dapetin Lo."


Sheila menyentak kuat tangannya sehingga terlepas dari cengkeraman alex. "Maaf kak, tapi perasaan seseorang kan emang nggak bisa dipaksakan. Bukannya aku nggak menghargai usaha kakak, tapi aku emang nggak suka sama kakak. Sekali lagi maaf kak. Dan juga aku beneran udah nikah kak, aku nggak bohong."


"Aku nggak percaya," sentak Alex lalu mencengkeram tangan Sheila lebih kuat lagi.


"Ah, sakit kak."


"Kak jangan kasar dong," tegur Lusia.


"Kalau kakak nggak lepasin tangan Sheila, kita bakal teriak," ancam Tya.


Dyah memegangi Sheila yang meringis kesakitan. Matanya sudah memerah menahan air mata yang sudah menggenang. Sementara Alex dengan wajah garangnya masih menatap Sheila dengan tajam. Membuat nyali gadis-gadis itu menciut.


"Lo nggak bisa ngelakuin ini semua sama gue Shei. Gue nggak terima."


"Den, Non sheila..." Pak Damar yang kaget tidak mampu melanjutkan perkataannya.


Steven yang semula fokus pada macbook-nya mendongak lalu melihat keluar jendela. Sama kagetnya dengan Pak Damar, Steven langsung meletakkan macbook dan keluar dari mobil.


"Sheila," panggilnya.


Mereka berlima mengalihkan pandangan ke arah Steven.


"Mas Steven..." Sheila menyentak tangan Alex kuat.


Setelah lepas dari cengkeraman tangan Alex, Sheila langsung berlari dan menghambur memeluk Steven.

__ADS_1


"Shei."


"Tolong biarkan seperti ini Mas, sebentar saja," lirih Sheila di dada Steven.


Steven membalas pelukan Sheila sedikit canggung. Mata jeli Steven menangkap kelegaan di wajah ketiga sahabat Sheila, tapi tidak dengan pemuda yang bersama mereka. Kilat amarah nampak jelas di mata pemuda itu.


Steven membelai lembut rambut Sheila. "Kamu nggak pa-pa kan?"


Sheila merenggangkan pelukannya lalu mendongak menatap Steven. Dia lalu menggelengkan kepalanya pelan sambil tersenyum.


"Kita pulang sekarang ya Mas."


Steven membalas menganggukkan kepalanya.


"Guys aku duluan ya," pamit Sheila pada sahabat-sahabatnya


Setelah mendapat lambaian tangan dari sahabat-sahabatnya Sheila dan Steven masuk ke dalam mobil.


"Shit!!!" umpat Alex setelah mobil Sheila dan Steven pergi.


Alex lalu pergi meninggalkan Dyah, Tya dan Lusia dengan emosi membara. Di dalam pikirannya dia mulai mencari cara untuk bisa mendapatkan Sheila secepatnya. Tidak perduli bagaimanapun caranya, bahkan meski benar bahwa Sheila sudah menikah sekalipun, dia tidak perduli akan hal itu. Alex merasa tertantang karena Sheila adalah satu-satunya gadis yang dengan terang-terangan selalu menolaknya.


Di dalam mobil,


"Apa pemuda tadi mengganggumu?" tanya Steven.


"Enggak mas," jawab Sheila berbohong, dia hanya tidak ingin membuat Steven khawatir.


"Lalu kenapa dia menarik tanganmu tadi?"


"Nggak terjadi apa-apa kok Mas, nggak usah khawatir."

__ADS_1


Steven tidak semudah itu untuk percaya. Tapi dia memilih diam dan tidak bertanya lagi. Sementara di sampingnya Sheila menghembuskan nafas lega. Dan hal itu tidak luput dari penglihatan Steven.


Beruntung bagi Sheila karena Steven datang tepat waktu. Entah apa jadinya jika Steven terlambat datang. Alex terkenal dengan sifatnya yang suka memaksa dan sedikit kasar. Dia selalu memanfaatkan nama ayahnya yang merupakan Dekan di kampus tersebut. Itulah kenapa Sheila tidak menyukai Alex dan selalu menolak pemuda itu. Disamping memang karena Sheila tidak ada rasa suka terhadap Alex.


__ADS_2