Cinta Sheila

Cinta Sheila
S2 Happy Ending


__ADS_3

Satu minggu kemudian.


Acara pengajian dan syukuran untuk mengumumkan pernikahan Sean dan Sonia pun digelar di rumah baru Sean dan Sonia, yang sejatinya merupakan rumah lama orang tua Sonia dulu. Cukup banyak tamu undangan yang hadir, karena Steven memang sengaja mengundang kolega, kerabat, dan tentu saja sahabat-sahabatnya beserta keluarga mereka semuanya.


Acara demi acara berlangsung dengan lancar dan khidmat. Mulai dari pembukaan, pembacaan ayat suci Al-Qur'an, sambutan dari Steven selaku tuan rumah, setelah itu acara resmi pengumuman pernikahan Sean dan Sonia, yang kemudian dilanjutkan dengan tausiyah dan pembacaan do'a oleh pak ustadz, dan terakhir adalah penutup.


Setelah sesi acara resmi selesai, saat ini semua tamu undangan sedang menikmati hidangan dan berbincang santai di halaman samping dan belakang rumah besar tersebut. Satu per satu dari mereka juga mengucapkan selamat kepada Sean dan Sonia dan juga mendo'akan untuk kebahagiaan pernikahan mereka.


Sean juga memperkenalkan Sonia kepada para kolega bisnisnya. Terutama kepada Mr. Kim tentu saja, karena beliau adalah investor utama di perusahaan Sean.


"Mr. Kim," sapa Sean terlebih dahulu setelah sampai di hadapan Mr. Kim dan istrinya.


"Oh, hai Sean," balas Mr. Kim kemudian berjabat tangan dengan Sean.


"Terima kasih banyak atas kehadiran Mister dan juga nyonya di acara kami ini. Oh iya, perkenalkan, ini adalah istri saya, Sonia," kata Sean berterima kasih kemudian memperkenalkan Sonia.


"Hai Sonia," sapa Mr. Kim terlebih dahulu dengan mengulurkan tangannya.


"Selamat siang Mister," balas Sonia dengan menyambut uluran tangan Mr. Kim.


Dan setelah selesai bersalaman dengan Mr. Kim, Sonia hendak bersalaman dan menyapa istri Mr. Kim. Namun di luar dugaan, istri Mr. Kim justru langsung memeluk Sonia.


"Kamu cantik sekali Sonia," kata istri Mr. Kim.


"Terima kasih banyak nyonya," balas Sonia tersipu malu setelah pelukan mereka terlepas.


"Istriku benar Sean, kau beruntung sekali mendapatkan istri secantik dan seanggun Sonia," puji Mr. Kim juga.


"Terima kasih banyak Mister. Tapi, ya Anda memang benar sekali Mister, saya memang sangat beruntung mendapatkan istri seperti Sonia," kata Sean dengan melihat ke arah Sonia sembari tersenyum memuja, dan Sonia pun membalas senyuman dari Sean dengan wajah yang merona merah.


"Ah, aku jadi merasa iri dengan kemesraan pengantin baru ini," celetuk Mr. Kim yang kemudian juga merangkul mesra pinggang istrinya.


Mr. Kim dan istrinya kemudian tertawa kecil, sementara Sean dan Sonia tersipu malu. Perbincangan di antara mereka berempat pun berlanjut untuk beberapa saat. Sampai akhirnya Sean dan Sonia pamit untuk menyapa tamu undangan yang lainnya. Dan tidak lama kemudian terdengar suara seseorang memanggil Sean.


"Sean," panggil Jery.


"Daddy Jery," seru Sean sedikit terkejut.


Jery dan Sean kemudian berpelukan.


"Congratulation boy, happy wedding for you two. Hope you two happily ever after," kata Jery setelah melerai pelukan mereka.


"Thanks Dad. Sean kira Daddy nggak akan pulang."


"Nggak mungkin lah Daddy nggak pulang. Daddy kan pengen ketemu sama menantu Daddy yang cantik ini," kata Jery lagi sembari tersenyum ke arah Sonia.


"Selamat ya Bang. Semoga jadi keluarga yang samawa sampai akhir nanti," kata Jimmy bergantian memeluk Sean.


"Thanks Jim," balas Sean juga.


"Ah iya, sayang ini Daddy Jery dan itu putranya, Jimmy, adiknya kak Kiara. Daddy, Jimmy, perkenalkan ini istri Abang, Sonia," lanjut Sean memperkenalkan mereka.


"Daddy," panggil Sonia kemudian mencium punggung tangan kanan Jery.


"Hai Sonia, kamu cantik sekali nak," puji Jery.


"Terima kasih Dad," ucap Sonia sembari tersenyum.

__ADS_1


Sonia kemudian beralih kepada Jimmy.


"Hai kak Jimmy," sapa Sonia dengan mengulurkan tangannya.


"Hai Sonia. Panggil nama aja nggak pa-pa. Lagian kan sekarang kamu kakak ipar aku," balas Jimmy menerima uluran tangan Sonia.


"Nggak enak lah kak, aku kan masih seusia Safa," tolak Sonia halus.


"Ya udah deh kalau gitu," Jimmy pun akhirnya mengalah.


"Itulah istri gue Bro, kesopanan bagi dia itu yang utama," kata Sean bangga.


"Cih, sombong Lo," cibir Jimmy.


"Harus dong, punya istri sebaik ini," balas Sean kemudian merangkul pundak Sonia.


"Mas," tegur Sonia pelan merasa canggung.


"Hahaha, gletser kita rupanya udah mencair secair-cairnya sekarang Dad," seloroh Jimmy dengan tertawa ringan.


"Ya, kau benar Jim," balas Jery.


Mereka kemudian tertawa bersama-sama. Sean dan Sonia berbincang sesaat dengan Jery dan Jimmy. Setelah itu Sean dan Sonia pun menemui para karyawan di perusahaan Sean yang juga diundang pada acara tersebut.


Para karyawan pun juga mengucapkan selamat kepada Sean dan Sonia. Mereka semuanya tidak pernah menyangka bahwa Sonia adalah istri dari CEO mereka tersebut.


"Selamat ya Pak Sean dan juga .....," Azril menghentikan ucapan selamatnya, menjepit dagunya dengan ibu jari dan ruas tengah jari telunjuknya yang ditekuk, seakan sedang berpikir keras. "Hmh, manggilnya siapa ya ini, ibu Ana atau ibu Sonia nih?" lanjut Azril bertanya.


"Dua-duanya adalah nama saya Pak, jadi mau manggil Ana ataupun Sonia boleh. Tapi depannya nggak usah ditambahin ibu," jawab Sonia diakhiri permintaan juga.


"Nggak bisa gitu dong Bu, ibu kan sekarang udah jadi istrinya bos kami," tolak Billa.


"Udah sayang. Sekedar formalitas aja, biarkan mereka manggil kamu ibu," kata Sean memotong perkataan Sonia.


"Tapi nggak enak banget Mas. Biasanya juga tiap hari kita kerja bareng, ngobrol, dan bercanda bareng. Masak sekarang manggilnya jadi kaku gitu," keluh Sonia.


"Terus kamu maunya gimana sayang?" tanya Sean lembut.


"Biasa aja lah Mas. Nggak usah terlalu formal gitu," pinta Sonia.


Azril dan karyawan lain yang mendengar keluh kesah Sonia kepada Sean mengulum senyum tipis. Baru kali ini mereka melihat sisi manja Sonia dan juga sisi lembut bos mereka yang biasanya begitu dingin dan tegas. Dalam hati mereka semua bersyukur untuk kebahagiaan yang sekarang didapatkan oleh Sean dan juga Sonia.


"Ya udah deh kalau gitu. Kalian semua dengar ya, kalian saya izinkan untuk bersikap biasa dan tidak perlu terlalu formal kepada istri saya," kata Sean pada akhirnya.


"Baik Pak," balas Azril dan yang lainnya.


"Makasih Mas," kata Sonia juga.


Mereka semua pun akhirnya berbincang dan bercanda bersama. Dari sebuah meja yang tidak jauh letaknya dari kumpulan para karyawan dan juga Sean serta Sonia, Suci tersenyum melihat kebahagiaan yang nampak jelas di wajah putri sulungnya itu.


"Mbak Suci," panggil Sheila yang baru saja mendudukkan dirinya di kursi di sebelah Suci.


"Eh, Mbak Sheila," balas Suci yang langsung mengalihkan perhatiannya pada Sheila.


"Lagi lihatin apa Mbak? Kok sampe senyum-senyum sendiri gitu," tanya Sheila.


"Enggak kok Mbak. Cuma lagi lihatin Sonia aja," jawab Suci.

__ADS_1


"Emangnya kenapa dengan Sonia, Mbak?" tanya Sheila lagi.


"Mbak nggak nyangka aja bisa melihat Sonia tertawa bahagia seperti itu lagi," jawab Suci sembari tersenyum dan kembali mengalihkan pandangannya ke arah Sonia yang sedang tertawa bersama teman-teman satu divisinya dulu.


Sheila ikut melihat ke arah Sonia, kemudian ikut tersenyum bersama Suci.


"Sonia pantas untuk bahagia seperti itu Mbak," kata Sheila.


"Terima kasih banyak ya Mbak. Karena Sean dan juga kalian semua sudah memberikan kebahagiaan ini kembali kepada Sonia, dan juga kami," kata Suci dengan memegang tangan Sheila.


"Mbak Suci ngomong apa sih. Kan aku udah pernah bilang Mbak, nggak perlu ada kata terima kasih, kita semua udah jadi satu keluarga sekarang. Bahkan, seharusnya kami yang mengucapkan terima kasih, karena Sonia sudah membawa begitu banyak kebahagiaan untuk Sean, Safa, dan juga kami semua," balas Sheila.


Keduanya kemudian sama-sama tersenyum.


"Bun, kita foto keluarga yuk. Ayo Mbak Suci, kita foto keluarga bareng," ajak Steven yang baru saja datang.


"Oh, oke Yah. Ayo Mbak," balas Sheila kemudian mengajak Suci untuk ikut berdiri bersama.


Mereka bertiga pun berjalan menghampiri spot foto yang sudah disediakan. Sean, Sonia, Safa, Adrian, Sendy, dan Dennis pun nampak sudah berkumpul disana.


"Syafiq kemana Yah?" tanya Sheila setelah tidak melihat Syafiq di antara mereka semua.


"Hmm, Ayah nggak tau tuh Bun," jawab Steven.


"Syafiq kemana Yan?" tanya Sheila lagi kepada Adrian.


"Tadi sih sama Alvin, Bun. Tapi terus pamit pergi, katanya ada urusan mendadak yang sangat penting, gitu," jawab Adrian.


"Haish, anak ini. Ilang-ilangan mulu deh, heran Bunda," keluh Sheila.


"Ya udahlah Bun, seadanya aja dulu," kata Steven menenangkan istrinya.


Sheila pun mengangguk setuju. Mereka kemudian mengambil beberapa foto bersama sebagai kenang-kenangan. Bahkan kesembilan sahabat itupun juga mengambil foto dengan keluarga mereka masing-masing. Kemudian mereka semua pun mengambil foto secara bersama-sama juga. Penuh sudah memori kamera sang fotografer dengan foto-foto yang berisi segala keriuhan keluarga besar tersebut.


Steven merangkul pinggang Sheila kemudian mengecup pipi istrinya itu penuh sayang.


"Ayah bahagia banget Bun melihat semuanya tertawa dan bahagia seperti itu," kata Steven sembari tersenyum melihat sahabat-sahabatnya dan anak-anak mereka yang sedang bercanda dan tertawa bersama.


"Bunda juga bahagia banget Yah. Semoga kebahagiaan kita ini berlangsung untuk selamanya ya Yah," do'a Sheila.


"Aamiin Bun. Dan semoga saja kebahagiaan kita juga akan segera lengkap dengan kehadiran cucu-cucu kita nanti ya Bun," do'a Steven pula.


"Aamiin Yah, semoga disegerakan ya," Sheila pun mengaminkan do'a suaminya tersebut.


Sheila kemudian menyandarkan kepalanya di pundak Steven. Steven pun lalu mencium puncak kepala Sheila. Keduanya tersenyum bahagia melihat kebersamaan dan tawa bahagia semua keluarganya.


...The End...


*Akhirnya selesai juga novel pertama ku ini. Terima kasih banyak untuk semua pembaca yang sudah berkenan mampir, memberikan like dan koment, dan juga untuk semua yang sudah memberikan gift dan vote untuk karya receh ku ini. Terima kasih banyak untuk kalian semua yang tidak bisa aku sebutkan satu per satu namanya, terima kasih untuk semua dukungan kalian selama ini. Dan semoga kebaikan kalian semua akan mendapatkan balasan kebaikan juga dari Allah SWT, aamiin Yaa robbal 'aalamiin 🤲...


Diriku sebagai penulis juga mohon maaf apabila ada tulisanku yang tidak berkenan. Maaf untuk semua typo dan kesalahan dalam penulisan. Aku menyadari tulisanku masih jauh dari kata sempurna, jadi aku akan menerima setiap saran dan masukan dari kalian semua.


Terima kasih banyak juga aku ucapkan untuk team GC mamah iin, Ran, Sony, Luna, mbk QiDi, kak cut, dan untuk semua member, terima kasih banyak untuk dukungan dan bantuan kalian semua. Terima kasih juga untuk anak-anak mamah di AR, Azril, Sabila, dan Jumey. Special thanks and also big thanks, untuk Hana Hikari, Ria Diana Santi, ecce, bunda Ais, Yenny, kak Mila, kak Lee, terima kasih untuk kalian yang selalu mendukung dan menjadi tempat berkeluh kesah author receh ini.


Sekali lagi terima kasih untuk kalian semua para pembaca novel pertama ku ini. Terima kasih banyak untuk dukungan kalian semua. Semoga kita bisa berjumpa kembali di novel ku selanjutnya nanti.


BIG THANKS AND HUG FOR YOU ALL ,,, LOVE YOU 😘😘😘

__ADS_1


Salam sayang ...


iin nuryati 😘*


__ADS_2