Cinta Sheila

Cinta Sheila
S2 Bersikap Aneh


__ADS_3

Karena kejadian penyerangan kemarin akhirnya Sean memutuskan untuk Sonia resign dari perusahaan. Keamanan Sonia adalah yang paling penting saat ini. Jadi sekarang Sonia hanya berdiam diri di dalam apartemen dengan ditemani oleh Mbak Ratmi dan juga Sena. Tentu saja dengan penjagaan dan keamanan yang lebih diperketat lagi.


Terkadang safa datang untuk berkunjung ke apartemen apabila dia sedang tidak begitu sibuk di toko kuenya. Atau kadang juga Sonia dan Sena yang berkunjung ke rumah Bunda Sheila. Mereka menghabiskan waktu bersama agar Sonia tidak merasa bosan.


Sudah lebih dari seminggu semenjak kejadian penyerangan itu. Saat ini Sonia sedang menonton televisi di ruang keluarga di apartemennya. Sementara Sena menemani Sonia sembari mengerjakan tugas kuliah di laptopnya.


"Sena," panggil Sonia tiba-tiba.


"Iya Mbak," sahut Sena masih dengan berfokus pada layar laptopnya.


"Mbak kok tiba-tiba jadi pengen rujak ya. Pasti seger banget tuh. Apalagi kalau banyak mangga mudanya. Mmmmm,,," kata Sonia dengan menutup kedua matanya dan bergumam, membayangkan segarnya rujak yang seakan sudah berada di depan mata.


Sena mengernyitkan dahinya mendengar perkataan Sonia. Sena kemudian menoleh ke arah Sonia karena sedikit terkejut mendengar perkataan Sonia tadi. Apalagi ketika Sena melihat wajah Sonia yang nampak begitu berharap. Sudah seperti seorang anak kecil yang merengek minta dibelikan es krim.


"Tapi ini masih pagi loh Mbak. Baru juga jam sembilan. Nanti perut Mbak Sonia sakit kalau jam segini makan rujak," kata Sena menanggapi.


"Tapi Mbak udah pengen banget nih Sen," balas Sonia setengah merengek.


"Ya udah deh. Kalau gitu biar Sena minta Rey buat beliin rujak ya untuk Mbak," kata Sena pada akhirnya.


"Yeay," sorak Sonia kegirangan.


"Jangan lupa bilang sama Rey, mangga mudanya minta yang lebih banyak ya Sen," pesan Sonia sumringah.


"Eh, i-iya Mbak," balas Sena sedikit tergagap, karena jujur saja Sena merasa bingung dengan permintaan Sonia yang tiba-tiba itu.


Tapi melihat reaksi Sonia yang begitu bahagia dengan senyuman lebar yang terukir di bibirnya itu, Sena pun akhirnya jadi ikut tersenyum juga. Sena kemudian menelepon Rey dan meminta Rey untuk membelikan rujak untuk Sonia. Tentu saja tidak lupa dengan request mangga muda yang lebih banyak dari Sonia tadi.


🌸🌸🌸


"Kenapa wajah Lo gitu banget?" tanya Adrian setelah melihat wajah Sean yang nampak keheranan setelah membaca sebuah pesan yang baru saja masuk ke ponselnya.


Saat ini Sean dan Adrian sedang berada di dalam ruangan Adrian, mendiskusikan tentang proyek baru mereka.


"Ini. Laporan dari Sena," jawab Sean.


"Emang Sena kirim laporan apa Bang? Kok Abang sampe keheranan banget gitu," tanya Safa setelah meletakkan dua piring kecil berisi cake coklat di depan Sean dan Adrian.


Ya, Safa kebetulan sedang berkunjung ke kantor dan membawakan cake coklat kesukaan Sean dan juga Adrian.


"Makasih sayang," kata Adrian dengan senyum manisnya.


"Sama-sama Mas," balas Safa ikut tersenyum juga.


Sean merotasi kedua bola matanya, sedikit jengah menanggapi interaksi pasangan bucin di depannya itu.

__ADS_1


"Nggak usah sok mesra deh di depan gue. Mau Lo Yan gue cabut restu gue buat Lo sama adek gue?" tegur Sean malas.


"Idih, sewot. Iri bilang bos. Pulang sana, mesra-mesraan sama istri Lo sendiri, ganggu aja Lo," cibir Adrian.


"Asem Lo Yan. Gue kepret juga Lo lama-lama," sewot Sean.


"Abang, Mas Rian, apaan sih! Jangan ribut deh, kayak anak kecil aja," tegur Safa jengah dengan kelakuan dua orang laki-laki yang dia sayangi itu.


"Abang kamu nih sayang yang mulai," kata Adrian membela diri.


"Sialan Lo," balas Sean sembari melempar kertas yang sudah lebih dulu dia remas dan membentuknya menjadi gumpalan ke arah Adrian.


"Wkwkwk, hiii takut sayang, singa-nya marah," goda Adrian setelah tertawa kencang kemudian langsung memeluk pinggang Safa dan menyembunyikan wajahnya, bahkan Adrian juga berpura-pura gemetar karena ketakutan.


"Kampret Lo Yan," umpat Sean.


"Abang! Mas Rian! Udah dong," tegur Safa marah.


"Hehehe, iya sayang, maaf deh," sesal Adrian sembari menegakkan tubuhnya kembali.


"Emangnya si Sena kasih laporan apaan sih sampe Lo terlihat keheranan kayak gitu?" tanya Adrian mengulangi pertanyaan dari Safa tadi.


Sean menghembuskan nafasnya kasar, berusaha meredakan emosinya yang sempat terpancing naik tadi.


"Sena bilang hari ini Sonia udah tiga kali minta dibeliin rujak. Bahkan Sonia juga request minta mangga mudanya lebih banyak lagi katanya. Sena tanya, Sonia terbiasa makan asam dan pedas apa enggak? Sena takut kalau Sonia jadi sakit perut nanti," kata Sean menjelaskan.


"Mangga mudanya minta lebih banyak lagi?" tanya Safa juga ikut keheranan.


Sean hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


"Tapi Bang, setahu aku, Sonia nggak begitu suka pedas lho. Ya standar aja gitu pedasnya. Apalagi asam, nggak begitu suka juga dia. Kenapa ini justru mangga mudanya minta yang lebih banyak ya?" Safa menyampaikan apa yang dia ketahui selama ini tentang Sonia sekaligus bertanya keheranan.


Sean pun semakin mengernyitkan dahinya karena merasa bingung.


🌸🌸🌸


Beberapa hari kemudian.


"Mas," panggil Sonia begitu melihat Sean keluar dari kamar mandi.


"Hmm, ada apa sayang?" tanya Sean sembari mengeringkan rambutnya yang masih basah menggunakan handuk kecil.


Sonia berdiri kemudian mengambil alih handuk yang sedang Sean pegang. Sonia membimbing Sean untuk duduk di kursi rias milik Sonia. Kemudian Sonia pun mulai mengeringkan rambut Sean dengan handuk kecil di tangannya.


"Kita jalan-jalan yuk Mas, ke taman kota. Aku bosan Mas di rumah terus," ajak Sonia dengan sedikit menyampaikan keluhannya.

__ADS_1


"Oh, jadi kamu mau jalan-jalan ke taman kota sayang?" tanya Sean.


"Iya Mas," jawab Sonia.


"Ya udah, biar Mas suruh Rey untuk nyiapin mobilnya dulu ya," kata Sean lagi.


"Eh, jangan Mas," tolak Sonia yang membuat Sean mengernyitkan dahinya.


"Jangan pakai mobil. Kita naik motor aja yuk! Aku pengen banget ngerasain naik motor dibonceng sama Mas. Kita naik motor yang sering Mas pakai tiap kali datang ke cafe waktu dulu itu ya," pinta Sonia dengan wajah penuh harap.


Kernyitan di dahi Sean semakin dalam, bahkan kedua alis Sean pun nyaris bertaut karena merasa begitu heran mendengar permintaan Sonia tadi.


"Tapi ini udah malem lho sayang. Udaranya juga dingin. Kita naik mobil aja ya," bujuk Sean.


"Nggak mau. Aku pengennya naik motor Mas Sean yang itu," rengek Sonia dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


Melihat Sonia yang seperti itu, Sean pun merasa tidak tega dan akhirnya mengalah.


"Ya udah, kita naik motor aja kalau gitu," ucap Sean pada akhirnya.


"Yeay!!!" teriak Sonia kegirangan.


"Makasih suamiku sayang, muach," kata Sonia yang kemudian mencium pipi kiri Sean.


Sean tersenyum melihat perilaku Sonia yang seperti anak kecil itu. Tapi jujur saja Sean sebenarnya merasa bingung. Sean benar-benar dibuat heran dengan sikap aneh Sonia selama beberapa hari belakangan ini.


Entah kenapa Sonia tiba-tiba jadi doyan rujak, bahkan dengan permintaan mangga muda yang lebih banyak. Pernah juga Sonia minta dibelikan martabak ketika Sean pulang dari kantor. Bahkan kemarin Sonia minta untuk dibelikan nasi goreng, padahal saat itu sudah jam sebelas malam lebih. Dan sekarang, Sonia pengen naik motor bersama Sean dan pergi jalan-jalan ke taman kota.


Tiba-tiba saja Sean jadi teringat kembali dengan percakapannya bersama Safa dan Adrian ketika di ruangan Adrian beberapa hari yang lalu.


'Mungkinkah?'


Batin Sean bertanya dengan pemikiran yang sudah melayang ke kejadian beberapa hari yang lalu di ruangan Adrian itu.


Flashback


"Kok Sonia tiba-tiba jadi bersikap aneh dan diluar kebiasaan dia gini sih Bang? Atau jangan-jangan..." Safa tidak melanjutkan ucapannya.


"Jangan-jangan apa sayang?" tanya Adrian.


"Mmm, tapi ini juga baru perkiraan aku aja sih Mas," kata Safa masih terdengar ragu-ragu.


"Dan apa perkiraan kamu itu Dek?" tanya Sean sedikit tidak sabar.


"Jangan-jangan Sonia lagi hamil Bang. Soalnya kan biasanya wanita yang sedang hamil muda itu emang paling suka makan yang asem-asem gitu. Dan mereka juga sering bersikap diluar kebiasaan mereka gitu," jawab Safa menjelaskan apa yang sempat terlintas di pikirannya.

__ADS_1


"Tapi ini juga cuma perkiraan aku aja loh Bang. Saran aku sih alangkah lebih baiknya kalau Abang dan Sonia segera periksa ke dokter aja untuk lebih memastikan hal itu," kata Safa lagi.


Sean terdiam mendengar semua perkataan Safa tadi. Tapi jujur, di dalam hati Sean muncul banyak harapan semoga apa yang dikatakan oleh Safa itu adalah benar adanya.


__ADS_2