Cinta Sheila

Cinta Sheila
S2 Hari Pertama, Pertemuan Pertama


__ADS_3

Hari ini merupakan hari pertama Sonia bekerja di perusahaan SR Group. Sonia terlebih dahulu diantar ke bagian HRD untuk klarifikasi data dan tanda tangan kontrak kerja. Setelah itu baru kemudian Sonia di antar ke bagian divisi keuangan.


"Pak Azril ini Anastasia, karyawan baru yang akan bergabung dengan divisi keuangan," kata kepala HRD memperkenalkan Sonia kepada Azril, kepala divisi keuangan SR Group.


"Selamat datang Anastasia, selamat bergabung dengan divisi keuangan," kata Azril dengan mengulurkan tangannya.


"Terima kasih Pak. Mohon bimbingannya," balas Sonia menyambut uluran tangan Azril.


"Tentu," kata Azril setelah jabat tangan mereka terlepas.


"Baiklah kalau begitu saya permisi dulu pak Azril. Ana selamat bekerja ya," pamit kepala HRD kemudian meninggalkan ruangan Azril.


"Oke Ana, nanti kamu akan diantar sekretaris saya ke meja kamu sekalian menjelaskan job desk kamu," kata Azril menjelaskan.


"Baik Pak," balas Sonia.


"Billa, ke ruangan saya sekarang," Azril memanggil sekretaris-nya melalui intercom kantor.


Tidak lama kemudian terdengar pintu diketuk. Lalu masuk seorang wanita setelah dipersilahkan oleh Azril.


"Ada yang bisa saya bantu Pak?" tanya Billa.


"Ini Ana, karyawan baru. Tolong kamu tunjukkan dimana mejanya sekaligus jelaskan tentang job desk nya, ya," perintah Azril.


"Baik Pak. Mari silahkan," Billa menjawab sekaligus mempersilahkan Sonia untuk mengikutinya.


"Baik," balas Sonia. "Saya permisi dulu Pak," pamit Sonia kepada Azril yang dijawab dengan anggukan kepala.


Sonia kemudian mengikuti Billa keluar dari ruangan Azril.


"Ana ini meja kerja kamu," kata Billa setelah sampai di sebuah meja.


"Iya Mbak, terima kasih," balas Sonia.


"Perhatian semuanya, perkenalkan ini Ana, dia bergabung dengan divisi kita mulai hari ini," Billa memberitahu kepada karyawan yang lainnya yang ada di ruangan tersebut.


"Hai Ana," sapa yang lainnya hampir bersamaan.


"Hai semuanya, salam kenal, mohon bimbingannya ya," kata Sonia.


"Oke," balas mereka dengan mengangkat jempol ke udara.


Sonia kemudian duduk di kursi kerjanya. Billa pun segera menjelaskan tentang rincian pekerjaan Sonia dan Sonia memperhatikan dengan sungguh-sungguh. Setelah selesai menjelaskan semuanya Billa pun meninggalkan Sonia agar bisa mulai mengerjakan pekerjaannya.


"Bismillah," ucap Sonia kemudian mulai mengerjakan pekerjaannya.


Sonia mengerjakan semua pekerjaannya dengan teliti dan hati-hati. Tidak terlalu sulit ternyata, hanya butuh keseriusan. Tanpa terasa sekarang sudah waktunya istirahat makan siang.


"Ana ayo kita makan siang dulu," ajak Hana yang mejanya tepat berada di depan meja Sonia.

__ADS_1


"Maaf banget, tapi hari ini aku puasa," tolak Sonia tidak enak hati.


"Oh, puasa Senin Kamis ya?" tanya Tari dari meja seberang.


"Iya," jawab Sonia.


"Wah, hebat ya kamu Ana. Jarang-jarang loh anak muda jaman sekarang mau puasa Senin Kamis, ada aja alesannya," sahut Fifi yang sudah berdiri di dekat meja Sonia.


"Ah, biasa aja kok Mbak," kata Sonia rendah diri. "Emmm, kalau boleh tau musholla disini di sebelah mana ya?"


"Di lantai bawah, dekat sama kafetaria. Ya udah, kalau gitu kita juga sholat dulu aja yuk sama-sama," ajak Hana yang langsung diangguki oleh Tari dan Fifi.


Sonia mengambil tas mukena-nya kemudian beranjak mengikuti langkah ketiga teman barunya itu.


"Eh, kamu bawa mukena sendiri An?" tanya Fifi.


"Iya Mbak, udah terbiasa dari dulu sih."


"Tapi kalau dipikir-pikir memang lebih baik bawa sendiri sih. Kan terjamin kebersihannya juga, orang punya kita sendiri. Kalau yang di musholla, ya emang bersih juga sih, kan seminggu sekali rutin dicuci juga, tapi kan yang make orang banyak juga," celetuk Hana tiba-tiba.


"Eh, iya juga. Kok aku baru kepikiran sih," balas Tari.


"Nggak masalah sih Mbak sebenernya, kan yang penting fungsinya, apalagi dalam keadaan terdesak karena tidak ada pilihan lain. Tapi ya emang, alangkah lebih baiknya kalau kita bawa sendiri, terjamin kebersihannya juga," Sonia menanggapi.


Obrolan-obrolan ringan terus mengiringi langkah mereka sampai akhirnya mereka sampai di musholla. Mereka berempat kemudian mengambil wudhu lalu sholat Dzuhur berjamaah.


"Subhanallah, musholla nya terawat banget ya Mbak," celetuk Sonia ketika mereka sedang melipat mukena masing-masing.


"Jangan salah An, musholla di perusahaan ini mendapat perhatian khusus dari CEO kita langsung. Makanya benar-benar bersih dan terawat," balas Fifi.


Sonia membuka mulutnya membentuk huruf O sambil mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti.


"Ya udah, kalau gitu kita duluan ke kafetaria ya An. Kamu mau balik ke atas atau gimana?" tanya Hana.


"Iya Mbak, silahkan. Aku masih mau disini dulu sebentar Mbak," jawab Sonia.


"Oke, kita duluan kalau gitu," pamit Hana.


Sonia menganggukkan kepalanya dan membalas lambaian tangan dari ketiga teman barunya itu. Setelah kepergian ketiga temannya Sonia kemudian mengeluarkan Al-Qur'an kecil yang selalu ada di tas mukena-nya. Sonia kemudian mulai mengaji.


🌸🌸🌸


Sean baru saja selesai melaksanakan ibadah sholat Dzuhur di musholla. Selesai berdo'a samar-samar Sean mendengar suara seseorang yang sedang mengaji.


'Ada yang lagi ngaji, tumben banget.'


Sean mengedarkan pandangannya, mencari darimana asal suara tersebut. Pandangan Sean jatuh pada seorang gadis berhijab yang sedang menunduk, tampak begitu khusyuk dengan bacaan kitab Al-Qur'an nya.


'Karyawan baru kah? Sepertinya aku belum pernah melihat dia sebelumnya.'

__ADS_1


Sean kembali duduk menghadap ke arah kiblat. Tapi kali ini mengambil posisi di pinggir dekat dinding, sejajar dengan posisi gadis yang sedang mengaji itu.


Sean sengaja, ingin mendengarkan suara gadis yang sedang mengaji itu. Entah mengapa Sean merasa begitu damai ketika mendengar suara gadis itu yang sedang melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an, meski tidak terlalu keras.


Tak terasa sudah lebih dari setengah jam Sean duduk mendengarkan gadis yang sedang mengaji itu. Getar ponsel di saku celananya membuat Sean terperanjat. Mengembalikan Sean pada kesadarannya, setelah terhanyut begitu lama dalam keindahan lantunan ayat suci yang dibaca gadis itu.


Sean mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Nama Adrian terpampang di layar ponselnya. Sean segera menggeser tombol hijau tersebut.


"Assalamu'alaikum Yan," sapa Sean.


"Wa'alaikumsalam. Lo dimana sih Sean? Lama banget. Kenzie sama Ghania udah nungguin nih."


"Sorry-sorry, gue lupa. Oke gue otewe sekarang. Lo tunggu di depan, kita bareng aja berangkat meeting-nya," kata Sean.


"Gue tungguin di lobi, buruan."


"Oke, gue kesana sekarang."


Sean mematikan sambungan teleponnya.


'Astaga, bisa sampai lupa gini gue kalo ada meeting. Suara merdu gadis itu udah bikin gue seperti terhipnotis aja. Sayang banget gue harus pergi sekarang juga.'


Sean lalu berdiri, menoleh sebentar ke arah gadis yang sedang mengaji itu, kemudian melangkahkan kakinya keluar meninggalkan musholla. Sementara Sonia pun mengangkat kepalanya, melihat punggung Sean yang sedang berjalan keluar dari musholla.


Sonia sebenarnya menyadari bahwa ada seseorang yang sengaja duduk beberapa meter di depannya untuk mendengarkan dia mengaji. Tapi Sonia lebih memilih mengabaikan orang itu dan fokus pada bacaan kitab sucinya.


Sean segera bergegas menuju ke lobi depan. Dan benar saja, Adrian sudah menunggunya disana.


"Darimana aja sih Lo? Gue cariin dari tadi juga," gerutu Adrian.


"Sorry, habis dari musholla gue," jawab Sean.


"Dari musholla? Bukannya udah dari adzan tadi ya Lo pamit ke gue mau sholat Dzuhur?" tanya Adrian bingung.


"Ada sesuatu tadi. Udah, ayo buruan berangkat. Katanya udah ditungguin sama Kenzie sama Ghania," jawab Sean mengalihkan pembicaraan.


Berhasil, karena Adrian tidak bertanya lebih jauh lagi. Mereka berdua kemudian melangkah keluar dari lobi menuju ke mobil yang sudah terparkir di depan lobi perusahaan.


Dalam perjalanan, Sean yang duduk di sebelah Adrian yang sedang mengemudi nampak melamun.


'Siapa gadis tadi? Suaranya merdu banget, bisa bikin hati jadi adem dan tenang. Duh, kenapa gue jadi mikirin gadis itu terus sih.'


Sean menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. Mencoba menjernihkan pikirannya sendiri yang sepertinya mulai terkontaminasi karena rasa penasaran kepada gadis yang dilihatnya tadi.


"Kenapa Lo senyum-senyum gitu?" tanya Adrian yang penasaran melihat tingkah aneh Sean.


"Hah? Enggak. Nggak ada apa-apa kok," elak Sean.


Adrian mengangkat kedua bahunya. Tidak ingin memaksa apabila sahabatnya itu belum mau bercerita.

__ADS_1


__ADS_2