Cinta Sheila

Cinta Sheila
S2 Pengganggu


__ADS_3

"Mas nanti malam temen-temen satu divisi mau ngadain makan malam buat perpisahan kak Fifi yang mau pindah ke luar negeri ikut sama suaminya. Sonia boleh pergi nggak?" tanya Sonia.


Saat ini Sean dan Sonia sedang berada di dalam mobil. Keduanya sedang dalam perjalanan berangkat menuju ke kantor.


"Fifi yang biasa ke musholla sama kamu itu?" tanya Sean.


"Iya Mas."


"Jam berapa acaranya?" tanya Sean lagi.


"Katanya sih jam delapan malam."


"Oh. Oke, nanti malem Mas anterin."


"Eh, nggak usah Mas. Nanti malah ketahuan lagi sama yang lainnya. Kan kata Ayah kemarin masih harus dirahasiakan dulu," tolak Sonia.


"Mas kan cuma nganterin kamu doang. Lagian nih ya, kalau mereka nanti tau tiba-tiba CEO mereka juga ada disana, pasti mereka nggak akan keberatan kok kalau Mas bergabung. Justru mereka yang akan meminta Mas untuk bergabung dengan acara mereka," sanggah Sean.


"Dih, kumat narsisnya. Modus pula. Aku baru tau loh kalau ternyata Mas ini suka banget modus. Dingin dan kaku apanya coba kalau kayak gini," cibir Sonia.


"Hmm, dingin dan kaku? Siapa yang bilang kayak gitu?" tanya Sean penasaran.


"Semua di kantor bilang kayak gitu Mas. Katanya Mas itu tuh CEO yang tegas, dingin, dan kaku."


"Hahaha, belum tau aja mereka," kata Sean sembari tertawa.


"Kalau di kantor tentu saja Mas harus menunjukkan wibawa Mas sebagai seorang pemimpin yang baik. Nah kalau di luar kantor, apalagi sama keluarga, ya Mas jadi diri Mas sendiri," lanjut Sean.


Sonia tersenyum menanggapi ucapan Sean barusan. Membenarkan apa yang dikatakan oleh suaminya itu.


🌸🌸🌸


"Udah siap?" tanya Sean kepada Sonia yang masih duduk di kursi meja riasnya.


"Udah Mas."


"Ayo, kita berangkat sekarang!"


Sonia menganggukkan kepalanya. Sean dan Sonia kemudian beranjak keluar dari kamar mereka. Baru juga mereka menuruni separuh anak tangga, tiba-tiba terdengar bel pintu apartemen mereka berbunyi.


"Biar aku aja yang buka Mas," kata Sonia.


"Sekalian aja. Kita ke depan sama-sama."


"Oke."


Sean dan Sonia kemudian melangkah beriringan ke arah pintu. Dan betapa terkejutnya mereka setelah membuka pintu dan mengetahui siapa yang datang.


"Kamu?" tanya Grizelle yang juga sangat terkejut melihat Sonia.


"Grizelle?" Sean pun juga terkejut, tidak menyangka sama sekali kalau Grizelle akan datang ke apartemennya.


"Bagaimana kamu tau apartemen aku?" tanya Sean setelah berhasil menguasai keterkejutannya.


"Sammy yang kasih tau ke aku."


"Sammy?"

__ADS_1


"Iya, kita nggak sengaja ketemu di mall kemarin. Tapi Sean, kenapa gadis pelayan ini ada di apartemen kamu?"


"Grizelle jaga bicara kamu," sentak Sean yang langsung membuat Grizelle bahkan Sonia ikut terperanjat.


"Sean, kamu bentak aku? Cuma karena gadis pelayan cafe ini?" tanya Grizelle dengan suara yang dibuat sedih dan kecewa.


"Maafkan aku Elle. Tapi kamu seharusnya tidak berbicara seperti itu. Tolong tunjukkan sopan santun kamu, karena gadis ini adalah-"


Sonia langsung memegang lengan kanan Sean, menghentikan apa yang akan dikatakan oleh Sean. Sonia menggeleng pelan ketika Sean menoleh ke arahnya. Sean menghembuskan nafasnya kesal.


"Ada perlu apa kamu kesini Elle?" tanya Sean mengganti topik pembicaraan.


"Aku mau bicara sama kamu Sean. Ada yang harus kita bicarakan," jawab Grizelle.


"Maaf, tapi aku ada urusan dan harus pergi sekarang juga."


"Sean kenapa kamu setega itu sama aku? Aku udah bela-belain datang kesini dan kamu mau pergi ninggalin aku gitu aja?" tanya Grizelle yang sudah mulai mengeluarkan jurus ingin menangisnya.


Sean nampak ragu, Sonia bisa melihat hal itu.


"Mas, biar aku pergi sendiri aja ya. Aku bisa kok," kata Sonia mencoba menengahi.


"Nggak Sonia. Mas anterin kamu," kekeuh Sean.


"Mas," panggil Sonia lagi.


Sonia tersenyum sambil menganggukkan kepalanya pelan. Sean paham maksud Sonia. Menghembuskan nafasnya kasar, Sean akhirnya mengalah.


"Kamu masuk aja dulu Elle. Ada yang mau aku bicarakan terlebih dahulu dengan Sonia," kata Sean.


Grizelle mengangguk kemudian melangkah masuk ke dalam apartemen Sean. Sean menggandeng tangan Sonia dan membawanya melangkah keluar.


"Mas, selesaikan masalah di antara kalian. Bicarakan baik-baik," kata Sonia memotong perkataan Sean.


"Tapi aku dan dia nggak ada hubungan apa-apa, sungguh."


"Aku tau, dan aku percaya sama Mas. Maka dari itu aku minta sama Mas untuk bicara baik-baik dengan Mbak Grizelle. Jangan membuat kesalahpahaman di antara kalian menjadi berlarut-larut."


Sean mendesah kasar dan menyugar rambutnya ke belakang.


"Tunggu sebentar," kata Sean seraya memegangi tangan Sonia kembali.


Sean mengeluarkan ponselnya kemudian menghubungi seseorang.


"Sena tolong kamu ke apartemen Abang sekarang juga. Abang mau minta tolong sama kamu buat nganterin Sonia."


"......."


"Oke, nggak pa-pa. Kamu tunggu aja di bawah."


Sean kemudian menutup panggilan teleponnya.


"Kamu dianterin sama Sena ya. Dia anak perempuannya Om Bima. Kamu tunggu aja dia di bawah, sebentar lagi dia sampai. Mas kirim foto sama nomor telepon Sena ke kamu," kata Sean.


"Iya Mas. Kalau gitu aku pergi dulu ya. Assalamu'alaikum," pamit Sonia kemudian meraih tangan kanan Sean dan mencium punggung tangannya.


"Wa'alaikumsalam. Kamu hati-hati ya."

__ADS_1


Sonia menganggukkan kepalanya dan tersenyum. Setelah itu Sonia pun pergi meninggalkan Sean.


Setelah Sonia masuk ke dalam lift, Sean mengetikkan sebuah pesan kepada Sammy dan mengirimnya. Setelah itu baru Sean berbalik dan masuk kembali ke dalam apartemennya.


🌸🌸🌸


Sonia keluar dari lift kemudian melangkah menuju ke arah pintu keluar.


"Mbak Sonia," panggil seorang gadis.


"Iya."


Sonia menoleh ke arah gadis yang sudah memanggilnya itu. Seorang gadis cantik yang masih muda, tapi kelihatan sedikit tomboy. Dengan celana jeans dan kaos yang dilapisi jaket kulit, serta rambut panjang yang dikuncir kuda kemudian dipakaikan topi. Berbanding terbalik dengan Sonia yang mengenakan gamis panjang dengan hijabnya yang nampak begitu dewasa dan anggun.


"Kamu Sena ya?" tanya Sonia memastikan.


"Iya Mbak, aku Sena," jawab Sena.


Keduanya kemudian sama-sama tersenyum dan berjabat tangan.


"Ayo kita berangkat sekarang Mbak," ajak Sena.


"Ayo."


Sonia mengikuti langkah Sena menuju ke mobilnya yang diparkir di halaman apartemen.


"Kamu masih kuliah Sena?" tanya Sonia setelah mobil yang mereka tumpangi bergerak meninggalkan halaman apartemen.


"Iya Mbak. Alhamdulillaah ini udah tahun terakhir," jawab Sena sembari mengemudikan mobilnya.


"Oh ya? Ambil jurusan apa?"


"Tehnik komputer Mbak."


"Wah, hebat dong."


"Pengen aja bisa kayak Papa, Mbak."


"Kamu pasti bisa jadi sehebat Om Bima," kata Sonia penuh keyakinan.


"Aamiin. Makasih ya Mbak," balas Sena.


Sonia dan Sena sama-sama tersenyum.


Beberapa saat kemudian, mobil yang mereka tumpangi berhenti di depan sebuah restoran.


"Maaf ya Mbak nggak bisa nungguin sampai Bang Sean dateng. Tapi nanti akan ada temen aku yang datang buat ngawasin dan jagain Mbak Sonia. Jadi Mbak Sonia tenang aja ya," kata Sena setelah mematikan mesin mobilnya.


"Iya Sena, nggak pa-pa kok. Makasih ya udah nganterin Mbak."


"Sama-sama Mbak. Jangan sungkan buat hubungi Sena ya kalau perlu bantuan Sena. Apapun dan kapanpun itu."


"Oke. Kalau gitu Mbak turun dulu ya. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam. Hati-hati ya Mbak."


"Kamu juga hati-hati ya," pesan Sonia yang dibalas dengan anggukan kepala dari Sena dan kedua ibu jari yang diangkat.

__ADS_1


Keduanya sama-sama tersenyum. Sonia kemudian turun dari mobil Sena. Berjalan memasuki restoran tersebut dan menghampiri teman-teman satu divisinya yang sebagian sudah datang terlebih dahulu.


__ADS_2