
Steven sampai di rumah sakit sudah malam, dia mengantar Max pulang dulu tadi. Lusia, Dyah, dan Tya juga sudah pulang, hanya tinggal Leon yang akan menginap malam ini menemani Steven dan Sheila.
"Assalamu'alaikum," salam Steven sambil membuka pintu.
"Wa'alaikumsalam," Sheila dan Leon menjawab bersamaan.
Steven masuk kemudian mendekati Sheila yang sedang terduduk di ranjang rumah sakit kemudian mencium keningnya.
"Udah selesai urusannya Mas?"
"Udah," jawab Steven setelah duduk di pinggir bed Sheila.
"Kak Max mana?"
"Udah Mas anterin pulang sekalian. Tadi Max bilang kalau malam ini Leon yang akan menginap disini."
"Mas udah makan?"
"Belum laper sayang."
"Iiisshhh, kok gitu sih. Nanti Mas sakit loh. Kak Leon juga tuh, dari tadi suruh pesen makan malam gak mau terus," rajuk Sheila.
"Lo juga belum makan Yon?" tanya Steven mengalihkan pandangannya ke Leon yang duduk di samping kanan bed Sheila. "Kenapa gak delivery aja?"
"Belum laper juga tadi. Gue pesen sekarang, Lo gue pesenin sekalian ya. Lo kan juga belum makan. Mau makan apa Lo?"
"Samain aja kayak Lo."
"Oke. Gue sekalian rapihin kerjaan gue dulu ya," kata Leon lalu berdiri dan berjalan ke arah sofa setelah mendapat anggukan kepala dari Steven.
Leon sengaja memberi kesempatan untuk Steven dan Sheila berduaan karena dia tahu ada yang ingin dibicarakan oleh Steven kepada Sheila.
"Mas tadi kemana sama kak Max?" tanya Sheila hati-hati.
Steven tersenyum lembut sebelum menjawab pertanyaan Sheila.
"Ngasih hukuman buat orang yang udah nabrak kamu."
Sheila nampak terkejut dan membulatkan kedua matanya.
"Mas gak ngapa-ngapain mbak Nila kan?" tanya Sheila panik yang justru membuat Steven kaget dan bingung, darimana Sheila tahu.
Seketika Sheila langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan, menyesal karena sudah keceplosan bicara.
"Darimana kamu tahu kalau itu Nila Shei?" tanya Steven menyelidik.
"E-em,,, enggak, i-itu,,, tadi aku cuma,,," terbata Sheila menjawab pertanyaan dari Steven.
"Jangan bohongin Mas Shei," potong Steven tegas.
Sheila menundukkan kepalanya, tidak mampu melihat wajah Steven yang nampak berang karena menahan emosi.
"Maaf Mas," lirih Sheila.
"Lihat wajah Mas Shei!" pinta Steven pelan tapi tegas.
Sheila perlahan mengangkat wajahnya. Melihat Sheila yang nampak ketakutan, raut wajah Steven seketika berubah menjadi lebih lembut. Tangan Steven terangkat kemudian membingkai wajah Sheila.
__ADS_1
"Jadi kamu tahu kalau Nila yang udah nabrak kamu?" tanya Steven.
Sheila menganggukkan kepalanya pelan.
"Aku sempat melihat mbak Nila yang duduk di belakang kemudi sesaat sebelum aku tertabrak mobil itu Mas."
"Dan kenapa kamu gak ceritain masalah itu sama Mas Shei?"
"Maaf Mas."
"Mas udah maafin kamu. Tapi Mas tetep butuh jawaban Shei."
"Aku cuma gak mau kalau sampai Mas emosi dan lepas kendali. Kasian mbak Nila, aku mencoba memposisikan diri aku sendiri berada di posisi mbak Nila Mas. Aku juga pasti akan sakit hati dan kecewa ditinggalkan begitu saja setelah lama bersama," jawab Sheila lirih.
Steven mengesah pelan. Memang sebaik itu hati Sheila, dan itu juga yang membuat Steven lagi dan lagi jatuh cinta kepada istrinya itu.
"Tapi dia sendiri yang udah mengkhianati Mas Shei, mengkhianati hubungan kami."
Sheila terdiam mendengar perkataan Steven. Ya, Sheila membenarkan perkataan Steven tersebut, tapi tetap saja hati kecilnya merasa kasihan kepada Nila.
"Dan tindakannya ini udah termasuk perbuatan kriminal Shei. Dia harus mendapatkan hukuman agar jera dan tidak mengulangi perbuatannya lagi di kemudian hari."
"Tolong maafkan mbak Nila Mas, demi aku. Lagian aku juga udah gak apa-apa sekarang," mohon Sheila sambil memegang kedua tangan Steven.
"Tapi kali ini dia udah bener-bener keterlaluan Shei," kata Steven, masih belum memberitahu Sheila yang sebenarnya sudah terjadi.
"Jangan menyimpan dendam Mas, gak akan ada manfaatnya. Yang penting kan sekarang aku udah gak apa-apa."
Melihat Steven masih terdiam dengan raut wajah penuh emosi Sheila justru tersenyum lembut. Sheila membingkai wajah Steven dengan satu tangannya yang bebas dari jarum infus.
"Serahkan semua kepada Allah SWT Mas. Biarkan Allah yang akan membalas semua perbuatan buruk orang lain pada kita. Kita hanya diwajibkan untuk selalu bersabar Mas."
"Kamu jadi orang kok baik banget sih Shei. Gimana Mas bisa nolak coba kalau kamu semanis ini. Istri siapa sih ini," goda Steven sambil menggoyangkan badan mereka ke kiri dan kanan.
"Istrinya Mas Steven Alvaro Setyo Aji, CEO muda SA Group yang hebat dan sukses," kata Sheila menggoda balik suaminya.
"Eh, udah pinter gombal ya kamu sekarang," kata Steven sedikit menjauhkan badan mereka kemudian mencubit hidung Sheila.
"Kan Mas yang ngajarin."
"Idih, pinter ngeles lagi sekarang."
"Biarin, wleee," jawab Sheila dengan menjulurkan lidahnya mengejek.
"Oh, udah berani ya sekarang. Oke, siap menerima hukuman berarti," kata Steven tersenyum jahil.
Steven langsung menggelitiki perut Sheila membuat Sheila tertawa dan mengaduh.
"Ahahahahaha, udah Mas. Aww, ampun. Iya Mas iya, aku minta maaf."
Steven menghentikan aksinya dan kembali menarik Sheila ke dalam pelukannya. Masih terdengar sisa-sisa tawa dari keduanya. Leon yang melihat interaksi mereka berdua dari sofa hanya bisa geleng-geleng kepala sambil tersenyum. Bersyukur dalam hati karena sekarang Sheila sudah merasakan kebahagiaan dan dicintai Steven dengan begitu besarnya.
"Nila hamil Shei, anaknya Joe, udah tiga bulan," kata Steven setelah tawanya hilang.
Sheila seketika bangun dari pelukan Steven karena kaget. Dilihatnya wajah Steven yang sendu. Sheila kemudian menggenggam kedua tangan Steven erat, mencoba menyalurkan kekuatan.
"Mas..."
__ADS_1
"Joe berlutut memohon sama Mas, agar Mas mengampuni Nila, dan dia rela menggantikan Nila menerima hukuman apapun dari Mas. Joe juga minta maaf karena udah masuk dan merusak hubungan kami. Dia bilang dia sangat mencintai Nila dan calon anak mereka."
Sheila diam dan mendengarkan dengan seksama cerita Steven.
"Mas melihat ketulusan di mata Joe. Dan ya, bayi itu tidak bersalah, tidak sepantasnya dia menjadi korban karena perbuatan kedua orang tuanya. Mas melepaskan mereka. Joe berjanji kalau mereka akan pergi jauh ke luar negeri dan tidak akan pernah mengganggu kehidupan kita lagi."
"Aku bangga sama Mas Steven. Mas udah mengambil keputusan yang tepat. Yang sabar ya Mas. Aku tahu Mas pasti kecewa, itu manusiawi. Tiga tahun bukan waktu yang sebentar. Bukan hal yang mudah untuk langsung melupakan dan memaafkan begitu saja."
"Beruntungnya Mas memiliki kamu Shei," kata Steven dengan senyum yang kembali terkembang di bibirnya.
"Aku juga beruntung memiliki suami seperti Mas Steven, yang bisa mengambil keputusan dengan bijak meski sedang dalam keadaan terpuruk. Yakinlah Mas bahwa Allah SWT pasti memiliki rencana yang lebih baik untuk Mas Steven. Mas hanya perlu lebih bersabar lagi menghadapi masalah yang terjadi."
"Mas akan selalu sabar dan kuat, karena ada kamu di sisi Mas Shei."
"Itu baru suami Sheila," goda Sheila bermaksud untuk mencairkan suasana.
"Hmm, tapi ngomong-ngomong Mas jadi iri nih Shei sama mereka. Pokoknya kita juga harus segera memiliki anak. Kita harus bekerja lebih keras lagi agar kamu bisa segera hamil," kata Steven menggoda balik Sheila dengan bersemangat.
"Maaasss,,," rajuk Sheila. "Apaan sih."
"Loh, kenapa? Apanya yang salah? Mas kan juga pengen punya anak kayak mereka. Masak kita yang udah sah kalah sama mereka yang belum sah."
"Tau ah. Punya anak udah kayak pertandingan aja, emang semudah itu apa."
"Ya kan kita tinggal 'bikin' Shei. Yang sering, kalau gagal bikin lagi, terus hamil, terus melahirkan, udah deh kita punya anak."
"Iiisshhh, gak semudah itu juga kali Mas. Hamil juga butuh waktu sembilan bulan. Belum lagi ngidamnya, mual muntahnya, pegal-pegalnya. Aaahhhh, Mas mah cuma terima enaknya doang."
"Kan Mas udah jadi supplier benihnya."
"Iya tapi ya gak terus lepas tangan gitu aja dong kalau udah jadi."
"Mas gak akan lepas tangan. Mas kan tanggung jawab. Mas akan pijitin kamu kalo kamu muntah. Mas akan turutin ngidamnya kamu. Pokoknya tenang aja deh."
"Tapi kan-"
"Udah-udah, gak usah debat mulu. Nih Steve, makanannya udah dateng. Lo makan gih," kata Leon memotong perkataan Sheila sambil menyodorkan kotak makan kepada Steven.
"Kapan datengnya Yon? Kok gue gak tau?" tanya Steven sambil menerima kotak berisi makanan pemberian Leon.
"Baru aja. Lo asyik debat tadi makanya gak tau. Kalian ini ya, kalau udah berdua lupa deh sama yang lain. Dunia serasa milik berdua, yang lain mah ngontrak."
"Kak Leon,,,"
"Hahaha, Lo bener banget Yon. Tau aja Lo. Makasih ya makanannya."
"Iya sama-sama. Udah buruan dimakan."
Leon lalu kembali ke sofa dan memakan makan malamnya disana.
"Kok gak dimakan Mas?" tanya Sheila heran melihat Steven hanya diam saja dari tadi.
"Suapin," rengek Steven seperti anak kecil.
"Iya deh aku suapin. Sini."
Senyum Steven semakin lebar. Akhirnya Sheila menyuapi Steven makan. Senyum tidak pernah pudar dari wajah keduanya. Sesekali juga terdengar canda dan tawa tercetus dari mulut mereka. Mereka percaya bahwa pahit dan manis dalam kehidupan akan saling melengkapi satu sama lain.
__ADS_1
Dan lagi-lagi Leon hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan Steven dan Sheila.