
"Steve kamu harus bisa membujuk Tante Amel, Sheila butuh pertolongan secepatnya Steve," kata Kania sambil memegang bahu Steven.
"Iya Kak, aku akan ikut bujuk Mama sekarang," balas Steven. Dia lalu beralih ke Jefri dan Sarah, "Ayah, Bunda, Steven titip Sheila dulu ya."
Setelah mendapat anggukan dari Jefri dan Sarah Steven bergegas menyusul Mama dan Papa-nya. Steven melihat Mama dan Papa-nya sedang duduk di kursi taman rumah sakit. Steven kemudian mendekati mereka.
Setelah jaraknya lumayan dekat, Steven justru berhenti. Dia sedikit terkejut dengan pembicaraan kedua orang tuanya yang sedang menceritakan masa lalu mereka dulu. Sampai akhirnya cerita tersebut berakhir.
"Jason, apalagi Miranda, mereka berdua tidak bersalah Ma. Papa lah yang bersalah disini, bukan mereka." Steven mendengar Papa-nya memohon kepada sang Mama.
"Tapi sungguh Ma, Papa melakukan semuanya karena Papa sangat mencintai Mama. Tolong percaya sama Papa Ma," kata Ricko lagi meyakinkan dengan menggenggam kedua tangan Amelia erat.
Steven melihat Mama-nya masih nampak meragu. Steven kemudian mendekat dan langsung bersimpuh di depan sang Mama duduk.
"Steve,,," seru Amelia kaget.
"Steven mohon Ma, tolongin Sheila," pinta Steven.
"Sheila istri Steven Ma. Sheila jadi seperti ini juga karena nolongin Steven."
Amelia merasakan kebimbangan dalam dirinya. Steven meletakkan kepalanya di pangkuan Mama-nya dengan posisi miring. Reflek Amelia mengelus kepala putranya penuh sayang. Dapat dirasakannya pahanya basah, rupanya Steven menangis di pangkuannya. Belum pernah Amelia melihat putranya serapuh ini.
"Steven mohon tolongin Sheila Ma, demi Steven. Steven gak mau Sheila kenapa-napa Ma. Steven sayang sama Sheila."
"Steve..."
"Tolong Ma, demi Steven."
Ricko membelai lembut bahu Amelia dan menganggukkan kepalanya ketika Amelia menoleh ke arahnya. Pandangan mata sayu suami istri itu saling mengunci satu sama lain.
"Iya sayang, Mama mau mendonorkan darah Mama untuk Sheila," kata Amelia pada akhirnya.
Steven langsung menegakkan tubuhnya dan memandang Mama-nya.
"Sungguh Ma?" tanya Steven meyakinkan.
Amelia mengangguk. Steven langsung memeluk erat Mama-nya.
"Terima kasih Ma. Terima kasih banyak. Steven sayang sama Mama."
"Iya sayang."
Akhirnya Amelia bersedia mendonorkan darahnya untuk Sheila. Segera proses pengambilan darah pun dilakukan. Dan setelahnya proses operasi pun berlangsung.
Semuanya menunggu dengan berdebar di depan ruang operasi.
Tak terasa adzan isya' pun berkumandang. Max dan Leon saling memberi kode. Keduanya lalu menghampiri Steven.
"Steve, udah adzan isya'. Kamu tadi juga belum sempat sholat Maghrib kan? Sebaiknya kamu sholat dulu ya, dijamak sekalian Maghrib tadi," kata Leon sambil memegang pundak Steven.
"Iya Steve, Lo sholat dulu, kita juga. Kita berdo'a sama-sama untuk kesembuhan Sheila, ya," ajak Max.
Dengan berat hati Steven akhirnya menurut.
"Pa, Ma, Ayah, Bunda, Steven titip Sheila dulu ya," pamit Steven.
__ADS_1
Setelah mendapat persetujuan dari keempat orang tuanya Steven pun mengikuti Max dan Leon ke mushola.
Selesai melaksanakan ibadah sholat, Steven tenggelam dalam do'anya. Memohon kepada Allah SWT untuk kesembuhan istrinya, Sheila. Hingga tak terasa air matanya pun mengalir.
Max dan Leon yang melihatnya pun merasa terharu. Di dalam hati mereka bersyukur karena adiknya disayangi sebegitu besarnya oleh suaminya. Karena mereka tahu benar bagaimana awal pernikahan Sheila dengan Steven.
Akhirnya operasi berjalan dengan lancar dan sukses. Sheila sudah dipindahkan ke ruang perawatan VIP. Kondisinya sudah mulai stabil hanya tinggal menunggu sadar.
"Udah malem Steve, gue balik dulu ya, sekalian nganter Lusia," pamit Danny.
"Iya. Thanks ya Dan, Lus, untuk do'a dan waktunya," ucap Steven tulus.
"Gue pamit ya Bang. Langsung kabarin kalau Sheila udah sadar. Insya Allah besok pulang kuliah gue kesini sama Dyah sama Tya," kata Lusia.
"Iya, thanks ya."
"Gue juga balik ya Steve. Mau mantau juga hasil penyelidikan anak-anak," pamit Ken.
"Oke, thanks Ken. Segera kabari gue kalau sudah ada hasilnya."
"Dika kamu juga pulang duluan saja, bawa mobilnya," kata Ricko.
"Tapi nanti Bapak dan Ibu bagaimana?" tanya Andika.
"Nanti kita pulang sama Pak Damar."
"Baik kalau begitu Pak," jawab Andika. Lalu beralih ke Steven, " Abang balik dulu ya Steve. Kamu tenang aja, anak-anak pasti segera nemuin siapa pelakunya."
"Iya Bang. Gue serahin semuanya sama kalian ya," balas Steven.
"Papa sama Mama sebaiknya pulang juga, udah malem. Ayah sama Bunda juga. Biar Steven yang jagain Sheila. Max, Leon, kalian juga pulang aja," kata Steven.
"Tapi Steve," mereka hendak protes.
"Kata dokter kan kondisi Sheila udah stabil, tinggal nunggu sadar aja. Sebaiknya kalian pulang dulu istirahat, ini udah malem juga. Besok baru kesini lagi," potong Steven.
"Biar gue yang temenin Lo malem ini," kata Max setelah terdiam sesaat.
"Gak usah Max. Gue sendiri aja gak pa-pa," tolak Steven halus.
"Biarkan Max menemani kamu malam ini Steve. Biar ada yang bisa gantiin kamu kalau misal nanti ada keperluan," bujuk Ricko.
"Baiklah kalau begitu," Steven akhirnya setuju.
"Ayah pulang dulu ya Steve. Kamu juga jangan lupa istirahat dan makan. Jangan sampai kamu juga ikutan sakit," pamit Jefri.
"Iya Ayah."
"Bunda titip Sheila ya Steve. Jangan lupa kabarin kalau Sheila sudah sadar. Besok pagi Bunda kesini lagi, ya."
"Iya Bun."
"Papa pulang dulu. Kamu jaga Sheila baik-baik ya," pamit Ricko sambil memeluk Steven.
"Mama pulang dulu ya sayang."
__ADS_1
Steven langsung memeluk Mama-nya erat.
"Terima kasih banyak ya Ma udah mau nolongin Sheila."
"Iya sayang. Udah jangan sedih lagi. Anak Mama kan hebat. Kamu harus kuat, ya," pesan Amelia sambil memeluk Steven.
Steven kemudian mencium tangan keempat orang tuanya sebelum mereka pulang.
"Titip Sheila ya Steve. Kamu yang sabar," pamit Leon sambil memegang pundak Steven.
"Iya Yon, pasti."
Kini tinggal Steven dan Max yang menunggu Sheila. Steven duduk di kursi di samping bed Sheila. Max menghampirinya.
"Lo belum makan dari tadi sore Steve. Makan dulu gih."
"Gue gak laper Max," jawab Steven tanpa mengalihkan pandangannya dari Sheila. Tangannya juga masih terus menggenggam tangan kanan Sheila yang terbebas dari jarum infus.
"Jangan gitu Steve. Lo bisa sakit," bujuk Max lagi.
"Tapi gue beneran gak laper Max. Gue gak nafsu makan sama sekali," akhirnya Steven mengalihkan pandangannya ke Max sebentar.
"Ya udah ya udah, gue gak akan maksa Lo lagi," Max akhirnya menyerah.
Max duduk di pinggir bed Sheila, di sebelah Steven.
"Lo udah cinta ya sama adek gue? Sejak kapan?" tanya Max.
Steven tersenyum kecil.
"Sejak kapan? Gue sendiri gak sadar sejak kapan gue mulai jatuh cinta sama Sheila."
"Dari awal Papa bilang kalau mau jodohin gue sama anak almarhum temennya, jujur sebenarnya gue gak setuju. Tapi Papa terus maksa gue, ngeyakinin gue kalau gadis itu baik buat gue, dan Papa juga ingin menebus rasa bersalah Papa kepada almarhum temennya itu dengan melaksanakan keinginan terakhirnya."
"Papa punya riwayat penyakit jantung, gue gak mau Papa anfal kalau gue menolak perjodohan itu. Akhirnya gue setuju."
"Pertama kali gue ketemu Sheila di sebuah kafe, Sheila gak sengaja nabrak gue waktu itu. Jujur, waktu itu sebenarnya gue udah merasakan sesuatu yang berbeda. Entah kenapa jantung gue berdebar gak kayak biasanya. Tapi waktu itu gue berusaha cuekin perasaan aneh itu."
"Sewaktu gue dateng ke rumah Lo, itu pertemuan kedua gue sama Sheila. Entah kenapa, sampai di rumah gue langsung meng-iyakan saat Papa bertanya lagi sama gue. Seakan jawaban itu keluar begitu saja dari mulut gue tanpa persetujuan otak gue."
"Setelah ijab kabul, saat Sheila mencium tangan gue, gue merasakan lagi getaran perasaan asing itu. Lebih kuat dari yang sebelumnya. Tapi gue masih menyangkal lagi."
"Menjalani hari-hari bersama Sheila, gue merasakan hidup gue mulai berubah. Gue yang dulunya jarang banget sholat, jadi mulai rutin melaksanakan sholat lagi. Perhatian Sheila yang begitu tulus ke gue. Gimana dia memperlakukan gue, menghormati gue, melayani setiap keperluan gue, ngerawat gue saat gue sakit, bahkan Sheila juga mampu membuat pikiran gue rileks saat gue begitu dipusingkan dengan kerjaan di kantor yang gak ada habisnya."
"Dari situlah gue jadi merasa berkewajiban untuk selalu menjaga dan melindungi Sheila. Apalagi saat Sheila diculik Alex, gue merasa begitu marah dan emosi. Sampai rasanya gue pengen ngebunuh Alex waktu ngelihat keadaan Sheila yang sampai babak belur saat itu."
"Gue marah, gue ngerasa udah gagal ngelindungin Sheila. Gue sedih banget ngelihat kondisi Sheila seperti itu. Hati gue sakit banget."
"Terus cewek Lo?" tanya Max.
"Dia mengkhianati gue. Haha, ternyata bener ya kalau restu orang tua itu restunya Tuhan. Papa gak setuju gue sama Nila. Dan Tuhan menghukum gue, yang tanpa sadar udah menyakiti hati Sheila dengan masih berhubungan sama Nila di belakang Sheila, dengan pengkhianatan Nila."
"Waktu itu gue bener-bener hancur. Gue kecewa. Gue sakit hati. Tapi Sheila selalu ada di samping gue. Menguatkan gue, men-support gue, sampai akhirnya gue bisa bangkit dari keterpurukan gue. Baru gue sadari, gue beruntung banget punya Sheila di samping gue. Dan hari-hari setelah gue memutuskan untuk mulai membuka hati gue dan menerima pernikahan gue dengan ikhlas,justru semuanya terasa begitu indah. Gue merasakan begitu banyak kebahagiaan yang belum pernah gue rasakan sebelumnya selama ini."
"So, kalau Lo tanya sejak kapan gue mulai jatuh cinta sama Sheila, gue sendiri gak tahu jawabannya. Karena jujur sejak awal, gue selalu merasa nyaman kalau di deket Sheila."
__ADS_1
Max mendengarkan dengan seksama semua cerita Steven. Ungkapan hati Steven yang selama ini dia rasakan kepada Sheila, istrinya.