
Pukul sepuluh pagi acara pemakaman nenek Sonia sudah selesai dilaksanakan. Sonia masih berjongkok di samping Suci sambil merangkul dan menenangkan ibunya itu yang masih menangis di samping makam sang ibu, nenek Sonia.
Sementara Sean, Sendy, dan Dennis juga beberapa orang warga masih membersihkan tubuh mereka dari sisa-sisa tanah yang menempel setelah mereka baru saja selesai membantu memakamkan jenazah almarhumah nenek.
Satu per satu warga pun berpamitan dan meninggalkan area pemakaman. Tinggal Sonia, Suci, Sendy, Dennis, dan Sean saja.
"Ibu, udah yuk, kita pulang. Kak Sonia dan kak Sean belum istirahat sama sekali loh sejak mereka datang subuh tadi," kata Sendy mencoba membujuk ibunya.
Suci sedikit terperanjat. Benar yang dikatakan Sendy. Akhirnya Suci pun menganggukkan kepalanya pelan. Sonia membantu ibunya untuk berdiri. Mereka berlima perlahan meninggalkan area pemakaman. Sonia dan Sendy membantu Suci berjalan dengan merangkulnya di kanan dan kirinya. Sean dan Dennis mengekor di belakang mereka.
Sesampainya mereka di rumah, masih ada beberapa kerabat dan tetangga yang sedang membantu bersih-bersih dan mempersiapkan untuk acara tahlilan nanti malam.
Sean begitu takjub melihat bagaimana para warga bergotong royong dan saling membantu satu sama lain. Rasa kebersamaan dan solidaritas di antara mereka masih begitu tinggi. Sesuatu yang sulit dijumpai di kota besar.
"Sonia, ibumu dimana nduk?" tanya seorang ibu kepada Sonia yang sedang mencuci tangan di sumur bersama Sean.
"Ada di kamar budhe, sedang istirahat," jawab Sonia.
Untunglah Sean sudah mengetahui sebelumnya mengenai identitas Sonia yang sebenarnya. Jika tidak mungkin saat ini Sean akan sangat terkejut karena semua orang memanggil Ana dengan nama Sonia.
"Sonia, kamu ajak ibumu makan dulu ya. Dari tadi pagi dia belum mau makan apapun sama sekali. Sekalian kamu, adik-adikmu, dan mas-nya juga. Kamu sama teman kamu kan juga belum makan sejak tiba subuh tadi. Makanannya sudah disiapin di dalam," kata ibu itu lagi.
Ya, untuk sementara Sean memang hanya diperkenalkan sebagai teman Sonia saja. Tentu saja Sean dan Sonia belum bisa mengatakan hubungan mereka yang sebenarnya.
"Baik budhe," jawab Sonia.
"Budhe sama yang lainnya pulang dulu ya. Nanti sore kita balik lagi, nyiapin untuk acara tahlilan-nya."
"Iya budhe. Makasih banyak ya."
"Iya nduk, sama-sama."
Setelah para warga berpamitan dan pulang ke rumah masing-masing, Sonia membujuk Suci untuk makan bersama. Dengan susah payah akhirnya Sonia berhasil membujuk ibunya. Setelah selesai makan,
"Mas istirahat aja dulu ya. Dari semalem kan Mas belum tidur lagi. Mas bisa istirahat di kamar aku," kata Sonia.
"Kamu harus istirahat juga, nggak cuma Mas aja. Kamu juga belum tidur lagi kan dari semalem?" balas Sean.
"Iya Mas. Nanti biar aku istirahat di kamar ibu."
__ADS_1
Melihat interaksi putrinya dengan pemuda yang katanya hanya temannya itu, Suci sebenarnya sudah merasa curiga ada sesuatu di antara mereka berdua. Tetapi Suci memilih untuk diam terlebih dahulu.
Malam harinya setelah sholat isya' acara tahlilan pun dilaksanakan. Alhamdulillaah semuanya berjalan dengan lancar sampai acara selesai.
Setelah acara tahlilan selesai dan semua tetangga sudah pamit untuk pulang ke rumah masing-masing, Sean meminta kepada Sonia untuk mengumpulkan ibu dan kedua adiknya di ruang tamu.
"Ibu, mohon maaf sebelumnya, tapi ada sesuatu yang harus saya bicarakan kepada ibu, Sendy, dan juga Dennis," kata Sean memulai pembicaraan mereka.
"Ada apa nak Sean?" tanya Suci.
Sonia yang duduk di sebelah kiri Suci begitu gugup. Sonia menundukkan kepalanya dengan kedua tangan yang meremasi ujung jilbabnya. Sean menarik nafas dalam dan mengucap bismillah di dalam hatinya.
"Ibu, sebenarnya saya dan Sonia sudah menikah, tepatnya satu minggu yang lalu."
Suci, Sendy, dan Dennis begitu terkejut mendengar perkataan dari Sean. Sean kemudian menceritakan semua kejadiannya dari awal sampai akhir.
"Kami mohon maaf Bu, bukan maksud kami untuk menyembunyikan semuanya dari ibu, tapi kami sungguh butuh waktu untuk menceritakan semua ini. Karena seperti yang ibu tau, semuanya begitu mendadak dan mengejutkan," kata Sean mengakhiri ceritanya.
"Jadi malam itu? Malam saat ibu tiba-tiba terbangun dan bermimpi tentang kakak?" tanya Suci kepada Sonia setelah terdiam cukup lama.
"Iya Bu," jawab Sonia.
"Lalu bagaimana sekarang? Maksud ibu, bukankah malam itu kalian hanya menikah secara siri?" tanya Suci.
"Kami sudah sepakat untuk mengajukan isbat pernikahan untuk mengesahkan pernikahan kami Bu. Dan saya sudah menyuruh sekretaris saya untuk mengurus hal tersebut secepatnya," jawab Sean.
"Ibu, saya sangat berharap, ibu bersedia untuk memberikan restu ibu kepada kami berdua," lanjut Sean memohon restu kepada Suci.
"Bagaimana dengan keluarga nak Sean?" tanya Suci sebelum menjawab permohonan restu dari Sean.
"Ayah saya sudah mengetahui semuanya, dan beliau memberikan restunya kepada kami. Untuk Bunda dan kedua adik saya, ayah bilang kami boleh datang setelah pengajuan isbat pernikahan kami disetujui dan kami memperoleh buku nikah secara resmi."
"Dan apa nak Sean yakin kalau ibu dan kedua adik nak Sean akan bisa menerima Sonia dengan baik?" tanya Suci lagi.
Sean tersenyum, memaklumi kekhawatiran Suci sebagai seorang ibu yang mengkhawatirkan kebahagiaan anak gadisnya.
"Saya sangat yakin mereka pasti akan menerima Sonia dengan baik Bu. Karena Bunda dan kedua adik saya, mereka sudah mengenal Sonia terlebih dahulu. Bahkan jauh sebelum saya kenal dengan Sonia," jawab Sean berteka-teki.
"Maksud nak Sean?" tanya Suci bingung.
__ADS_1
"Ibu, Mas Sean adalah kakak pertama Safa. Putra Bunda Sheila dan Ayah Steven," bukan Sean tapi Sonia yang menjawab.
"Oh, astaga," Suci berucap sambil menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan karena terkejut.
"Awalnya, saya bahkan tidak menyadari kalau Sonia adalah sahabat baik adik saya Safa yang selama ini kami cari. Karena saat itu Sonia menggunakan nama tengahnya. Saya baru menyadari semuanya setelah Ayah memberitahu hal tersebut kepada saya," jelas Sean.
"Rencana Tuhan memang benar-benar tidak terduga," kata Suci.
"Ya, ibu benar. Tapi saya sangat yakin bahwa rencana dari Tuhan tidak akan pernah salah. Karena sejujurnya, dari awal memang Sonia sudah berhasil mencuri perhatian saya, sejak pertama kali kami bertemu di musholla kantor saya," kata Sean.
Suci tersenyum mendengar semua perkataan Sean.
"Bagaimana dengan kakak?" tanya Suci beralih kepada Sonia.
"Kakak menerima semua ini sebagai takdir dari Allah SWT untuk kakak Bu. Dan kakak akan berusaha untuk menjalankan kewajiban kakak sebagai seorang istri dengan sebaik-baiknya," jawab Sonia.
"Baiklah. Kalau memang kalian berdua sudah sepakat untuk menjalani pernikahan kalian, maka ibu hanya bisa memberikan restu ibu sebagai orang tua. Ibu merestui pernikahan kalian. Dan ibu do'akan semoga pernikahan kalian berdua akan selalu berada dalam ridho Allah SWT. Semoga kebahagiaan selalu menyertai kalian berdua," do'a Suci tulus untuk Sean dan Sonia.
Sean dan Sonia tersenyum bahagia mendengar perkataan Suci.
"Sean janji kepada ibu, Sean akan selalu berusaha untuk membahagiakan Sonia Bu. Sean akan menjaga dan melindungi Sonia dengan sebaik mungkin," janji Sean.
"Ibu percaya sama nak Sean. Ibu titip Sonia ya. Tolong bimbing dia agar bisa menjadi seorang istri yang baik. Dan ibu juga minta sama nak Sean untuk bisa memaafkan apabila Sonia melakukan kesalahan. Karena ibu sadar kalau putri ibu ini masih jauh dari kata sempurna," pesan Suci.
"Tidak ada manusia yang sempurna Bu. Saya pun masih banyak kekurangan. Do'akan kami ya Bu. Semoga kami bisa bersama-sama memperbaiki diri kami dan menjalani rumah tangga kami dengan baik," pinta Sean juga.
"Pasti. Do'a ibu selalu menyertai langkah kalian berdua," kata Suci.
"Ibu," lirih Sonia dengan air mata yang sudah mengalir di pipinya.
Suci kemudian memeluk Sonia dengan penuh sayang.
"Hei, apa ini? Kakak udah jadi seorang istri sekarang. Masih aja nangis dan manja sama ibu kayak gini. Nggak malu apa sama suami kakak?" goda Suci.
"Ibuuuuu,,," rengek Sonia dengan memanjangkan kata.
Suci, Sendy, dan Dennis tertawa kecil mendengar rajukan Sonia. Sean pun tersenyum kecil, untuk pertama kalinya melihat sisi Sonia yang begitu manja kepada ibunya.
...........
__ADS_1
#nduk : panggilan untuk anak perempuan di daerah Jawa