
"Sean Lo dapet juga kan undangan pernikahan dari si Monic?" tanya Adrian begitu memasuki ruangan Sean.
"Dapet sih. Tapi belum tau mau dateng apa enggak."
"Jangan gitu lah, nggak enak sama yang lainnya. Kita harus tetep dateng walaupun cuma sebentar doang," kata Adrian yang sudah mendudukkan dirinya di kursi di depan Sean.
"Lo enak bisa bawa Safa buat nemenin Lo. Nah gue? Punya istri tapi sendiri mulu kemana-mana. Mau ngajak istri sendiri ke acara-acara yang gue datengin tapi nggak bisa. Mau ngenalin ke orang-orang apalagi. Punya istri tapi berasa kayak nggak punya istri gue, sendirian mulu. Kalah gue sama kalian yang masih pacaran doang. Haish," gerutu Sean panjang lebar.
Tawa Adrian pecah seketika.
"Tapi kan Lo udah halal Bro, mau nananina tiap malem juga sah-sah aja. Sementara gue, masih banyak banget nggak bolehnya," kata Adrian di sela tawanya.
"Hish, ngomong apaan sih Lo Yan," balas Sean salah tingkah.
"Lah, emang kalian berdua belum skidipapap ya?" tanya Adrian begitu vulgarnya.
"Yaaaaannn," tegur Sean dengan memanjangkan kata.
Jujur saja ada rasa berbeda yang dirasakan Sean ketika mendengar pertanyaan dari Adrian tadi. Sean merasa malu, tapi di sisi lain Sean juga merasakan darahnya berdesir. Ada rasa yang asing yang menggelitik kelelakiannya.
"What? Jadi beneran belum? Gila ya Lo Sean. Tiap malem tidur seranjang dan Lo bisa ngendaliin diri Lo kayak gitu? Lo normal kan Sean?" tanya Adrian berapi-api.
"Sialan Lo. Ya normal-lah gue. Kalau enggak gue nggak mungkin cium Sonia dan tidur sambil meluk Sonia tiap malem. Eh," Sean seketika menutup mulutnya yang sudah keceplosan.
Adrian membulatkan kedua matanya dengan mulut menganga. Tapi sedetik kemudian Adrian kembali tertawa terbahak-bahak.
"Asem Lo Yan," ketus Sean sambil melemparkan pulpen yang dipegangnya kepada Adrian.
"Nggak nyangka gue, si kulkas ternyata bisa mesum juga."
"Mesum apaan woy. Diem ah, berisik Lo," ketus Sean.
Sementara Adrian masih asyik tertawa mengejek Sean yang hanya bisa mendengus kesal.
🌸🌸🌸
"Sean," panggil Adrian kepada Sean yang baru saja turun dari mobilnya.
Adrian berjalan menghampiri Sean dengan menggandeng tangan Safa.
"Kalian juga baru dateng?" tanya Sean.
"Iya Bang. Sonia nggak ikut Bang?" Safa menjawab sekaligus bertanya juga
"Ya enggak lah. Nggak inget apa sama pesan Ayah waktu itu?"
"Oh, iya juga ya."
"Ya udah yuk, kita masuk bareng aja," ajak Adrian yang langsung diangguki oleh Sean dan Safa.
Sean, Adrian, dan Safa pun memasuki ballroom hotel tempat diadakannya pesta resepsi pernikahan Monic, sahabat Grizelle sekaligus teman kuliah Sean dan Adrian.
Setelah selesai memberikan ucapan selamat kepada kedua mempelai, Sean, Adrian, dan Safa pun menikmati hidangan yang ada dan bergabung mengobrol dengan beberapa orang teman kuliah mereka dulu.
Tanpa mereka semua sadari, seorang pelayan yang sudah dibayar oleh Grizelle memberikan minuman yang sudah dicampur dengan obat perangsang kepada Sean. Dan karena sedang asyik berbincang dengan teman-teman kuliahnya dulu, Sean pun tanpa menaruh curiga sama sekali langsung meminum minuman tersebut.
Beberapa saat kemudian Sean mulai merasakan keanehan pada tubuhnya. Sean yakin pasti ada yang tidak beres yang telah terjadi pada dirinya. Dan pandangan Sean langsung jatuh kepada gelas minuman di depannya.
__ADS_1
"Sial!!!" Sean menggeram pelan.
"Ada apa Bro?" tanya Adrian yang duduk di sebelah Sean ketika menyadari kalau ada yang aneh pada tingkah laku Sean.
"Ada yang naruh obat di minuman gue," jawab Sean berbisik.
"Apa?" pakik Adrian pelan.
"Tolongin gue Yan. Obatnya udah mulai bereaksi. Gue harus cepat pergi dari sini."
"Oke bentar. Lo tenang dulu."
Adrian kemudian mengotak-atik ponselnya. Sementara Sean mengawasi keadaan sekitar, berusaha mencari tahu siapa yang kira-kira sudah menjebaknya.
"Rey sama Sena gue suruh nunggu di parkiran belakang dekat toilet. Mereka berdua yang posisinya paling dekat dengan kita saat ini," kata Adrian berbisik.
"Oke."
"Abang kenapa? Kok keringetan gitu?" tanya Safa yang duduk di sebelah Adrian.
Sean meletakkan jari telunjuk di depan bibirnya, memberikan kode agar Safa diam.
"Bilang ke Safa untuk mengalihkan perhatian Grizelle. Kita keluar lewat toilet belakang," bisik Sean kepada Adrian.
Adrian menganggukkan kepalanya. Adrian kemudian membisikkan sesuatu kepada Safa. Safa menganggukkan kepalanya tanda mengerti. Setelah itu Safa bangkit dari duduknya dan berjalan menghampiri Grizelle.
Setelah Safa berhasil mengambil alih perhatian Grizelle, Adrian segera membawa Sean pergi menuju ke arah toilet belakang.
🌸🌸🌸
Ting tong. Ting tong. Assalamu'alaikum.
"Sena? Rey? Astaghfirullah hal adziim, Mas Sean," pekik Sonia terkejut.
"Assalamu'alaikum Mbak," salam Sena.
"Wa'alaikumsalam. Ini Mas Sean kenapa Sena?"
"Nanti Sena ceritain Mbak. Biar Rey bawa Bang Sean masuk dulu."
"Oh iya. Ayo bawa Mas Sean masuk dulu Rey," pinta Sonia kepada Rey.
"Baik Nona."
Rey kemudian membawa Sean masuk dan mendudukkannya di sofa. Sonia dan Sena mengikuti di belakangnya.
"Apa yang terjadi Sena?" tanya Sonia.
"Mas Rian bilang ada yang sengaja masukin obat ke minuman Bang Sean, Mbak," jawab Sena.
"Astaghfirullah hal adziim," pekik Sonia sambil menutup mulut dengan kedua tangannya.
"Bang Sean nolak waktu mau kita bawa ke rumah sakit. Katanya minta dianter pulang aja. Jadi ya udah kita anterin pulang kesini akhirnya," lanjut Sena.
"Oh, iya nggak pa-pa kok," balas Sonia.
"Kalau gitu kita pamit dulu ya Mbak, masih ada urusan soalnya," pamit Sena.
__ADS_1
"Iya Sena. Makasih ya udah nganterin Mas Sean. Rey juga, makasih ya."
"Sama-sama Mbak."
"Sama-sama Nona."
Sena dan Rey menjawab bersamaan.
"Assalamu'alaikum," pamit Sena dan Rey.
"Wa'alaikumsalam. Hati-hati ya kalian."
Sena dan Rey menjawab dengan menganggukkan kepalanya. Sonia mengunci kembali pintu apartemennya setelah Sena dan Rey pergi.
"Mas... Apa yang Mas rasain sekarang?" tanya Sonia setelah duduk di sebelah Sean.
"Kepala Mas pusing banget Sonia. Badan Mas juga rasanya panas," jawab Sean sambil mengernyit dan memegangi kepalanya yang terasa berdenyut.
"Aku ambilin minum dulu ya Mas."
"Nggak usah. Kita ke atas aja. Mas pengen istirahat," cegah Sean dengan memegangi tangan Sonia yang sudah mau berdiri.
"Ya udah kalau gitu. Yuk, aku bantu Mas naik ke atas."
Sonia kemudian memapah Sean dan membantunya untuk berjalan menuju ke kamar mereka. Sampai di kamar Sonia mendudukkan Sean di tempat tidur. Sonia bersimpuh untuk membantu melepas sepatu Sean. Setelah itu Sonia pun membaringkan tubuh Sean.
"Kamu dingin Sonia. Rasanya nyaman banget," racau Sean yang sudah menarik tangan Sonia dan meletakkannya di pipinya.
"Mas,,," panggil Sonia ketika melihat Sean memejamkan mata dan menikmati lembutnya tangan Sonia di pipinya.
Sean membuka matanya. Sorot mata Sean nampak berbeda dan sayup. Tiba-tiba saja Sean menarik Sonia dan membalik posisi mereka.
"Aaahhh," pekik Sonia terkejut.
Sonia berada di bawah kungkungan tubuh besar Sean sekarang. Dan sedetik kemudian Sean sudah menyatukan bibir mereka berdua. Tidak kuasa melawan, Sonia pun hanya bisa mengikuti alur yang dimainkan Sean.
'Astaga, kenapa rasanya senikmat ini? Aku tidak bisa mengendalikan diriku sendiri,' monolog batin Sean.
Dan ketika tangan Sean meremas salah satu bagian menonjol di dadanya, Sonia yang kaget pun seketika memutuskan pertautan bibir mereka.
"Mas,,,"
"Mas menginginkan kamu Sonia."
"Tapi Mas..."
"Kamu istri Mas, Sonia. Mas berhak atas kamu."
"Tapi Mas sedang dalam pengaruh obat."
"Apapun itu, tapi kamu adalah istri Mas. Dan Mas meminta hak Mas sebagai seorang suami malam ini," tegas Sean.
Nafas Sonia seakan tercekat. Ya, Sean adalah suaminya. Dan sudah menjadi kewajiban bagi Sonia untuk memenuhi hak Sean sebagai seorang suami.
Sean kembali menyatukan bibir mereka. Tangan Sean pun semakin intens membel4i dan menjam4h tubuh Sonia. Sonia tidak kuasa untuk melawan karena Sean selalu mengingatkan tentang hak dan kewajiban mereka.
Sean semakin tidak bisa mengendalikan dirinya yang semakin terhanyut dalam pusaran gair4h. Dan mendapati Sonia yang dalam keadaan pasrah dan tidak lagi memberontak, Sean pun semakin berani dalam melanjutkan aktivitasnya. Dengan bibir yang masih saling bertaut, tangan Sean mulai melucuti pakaian mereka.
__ADS_1
Sean masih memiliki sedikit kesadarannya. Bahkan ketika Sonia menitikkan air mata karena merasakan sakit akibat bagian tubuhnya yang dibelah oleh Sean, Sean menghentikan sebentar aksinya dan kembali menc1um bibir Sonia untuk mengalihkan rasa sakit yang sedang Sonia rasakan.
Dan akhirnya malam itu terjadilah apa yang seharusnya terjadi di antara mereka berdua, selayaknya pasangan suami istri pada umumnya.