Cinta Sheila

Cinta Sheila
S2 Terbongkar


__ADS_3

"Kamu beneran bisa sendiri? Nggak turun bareng Mas aja?" tanya Sean.


Saat ini Sean dan Sonia sedang berada di dalam mobil Sean yang sudah terparkir di parkiran khusus direksi, terpisah dari parkiran karyawan yang lainnya.


"Aku bisa kok Mas. Udah nggak sakit kok dipake jalan. Lagian kan kita juga udah sepakat untuk merahasiakan pernikahan kita sebelum keluarga kita tau dulu," jawab Sonia.


Sean menghembuskan nafas pelan.


"Ya sudah, tapi kamu hati-hati ya. Nanti pulangnya nungguin Mas. Kan kamu ada jadwal periksa sama kak Kiara."


"Iya Mas. Ya udah, aku duluan ya."


Sonia meraih tangan kanan Sean kemudian mencium punggung tangannya.


"Assalamu'alaikum," pamit Sonia.


"Wa'alaikumsalam."


Setelah melihat situasi yang dirasa aman Sonia pun turun dari mobil Sean dan berjalan menuju lift. Dan setelah Sonia masuk ke dalam lift barulah Sean beranjak turun dari mobilnya.


🌸🌸🌸


"Ternyata dugaan Lo benar, Steve."


"Jadi?"


"Gue nyuruh Sena langsung buat mantau Sonia. Dan Jum'at kemarin Sena dapet kabar kalau Sonia udah pindah dari kost. Ada insiden yang terjadi Kamis malam, sampai akhirnya Sonia dinikahkan secara mendadak oleh warga dan langsung dibawa pindah suaminya malam itu juga."


"Sean?"


"Ya. Sena juga udah mastiin sendiri. Dua hari ini Sena selalu stand by di sekitar apartemen Sean. Sena melihat secara langsung mereka selalu berangkat ke kantor bareng. Pulangnya juga, meski sedikit kucing-kucingan. Dan kemarin sore Sean juga nganterin Sonia periksa ke rumah sakit Om Wirawan. Kaki Sonia terkilir waktu Kamis malam itu."


"Haish, anak-anak ini," kata Steven sambil memijit pelipisnya berulang kali.


"Dan hebatnya lagi, sampai sekarang Sean masih belum sadar kalau itu adalah Sonia."


"Apa?"


"Ya. Entah apa yang terjadi pada anak jenius kamu itu."


"Oke Bim, thanks infonya. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam."


Steven menutup panggilan teleponnya dengan Bima.


"Ya Allah, Maha Besar Engkau dengan segala rencana-Mu. Oh astaga," kata Steven dengan mengusap wajahnya gusar.


🌸🌸🌸


Malam harinya.


Ting nung ting nung. Assalamu'alaikum.


Bel pintu apartemen Sean berbunyi nyaring.

__ADS_1


"Biar aku aja Mas," kata Sonia sembari mengeringkan tangannya setelah selesai mencuci piring bekas makan malam mereka tadi.


"Oke," balas Sean setelah menyesap teh-nya.


Sonia bergegas menuju ke arah pintu karena bel kembali berbunyi.


"Nggak usah buru-buru. Biarpun perban elastis kamu udah dibuka tapi kamu belum boleh lari-larian dulu," kata Sean mengingatkan.


"Iya Mas."


Sampai di depan, Sonia segera membuka pintu apartemen mereka.


"Wa'alaikumsa-.....lam," Sonia terkejut sehingga menjeda ucapan salam balasannya.


"Sonia," panggil Steven dengan tersenyum.


"Om," lirih Sonia.


Tentu saja Sonia dan Steven sudah saling mengenal karena dulu Sonia sering diajak main ke rumah oleh Safa.


"Kok Om? Bukannya sekarang harusnya jadi ayah juga ya, sama kayak suami kamu, Sean?"


Sonia nampak terkejut, kemudian menundukkan wajahnya karena merasa tidak enak hati.


"Maaf," lirih Sonia.


"Kenapa harus minta maaf sayang? Justru Ayah senang sekali karena sekarang kamu udah jadi menantu Ayah. Ayo, coba panggil Ayah yang benar," kata Steven dengan tersenyum.


"Ayah," cicit Sonia dengan mengangkat wajahnya yang sudah berkaca-kaca.


Senyuman terukir di wajah Sonia dan Steven.


"Siapa An? Kok lama?" tanya Sean seraya berjalan mendekat ke arah pintu.


Langkah Sean langsung terhenti dengan kedua mata yang membulat begitu melihat Steven berdiri di depan pintu.


"Ayah?"


"Dasar anak nakal. Kamu kira semudah itu mau bohongi Ayah?" cibir Steven.


Steven kemudian masuk ke dalam dan langsung duduk di salah satu sofa tunggal di ruang tamu.


"Duduk. Ayah ingin bicara dengan kalian berdua."


Sean dan Sonia pun kemudian duduk bersisian di sofa di samping Steven.


"Ayah mau minum apa? Biar saya buatkan minuman dulu untuk Ayah," tanya Sonia.


"Nanti saja Sonia."


"Sonia???" ulang Sean dengan raut wajah berkerut bingung.


"Anak bodoh. Bahkan sampai sekarang pun Abang belum menyadarinya juga dengan nama yang Abang ucapkan saat ijab kabul kemarin?" cibir Steven lagi kemudian tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


Seketika ingatan Sean tertarik mundur ketika dia sedang melakukan ijab kabul malam itu.

__ADS_1


"Saya terima nikah dan kawinnya Sonia Anastasia Wicaksono binti almarhum Ihsan Wicaksono dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan cincin 5 gram dibayar tunai," seru Sean lantang.


Lagi-lagi kedua bola mata Sean membulat sempurna menyadari fakta yang dengan bodohnya terlewat begitu saja oleh dirinya.


"Sonia Anastasia Wicaksono binti almarhum Ihsan Wicaksono," tegas Steven.


"Astaghfirullah hal adziim... Jadi..."


"Ya. Dia adalah Sonia, sahabat baik adik kamu, Safa," kata Steven.


Sean menatap tidak percaya ke arah Steven. Kemudian beralih menatap Sonia yang sedari tadi sudah menundukkan wajahnya.


"Ana," panggil Sean, seolah meminta pembenaran.


Sonia mengangkat wajahnya dan menatap sendu ke arah Sean. Air mata sudah mengalir di wajah cantik itu.


"Maaf Mas," lirih Sonia.


"Astaga," ucap Sean dengan mengusap wajahnya kasar.


"Tidak biasanya Abang tidak fokus seperti itu. Bahkan sampai melewatkan hal yang sangat penting seperti ini," kata Steven.


"Waktu itu Abang benar-benar emosi Yah. Karena ada cowok yang dengan arogan-nya maksa Abang buat nyerahin Ana ke dia. Bahkan ternyata cowok itu juga yang udah ngejebak Abang sama Ana sampai akhirnya digerebek warga," jelas Sean.


"Jordan?" tanya Sonia pelan.


"Iya. Bahkan dia ngancem Mas, kalau dia nggak akan tinggal diam dan akan berusaha ngerebut kamu dari Mas," jawab Sean beralih memandang wajah Sonia.


Sonia nampak terkejut dengan perkataan Sean.


"Oke. Stop pembicaraan masalah cowok itu. Kalian bisa lanjutin itu nanti. Sekarang Ayah mau tanya sama kalian berdua, tentang kelanjutan status pernikahan kalian ini. Apa kamu udah mengajukan isbat pernikahan untuk mengesahkan pernikahan kalian ini Sean?" tanya Steven serius.


Sean dan Sonia terperanjat mendengar pertanyaan dari Steven tersebut. Keduanya kemudian menundukkan kepala mereka.


"Belum Yah," jawab Sean.


Steven mengesah kemudian menggelengkan kepalanya pelan.


"Sean, Sonia, Ayah tau pernikahan kalian benar-benar tidak terduga. Pernikahan kalian begitu mendadak dan di luar perkiraan kita semua. Tetapi biar bagaimanapun juga, pernikahan itu sudah terjadi dan sah secara agama. Pernikahan bukanlah sebuah permainan. Janji kalian disaksikan langsung oleh Allah SWT. Jadi jangan pernah bermain-main dengan ikatan suci pernikahan," nasehat Steven.


Mendengar nasehat dari Steven, Sean dan Sonia pun jadi teringat dengan perkataan Pak Kiyai, sesaat setelah acara ijab kabul pada malam itu.


"Nak Sean, nak Ana, kalian berdua memang menikah secara mendadak, dan tentunya dalam keadaan yang tidak kalian inginkan. Tapi satu pesan bapak, menikah bukan sebuah permainan, karena kalian berjanji langsung di hadapan Allah SWT. Jadi jangan pernah bermain-main dengan ikatan suci pernikahan. Jalani semuanya dengan ikhlas sebagai salah satu takdir dari Allah SWT untuk kalian berdua," pesan Pak Kiyai.


"Ayah beri kalian waktu satu minggu. Bicarakan baik-baik, bagaimana kelanjutan pernikahan kalian kedepannya. Apakah akan kalian sah-kan, atau justru akan kalian batalkan dan bercerai."


Lagi-lagi Sean dan Sonia terperanjat, mendengar kata cerai yang diucapkan oleh Steven.


"Dan satu lagi, maaf Sonia, tapi Ayah tidak mengijinkan kamu untuk bertemu dengan Safa dulu. Tidak sebelum ada kejelasan tentang status hubungan pernikahan kalian berdua."


Air mata seketika turun tanpa permisi dari kedua mata indah Sonia.


"Bicarakan baik-baik karena ini menyangkut masa depan kalian berdua, dan kalian berdua juga yang menjalani semuanya. Tapi jujur saja, besar sekali harapan Ayah, kalau kamu Sonia akan datang ke rumah Ayah sebagai menantu untuk Bunda, kakak ipar untuk Syafiq dan Safa, sekaligus sebagai sahabat baik Safa," kata Steven.


Sonia semakin terisak mendengar setiap perkataan Steven. Sean yang sedari tadi terdiam tiba-tiba menarik Sonia agar bersandar pada dirinya. Entah kenapa Sean selalu merasa rapuh ketika melihat Sonia menangis seperti itu.

__ADS_1


Diam-diam Steven pun tersenyum kecil, seakan sudah bisa menduga keputusan apa yang akan diambil oleh sepasang anak muda tersebut.


__ADS_2