
'Bunda telepon? Good. Timing-nya pas banget. Gue jadi ada waktu buat bicara sama Sonia. Sean kalau lagi telponan sama Bunda nggak mungkin cuma sebentar, setengah jam itu udah paling cepat,' batin Adrian.
Adrian kemudian melangkah mendekati Sonia yang sedang membereskan baju-bajunya dengan dibantu oleh Ayu dan Erna.
"Bisa kita bicara sebentar Ana?" tanya Adrian setelah berada di dekat ketiga wanita itu.
Sonia menghentikan aktivitasnya dan menoleh ke arah Adrian.
"Tentu Pak," jawab Sonia.
"Ayo kita keluar sebentar," ajak Adrian.
"Baik Pak. Aku tinggal sebentar ya Mbak," balas Sonia sekaligus berpamitan kepada Ayu dan Erna.
Ayu dan Erna menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Sonia kemudian mengikuti langkah Adrian keluar dari kamar kost-nya.
Sonia bisa melihat Sean yang sedang duduk di kursi kayu di halaman kost. Adrian mengajak Sonia untuk duduk di kursi di depan kamar kost Ayu.
"Duduklah dulu," kata Adrian.
Sonia mengangguk kemudian duduk di kursi yang berada di depan kamar kost Ayu. Sementara Adrian tetap berdiri, beberapa langkah dari Sonia.
"Ada yang mau kamu jelaskan kepada kak Rian,,, Sonia?" tanya Adrian dengan menekan nama Sonia di akhir kalimatnya.
Sonia menatap Adrian dengan membulatkan kedua matanya. Terkejut mendengar Adrian memanggil dirinya dengan nama 'Sonia'.
"Ba-bapak tau?" tanya Sonia tergagap.
"Ya. Kak Rian tau. Sejak pertama kali melihat kamu di musholla kakak sudah tau kalau itu adalah kamu Sonia. Tapi ketika kita berjumpa secara langsung di ruangan Sean waktu itu, dan Sean mengenalkan kamu sebagai Anastasia, kakak pun menyadari kalau kamu sepertinya sengaja menyembunyikan identitas diri kamu yang sebenarnya. Maka dari itu kakak mengikuti alur yang kamu buat," jawab Adrian panjang lebar.
"Maaf kak," cicit Sonia dengan menundukkan kepalanya dan suara yang nyaris tidak terdengar.
Adrian membuang nafasnya kasar.
"Kakak sudah tau semua alasannya Sonia, dan kak Rian juga bisa memaklumi kenapa kamu melakukan semua itu," kata Adrian.
"Justru kak Rian yang mau minta maaf sama kamu, karena kak Rian belum bisa mempertemukan kamu dengan Safa sampai sekarang," lanjut Adrian lagi dengan raut wajah menyesal.
"Safa?" Sonia seketika mengangkat wajahnya dengan air mata yang sudah mengalir di pipinya.
Kerinduan nampak jelas di wajah Sonia. Kerinduan yang begitu besar kepada sahabatnya itu, Safa. Dan hati Adrian semakin perih melihatnya, karena wajah seperti itu jugalah yang sering kali Adrian jumpai pada wajah Safa, gadis yang paling Adrian cintai.
"Setelah kakak tau kamu bekerja di perusahaan kakak, beberapa kali kakak mencoba mempertemukan kamu dengan Safa. Kakak beberapa kali meminta Safa untuk datang ke kantor dengan membuat berbagai macam alasan. Kakak hanya ingin agar kalian berdua bisa bertemu secara langsung. Tapi sepertinya Tuhan belum menghendaki pertemuan kalian."
Hati Adrian seakan teriris melihat kesedihan di wajah Sonia yang sudah basah dengan air mata itu.
"Dulu Ayah yang tidak berhasil mendapatkan nomor ponsel kamu, karena Om Darius menyembunyikan nya dengan sangat rapat. Kemudian kakak yang berkali-kali gagal mempertemukan kamu dengan Safa. Dan sekarang, kamu justru menikah dengan Sean, kakak Safa. Sean mungkin belum menyadari identitas kamu yang sebenarnya, tapi bagaimana dengan Bunda Sheila dan Safa nanti? Dan bagaimana juga kita akan menjelaskan tentang hal ini kepada semuanya, terlebih lagi kepada Safa?"
Sonia terdiam dan kembali menundukkan wajahnya. Ya, semua yang dikatakan Adrian adalah benar. Dengan status Sonia yang sekarang, bagaimana Sonia akan menjelaskan semuanya kepada Safa?
Dering ponsel Adrian memecah keheningan di antara mereka berdua.
__ADS_1
"Safa," gumam Adrian.
Sonia pun seketika melihat ke arah Adrian. Adrian sangat memahami gurat kerinduan di wajah Sonia tersebut. Adrian kemudian mengangkat panggilan Safa dan menghidupkan loud speaker di ponselnya.
"Assalamu'alaikum sayang," sapa Adrian.
"Wa'alaikumsalam Mas. Safa ganggu nggak?" balas Safa di seberang panggilan.
Sebuah senyuman terukir indah di bibir Sonia, bersamaan dengan air mata yang terus mengalir. Kelegaan begitu nampak di wajah Sonia. Akhirnya dia bisa mendengar kembali suara dari sahabat yang selama ini sangat dia rindukan itu.
"Nggak ganggu kok sayang. Tapi ini udah malem banget loh. Kenapa kamu belum tidur?" tanya Adrian.
"Safa sebenarnya udah tidur tadi Mas. Tapi tiba-tiba aja Safa kebangun, dan....."
"Dan?" Adrian mengulang perkataan Safa, menunggu kelanjutannya.
"Safa langsung kepikiran Sonia, Mas."
Adrian melirik ke arah Sonia yang langsung menutup mulut dengan kedua tangannya. Air mata semakin deras mengalir di pipi Sonia, mengetahui bahwa Safa pun ternyata masih selalu memikirkan dirinya. Sekuat tenaga Sonia menahan agar isakan tangisnya tidak terdengar oleh Safa.
"Kenapa lagi? Kok bisa tiba-tiba kepikiran sama Sonia?" Adrian mencoba bersikap biasa saja.
"Nggak tau juga Mas. Tapi Safa kayak ngerasa sesuatu udah terjadi sama Sonia. Perasaan Safa jadi nggak tenang Mas," keluh Safa.
"Sayang, jangan terlalu dipikirkan. Mungkin cuma perasaan kamu aja."
"Tapi hati aku nggak tenang banget Mas. Aku kepikiran Sonia terus," terdengar isakan kecil dari Safa.
"Sssttt, udah sayang. Jangan nangis dong. Mas lagi nggak ada disana. Jangan bikin Mas jadi nekat untuk datengin kamu buat meluk kamu. Nanti kalau Mas datang malem-malem gini, bisa digantung Mas Rian sama Ayah Steven," canda Adrian, mencoba mencairkan suasana.
Dan berhasil, terdengar suara kekehan kecil dari Safa.
"Udah ya, udah malem. Kamu kalau masih belum tenang, coba ambil wudhu, habis itu kamu sholat terus do'ain Sonia. Ya sayang ya," nasehat Adrian.
"Iya Mas. Kalau gitu Safa tutup dulu ya. Assalamu'alaikum sayangnya Safa," pamit Safa.
"Wa'alaikumsalam sayangnya Mas Rian," balas Adrian.
Sambungan telepon pun berakhir.
"Bahkan Safa pun bisa merasakan kalau terjadi sesuatu sama kamu. Sekuat itu ikatan batin di antara kalian, ya?"
Sonia hanya bisa terdiam mendengar perkataan Adrian.
"Waktu kamu datang ke rumah dulu itu juga, Safa juga langsung bisa merasakannya. Sayang sekali kak Rian yang terlambat menyadari semuanya. Jadi kak Rian tetep jalanin mobil kak Rian dan pergi ninggalin kamu di pos keamanan," lanjut Adrian.
"Jadi waktu itu Safa juga..."
Adrian mengangguk membenarkan. Air mata kembali luruh di pipi Sonia. Dan tiba-tiba saja, giliran ponsel Sonia yang berbunyi sekarang.
"Sendy," gumam Sonia.
__ADS_1
"Adik kamu ya? Angkat aja," kata Adrian.
Sonia mengangguk, kemudian mengangkat panggilan di ponselnya.
"Assalamu'alaikum Dek."
"Wa'alaikumsalam kak. Sorry malem-malem, ini ibu mau bicara katanya," jawab Sendy.
"Halo, assalamu'alaikum kak," sapa Suci terdengar sedikit panik.
"Wa'alaikumsalam ibu. Ada apa?" tanya Sonia, sekuat tenaga berusaha menormalkan suaranya.
"Kakak sehat kan? Kakak baik-baik aja kan disana?"
"Alhamdulillaah kakak baik kok Bu. Kakak juga sehat. Memangnya kenapa Bu?"
"Nggak tau juga kenapa kak. Tapi tiba-tiba aja ibu tadi mimpiin kakak. Terus ibu kebangun karena merasa sangat khawatir sama kakak."
Air mata kembali luruh dan membasahi pipi Sonia. Bahkan ibunya pun ikut merasakan kalau terjadi sesuatu pada dirinya.
Dan tiba-tiba,
"Kenapa Lo buat istri gue sampai nangis kayak gitu, Yan?" tanya Sean mengagetkan Sonia dan Adrian.
Adrian langsung mengangkat jari telunjuknya dan menaruhnya di depan mulut. Memberi isyarat agar Sean tidak bersuara. Baru kemudian Sean menyadari kalau saat ini Sonia sedang menerima panggilan telepon.
"Siapa?" tanya Sean tanpa bersuara.
"Ibu," jawab Sonia, hanya berupa gerakan bibir juga.
"Speaker," kata Sean, masih tanpa suara.
Sonia kemudian menghidupkan loud speaker di ponselnya.
"Ada apa kak? Kok ibu kayak denger suara laki-laki tadi?" tanya Suci kebingungan.
"Ah, enggak kok Bu. Nggak ada apa-apa," jawab Sonia salah tingkah.
"Tapi suara laki-laki tadi?"
"Nggak ada siapa-siapa kok Bu. Mungkin ibu hanya salah dengar saja tadi."
"Iya kah? Tapi kakak beneran nggak kenapa-kenapa kan? Perasaan ibu nggak enak banget kak. Apalagi kakak disana sendiri, nggak ada siapa-siapa yang jagain dan nemenin kakak."
Mendengar ibunya yang begitu mengkhawatirkan dirinya membuat air mata Sonia semakin mengalir deras.
Sean yang tidak tega melihat Sonia menangis, refleks langsung mendekat dan menarik kepala Sonia agar bersandar di bahunya. Tidak ada penolakan dari Sonia, karena memang itu yang sangat dia butuhkan saat ini.
'Bahkan ibu Ana pun merasakan seperti apa yang dirasakan Bunda tadi,' kata batin Sean.
Sean mengelus lembut kepala Sonia. Dan entah kenapa hal itu mampu membuat Sonia merasa nyaman dan tenang.
__ADS_1