
"San kamu masuk aja dulu, Mas jemput Mamih sama kak Kania dulu ya," kata Ken setelah menghentikan mobilnya di pelataran parkir sebuah butik ternama di kota itu.
"Oke deh Mas," balas Santi seraya melepas seatbelt-nya.
"Langsung aja ketemu Tante Ani, Mamih udah ngabarin kok kalau hari ini kita mau fitting baju pengantin," kata Ken lagi.
"Iya Mas. Ya udah, aku turun dulu ya," pamit Santi.
Ken mengusap lembut kepala Santi, keduanya tersenyum sebelum akhirnya Santi turun dari mobil Ken. Ken kemudian bergegas mengemudikan mobilnya menuju ke rumah sakit untuk menjemput Jihan dan Kania.
Setelah mobil Ken berlalu Santi kemudian masuk ke dalam butik.
"Selamat sore. Selamat datang di Ani's Boutique. Ada yang bisa kami bantu?," sapa seorang karyawan ramah.
"Sore Mbak. Saya mau ketemu Tante Ani. Apa beliau ada?" tanya Santi tak kalah ramahnya.
"Sudah buat janji sebelumnya Bu?" tanya karyawan tersebut lagi sesuai prosedur.
"Sudah Mbak."
"Maaf dengan ibu siapa ya kalau boleh tau?"
"Mbak Santi," panggil seseorang.
Santi dan karyawan tersebut sama-sama menoleh ke arah asal suara. Nampak seorang wanita sedang berjalan ke arah mereka.
"Mbak Evi," sapa Santi sambil menyalami Evi yang merupakan tangan kanan Ani tersebut.
Tentu saja Evi sudah mengenal Santi karena Santi dan Jihan sudah beberapa kali datang ke butik tersebut. Bahkan juga beberapa kali bertemu di luar butik ketika Jihan dan Ani yang merupakan sahabat dari semasa sekolah itu sedang janjian untuk bertemu. Jihan yang selalu mengajak Santi dan Evi yang selalu menemani Ani, atasannya tersebut.
"Rista kamu lanjutkan saja pekerjaan kamu. Mbak Santi biar sama saya aja," perintah Evi kepada Rista, karyawan tadi.
"Baik Mbak. Mari, saya permisi dulu," pamit Rista sopan.
__ADS_1
"Iya Mbak silahkan. Terima kasih ya," kata Santi.
"Sama-sama Mbak," balas Rista kemudian pergi meninggalkan Santi dan Evi.
"Ibu masih ada tamu Mbak, tapi paling sebentar lagi selesai. Mbak Santi tunggu aja dulu di ruang tamu, atau mau langsung ke ruang fitting aja sekarang?" kata Evi memberitahu sekaligus memberi penawaran.
"Nanti aja Mbak Evi. Nungguin Mas Ken, Mamih, sama kak Kania dulu aja," jawab Santi. "Aku nunggu di ruang tamu aja ya Mbak."
"Oke. Mari saya antar Mbak, tapi maaf saya tidak bisa menemani, masih ada kerjaan lain," kata Evi.
"Nggak pa-pa Mbak Evi, aku tau kok kalau Mbak Evi sangat sibuk," balas Santi.
Evi kemudian mengantar Santi ke ruang tamu di dalam butik tersebut. Setelah Santi duduk dengan nyaman Evi pun pamit karena masih banyak pekerjaan yang harus dia lakukan.
Santi duduk sambil membaca majalah yang ada di atas meja. Tidak lama kemudian ada seseorang yang menghampirinya.
"Oh, jadi seperti ini kelakuan seseorang yang katanya berpendidikan itu? Setelah puas menghancurkan hubungan orang lain dan sekarang dia mau membangun hubungannya sendiri," cibir seseorang itu yang tak lain adalah Leana.
"Maaf Mbak, sepertinya Mbak salah orang. Saya sama sekali nggak ngerti dengan maksud dari perkataan Mbak tadi," jawab Santi ringan.
"Dasar wanita kampungan tidak tau diri, puas kamu sekarang karena udah berhasil ngancurin hubungan aku sama Ryo? Bahkan Ryo juga udah membatalkan rencana pernikahan kami," kata Leana berapi-api.
Santi pun berdiri dari duduknya.
"Maaf ya Mbak, saya udah nggak ada hubungan apapun lagi sama Ryo. Jadi jangan pernah menyalahkan saya untuk apapun yang terjadi pada hubungan kalian berdua," balas Santi dengan menekan setiap kata untuk mempertegas perkataannya.
"Dasar wanita munafik," seru Leana emosi kemudian mengangkat tangannya hendak menampar Santi.
Santi dengan sigap menangkap tangan Leana dan menghempaskannya.
"Cukup Mbak. Kejadian di restoran saya diam saja karena saya memang bersalah udah nabrak Mbak duluan walaupun tidak sengaja, dan saya juga sudah meminta maaf untuk itu. Tapi kali ini Mbak udah keterlaluan dan saya nggak akan tinggal diam," kata Santi tegas.
"Lalu apa mau kamu? Belum puas kamu menghancurkan hubungan saya dengan Ryo?" teriak Leana menantang.
__ADS_1
Perdebatan mereka berdua mulai menarik perhatian beberapa orang di sekitar mereka. Tapi tidak ada yang berani mendekat apalagi ikut campur.
"Sekali lagi maaf Mbak, tapi saya tidak pernah merasa memiliki hubungan apapun lagi dengan Ryo. Apalagi sampai menghancurkan hubungan kalian berdua, saya rasa Mbak udah salah paham," Santi masih berusaha bersikap tenang dan tidak terpancing emosi.
"Oh, sudah pintar bicara ya sekarang," cibir seorang wanita paruh baya.
Tubuh Santi menegang. Dia masih ingat suara itu. Ya, Mama-nya Ryo. Dan tanpa bisa dicegah ingatan tentang kejadian buruk itu datang menghampiri Santi lagi.
"Ternyata keputusan saya dulu tidak salah. Kamu memang bukan wanita yang pantas untuk menjadi pasangan hidup Ryo. Dan sekarang semuanya terbukti, kamu memang tidak sederajat dengan kami. Dasar wanita rendahan. Dan dengan cara murahan juga kamu sekarang ingin membalas dendam, dengan menghancurkan hubungan Ryo dan Leana," kata Reni, mama Ryo.
Santi terdiam. Lidahnya seakan kelu. Rasa sesak itu muncul lagi. Ditambah lagi setelah mendengar semua perkataan mama Ryo baru saja. Luka itu seperti disiram air garam.
Santi menghirup nafas dalam. Rasanya berat sekali. Tapi Santi merasa kalau kali ini dia harus membela diri karena semua tuduhan mereka tidak benar. Santi sekuat tenaga mengumpulkan keberaniannya untuk berbicara kali ini. Dia tidak boleh diam saja seperti dulu.
"Maaf Tante, tapi saya sama sekali tidak tahu maksud dari perkataan Tante, juga Mbak Leana," kata Santi mencoba membela diri.
"Pandai sekali kamu sekarang. Wanita licik bermuka dua. Bersikap sopan dan anggun, tapi diam-diam menikam dari belakang. Kamu bilang tidak memiliki hubungan apapun lagi dengan Ryo, tapi entah pengaruh apa yang sudah kamu berikan kepada putra saya itu sampai akhirnya dia tiba-tiba saja membatalkan rencana pernikahan yang sudah tersusun dengan matang. Dan kamu masih mengelak dengan mengatakan tidak tau maksud dari perkataan saya?"
Semua perkataan Reni semakin membuat Santi menjadi bingung. Bagaimana bisa Santi menjadi tertuduh, sementara Santi sama sekali tidak pernah berhubungan lagi dengan Ryo?
Pembicaraan mereka pada saat pesta pernikahan Danny dan Lusia adalah yang pertama sekaligus yang terakhir. Itupun mereka tidak hanya berdua, ada Ken yang menemani Santi. Dan dengan tegas Santi juga sudah mengatakan kepada Ryo bahwa sudah tidak ada hubungan apapun di antara mereka berdua. Santi juga meminta agar mereka menjalani kehidupan mereka dengan pasangan masing-masing dan tidak saling mengganggu lagi.
Lalu apa ini sekarang? Kenapa Santi dipersalahkan lagi?
"Dari dulu saya memang tidak pernah suka dengan kamu. Dan sekarang semuanya terbukti kan? Kamu memang tidak sederajat dengan kami. Semua perbuatan kamu sudah mencerminkan siapa kamu yang sebenarnya. Seorang wanita terhormat tidak akan melakukan cara rendahan dan menghancurkan hubungan orang lain. Apalagi hanya untuk alasan balas dendam," kata Reni lagi.
Air mata sudah menggenang di pelupuk mata Santi. Setiap perkataan Reni yang sarat akan penghinaan itu menorehkan luka yang begitu dalam di hati Santi. Tapi sama seperti tiga tahun yang lalu, Santi terdiam dan tidak melakukan pembelaan. Memang benar Santi bukan dari kalangan orang kaya, tapi setidaknya Santi masih memiliki sopan santun dan mengingat bahwa Reni adalah orang yang lebih tua dari dirinya.
"Ternyata benar bukan, didikan orang tua itu sangat penting. Dan kamu tidak pernah mendapatkan itu karena siapa orang tua kamu saja kamu tidak pernah tahu," cibir Reni
Air mata itu akhirnya lolos dari mata indah Santi. Pertahanan Santi runtuh diingatkan tentang masalah orang tua.
"Dan apakah seperti ini cara seorang wanita terhormat memperlakukan orang lain?" tanya seseorang tiba-tiba.
__ADS_1